Cerpen Abdullah Muzi Marpaung (Republika, 13 Februari 2022)
BELUM jam tujuh pagi. Seorang lelaki, sekitar enam puluhan tahun, sudah berdiri di muka pintu sebuah rumah. Ia mengetuk pintu tiga kali.
Pintu terbuka. Seorang perempuan muda menyambutnya.
“Selamat pagi, maaf.” Pak Tua berucap terbata-bata.
“Ya?”
“Adakah pekerjaan buat saya? Saya perlu uang untuk makan.”
Sang perempuan menatap iba, tapi ia menggelengkan kepala.
“Maaf, tak ada, Pakcik.”
Sang lelaki tua sedih dan kecewa.
“Tapi, mungkin Pakcik bisa ke rumah besar bercat putih di ujung jalan itu.” Sang perempuan menunjuk ke ujung jalan.
“Mereka biasanya punya pekerjaan.”
“Terima kasih.” Berbinar mata Pak Tua.
Ia pun berlalu. Sang perempuan tersenyum. Matanya masih mengikuti langkah Pak Tua. Iba hatinya. Ia seperti melihat ayahnya sendiri.
Pak Tua tak langsung ke rumah putih di ujung jalan. Dicobanya mengetuk pintu beberapa rumah untuk meminta pekerjaan. Selalu jawaban yang sama ia dapatkan. Selalu rumah putih itu yang disarankan.
Kini, Pak Tua sudah berada di rumah besar berwarna putih di ujung jalan. Mungkin ini rumah paling besar di sekitar sini. Rumah itu tak berpagar, tampak segar dan asri. Pekarangannya luas, terawat, dan indah, berhiaskan aneka tumbuhan.
Tiba di muka pintu, sejenak ia ragu-ragu. Mana ada pekerjaan di rumah yang rapi begini? Tapi, semua orang menyarankan rumah ini. Ia mengetuk pintu tiga kali.
Pintu terbuka. Seorang perempuan menyambutnya dengan senyuman. Senyuman yang menenteramkan.
“Selamat pagi, maaf.” Pak Tua berucap terbata-bata.
“Ya?”
“Adakah pekerjaan buat saya? Saya perlu uang untuk makan.”
“Wah, kebetulan sekali. Dahan-dahan pepohonan di pekarangan depan dan halaman belakang sudah mesti dipotong.”
“Terima kasih.” Pak Tua tersenyum lega. Ia bisa makan hari ini. Lagi, memangkas pepohonan atau pekerjaan kebun lainnya sangat ia sukai.
“Sebentar, Pak. Hasaaan!” Ibu pemilik rumah memanggil seseorang.
“Iya, Makcik,” jawab seseorang dari dalam rumah. Seorang anak muda lari mendekat.
“Kau bantu Pakcik ini potong dahan pohon, ya.”
“Iya, Makcik.” Kepada lelaki tua, sang pemiliki rumah tersenyum lalu berucap, “Ini Hasan, kemenakan saya. Dia akan bantu Bapak.”
“Terima kasih, Encik….”
“Maryam.”
“Encik Maryam, terima kasih. Saya Suhairi.”
Maryam tersenyum lagi. Kali ini ada kesedihan dalam senyuman itu. Ia teringat kepada suaminya. Rindu yang perih merobek dada, tiba-tiba.
Suhairi memotong dahan-dahan pohon, dibantu Hasan. Tapi tak lama, ia sudah merasa penat. Ia duduk di sebuah bangku dan terkantuk-kantuk dalam sekejap. Maryam yang sedari tadi terus memperhatikan, segera mendekati Hasan dan memberikan isyarat. Hasan mengangguk tanda mengerti.
Hasan menuntun Suhairi. Dibawanya Pak Tua itu ke sebuah ruang kecil yang nyaman dekat halaman belakang. Di dalamnya ada sebuah ranjang. Di sana Suhairi tertidur.
Dua jam kemudian Suhairi terbangun. Rasa bersalah membuatnya ingin bergegas kembali ke pekarangan buat meneruskan pekerjaan. Tapi, tubuh tuanya tak sanggup lagi bergerak lincah. Ia bangkit dengan lambat, lalu berjalan juga dengan lambat.
Belum lagi tiba di pekarangan depan, Maryam sudah menyambutnya dengan senyuman. Senyuman yang menenteramkan. Usianya sudah mendekati lima puluh tahun, tapi elok wajahnya seperti tak kenal usia. Suhairi bergetar. Ia merasa seperti seorang pemuda yang tengah dimabuk asmara.
