Yang Mulia Monsignor Makarius

Cerpen Reinard L Meo (Koran Tempo, 13 Februari 2022)

BACOTNEWS.COM, sebuah media online yang dikelola dengan sangat buruk oleh pemiliknya, menurunkan berita yang menggemparkan tidak hanya umat separoki, tapi juga sekeuskupan bahkan sampai ke keuskupan tetangga. “Ditemukan Dihutan, Seorang Pastor Mati Mengenaskan”.

Berita yang seolah-olah investigatif itu menyebutkan bahwa berdasarkan hasil olah TKP yang dilakukan oleh pihak kepolisian setempat, Pastor B meninggal karena serangan jantung. Dikarenakan kondisi jenazah yang mulai membusuk, Bacotnews.com yang baru beberapa jam viewers-nya sudah menembus angka sebelas ribu lebih itu juga merincikan jadwal pemakaman Pastor B, didahului dengan Misa Arwah di gereja paroki tempat Pastor B bertugas, dipimpin langsung oleh Uskup.

Selepas misa, jenazah Pastor B yang telah diketahui sebagai Pastor Benediktus diarak menuju permakaman para Pastor Diosesan. Dalam perjalanan yang kelam dan penuh duka itu, beberapa umat melitanikan secara diam-diam kebaikan Pastor Benediktus.

“Bapa Romo itu penyayang. Setiap kali saya ke pastoran, pasti dapat pisang yang besar dan enak!” ungkap seorang siswi SMA.

“Saya ingat baik, terakhir kali bertemu Bapa Romo. Waktu itu Bapa Romo ke rumah saya, ajak saya tanam anakan kayu di kebun paroki. Tidak sangka, secepat ini Bapa Romo pergi!” sambung teman laki-lakinya.

Dalam hidup ini, manusia memang suka begitu. Amat sulit memuji seseorang saat ia masih hidup, tapi lancar dan lantang sekali melakukan itu saat ia sudah lenyap dari muka bumi.

Disaksikan ribuan umat, ratusan pastor, dan puluhan suster, jenazah Pastor Benediktus dikebumikan. Suara tangisan pecah di berbagai sudut, melambung naik, menembus langit, mengetuk-ngetuk pintu surga.

Konon, menangis merupakan salah satu cara merayu Tuhan. Manusia paling sering menggunakannya. Sebelum sidang perkabungan bubar pulang, Uskup kembali menyapa. Mengajak semua yang hadir untuk kembali ke pastoran guna makan malam bersama, mengimbau agar doa-doa tetap dilantunkan bagi keselamatan jiwa Pastor Benediktus, dan menjanjikan datangnya seorang Pastor Paroki yang baru, yang akan segera menggantikan posisi Almarhum Pastor Benediktus. Setelah itu, Uskup mempersilakan seseorang yang sangat asing bagi umat paroki setempat untuk berbicara.

“Selamat sore, Yang Mulia Bapa Uskup, Keluarga yang Sedang Berduka, Para Pastor, Suster, Ibu, Bapak, Saudari, dan Saudara sekalian. Kita semua tentu sedih. Kehilangan seorang penuntun, penasihat, dan pemberi minyak suci pada orang yang kritis. Tapi, catat ini baik-baik. Pastor juga manusia. Pastor juga bisa mati, entah karena terserang aneka penyakit, kecelakaan lalu lintas, maupun dimakan usia yang terlalu senja. Pastor juga bisa dan pernah dibunuh, Saudari-saudara, di hutan yang jauh dari keramaian atau di tanah misi yang rawan akan pertikaian.

Pastor memang dikaruniai rahmat untuk mendoakan orang sampai ke kehidupan yang abadi, tapi ia sendiri tak mungkin abadi dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian ini. Selamat jalan, Romo Benediktus. Semoga Tuhan membukakan pintu ampun bagi dosamu yang teramat banyak itu, mulai dari Seminari Menengah sampai Paroki sebelumnya tempat engkau mewartakan Sabda Allah. Terima kasih!”

Dengan sangat ketus, Nikolaus Pu’u Pau mengakhiri sambutan singkatnya itu. Ia didaulat langsung oleh Uskup, mewakili umat di paroki lama tempat Pastor Benediktus berkarya. Bisik-bisik kembali terdengar. Awalnya pelan, makin ke sini makin riuh. Bukan lagi tentang kebaikan “Bapa Romo”, tapi tentang orang asing yang goblok, tidak tahu diri, dan sama sekali abai terhadap luka yang menganga di sekujur perasaan keluarga yang sedang berduka.

***

Darah yang mengucur sudah mengering. Kira-kira empat jam setelah peluru berhasil melubangi batok kepala “Bapa Romo”, mesin Fortuner putih milik Nikolaus Pu’u Pau dimatikan, tepat di samping rumah Ibu Adona.

“Mari masuk, Teman,” Papa Cinta membukakan pintu.

“Mana anjing itu?” tanya Nikolaus.

“Di kamar belakang. Aman, siap diangkut!” sambar Ibu Adona.

Dalam sekejap, jenazah Pastor Benediktus sudah dalam perjalanan menuju hutan, tak jauh dari pastoran. Di hutan yang sunyi dan gelap itu, dua pengawal yang ikut bersama Nikolaus membuang “Bapa Romo” yang sudah tak bernyawa. Waktu menunjukkan tepat pukul 4 pagi. Udara dingin sekali, Nikolaus menyalakan rokok, mengisap dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Ada semacam rasa puas yang mekar di dadanya yang kering. Anjing itu sudah binasa. Anjing yang memerkosa dan membunuh istrinya.

