Perihal Jantung Mati yang Berdetak

Cerpen Finka Novitasari (Suara Merdeka, 30 Januari 2022)

KAU mengumpati kawanan anjing yang menggondol sepotong daging di mulutnya, sembari terus melemparinya dengan batu. Agaknya mau dikejar, sudah telanjur jauh. Tadi, ketika sedang berjalan, dirimu melihat beberapa anjing sedang mengoyak tubuh mayat wanita. Digigit-gigit kulit mayat tersebut hingga mengelupas.

Lalu, saat kau datang, anjing-anjing itu langsung kabur dengan membawa sepotong bagian tubuh wanita tadi yang telah berhasil dicincangnya. Kemudian, bagian tubuh lainnya masih tercecer di mana-mana. Engkau juga menemukan seonggok jantung manusia di selokan. Sudah pasti jantung mayat wanita itu. Warnanya merah agak gelap dan masih tampak segar. Jantung itu masih berdenyut-denyut. Detaknya lemah, namun masih bisa didengar.

Keesokan malam telah terjadi pembuangan mayat di dekat kedai kopi. Tidak dirimu ataupun orang-orang sekitar, semua tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Kabarnya wanita itu meninggal bersebab penyakit kelamin yang dideritanya. Tentulah engkau mengenal wanita itu. Wanita jalang yang amat dihinakan di kotamu. Kau sangat mengetahui, betapa ia begitu menderita semasa hidupnya. Bahkan, ketika mati pun, wanita itu sangat mengenaskan: tanpa visum, tanpa penyelidikan. Benar-benar kematian yang menyedihkan.

Engkau menimang-nimang bulatan sebesar kepalan tangan orang dewasa itu. Agak kotor karena terciprat lumpur selokan. Tanganmu memutarnya, membersihkan kotoran, dan mencium baunya yang anyir. Engkau memutuskan membawa pulang jantung itu. Manakala bisa dimasak untuk esok hari, kau pasti akan membuat sup hangat untuk putrimu. Tetapi, hal itu tak mungkin dilakukan. Sebab, memakan bangkai manusia bukanlah tindakan yang dibenarkan.

Kau menaruh jantung itu di ruang tamu rumahmu. Di atas lemari tinggi kau menempatkannya. Berjajar dengan beberapa guci kesayangan. Barangkali dengan menaruh jantung itu di tempat yang tinggi, bisa mengangkat derajat wanita itu, pikirmu. Matamu tak lekang menamati jantung itu. Hingga tidak terasa sudah tengah malam dan engkau tertidur di sofa ruang tamu.

Kedua matamu mengerjap-ngerjap ketika suara denting jam dinding yang berpacu dengan detak jantung telah membangunkanmu dari tidur. Suaranya berirama. Bersahut-sahutan. Detaknya lebih keras daripada ketika baru kau temukan.

“Itu apa?” putri kecilmu ikut terbangun dari tidurnya dan menghampirimu. Tangan mungilnya menunjuk sumber suara yang barangkali telah mengacaukan mimpi indahnya.

Kau tidak menjawabnya. Kepalamu hanya menggeleng sembari tersenyum tipis, sebuah isyarat bahwa ia tidak perlu tahu. Putrimu mengerti. Ia tidak bertanya lagi. Engkau menyuruh putrimu kembali ke kamarnya. Lalu, dirimu menurunkan jantung itu dan ditempatkan di atas meja. Debar jantungnya semakin berpacu hebat. Engkau sangat menyadari, wanita itu masih hidup. Ia tidak benar-benar mati. Bahkan, ketika satu per satu tubuhnya dikoyak anjing, jantungnya masih berfungsi.

Kau mengenal wanita itu. Ia sering kali berurusan dengan polisi, entah karena ditangkap di tempat hiburan malam atau pun terlibat prostitusi ilegal di kotamu. Wanita itu sering menemani laki-laki minum bir dan mengajaknya bermalam hingga esok hari. Kau mengetahuinya. Amat mengetahuinya.

Jantungmu ikut berdebar-debar. Dadamu agak sesak. Begitulah nadi pun ikut berdenyut kencang. Engkau seperti merasakan penderitaan wanita itu. Lamat-lamat telingamu mendengar tangisan gaib. Menggema di dinding-dinding ruang. Semakin lama engkau juga larut dalam rintihan masygulnya. Kau tahu apa yang dirasakan wanita itu sebab sesama perempuan sudah semestinya saling memahami satu dengan yang lainnya.

Engkau menangis tersedu sedan. Kau teringat ucapan wanita itu suatu hari, “Tolong katakan, apakah Tuhan akan menghukum manusia yang rela menjadi jalang demi isi perutnya?” tanyanya kepadamu.

Engkau terdiam. Bibirmu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, kala itu.

Pertanyaan itu kembali mengganggu ruang pikirmu. Sementara anjing-anjing tadi barangkali telah kembali mengoyak bagian tubuh yang lain dari wanita itu. Jasadnya tanpa dikubur. Tanpa nisan. Tanpa bunga. Tanpa hantaran doa-doa.

