Boneka Arwah

Cerpen Puspa Seruni (Republika, 23 Januari 2022)

KULIT putih Reina perlahan menghitam dan terlihat melepuh. Suara tangisannya terdengar memilukan. Sejak aku merebut boneka itu darinya, Reina menjerit bagai orang gila. Boneka itu telah kulemparkan ke dalam tumpukan kayu dengan kobaran api yang menjilat-jilat. Hatiku terasa pedih melihat Reina yang tega menyakiti Sandra, ibunya, hanya untuk menjaga Neina, boneka kesayangannya.

Aku sudah bertekad untuk membakar habis Neina dan melepaskan Reina dari ketergantungan. Akan tetapi, tangis Reina yang terdengar makin lirih serta wajah Sandra yang telah basah dengan air mata mem buatku ragu pada tindakan yang sudah kupilih. Hatiku mulai goyah ketika melihat napas Reina tersengal. Dia menekan dadanya karena sesak. Pandanganku menoleh pada boneka bermata bulat milik Reina yang separuh tubuhnya sudah terbakar sedangkan sisanya sudah menghitam.

Aku berlari ke arah boneka saat melihat napas Reina makin tersengal dan wajahnya bersimbah keringat. Dengan menggunakan kayu yang ada di dekatku, aku mencoba mengeluarkan Neina dari tumpukan kayu yang membara. Saat boneka itu terlempar keluar, aku mendengar jeritan panjang Sandra yang terasa mencabut jiwaku. Tanganku gemetar. Aku memandang Sandra yang sedang memeluk tubuh Reina yang sudah terkulai. Kelebatan suara Reina saat merengek minta dibelikan boneka kembali terdengar.

“Ayolah, Pa. Reina mau boneka itu. Teman-teman semua punya dan jadi bersemangat belajar. Reina butuh teman. Boneka akan menjadi teman bicara yang menyenangkan.”

Reina merengek padaku dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-16.

“Kamu sudah besar, untuk apa bermain boneka.”

Aku tentu saja menolak permintaan Reina yang mengada-ada. Apalagi, melihat daftar tipe boneka beserta harga yang disodorkan. Harga satu boneka bisa mencapai hingga puluhan juta rupiah. Sebuah harga yang teramat mahal untuk sebuah boneka biasa.

“Tapi ini bisa jadi motivasi Reina, Pa.” Reina masih merengek.

Aku sendiri bingung mengapa para orang tua di sekolah Reina mudah saja membelikan boneka mahal itu. Bukan hanya kali ini, saat semua temannya punya handphone keluaran terbaru yang canggih, Reina juga merengek-rengek minta dibelikan. Sedari awal, aku kurang setuju saat Sandra ingin memasukkan Reina ke sekolah elite tersebut. Bukan karena biayanya yang terdengar tidak masuk akal, tetapi alasan Sandra yang membuatku tidak suka.

Aku ingin Reina belajar dengan benar di sekolah, mendapat pendidikan yang baik, bukan malah pamer pemenuhan gengsi Sandra di hadapan teman-teman sosialitanya. Tapi, Sandra tetap bersikukuh dan memaksaku menuruti kemauannya. Sekarang, kami harus menerima saat Reina berkali-kali meminta dibelikan ini itu hanya agar terlihat sama dengan teman-temannya yang memiliki orang tua kaya raya.

Reina masih merajuk, mencoba membujuk agar aku menyetujui permintaannya. Tetapi, dia pun tahu bahwa aku tidak mudah terbujuk. Tentu saja, Reina masih punya Sandra untuk meminta. Dan benar saja, tepat di hari ulang tahunnya Sandra menghadiahkan sebuah boneka perempuan untuk Reina.

Boneka itu terlihat sangat mirip dengan aslinya, pantas saja harganya mahal. Kulitnya halus dan lembut. Bulu mata yang lentik membingkai matanya yang bulat. Rambut hitamnya tergerai sebahu. Boneka itu menyerupai anak kecil usia sembilan bulan. Pipinya tampak penuh dan menggemaskan. Namun, bulu kudukku meremang setiap kali menatap mata boneka itu terlalu lama.

