Oleh Enzen Okta Rifai (Ruangsastra.Com, 26 Januari 2022)
“SEJAUH apapun manusia mencari jalan kebenaran, pada akhirnya kebenaran itu didapatkan berkat rahmat dan kasih sayang Tuhan. Bukan semata-mata hasil jerih-payah dan kekuatan dirinya sendiri.”
Apa yang dinyatakan Simone Weil, filosof dan budayawan Prancis di atas, menggugah hal-hal yang berkaitan dengan identitas kemanusiaan di era milenial ini. Identitas itu laiknya kartu-kartu domino yang dipasang oleh seorang anak kecil dari nomor 1 hingga 100. Jika ada yang menyentil salah satu dari angka tersebut, maka keseluruhannya akan bertabrakan dan berjatuhan satu sama lain.
Dalam buku “In the Name of Identity”, sastrawan Lebanon berkebangsaan Prancis, Amin Maalou, menyatakan bahwa penyerangan terhadap identitas seseorang—untuk menjatuhkannya—bisa dilakukan atas dasar agama, ras, kelompok, partai maupun negara. Sang rival akan senantiasa mengintip untuk mencari-cari kesalahan sekecil apapun, hingga ketika merasa pada momentum yang tepat, ia berusaha untuk segera menjatuhkannya.
Penyerangan itu senantiasa berhasil jika menyangkut suatu kesalahan fatal yang dilakukan sang rival. Tak peduli apakah kesalahan itu dilakukan sekarang ataukah di masa lalu, yang kemudian terbuka footprints atau rekam jejaknya. Terkait dengan ini, orang-orang bijak menyatakan bahwa manusia itu bersifat lemah dan sarat kekhilafan.
“Seandainya pun ia menjadi besar dan sukses, hal itu semata-mata Tuhan masih menutupi segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya.”
Jadi, identitas manusia ibarat tanggul sungai yang keropos dan siap ambrol pada waktunya. Kalau ada tangan-tangan jahil yang mengusiknya, ia pun akan mudah ambruk dan berantakan secepat mungkin. Tetapi, identitas si tangan-tangan jahil itu pun akan ambrol juga pada waktunya kelak. Hanya soal waktu saja. Sebentar lagi ataukah nanti. Tergantung dari seberapa kuat kemauan manusia untuk merehab tanggul dan memperkokohnya. Tetapi, di sisi lain, tenaga manusia tak punya kewenangan mutlak untuk sanggup menahan kekuatan alam, sehebat apapun, seperkasa apapun.
Benteng yang kokoh tak mungkin tembus oleh serangan peluru-peluru bedil maupun senapan, tetapi anak-anak panah akan bisa menembusnya manakala ia dalam keadaan rusak dan keropos. Masalahnya, kekuatan rival untuk menjatuhkan identitas manusia, senantiasa mengintip setiap saat kapan si lawan dalam kondisi alpa dan lengah.
Penyerangan dengan menjatuhkan lawan itu kadang dilakukan di luar nalar dan akal sehat manusia, dengan cara apapun dan di manapun. Bagi mereka, sudah jelas pengelompokannya, hitam dan putihnya, baik dan buruknya. Hal ini mengingatkan kita pada narasi-narasi yang disuguhkan novel Pikiran Orang Indonesia (baca: hal 36):
… pengertian saya tentang semua itu hanyalah produk belaka dari bagaimana cara-cara mereka memandangnya. Maka, sampailah pada suatu kesimpulan bahwa sejarah Indonesia identik dengan Peristiwa 1965, dan kejadian-kejadian apapun sebelum itu, sebesar apapun, seakan-akan tidak layak untuk dinamai sebagai “sejarah”. Dengan itulah pengalaman hidup saya makin berkembang, bahkan mengajarkan tentang siapa yang pantas saya musuhi dalam hidup ini. Dan seperti yang pernah saya kemukakan bahwa dalam berhubungan dengan manusia tak terlepas dari unsur bahasa, maka dibutuhkan konsep-konsep dan bentuk-bentuk pikiran, atau kategori-kategori yang tetap. Apa boleh buat, saya berpikir dalam struktur dan pola-pola bahasa saya, yang merupakan satu-kesatuan tak terpisahkan dengan corak bahasa yang terbentuk dalam tata peradaban masyarakat kita. Mau tidak mau dibutuhkan adanya bahasa yang tetap untuk menunjukkan siapakah lawan-lawan kita, dan siapakah kawan-kawan kita.
Analisis konflik
Aneka macam konflik yang sedang dipertarungkan di era medsos ini, kadang tak disadari para pelakunya bahwa dalam kenyataannya, setiap tindakan buruk dan kesewenangan itu tak ada yang terbebas dari supremasi hukum yang absolut. Mereka bisa saja mengatur siasat secanggih-mungkin, membayar mahal pengacara, menyuap jaksa dan hakim, tetapi itu semua hanyalah supremasi hukum dunia yang fana dan kasatmata belaka.
Setiap bangsa, dari zaman ke zaman, tak terlepas dari karakteristik pembedaan antara sini dan sana, kami dan mereka, bangsaku dan bangsa lain (liyan). Mereka berpolemik, bersengketa, bahkan bertempur (kias dan harfiah) untuk memperebutkan kue keuntungan yang lebih besar dari sarana-sarana produksi. Antara Jawa dan Sunda, Indonesia atau Amerika, perempuan atas lelaki yang terus berjuang untuk menghapus eksploitasi dan diskriminasi. Bahkan, dalam soal ras dan warna kulit, antara kulit putih yang memaksakan supremasi atas kulit hitam, kemudian si kulit hitam berjuang untuk pembebasan dirinya.
