Baridin-Ratminah dan Cerita Sejenisnya

Cerpen Faris Al Faisal (Singgalang, 20 Februari 2022)

CERITA pendek Baridin ini akan mirip seperti drama tarling jika pembaca bisa menemukan tetalu tarling—komposisi musik, gitar dan suling yang berlaras pelog—untuk menemani bacaan terutama dibaca pada siang hari pukul 13.00 sampai dengan 15.00 atau malam hari pukul 00.00 sampai 02.00. Mengapa? Tersebab pada waktu itulah drama tarling dimainkan di pentas atau pertunjukan yang ditanggap orang-orang hajatan.

Baik kawin ataupun khitan. Kalau pun tidak, maka tidaklah mengubah anggapan, karena diharapkan setelah selesai membaca siapapun bisa mendapatkan tuntunan dari tontonan cerita: yen wis mla(tar) gage e(ling), jika sudah berbuat buruk segera ingat (bertobat).

Cerita 1

HARI diganti minggu. Minggu diganti Bulan. Bulan diganti tahun. Hidup seperti ini-ini saja. Baridin tetap buruh tani. Kerjaannya weluku—membajak—sawah orang lain yang ditemani seekor gudel atau anak kerbau. Baridin tetap membujang. Ragu ingin punya istri juga. Sebab tak punya apa-apa. Hanya punya selembar sarung yang sudah kumal. Sepertinya Baridin hidup hanya untuk menderita batin.

Dasar masih untung, Baridin tidak apes-apes juga. Di rumah masih ada orang tua perempuannya, Mbok Wangsi namanya. Ibu yang masih perhatian dan memberi nasihat agar Baridin kuat menghadapi beratnya beban hidup.

“Din, Din, Baridin,” panggil mbok Wangsih pada suatu hari.

“Iya Mbok,” jawab Baridin tergopoh-gopoh menghampiri ibunya sambil membereskan letak sarung yang dikerodongkan di kepalanya itu.

“Itu cung Baridin, mang Bunawas, mang Bun tadi datang. Sawahnya minta di-weluku hari ini juga,” ucap mbok Wangsi. “Dan ini buruhannya, bekakak ayam bakar dan nasi seceting.” Mbok Wangsi segera membukanya dan mengajak Baridin untuk makan bersama. Hari itu ia tidak masak, sebab simpanan beras di pedaringan sudah habis. Tak tersisa sebutir pun.

Baridin yang baru pulang dari begadang nonton wayang kulit kelihatan masih mengantuk. “Aduh mbok, kenapa diterima, Baridin pengen tidur,” keluh Baridin pada ibunya.

“Lah Cung, bagaimana, Mbok terlanjur janji,” ucap mbok Wangsi bingung.

Ya wis Mbok, dimakan saja nasi ayamnya, Baridin mau mengeluarkan gudel dari kandangnya dulu. Terus turun ke sawah mang Bun,” jawab Baridin. Ia tidak tega melihat ibunya tidak jadi makan.

Di perjalanan, Baridin bertanya letak sawah mang Bun pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Jawaban itu justru membuatnya bingung karena ada banyak jawaban. Hingga sampailah ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang akan pergi ke pasar.

Nok, punten, ikut tanya, di mana ya sawah mang Bun?” Diam-diam Baridin mengagumi paras gadis di depannya.

Dih, orang bawa kerbau, bau.” Dengan ketus gadis itu membalas.

“Ya maklum wong ayu, Baridin mah cuma buruh tani. Ini mau weluku sawah punya mang Bun. Barangkali tahu di mana?” Baridin mengulang pertanyaannya.

“Tidak tahu. Sudah, saya mau ke pasar,” pungkasnya kesal.

“Nanti dulu, siapa namamu?” Baridin bertanya lebih jauh lagi.

Dengan bertambah kesal gadis itu menghardik, “Eh, orang jelek! Kalau ingin tahu siapa aku, kih Ratmina, anaknya orang kaya, anaknya Bapa Dang. Kamu orang melarat baunya pasti tidak enak. Sudah tidak usah kenalan!”

Pertemuan dengan Ratmina membuat Baridin mabok kepayang. Ia tidak jadi ke sawah mang Bun. Ia pulang karena merasa ada halangan.

Mang Bun marah-marah. Minta semua upah buruhan yang sudah diberikan agar dikembalikan. Baridin bilang ke mbok Wangsi agar dibalikkan. Namun ayam bekakak dan nasi telah habis dimakannya. Mang Bun akhirnya merampas sarung satu-satunya milik Baridin.