“Maaf saya tertidur,” ucap Suhairi dengan bergetar. Entah getar karena merasa bersalah entah karena darah lelakinya menggelegak.
“Tak apa, Pak Suhairi.” Senyum Maryam kian sedap dipandang. Seharusnya ia memanggilnya ‘Encik’ Suhairi, tapi entah apa sebab ia merasa lebih pas menyebutnya ‘Pak’.
“Sudah dekat lohor. Sekarang, Bapak makan, ya. Sudah kami siapkan.”
Suhairi menolak. Ia merasa tak pantas menerima kebaikan seperti ini. Seharusnya ia kena marah karena lalai dalam bekerja.
Maryam memaksa. Suhairi seperti tak ada daya buat melawannya. Ia merasakan keriuhan dalam dada yang susah ia pahami. Ia seperti terlempar kepada sebuah keindahan di suatu masa yang bukan sekarang. Masa lalu atau masa depan? Tak jelas baginya.
Selepas makan, Suhairi hendak meneruskan pekerjaan.
“Sudah cukup buat hari ini, Pak,” ucap Maryam.
“Bapak boleh pulang, dan ini upah buat Bapak hari ini.”
Maryam memberikan sejumlah uang. Suhairi menerimanya dengan gemetar. Ia tak habis pikir ada orang berhati putih macam Maryam. “Sungguh beruntung lelaki yang beristrikan Maryam,” batinnya.
Dalam perjalanan pulang, Suhairi mengenang masa lalunya. Ia teringatkan istrinya, Saidah, yang meninggal dunia bersama bayi yang dilahirkan. Samar-samar ia ingat dahulu pernah bekerja di sebuah perusahaan riset, tapi kemudian ia keluar karena bersitegang dengan atasannya. Selepas itu, ia bekerja sendiri dan menghasilkan banyak inovasi yang membuatnya kaya raya. Ya, ia ingat pernah bergelimang harta. Tapi, mengapa sekarang ia menjadi begini? Gelap, gelap semata.
***
Keesokan hari, belum lagi jam tujuh pagi, Suhairi sudah berdiri di muka pintu sebuah rumah. Ia mengetuk pintu tiga kali.
Pintu terbuka.
“Selamat pagi, adakah pekerjaan buat saya?” Suhairi berucap terbata-bata.
Setiap pemilik rumah akan memberikan jawaban yang sama. Tak ada pekerjaan di rumah itu. Lalu, selalu rumah besar bercat putih itu yang disarankan untuk ia tuju. Rumah Maryam.
Selalu ada pekerjaan untuk Suhairi di rumah Maryam. Entah memotong dahan, entah menyiram tanaman, entah mencabuti ilalang, entah pekerjaan di pekarangan yang lain. Selalu Suhairi terkantuk setelah satu-dua jam bekerja. Selalu, ia dituntun untuk tidur di ruang kecil dekat pekarangan. Setelah terbangun menjelang tengah hari, ia makan, lalu pulang.
Suhairi tinggal seorang diri di rumah sederhana tak jauh dari permukiman tempat tinggal Maryam. Sepulang bekerja, ia menunggu matahari membenam dengan membaca buku, buku yang sama. Selepas Maghrib, seorang remaja datang mengunjungi.
“Kau siapa?” tanya Suhairi.
“Saya Syafri, nak bantu Pakcik belikan makan.”
Suhairi memberi seluruh uang dari Maryam kepada Syafri untuk dibelikan makanan. Setiap pagi, sebelum Suhairi pergi, Syafri datang. Lalu, terjadi dialog yang sama.
Setiap bangun pagi, Suhairi lupa kejadian kemarin. Ia akan menjalani hari itu seperti kemarin. Ia mengalami peristiwa dan perasaan yang sama dengan yang kemarin, selalu bergetar setiap kali melihat senyuman Maryam, selalu merasa seperti seorang pemuda yang tengah dimabuk asmara setiap kali menatap Maryam.
Sementara itu, selepas Suhairi pergi, Maryam menangis dalam hati. Suatu kali, diingatnya peristiwa sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu, ia seorang perawan usia 40 tahun yang membekukan hati buat semua lelaki. Kecewa yang bertubi-tubi membuatnya tak percaya pada cinta sejati. Lalu, datang seorang lelaki yang tak lagi muda, dengan tatapan yang jenaka, melamarnya. Lelaki itu, bosnya. Suhairi.
“Lama saya menduda. Istri saya sudah meninggal lebih dari 20 tahun lalu. Cinta saya pun mungkin sudah pergi bersamanya. Tapi, belakangan ini saya merasa sepi. Pekerjaan tak lagi dapat membunuh sepi. Saya perlu seseorang buat kawan ngobrol. Maukah Dik Maryam menjadi kawan ngobrol saya, menjadi istri saya?”