Kau merenung lama sekali.

Putrimu kembali menghampiri. Dirimu terlalu larut mengenang wanita itu hingga tanpa sadar rupanya pagi telah tiba. Kau mengusap pipimu yang telah basah oleh air mata. Gadis kecil itu berdiri mematung. Engkau menyadari betul bahwa ia bukanlah gadis yang lahir dari rahimmu. Namun, baginya kau adalah satu-satunya ibu untuknya. Kau juga selalu mengatakan bahwa dia adalah putri kandungmu.

Putrimu ingin menyentuh bulatan berwarna merah agak gelap yang barangkali ia kira mainan baru untuknya. Kau menepisnya. Lagi-lagi putrimu mengerti. Tidak pernah membantah sedikit pun.

***

Malam-malam berjalan seperti biasanya. Setiap hari jantung itu masih berdetak. Bila siang hari, detaknya lemah, namun bila malam hari, akan berdebar kencang. Wanita itu menangis setiap malam. Menggema di sudut-sudut ruang rumahmu. Kau selalu larut dalam kesedihannya. Dirimu ingin sekali menghiburnya.

Malam ini kau berjalan di trotoar tempat di mana sering berjumpa dengan wanita itu. Kau membawa serta jantungnya yang kau sembunyikan di balik jaket tebal. Beberapa laki-laki yang tidak asing bagimu berjajar di tepi jalan. Mereka tampak gelisah. Kau menghampirinya.

“Dia tidak ada di sini,” ucapmu pada mereka.

“Ya, kami tahu. Dia sudah mati,” balas salah seorang dari mereka.

Kau pun terdiam. Mereka juga diam. Sementara tangisan wanita itu semakin menjalar, ke serat-serat daun, desau angin, ke debu jalanan juga, barangkali. Wajah-wajah durja semakin gelisah. Engkau mengetahui, mereka bukanlah golongan kaya di kotamu. Kau pun tertawa, saat mengetahui mereka kerap kali menyewa wanita untuk berkencan dengan harga yang tidak masuk akal. Dari sekian banyak wanita yang menjajakan diri di trotoar, hanya wanita yang kau ambil jantungnya itulah yang bersedia menerimanya. Untuk itulah wanita itu selalu dinanti-nanti kedatangannya.

Kau tidak pernah menghakimi wanita itu sebagai jalang yang tak layak dilihat. Namun, engkau selalu memandangnya sebagai wanita yang kurang beruntung saja. Dia bukan jalang. Dia tidak terhina. Dia hanya kalah dari pertarungan kehidupan.

“Dia tidak mati. Lihat ini,” katamu seraya mengeluarkan jantung wanita itu. Satu laki-laki hanya melirik sekilas. Tidak terkejut atau pun heran. Sedang laki-laki lainnya memilih pergi dengan wajah kecewa.

“Dia tidak pernah mati. Dia abadi,” jelasnya.

Betapa pun kau adalah teman baik wanita itu dan laki-laki barusan adalah pelanggan tetapnya. Kau dan laki-laki itu lebih paham tentang apa yang tidak diketahui orang lain. Tentang harga diri yang digadaikan demi sesuap nasi. Tentang identitas putrimu yang mesti disembunyikan dari khalayak, karena lahir dari rahim wanita PSK. Tentang segalanya, kau dan laki-laki itu mengetahuinya. Sedang orang lain hanya bisa memandang hina, tanpa peduli dengan apa yang terjadi sebenarnya.

***

Zaman sudah berubah. Beberapa keadaan berjalan seiring putaran waktu. Beberapa lainnya masih sama seperti dulu. Memori hanyalah seonggok kisah masa lalu kelam. Perihal jantung wanita itu masih berdebar di setiap inci relung-relung waktu. Putrimu tumbuh dewasa. Laki-laki di trotoar itu setiap malam masih di tempat yang sama.

“Memang benar, dia tidak pernah mati. Dia abadi,” katamu seraya meletakkan kembali jantung itu di atas lemari: semata-mata agar derajatnya bisa terangkat. ***

.

.

Pacitan, November 2021

Finka Novitasari lahir di Pacitan 29 Juli 2001. Beberapa karya mahasiswi Manajemen Universitas Alma Ata Yogyakarta ini telah dimuat di media cetak maupun daring. Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak) dan Komunitas Menulis Daring (KMD) Elipsis.

.

.

Publikasikan karya terbaik Anda (puisi atau cerpen) di Suara Merdeka. Naskah dikirim ke email sastrasuaramerdeka@gmail.com. Jangan lupa sertakan nomer ponsel Anda. Panjang naskah sekitar 7.000 karakter. Ditunggu. Terima kasih. (Redaksi)

.

Perihal Jantung Mati yang Berdetak. Perihal Jantung Mati yang Berdetak. Perihal Jantung Mati yang Berdetak.

Arsip Cerpen di Indonesia