Kembali dari hutan, Cinta belum bangun. Beberapa kali ia mengigau, memanggil Pastor Benediktus.

“Bapa, Bapa Romo. Yeeeee…. Bapa Romo datang….”

Ibu Adona segera menenangkannya, memeluk dengan mesra, seolah pelukan itu cara lain untuk jujur bahwa “Bapa Romo” kesayangannya itu sudah pergi jauh dan tidak akan pernah datang lagi. Ibu Adona kemudian ikut terlelap, diserang kantuk yang ganas karena kerja kotor yang mendebarkan sejak malam kemarin.

Tidak begitu lama setelah Nikolaus menyerahkan masing-masing 3 amplop tebal kepada Papa Cinta dan dua pengawalnya, Fortuner putih miliknya merayap pelan menuju Istana Keuskupan. Pada jalur yang searah, tak jauh dari asrama polisi, kedua pengawal yang ternyata bukan pengawalnya itu turun setelah diingatkan lagi untuk tidak lupa menuju TKP dan melakukan olah TKP dengan cepat, rapi, dan tanpa menimbulkan kecurigaan. Berdua bersama Papa Cinta, perjalanan dilanjutkan. Matahari sudah muncul, sinarnya perlahan menjilat pintu gerbang Istana Keuskupan.

Pagi itu, teh panas Yang Mulia Monsignor Makarius terasa begitu pekat. Nikolaus Pu’u Pau dan Papa Cinta kini ada di hadapannya, di taman tempat Mgr. Makarius biasa menikmati sunyi, membaca apa saja, sambil sesekali meneguk strega, minuman keras kesukaannya yang dibawa dari Roma.

“Saya belum punya cukup uang untuk melunasi utang Keuskupan,” Yang Mulia melanjutkan, setelah basa-basi tak perlu yang dilakukan Nikolaus dan Papa Cinta, seperti mencium tangan dan memeluk.

“Kira-kira kapan, Bapa Uskup?” Nikolaus menyambung, mengingat dana yang ia kucurkan untuk pembangunan 2 gedung gereja dan 1 kapela baru di wilayah keuskupan Mgr. Makarius itu tidaklah kecil.

“Beri kami waktu. Sampai akhir tahun ini. Kolekte dari tiap paroki makin menurun. Umat makin malas memberi. Lebih suka buat pesta dan jalan-jalan ke tempat wisata. Beri kami ….”

“Waktu tambahan sampai akhir tahun?” Papa Cinta memotong.

Di hadapan kedua makhluk yang entah kapan terakhir berdoa ini, Yang Mulia yang dihormati di segala penjuru Keuskupan itu sama sekali tak dihargai. Uang memang segalanya, membutakan sekaligus menghidupkan.

“Atau jangan-jangan, uang sudah ada, tapi Bapa Uskup gunakan untuk yang lain? Membiayai studi anak angkat barangkali?” lanjut Nikolaus.

“Saya tulus bekerja untuk Keuskupan ini, untuk umat Allah. Mengapa Bapak berdua meragukan saya?”

Romo Edward, pastor tampan yang seperti dayang-dayang bertugas mengikuti ke mana saja Mgr. Makarius pergi, tiba-tiba muncul. Setelah meminta izin kepada kedua tamu yang datang mengganggu suasana batin Yang Mulia sepagi itu, Romo Edward membisikkan sesuatu di telinga Mgr. Makarius, kemudian berlalu.

“Maaf, ada informasi baru dari paroki. Ada yang harus segera saya tangani. Apa kita bisa bertemu lagi sore sebentar?”

“Tak perlu, Bapa Uskup,” tegas Nikolaus. “Saya mau tawarkan kerja sama dan perdamaian.”

“Ah, apa lagi itu?”

“Begini. Untuk segala apa yang baru saja disampaikan oleh Romo muda tadi, Bapa Uskup kami minta untuk diam dan tak perlu bertindak. Anggap semuanya memang begitu adanya. Utang lunas, uang umat yang ada di tangan saat ini, silakan Bapa Uskup gunakan untuk apa saja. Beli mobil baru, mungkin. Bagaimana?”

Hening. Hening sekali. Hening yang beku. Hening yang bengis, setan-setan menari di sekeliling mereka.

“Baik. Deal. Sepakat!” Yang Mulia angkat bicara.

***

“……………. Semoga Tuhan membukakan pintu ampun bagi dosamu yang teramat banyak itu, mulai dari Seminari Menengah sampai Paroki sebelumnya tempat engkau mewartakan Sabda Allah. Terima kasih!”

Mendengar kabar tentang kematian Pastor Benediktus, Suster lugu yang cantik, yang tak jenuh-jenuhnya berdoa akan cairnya donasi dana pembangunan kembali asrama yang terbakar, merencanakan sesuatu. Ia ingin bunuh diri. ***

.

.

Reinard L Meo, Guru SMA. Tinggal di Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Menerbitkan buku kumpulan puisi Segala Detikmu (Bawah Arus, 2016) dan kumpulan esai Panggil Pulang yang Terbuang (Penerbit Ledalero, 2021).

.

Yang Mulia Monsignor Makarius. Yang Mulia Monsignor Makarius.

Arsip Cerpen di Indonesia