Lamaran yang sukar dipercaya. Selama beberapa tahun menjadi sekretaris pribadi, tak pernah Maryam merasa Suhairi ada hati kepadanya. Lagi, lamaran itu macam bukan lamaran. Tidak romantis dan sangat tenang. Seperti tak ada debar di sana. Seperti tak ada khawatir atau kecewa kalau-kalau lamaran itu ditolak. Benar-benar sebuah lamaran yang ringan, seringan bulu sayap merpati yang melayang di udara.
Entah mengapa, Maryam mengiyakan. Mungkin ia pun sudah penat dalam kesepian. Mungkin ia sudah mual dengan ungkapan cinta yang gombal sehingga tawaran menjadi kawan ngobrol adalah sesuatu yang menyegarkan.
Tak disangkanya, pernikahan itu menjadi kepingan paling membahagiakan dalam hidupnya. Suhairi sungguh memperhatikannya, sungguh menjadi kawan ngobrol yang hangat menenteramkan. Ia masih terus menjadi sekretaris Suhairi. Ia juga yang mengurusi pembayaran royalti atas sejumlah paten suaminya yang dikomersialkan oleh beberapa perusahaan. Suhairi adalah penemu hebat yang terkenal di kalangan intelektual. Tapi, boleh dikata, masyarakat umum tak mengenalnya. Tetangga mereka hanya tahu ia seorang insinyur yang punya bengkel dengan beberapa pegawai. Tak sedikit yang heran, usaha bengkel bisa membuat orang begitu kaya raya.
Sepuluh tahun mereka berumah tangga. Suhairi memberi bukti bahwa cinta sejati itu ada. Tiga orang anak mereka. Dua lelaki dan satu perempuan.
Musibah terjadi. Suhairi terpeleset, kepalanya membentur tiang, pingsan. Setelah sadar, ia tak ingat lagi Maryam. Ia tak ingat lagi anak-anaknya. Dokter mengatakan, mungkin Suhairi mengalami amnesia selektif. Masih belum jelas, memori mana yang hilang, mana yang bertahan.
Tak lama setiba di rumah, ketika Maryam lengah, Suhairi menghilang. Untunglah, ia ditemukan tengah duduk termenung di sebuah rumah kosong yang sudah rusak.
Selepas kejadian itu, Maryam menjaga Suhairi dengan ketat. Ia meminta dua kemenakannya untuk tinggal bersama buat membantunya. Sering Suhairi dikurung di kamar, tapi ia mengamuk. Tak tega dan tak tahan, akhirnya Maryam membuka pintu kamar. Suhairi pergi. Maryam meminta Hasan untuk mengikuti.
“Pakcik ke rumah kosong itu, Makcik.” Hasan melapor.
Maryam teringat ucapan Suhairi di satu ketika. “Lihat rumah rusak itu, Dinda? Suatu saat aku akan memperbaikinya.”
Tahulah Maryam apa yang harus diperbuatnya. Dibelinya rumah itu. Lalu, ia suruh orang untuk memperbaikinya. Ia pun meminta Syafri, kemenakannya yang lain, membersihkan rumah dan menyediakan makan.
Ketika Suhairi mulai berkeliling setiap pagi mengetuk pintu rumah untuk meminta pekerjaan, para tetangga memberitahu Maryam. Maryam menjelaskan apa yang terjadi pada suaminya dan meminta tolong agar mereka menyuruh Suhairi mencari pekerjaan di rumah putih di ujung jalan. Rumahnya sendiri.
Maryam selalu memberikan pekerjaan yang terkait dengan kebun dan taman kepada Suhairi. Ia ingat, suatu kali suaminya pernah berucap, “Aku ingin mengurangi pekerjaan. Aku ingin mengurus taman di muka dan kebun di belakang rumah kita.” Itulah hari ketika Suhairi terpeleset, kepala membentur tiang, lalu hilang ingatan.
Sudah hampir setahun Suhairi mengetuk pintu pada setiap pagi. Maryam akan sabar menanti pintu rumah diketuk dan membukanya dengan penuh cinta. ***
.
.
Abdullah Muzi Marpaung, lahir di Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, pada 23 Juni 1967. Dosen di Program Studi Teknologi Pangan di Swiss German University ini aktif menulis puisi sejak 1981 dan menulis cerita pendek sejak 2015. Buku kumpulan cerita pendeknya: Lelaki yang Tak Pernah Bertemu Hujan. Buku kumpulan puisinya: Catatan Hari Kemarin.
.
.