Sebenarnya, aku sangat kesal pada Sandra. Seolah-olah, dia menunjukkan pada Reina bahwa meski aku menolak, Reina masih punya mama yang bisa mewujudkan semua keinginannya. Kami sudah sering berbeda pendapat dalam hal mendidik Reina. Tanpa sadar, Sandra telah mengajari Reina untuk tidak patuh padaku. Aku sangat marah kepadanya. Dan hal seperti ini yang kemudian membuat aku dan Sandra kerap berselisih paham, bahkan bertengkar. Tetapi, Sandra tidak pernah peduli dan demi gengsi dia akan melakukan apa pun.

Reina sangat telaten merawat boneka yang diberi nama Neina itu. Bagi Reina, nama itu menunjukkan kedekatannya dengan boneka yang dianggap seperti adiknya sendiri. Reina merawat boneka itu dengan baik. Benar yang dia katakan, sejak ada Neina di rumah ini, Reina makin rajin bersekolah dan belajar. Wajahnya juga selalu dipenuhi senyum dan keceriaan.

Makin hari, prestasi Reina makin meningkat. Di sekolah, dia bahkan mampu masuk dalam tiga besar. Padahal biasanya, hanya mentok di sepuluh besar. Prestasi di luar akademisnya pun makin baik. Beberapa kali dia menjuarai lomba melukis yang sudah menjadi hobinya. Sandra akhirnya tersenyum penuh kemenangan padaku, seakan-akan berkata bahwa keputusannya untuk membelikan boneka bagi Reina sudah benar. Aku sempat menyesal dulu tidak menuruti permintaan Reina.

Akan tetapi, setelah satu tahun Neina ada di rumah kami, Reina menjadi tak acuh pada kami, orang tuanya. Dia tidak lagi membutuhkan pertimbangan atau nasihat dari kami dalam memutuskan sesuatu. Saat kami memberitahu atau memberi masukan, dia akan terdiam sambil berkata akan menanyakannya terlebih dahulu pada Neina. Lambat laun, komunikasi kami dan Reina memburuk. Bahkan, saat dia memutuskan untuk berhenti sekolah dan fokus pada melukis, Reina hanya mengandalkan bisikan dari Neina. Entah apakah Neina memang benar bisa berbisik atau hanya imajinasi Reina.

Sebagai ayahnya, tentu aku mengamuk saat Reina tidak mau lagi berangkat sekolah dan lebih senang berlama-lama di studio tempatnya melukis. Dia hanya akan keluar studio saat harus mandi atau makan. Awalnya, aku dan Sandra tidak menyadari itu karena pagi-pagi sekali kami sudah berangkat ke kantor. Sebuah surat DO yang dikirim dari sekolah membuat kami terperangah.

“Kalian tahu apa, selama ini Neina sudah membuktikan padaku bahwa ucapannya benar. Dia memintaku untuk fokus melukis, dia akan membuatku jadi pelukis terkenal dunia. Lalu, apa gunanya lagi bersekolah?”

Kalimat itu diucapkan Reina dengan datar. Ada kebekuan yang menjalar seketika saat mendengarnya. Anakku sudah jauh berubah. Dia bahkan tidak lagi memercayai pertimbangan kami sebagai orang tuanya dan lebih menuruti bisikan Neina.

“Selama ini, Mama membiarkanmu merawatnya karena kamu jadi termotivasi untuk sekolah. Lalu kenapa sekarang berubah?” Sandra tidak lagi dapat menyembunyikan kekecewaannya.

Mungkin yang ada dalam kepala Sandra adalah penjelasan seperti apa yang akan diberikan kepada teman-teman sosialitanya bahwa anaknya di DO dari sekolah. Berbeda denganku, aku lebih banyak terdiam dan tercenung dengan pilihan-pilihan kalimat yang diucapkan Reina.