Identitas kemanusiaan dengan ragam konflik-konfliknya, seakan dengan sengaja dipanggungkan secara intrinsik dan konfrontatif sehingga dunia harus dipahami dari sudut pandang hitam dan putih, benar dan salah. Karakteristik yang menentang solidaritas ini seakan dipelihara melalui afirmasi ingatan, memori kolektif dan penguatan kisah-kisah. Bahkan secara masif dicatat oleh sejarah maupun sastra yang menolak untuk mementingkan dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang universal (sense of common humanity).
Terkait dengan ini, mendiang sastrawan dan budayawan Y.B. Mangunwijaya pernah berwasiat kepada penulis asal Banten, Hafis Azhari, ketika ia menjenguk di kediamannya setelah pulih dari pengobatan transplantasi jantung.
“Berhati-hatilah,” demikian tegas Romo Mangun, “karena karya-karya yang pernah kita tulis, lalu dibaca oleh banyak orang, ia akan menjelma laiknya makhluk hidup, bagaikan Frankenstein, Dracula atau Liliput, yang kelak akan menuntut pertanggungjawaban dari para penciptanya.”
Pengaruh kaum intelektual
Untuk itu, kaum akademisi, budayawan, jurnalis dan intelektual sebenarnya telah terlibat aktif dalam memengaruhi kelompok-kelompok manusia, serta mengilhami memori kolektif untuk menentukan kriteria baik dan buruk, bahkan golongan sini atau sana. Seringkali lantaran sifat manusia yang lemah dan khilaf tadi—tanpa disadari—dengan masif mempropagandakan legitimasi wacana yang efektif, guna menyusupkan pandangan negatif ke dalam otak kepala masyarakat bangsa.
Kita masih ingat ketika budayawan Putu Fajar Arcana menegaskan, bahwa tidak sedikit sejarawan dan sastrawan kita telah menuruti proyek-proyek penguasa, kemudian—tanpa mereka sadari—telah bertindak sebagai pelayan bagi proyek-proyek politik demi kepentingan status quo (baca: www.kompas.id, “Proyek Propaganda Para Penguasa”).
Secara implisit, Putu Fajar Arcana menyatakan, bahwa kaum intelektual dan sejarawan telah memainkan peran penting di republik ini dan telah mendasari pembentukan memori dan watak hingga pada waktunya menentukan corak dan bentuk dari identitas nasional kita. Di sisi lain, mereka juga berperan kuat dalam menentukan arah dari kompleksitas politik antarnasional hingga mengotak-ngotak manusia dalam kategori bangsa-bangsa bersama unit loyalitas kolektif yang baru muncul beberapa abad lalu. Bukankah istilah “nasionalisme” baru muncul sekitar tahun 1790-an, dengan segala perangkat teritorial, ras dan etnik, hingga pada soal bahasa sebagai entitas yang terbangun?
Belum lagi, jika kita mempersoalkan hal yang cukup riskan dibicarakan, misalnya soal resesi seksual, feminisme dan historiografi feminis. Semuanya itu bermuara pada problem hubungan gender yang berbeda di setiap negara, yang pada akhirnya—oleh banyak kalangan—dianggap rumit untuk dipecahkan. Tetapi, bagaimanapun, mengutip hadits Nabi, bahwa kebenaran harus tegak untuk dinyatakan, sepahit apapun. Karena bagaimanapun, kita harus berani menjadi bagian dari universalitas yang berkembang, dengan legawa memasuki peran dalam berargumen, biarpun terasa panas untuk diperdebatkan.
Kita juga harus berani menolak karya-karya yang mubazir dan tanpa solusi (nirsolusi), seakan membuang-buang waktu untuk dibaca hingga halaman terakhir, tanpa mengurangi penghargaan pada kebebasan berekspresi. Bahkan dalam soal hidup keberagamaan, kita harus berani menyatakan “tidak” bagi segala tindak intoleransi dan kesewenangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (baca: Kompas, 21 November 2018, “Agama Tanpa Akal dan Hati Nurani”).
Dengan demikian, kini sudah waktunya bagi kalangan sejarawan, budayawan, dan tokoh-tokoh agama untuk mengejar ketertinggalan dari rekan-rekan intelektual dan akademis mereka serta merangkul kerangka etik yang dapat melakukan lompatan perubahan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Mereka harus berani untuk beralih (out of the box) dari konstruksi pemikiran status quo yang seringkali membelenggu nalar dan ruang gerak kita selama ini. ***
.
.
Enzen Okta Rifai. Alumnus International University of Africa (Republik Sudan).
.
.
MAKLUMAT!
Bagi para pembaca yang akan mengirim tulisan untuk laman Spasi bisa dikirim melalui surel spasi.ruangsastra@gmail.com. Ketentuan lebih lanjut bisa dibaca di sini. Terima kasih.
.
Menyentil Identitas Orang Indonesia. Menyentil Identitas Orang Indonesia. Menyentil Identitas Orang Indonesia.
.
.