Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS (Jawa Pos, 22 Januari 2022)
MASIH ADA HUJAN LAGI
.
di akhir kisah itu, kau tutup
dialogmu. sebuah kalimat
akan kuingat: “masih ada
hujan lagi setelah ini.”
.
hujan yang terus-menerus
mengguyur tubuhku. mengendap
di mataku
.
.
.
PINTU MASIH TERTUTUP
.
bila kau pulang dan kubiarkan
pintu masih tertutup sebab
tanganku tak sampai
kecuali hanya melambai
.
alangkah malam!
.
jika kau pulang dan pintu rumah
belum terbuka, ucapkan pada jam
kenapa waktu cepat mengubah
jadi malam
.
alangkah lengang!
.
kalau kau pulang dan lonceng
jam 10 kali berdentang
maklumi kalau gerbang
sudah rapat terkunci
.
kau pun akan memanggil-manggil
siapa yang kau sebut namanya?
siapa yang mesti menyahut?
.
alangkah diam!
.
begitu kau datang
malam amat rentan
.
.
.
SAATNYA MENERIMA KUTUKAN
.
mungkin saatnya kau menerima
kutukan! sebagai kursi di ruang
tamu. menanti betinamu pulang
dari malam Minggu. bercumbu
di kafe-kafe kota yang kini dingin
.
mungkin kini kau dikutuk menjadi
pigura di dinding. diam. menunggu
perempuanmu dari jalan di malam
Minggu. kau menunduk tatkala
ia pulang, tak berani bertanya:
“dari mana dan dengan siapa?”
.
lalu kau terkubur dalam album
keluarga yang sesak dan berembun
.
.
.
TENTANG TAMU
.
pagi, kata kabut dari pucuk
kemboja. ada yang datang
ini pagi, entah tamu ke berapa
–seperti tanpa bilangan–
.
dan sesaat dibaringkan, sebelum
meneruskan perjalanan (barangkali
juga hanya badannya di sini) amat
jauh. jauh sekali…
.
pagi, kata embun yang melepaskan
tubuhnya. dan luruh bersama tamu
yang datang. “aku akan menemani,
sejuklah kau. tenanglah…” bisiknya
memeluk yang tiba
hapus kesedihanmu, ucap kembang
.
.
.
ISBEDY STIAWAN ZS. Penyair yang menetap di Bandar Lampung.
.
.
SAATNYA MENERIMA KUTUKAN.