Cerpen Daisy Rahmi (Republika, 06 Februari 2022)
RENI terkesiap. Cangkir di tangan terlepas. Isinya tumpah, cairan cokelat membasahi koran. Cangkir kosong terguling di meja dan terhempas ke lantai. Detik berikutnya, Reni melompat mundur bagai tersengat kalajengking. Lembaran yang masih meneteskan air ditatapnya dengan mata terbelalak tak percaya.
Tak pernah terbayangkan masa lalu akan mengejar sampai di sini. Lima menit lalu Reni keluar rumah, mengambil surat kabar pagi sebagaimana kebiasaan selama ini. Seperti biasa pula, dibuatnya minuman hangat untuk diri sendiri sebelum melihat isi koran sambil lalu. Tapi, kali ini beda. Reni gemetar. Kenangan menyakitkan terbayang di mata.
Setelah tenang, diberanikannya melihat lagi lembaran yang terbuka. Di antara jajaran nama dan foto orang meninggal di kolom dukacita, terselip nama yang dia kenal. Hanya nama, tanpa foto. Reni lega. Ia tak ingin melihat wajah lelaki itu. Ponselnya berbunyi. Melihat nama di layar, ia tahu apa isi pembicaraan tanpa menerimanya. Enggan, Reni menekan tombol penerima.
“Sudah baca?”
“Hmm ….”
“Mau datang?”
“….”
“Sebaiknya kau datang.”
“Entahlah.”
“Dia sudah meninggal, Ren. Dia tak bisa menyakitimu lagi.”
Reni diam. Jarinya mempermainkan ujung baju. Nada suara di seberang ponsel berubah membujuk.
“Tak apa bila tak mau hadir di pemakamannya. Yang penting kau pulang.”
“Akan kupikirkan.”
“Saatnya kembali. Sudah terlalu lama kau pergi.”
Reni mengguman lalu memutus pembicaraan. Ia mengambil lap, membersihkan tumpahan di meja dan lantai, mengumpulkan pecahan cangkir dan membuangnya ke tempat sampah bersama koran yang telah basah. Kembali dibuatnya secangkir minuman, lalu duduk menyesapnya sambil merenung.
Enam tahun. Selama itu sudah ditinggalkannya kota itu. Reni ingat hari ia pergi diam-diam dengan tekad tak akan kembali, tapi situasi kini berubah. Laki-laki itu sudah tak ada dan ia bukan lagi gadis yang bisa diperlakukan semena-mena. Reni menaruh cangkir kosong di atas meja, kemudian mulai memilah pakaian untuk dibawa. Mungkin sepupunya benar, saatnya pulang.
***
Bangunan bertingkat itu terletak di persimpangan jalan. Bercat putih, hotel tersebut memiliki kamar dengan pemandangan ke pantai. Setelah memberi tip kepada petugas yang membantu membawakan koper, Reni beranjak ke balkon. Angin menyibak rambutnya. Sambil bertelekan di tembok pembatas, diamatinya aktivitas di seberang.
(Muda-mudi berjalan tanpa sandal menyusuri pantai. Jejak kaki yang ditinggalkan segera lenyap tersapu hempasan air yang datang silih berganti. Mereka bergandengan tangan, jari saling mengait. Sang gadis memalingkan wajah, berucap sesuatu kepada si pria dengan wajah berbinar. Yang ditatap membalas dengan pelukan dan kecupan di puncak kepala. Gadis itu menjerit kaget saat lidah ombak menjilat kakinya yang telanjang. Ia lari menjauh, disusul pasangannya yang tertawa….)
Reni mengerjap. Bayangan dua orang itu lenyap dari pandangan digantikan para bocah yang sedang bermain pasir. Reni menggigit bibir. Nyeri yang sama kembali menghujam. Dengan mata sedikit berembun, wanita tersebut kembali masuk kamar dan menghubungi sepupunya.
“Ini aku,” sahutnya begitu telepon tersambung. “Aku di sini, sesuai saranmu.”
Reni menyebutkan alamat hotel.
“Datanglah. Kutunggu di lobi.”
Duduk di belakang setir, Sal mengemudikan mobil melintasi jalan raya. Kursi sebelahnya ditempati Reni.
“Tempat ini sudah jauh berubah. Aku tak mengenalinya lagi,” gumam Reni.
Sal menambah kecepatan, menyalip kendaraan di depan.
“Enam tahun bukan waktu sebentar. Kota masa kecilmu sudah jauh berkembang. Akan kubawa kau berkeliling kalau mau.”
Reni tersenyum.
“Kita lihat nanti.”
Mereka tiba di tujuan. Reni turun. Sementara sepupunya memarkirkan mobil, wanita itu membeli bunga tabur yang dijual di luar areal pemakaman. Beriringan dengan Sal, Reni berjalan menuju ke dua nisan yang berdampingan. Kuburan itu terawat baik. Rumput terpangkas rapi dan catnya masih baru.
“Terima kasih telah merawatnya selama aku tak ada, Sal.”
“Paman dan Bibi sangat baik setelah orang tuaku meninggal. Aku dianggap seperti anak sendiri. Setidaknya ini yang dapat kulakukan untuk membalasnya.”
Hampir tengah hari ketika keduanya kembali ke mobil. Ponsel Sal berbunyi sebelum ia menyalakan mesin. Diambilnya benda tersebut dan menekan tombol penerima.