“Aku tidak berubah, Ma. Selama ini, aku hanya salah memercayai. Selama ini, aku menganggap kalianlah yang paling tahu tentangku, baik dan buruk untuk kehidupanku. Aku menurut harus les ini dan itu. Sampai akhirnya, Neina yang menunjukkan padaku bahwa dia yang seharusnya aku percaya. Neina yang lebih tahu tentangku, Neina yang membuat jalan hidupku menjadi mudah. Dia segalanya buatku sekarang, Ma.”

Telingaku berdenging mendengar kalimat panjang Reina. Sandra hanya tergugu menatap Reina yang berani membentaknya.

“Kalau kalian tidak lagi mau menganggapku anak, tak masalah. Ada Neina yang akan menemaniku. Toh selama ini pun kalian sibuk sendiri, tidak peduli padaku. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba merasa harus memedulikanku?”

Mata Reina menatapku dan Sandra secara bergantian. Tatapan itu sangat tajam hingga mampu menggores luka dalam di hatiku. Sandra menoleh padaku, seolah meminta pembelaan. Pandangannya terluka, sama sepertiku.

“Reina, Neina itu hanya boneka. Dia bukan Tuhan yang bisa memberimu petunjuk atau apa pun. Bahkan, bisa jadi bisikan-bisikan yang kerap kamu dengar itu hanya imajinasimu, Nak. Neina hanya boneka.”

Mendengar ucapanku, Reina bergegas meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamarnya. Dia membanting pintu dengan kasar sehingga menghasilkan suara berdebum. Aku dan Sandra terkejut melihat Reina bisa sekasar itu. Tak berapa lama, Reina keluar dari kamarnya sambil membawa koper dan Neina di tangan kanannya.

Sandra tergopoh-gopoh mencegah saat Reina akan keluar rumah. Aku ikut tergesa mencegah Reina keluar dan mencoba merebut Neina dari gendongan Reina. Reina menlak bonekanya diambil. Dia memper tahankan boneka itu meski harus mendorong atau menendangku dan Sandra. Sandra sempat terjerembap ke lantai.

Aku yang melihat Reina makin beringas, mendekati Reina meluapkan amarah. Napasku tersengal. Reina tampak terkejut. Aku berdecak, menyesal telah melakukan sesuatu yang amat kasar pada anak semata wayangku. Aku bergegas menghampiri Sandra dan membantunya berdiri.

Melihatku sibuk dengan Sandra, dia bergegas keluar rumah. Aku mengejarnya dan dengan kasar merampas boneka itu. Sandra yang sudah berdiri kembali mendekap Reina yang ingin mengejarku. Aku berjalan ke arah halaman belakang menuju gudang. Kuambil beberapa kayu bekas furnitur yang tersimpan di sana.

Saat aku mulai menumpuk kayu-kayu seadanya dan menyalakan api, jeritan Reina makin menjadi. Ketika api sudah berkobar, aku melempar Neina ke dalamnya. Reina berlari menghampiri, tetapi aku berhasil menghalanginya untuk mengambil kembali Neina dari dalam api. Reina terus meronta dan menjerit.

Perlahan tangisannya reda, seiring dengan Neina yang mulai habis terbakar. Dia bukan hanya berhenti menangis, tetapi sekaligus berhenti bernapas. Sandra menjerit sambil menepuk-nepuk pipi Reina. Sementara, aku menatap Reina dan Sandra dengan gamang. ***

.

.

Puspa Seruni, pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Cerpennya telah dimuat di beberapa media. Penulis juga menulis novel berjudul Perempuan Penyulam Sabar dan Sang Penari.

.

Boneka Arwah. Boneka Arwah. Boneka Arwah. Boneka Arwah. Boneka Arwah. Boneka Arwah

.

Arsip Cerpen di Indonesia