Mbok Wangsi kemudian bertanya sebab Baridin tidak ke sawah mang Bun. “Ada apa cung Baridin?

“Ada halangan, Mbok. Halangan besar,” jawab Baridin belum jelas.

Mbok Wangsi mendesak. “Halangan besar apa?”

Akhirnya Baridin menceritakan jika ia bertemu gadis cantik bernama Ratminah, anak bapa Dang. Ia berniat dan meminta mbok Wangsi untuk melamarnya. Ibunya menasihati agar Baridin jangan terlalu tinggi bermimpi. Masih banyak gadis lain yang lebih cantik. Misalkan anak mang Darpan di Lor, anak mang Tukiman di Kidul, anak mang Wasta di Wetan, atau anak mang Dul di Kulon. Mereka seukuran. Namun Baridin memelas, yang membuat ibunya tidak tega jika tidak membalasnya.

Dengan membawa pisang setundun dan selembar sarung—milik Baridin dulu—yang dihadiahkan mang Bun karena rasa kasihan, mbok Wangsi berangkat menuju rumah bapa Dang. Baridin melepasnya dengan harapan yang manis. Ratmina akan jadi istrinya.

Dasar badan apes, mbok Wangsi disangka pengemis oleh bapa Dang. Namun, ia menjelaskan tujuannya datang ke rumah untuk melamar Ratmina. Bapa Dang dan Ratmina terkejut lalu tertawa. Lalu keduanya malah memperolok serta mempermalukan mbok Wangsi dan Baridin yang melarat.

Mbok Wangsi pulang dan mengabarkan pada Baridin. Lamaran ditolak. Baridin tidak mempermasalahkannya, tapi penghinaan bapa Dang dan Ratmina yang membuat Baridin sakit hati.

Baridin punya teman bernama Gemblung Dinulung. Biasa dipanggil Gemblung. Dan sejak berita ditolaknya lamaran, Baridin sering menginap di rumah Gemblung yang tinggal sendirian itu. Persoalan Baridin ternyata membuat Gemblung prihatin. Ia ingin membantu teman baiknya itu.

“Din, Baridin, bagaimana kalau Ratmina dikemat dengan ajian Jaran Guyang?”

“Apa, Blung, Jaran Guyang? Tidak percaya kamu bisa?”

“Aduh Baridin, walaupun Gemblung miskin harta tapi masih punya warisan ilmu dari kakekku. Warisan ajian kemat itu.”

“Ada syaratnya tidak, Blung?”

“Puasa pati geni. Tidak makan tidak tidur empat puluh hari lamanya.”

Baridin pun menyanggupi. Maka demikianlah, Baridin saban waktu merapal ajian pemikat wanita itu. Pagi, siang, sore ataupun malam. Setiap hari tubuh Baridin bertambah lemah dan kurus. Namun, Baridin sudah kepalang tanggung.

Di rumah bapa Dang, Ratminah mulai bertingkah aneh. Ia latah mengucap nama Baridin. Seperti gadis yang mabuk kasmaran. Bapa Dang khawatir karena Ratminah sering bertanya tentang Baridin padanya. Tambah hari Ratminah bertambah aneh dan menyerupai orang yang terganggu kejiwaannya. Semua orang ditanya tentang Baridin. Dan mereka menjawab tidak tahu. Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan—setengah tanpa pakaian dan bicaranya tidak terkendali—Ratminah pun akhirnya pergi mencari Baridin.

Baridin terjaga, tubuhnya tidak berdaya. Empat puluh hari sudah puasa pati geni dan rapalan ajian Jaran Guyang, Baridin pun berbuka. Gemblung temannya memberinya air putih dan beberapa sisir pisang. Di dalam hatinya lega karena Baridin telah selamat menyelesaikan segala syarat dan laku.

“Apa Ratmina belum datang, Blung?”

“Mungkin sebentar lagi, Din. Sabar. Tunggu saja.”

Di kejauhan tampak perempuan kumal berlari-lari mendekat. Dari mulutnya yang terdengar, “Kang Baridin, kang Baridin.”

Ratmina berhenti melihat Baridin. Seperti seorang kekasih yang terpisah dan baru bertemu ia memeluk-meluk Baridin. “Kang Baridin, ini Ratmina. Ayo kita kawinan.”

Namun Baridin menepisnya. Ia menolaknya. Ia teringat bagaimana dulu Ratmina menghinanya, dan juga ibunya. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya untuk tidak menerima permintaan maaf Ratmina.