“Siapa?” tanya Reni pada Sal yang kembali menyurukkan ponsel ke saku.
“Istriku. Dia mengundangmu makan siang di rumah.”
Sal memutar kunci kontak sambil tertawa kecil.
“Dan Intan sudah ribut dari tadi ingin bertemu tante favoritnya.”
Kedatangan mereka sudah ditunggu. Berdiri di teras, seorang gadis kecil berambut kepang melonjak girang begitu mobil muncul. Terdengar teriakannya.
“Mamaaaa, Papa dan Tante Reni sudah sampai!”
Mesin mobil dimatikan. Sal turun diikuti Reni. Intan lari menyambut. Dua lengan mungil memeluk pinggang wanita itu.
“Tante!”
Reni berjongkok dan balas memeluk. Diciumnya pipi montok si bocah.
“Tante punya sesuatu untuk Intan,” ucapnya sambil menyerahkan kotak berbungkus kertas kado yang baru dibeli.
Intan berseri-seri. Kembali dipeluknya sang tante.
“Terima kasih, Tante.”
“Jangan-jangan Intan ribut ingin bertemu Tante Reni karena ingin dapat hadiah,” goda Sal kepada putrinya.
“Kau terlalu memanjakan keponakanmu,” senyum istri Sal. Ia baru datang bergabung. Dipandangnya si anak yang asyik dengan mainan baru.
Reni balas tersenyum.
“Hanya dia yang bisa kumanjakan saat ini.”
Reni menghabiskan hari itu dengan keluarga sepupunya. Malam telah larut. Di kursi belakang, Intan yang lelah bermain tidur pulas dengan kepala di pangkuan Reni. Sementara Sal membawa putrinya ke dalam rumah, Reni berpamitan kepada istri lelaki itu. Ia akan kembali ke hotel.
Mobil berhenti dekat pintu masuk lobi. Reni berpaling kepada si pengemudi sebelum turun.
“Terima kasih. Aku sangat menikmati hari ini.”
“Pemakamannya besok, Ren,” ucap Sal.
“Aku tahu.”
“Sepertinya aku tak perlu datang menjemputmu, ya.”
Reni menggeleng. “Tidak. Tidak perlu.”
Baru satu minggu kemudian Reni mengunjungi kuburannya. Menolak tawaran Sal untuk mengantar, wanita tersebut pergi dengan taksi. Ia ingin sendirian. Hari masih pagi, pemakaman masih sepi. Dilintasinya pagar besi yang separuh terbuka, berjalan ke tempat laki-laki masa lalu berbaring.
Kelopak bunga kecokelatan menutupi tanah. Reni berdiri bergeming. Matanya menelusuri nama di nisan yang dulu membuat bahagia sekaligus menggoreskan luka. Beberapa menit berlalu. Reni berpaling mendengar langkah-langkah di belakang, bertatapan dengan wanita yang menggandeng bocah lelaki.
Diam-diam Reni mengamati perempuan tersebut. Bersimpuh di samping makam, paras berias tipis itu masih menyiratkan duka. Arloji di pergelangan tangan adalah satu-satunya aksesori yang melekat di tubuhnya. Usai membimbing si bocah menabur bunga dan berdoa, ia bangkit dan mengulurkan tangan kepada Reni.
“Maaf, belum mengenalkan diri. Saya istri almarhum. Ini pertama kali kami datang setelah hari itu.”
“Anda pasti sangat kehilangan.”
Wanita itu tersenyum sekilas.
“Dia suami dan ayah yang baik.”
Kesunyian yang canggung. Tak tahu harus berkata apa, Reni sengaja melihat jam tangan.
“Saya ada janji lain. Senang bertemu Anda.”
“Terima kasih sudah datang.”
Keduanya bersalaman. Reni berbalik, mengenakan kacamata hitam dan berjalan pergi.
***
“Aku berdiri di sana. Kubaca namanya berulangkali dan tak merasakan apa-apa.”
Reni mengaduk dan menyesap minuman. Meletakkan kembali kemudian memandang Sal di seberang meja.
“Tidak ada sakit hati, marah, rindu. Seperti membaca nama seorang asing.”
“Waktu menyembuhkan segalanya, Ren.”
“Aku bertemu istrinya.”
Sal berhenti menyuap. Matanya menatap ingin tahu.
“Lalu?”
Reni mengangkat bahu.
“Tak ada. Kurasa dia tak menceritakan kepada istrinya. Mungkin wanita itu menyangka aku kenalan suaminya.”
Sal mengangguk.
“Lebih baik begitu.”
Hening. Sal melanjutkan makannya. Reni mengedarkan pandang ke pengunjung sekitar. Ia bangkit begitu sepupunya selesai.
“Antarkan aku ke pantai, Sal.”
“Malam-malam?”
“Ada yang harus kulakukan.”
Lelaki itu melakukan keinginan Reni tanpa bertanya lebih lanjut. Setelah berpesan agar Sal menunggu di mobil, Reni melepas sepatu dan berjalan menyusuri pantai. Baru berhenti setelah sesuatu menyentuh jari kaki. Diraihnya lalu melempar benda di genggaman ke air. Sejenak Reni menatap langit sebelum kembali ke mobil. Rasa sakit itu sudah hilang sama sekali. ***
.
.
Daisy Rahmi kelahiran Manado. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta.
.
Episode Terakhir. Episode Terakhir. Episode Terakhir. Episode Terakhir. Episode Terakhir.
.