Atas perlakuan Baridin, Ratmina sesak hatinya. Tiba-tiba ia jatuh dan meninggal di hadapan Baridin dalam jiwa yang merana. Namun Baridin terkejut, ia tak menyangka sikapnya berakibat fatal bagi nyawa Ratmina. Perempuan yang sangat dicintainya. Tidak lama setelahnya, Baridin pun menyusul Ratmina. Gemblung dan warga kampung yang mengetahui peristiwa tersebut segera mengurusnya. Keduanya dikuburkan beriringan.

Cerita 2

AMBARI tak mau jadi Baridin—tak ingin hidup hanya untuk menderita batin. Ia mengkritik sikap Baridin yang memilih berpuasa pati geni empat puluh hari lamanya tanpa berbuka untuk mengemat Ratminah dengan ajian jaran guyang. Bukankah itu sama dengan menyiksa diri sendiri? Mengapa Baridin tidak bekerja keras supaya bisa kaya? Ketika Ratmina sudah jatuh cinta, mengapa Baridin memilih menyakiti perempuan yang dicintainya dengan menolak cintanya? Mengapa?

Atas dasar itu, Ambari bertekad bisa merebut hati Karminih, anak gadis kuwu Cracas bukan dengan ajian jaran guyang, tapi dengan kemapanan. Maka setelah ditolak lamarannya, karena dianggap pemuda yang melarat jirat, Ambari pergi ke luar negeri, jadi TKI. Di sana Ambari bekerja dengan motivasi yang tak bisa dihentikan.

“Kalau harta penghalangnya, aku akan mencarinya ke mana pun adanya,” demikian tekad Ambari di dalam hati.

Dan, lima tahun sudah.

Ambari sudah punya rumah gedong dan segala seisinya. Bahkan beberapa petak tanah dan sawah. Ibaratnya, sawah seamba-amba, emas seabang-abang. Ambari sudah jadi orang kaya. Ia pun berencana pulang dengan harapan lamanya, bisa melamar Karminih sekaligus memperistrinya.

“Karminih, betapa kamu selalu jadi pemberat hati. Siang selalu terbayang, malam terbawa mimpi. Duh, Karminih gadis manis tanpa pesil alis.” Ambari tertawa kecil membayangkan khayalannya terlaksana.

Lambat laun, ihwal keberhasilan Ambari di luar negeri sampai ke kuwu Cracas. Ia pun mulai pasang mata dan telinga. Di dalam hatinya, seandainya Ambari kembali melamar Karminih, pasti akan diterima jadi menantuya. Tapi ia kadung janji menerima lamaran seorang mantri suntik muda yang bertugas di desanya. Karminih pun kemudian dinikahkan sekalipun terpaksa. Pesta digelar tiga hari tiga malam dengan tontonan tarling dangdut, wayang kulit, dan sintren.

Akan tetapi, pernikahan yang tanpa dasar cinta itu tak bertahan lama, hanya tiga tahun dan Karminih menggugat cerai suaminya. Ia pun kemudian menjanda. Tapi semenjak itu, Karminih mulai sakit-sakitan. Ia ingat bagaimana dulu pernah menghina Ambari dan keluarga yang melamarnya. Rasa penyesalan dan ingin rasanya menyampaikan kata maaf.

Namun sayang seribu kali sayang, ketika Ambari sampai di rumahnya yang mirip istana itu, Karminih sudah meninggal dunia. Tak satu pun orang memberitahukan pada Ambari perihal Karminih. Ambari sangat sedih. Mendadak ia jatuh sakit dan kesehatannya terus merosot. Buruk.

“Mungkin ini salahku, terlalu mengharapkan Karminih! Tidak mawas diri. Kalau sudah begini, harta yang kudapatkan seakan tak guna lagi. Apalah artinya Ambari berlimpah harta kalau miskin cinta. Duh, Ambari, blesak pisan nasibe sira! Ambari mengutuki diri sendiri.

Di pusara Karminih, kepala Ambari terkulai dengan tangan memeluk papan nisan. Konon menurut orang-orang yang melintas pekuburan sudah seharian mereka melihatnya. Ketika didekati, jelas sudah Ambari meninggal. ***

.

.

Cerpen Baridin-Ratminah dan Cerita Sejenisnya karya Faris Al Faisal sebelumnya terbit di Singgalang edisi Minggu, 20 Februari 2022.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia