Jannang

Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 19 Februari 2022)

HAJAH Ruhi dipandang bakal membahayakan orang-orang jika dipercaya lagi menjadi jannang. Nyaris setahun, selepas satu kejadian buruk menimpa Hajah Ruhi, seperti tidak bisa ditoleransi, sungguh ia kesulitan mendapat kepercayaan. Meski hanya Hajah Mello yang paling kukuh agar Hajah Ruhi tidak lagi diberi tempat sebagai juru masak di dapur orang-orang. Racikan makanan yang dibuat Hajah Ruhi telah membikin tamu-tamu mual dan muntah-muntah.

Bagi tuan rumah sebagai pemilik hajatan, hal itu penghinaan besar. Pasalnya, Hajah Ruhi sangat diandalkan dan diharapkan dapat memuaskan lidah orang-orang. Terlebih, acara kala itu dihadiri tamu-tamu terhormat. Dari tokoh masyarakat, perangkat desa dan pejabat kabupaten, hingga anggota dewan provinsi dan pusat.

Hajah Ruhi harus menanggung malu yang begitu besar. Bahkan kali pertama dalam hidupnya. Ia diusir dengan makian sambil ditunjuk-tunjuki. Peliknya, ia diminta ganti rugi. Ia tak berdaya melawan. Pemilik hajatan bukan perempuan biasa. Perempuan terpandang di mata orang-orang. Masuk dua periode menjabat sebagai anggota dewan di kabupaten. Anggota dewan terpilih yang dicoblos oleh Hajah Ruhi sendiri saat di TPS sejak periode pertama hingga kedua. Sungguh, tak mau mengerti dan memaafkannya. Kejadian itu dianggap murni kesalahannya. Tak ada pilihan, Hajah Ruhi pun harus bertanggung jawab.

Jika ditilik ke belakang, sudah puluhan tahun Hajah Ruhi melakoni aktivitas masak-memasak di hajatan orang-orang. Baik di kampung seberang, terlebih lagi di kampung sendiri. Kejadian ini di luar dari kewaspadaannya. Meski, dari dulu ia kadang takut membayangkan dirinya melakukan kesalahan fatal.

Hari sial itu ternyata datang menyambanginya bagai disengat listrik. Hari yang membalik pandangan baik orang-orang tentang dirinya. Ia tak kuasa membela diri. Tak ada bukti yang bisa ia tunjukkan saat itu juga bahwa bukan ia yang melakukan salah. Kemarahan pemilik hajatan sudah tak terkontrol.

***

Hajah Ruhi dipilih jadi jannang tidak sekadar soal masakan, tetapi doanya dianggap sakral. Bahkan dianggap makin sakral seusai ia balik beribadah haji. Tentulah hasil keringatnya sebagai juru masak di hajatan orang-orang yang membuatnya sanggup berhaji. Investasi akhirat yang ia cita-citakan dengan berhaji berhasil ia capai.

Tak pernah ada kabar angin bertiup, masakan Hajah Ruhi mengecewakan dan tak cukup untuk tamu banyak. Perhitungannya tentang persediaan bahan-bahan makanan diyakini banyak orang tak pernah meleset. Selalu terbukti. Ia sudah kenyang pengalaman. Sejak SD sudah ikut membantu almarhumah ibunya sibuk di dapur pemilik hajatan. Dari keahlian almarhumah ibunya menjadi fondasi baginya melakukan hal serupa. Warisan berharga yang berhasil ia teruskan.

Kalau sudah Hajah Ruhi yang ada di dapur, hati sudah bisa tenang. Ibu-ibu akan bilang begitu kala menyaksikan kehadiran Hajah Ruhi di dapur pemilik hajatan. Hajah Ruhi sudah terbiasa dan tidak lagi berbesar kepala mendengar pujian itu. Karena sudah dianggapnya suatu kepercayaan, tugas paling penting adalah menjaganya. Ia telanjur dipercaya dan sejalan dengan itu, ia harus berupaya keras mempertahankannya.

Dari peristiwa di hajatan Hajah Dewan, panggilan akrab Hajah Taming, aktivitas Hajah Ruhi di dapur orang dianggap tamat. Sudah tertutup baginya terlibat masak-memasak untuk orang lain. Ia seakan dipaksa mencari sumber rezeki yang lain. Padahal, pekerjaan inilah sandaran utamanya. Kelihaiannya dalam menimbang dan meracik bumbu benar-benar dipandang berakhir. Anggapan dan vonis itu dilayangkan oleh Hajah Mello yang bersikeras melarang orang-orang untuk memberi kesempatan dan memercayai Hajah Ruhi jadi jannang kembali.

Hajah Ruhi sudah tua. Ingatan dan tenaganya makin menurun. Begitu upaya pembatasan yang selalu dilontarkan Hajah Mello kala ada orang yang akan dan hendak bikin hajatan. Namun, Hajah Mello punya batasan. Ia tak sanggup mencegat semua orang untuk ikut pandangannya. Malah, ia syok sendiri mendengar kabar para tetangga bahwa Supiati meminta Hajah Ruhi menjadi jannang. Memang hanya pesta kecil berupa aqiqahan, bukan pesta pernikahan. Namun, bagi Hajah Ruhi, permintaan Supiati adalah kabar yang melegakan. Kabar yang cukup membungkam pandangan miring banyak orang.

***

Tatti meminta Supiati untuk menimbang ulang, tetapi ia berusaha tak goyah pada keputusannya. Memercayai Hajah Ruhi sebagai jannang bukan sesuatu yang buruk. Hajah Ruhi bisa dipercaya untuk memanjakan lidah para tamu yang hadir di acara aqiqahan anak kedua Supiati.

Supiati tidak yakin pada makanan langsung jadi seperti katering. Makanan yang disajikan oleh jannang dirasanya berbeda dengan katering, yang kadang bikin lidah tak berselera menyantap, setidaknya begitu pandangan Supiati. Patokannya ada pada dua orang penduduk sekampung. Pernah memercayakan sajian makanan mereka pada jasa katering yang berdomisili di kota kabupaten. Hasilnya, orang-orang menggosipkan keputusan pemilik hajatan yang seolah tak mau berpusing-pusing melihat dapurnya ramai aktivitas.

Padahal, jika memercayakan makanan pada jannang, gerak-gerik jannang bisa diamati langsung. Kebersihannya dalam bekerja bisa diawasi dengan mata kepala. Malah bisa memberi masukan untuk menambah porsi untuk satu-dua makanan.

Hajah Ruhi sudah tahu makanan yang harus dan tepat untuk disajikan. Supiati pun yakin, belum ada yang menandingi pengalaman Hajah Ruhi soal masak-memasak di kampung mereka. Terutama pada cara mengolah daging agar tak amis. Kuah sampai tumis bumbu di tangan Hajah Ruhi bagi Supiati selalu lezat. Supiati mudah memberi penilaian sebab ia orang yang rajin memenuhi undangan hajatan. Sering kali yang didapatinya menyajikan makanan adalah Hajah Ruhi. Jadi, ia memiliki pengalaman mencicipi masakan Hajah Ruhi.

Memang ada tiga sosok lain yang juga biasa dipercaya sebagai jannang untuk menangani makanan di suatu hajatan. Namun, Supiati tetap menginginkan Hajah Ruhi. Tiga sosok jannang ini baru dipanggil oleh pemilik hajatan jika Hajah Ruhi benar-benar sibuk menangani makanan di dapur orang. Untuk Hajah Ruhi, sering kali orang-orang harus mencocokkan waktu kosongnya demi mendapat jasanya.

“Orang-orang tak akan datang jika Hajah Ruhi yang menyajikan makanan di acara kita, Nak. Sejak kejadian di rumah Hajah Dewan, tak satu orang pun yang kembali percaya padanya,” ujar Tatti, ibu dari Supiati, lebih terdengar menakut-nakuti. Pikiran Supiati berusaha diganggu untuk berbalik haluan. Tatti meragukan Hajah Ruhi. Ia seperti termakan dengan kalimat larangan yang berkali-kali dilontarkan oleh Hajah Mello.

“Kejadiannya sudah lama berlalu, Bu. Saya pikir, tak akan mungkin orang-orang dengan mudahnya melupakan jasa Hajah Ruhi selama ini untuk menyukseskan suatu hajatan,” Supiati berusaha membela, tetapi ia tetap bicara pelan, menaruh hormat pada ibunya. Ia tak bermaksud menolak pengharapan ibunya. Namun, Supiati merasa harus ada sosok yang bertanggung jawab di dapur agar makanan bisa tersaji dengan baik. Walau Supiati sadar, menggunakan jasa jannang, berarti ia harus mengeluarkan uang.

“Hajah Ruhi tak mungkin membikin malu kita sebagai pemilik hajatan. Ia tak mungkin melakukan kesalahan fatal kali kedua. Kita tahu, kejadian di rumah Hajah Dewan itu bukan kesalahannya, tapi ada orang lain yang mengerjainya. Dan kita sudah tahu siapa orangnya. Proses hukumnya tak berlanjut karena dilindungi oleh Hajah Mello. Tiada manusia yang bisa terhindar dari kesalahan, Bu.”

Supiati terus berprasangka baik demi menghapus kecemasan ibunya.

“Iya, tapi kejadian itu satu-satunya yang diingat orang sebagai kejadian paling memalukan,” Tatti terdengar begitu ngotot, “Tak hanya memalukan, tetapi memilukan. Orang-orang dilarikan ke puskesmas dan bahkan harus dirawat di rumah sakit. Kurang apa lagi Hajah Ruhi membahayakan banyak orang.”

“Tapi kan Hajah Ruhi sudah meminta maaf, Bu. Meski kenyataannya, belakangan, ia tak bersalah. Seperti yang saya bilang tadi, orang-orang sudah tahu, tetapi takut saja jujur bahwa itu ulah Hajah Mello. Orang-orang memilih diam karena tahu bahwa Hajah Dewan dan Hajah Mello begitu akrab. Tak satu pun penduduk yang mau terlibat jauh.”

Tatti diam sejenak.

“Kita beri kesempatan pada Hajah Ruhi untuk kali ini, Bu,” Supiati membujuk.

“Kenapa kamu harus mengambil jannang? Apa tidak percaya pada para tetangga yang juga pandai memasak. Ibu juga bisa bantu memasak.”

“Bukan soal percaya atau tidaknya, Bu. Ibu kan tahu, baiknya, harus ada yang bertanggung jawab di dapur. Hajah Ruhi juga tidak hanya pandai masak. Biar hidangan kita berkah, kita butuh doa-doa dari Hajah Ruhi untuk makanan yang akan disajikan. Ibu tak usah repot-repot untuk masak. Ini acara kita. Tugas saya dan ibu terima tamu saja.”

“Saya tak akan ikut bertanggung jawab jika makanan yang dihidangkan Hajah Ruhi tak dicicipi oleh tamu.”

“Saya yakin, masakan Hajah Ruhi tak berani dicela orang, Bu.”

Tatti tak menanggapi lagi dan berlalu. Meski ada keraguan di hati Supiati, harapannya ditentang oleh ibunya, Supiati tak mungkin menarik permintaannya pada Hajah Ruhi. Ia hanya ingin membantu mengembalikan muka dan kepercayaan diri Hajah Ruhi yang telah direcoki orang-orang.

***

Hajah Mello turut diundang, tapi memilih tak memunculkan diri ke hajatan yang dihelat Supiati. Dengan ketidakhadirannya, Hajah Mello bermaksud membuat Supiati bakal tak nyaman dan merasa bersalah memilih jannang. Hajah Ruhi menjadi alasan kuat tak terbantahkan bagi Hajah Mello tak datang. Sedangkan Hania bakal hadir. Ia juga diundang. Karena Hajah Mello tahu bahwa Hania diundang, ia diminta lagi untuk membikin Hajah Ruhi malu besar.

Sejak dulu Hania berusaha setia menjadi pesuruh Hajah Mello. Namun, sebenarnya, Hania juga sudah muak dengan Hajah Mello yang selalu mau membahayakan dirinya. Hania belum bisa menghindar sebab ia dan suaminya masih dipercaya menggarap tanah milik Hajah Mello. Lebih dari itu, total utang Hania sebanyak sepuluh juta untuk tiga orang yang ia tempati meminjam pernah dibayarkan oleh Hajah Mello. Hania tak diminta untuk mengembalikan. Namun, kala itu ia menangkap pernyataan Hajah Mello bahwa ia berutang budi dengan cara lain.

Kini Hania diminta kembali merusak makanan yang diracik Hajah Ruhi. Ulah Hania-lah yang membikin para tamu Hajah Dewan mual dan muntah-muntah. Ia memang tak sampai hati dan berani menaruh racun, tetapi ulat kecil yang ia taburi ke makanan berkuah yang disajikan kala itu mengakibatkan Hajah Ruhi menanggung malu.

Kini orang-orang yang diundang Supiati tetap berbondong-bondong datang ke rumahnya meski tahu Hajah Ruhi yang dipercaya sebagai jannang.

Hania disambut dengan senyum hangat oleh Tatti. Begitu Supiati tahu bahwa Hania sudah datang, Supiati meminta satu anggota keluarganya untuk mengawasi gerak-gerik Hania selama berada dalam rumah. Jika bisa menghindar, Supiati tak berkenan mengundang Hania datang. Hanya, ia tak mau diceritakan miring karena Hania salah satu penduduk yang sekampung dengannya.

Saat Hania selesai menyodorkan amplop dan mengucapkan selamat atas kelahiran anak kedua Supiati, Hania beranjak berdiri. Minta pamit sebentar untuk melihat situasi di dapur. Saat itu juga, keresahan timbul dalam dada Supiati. Ia melihat wajah licik Hania telah bersiap mengacaukan hajatannya. Kendati Hajah Ruhi sudah tahu bahwa Hania yang membuat dirinya berbulan-bulan tak dipercaya jadi jannang, Hajah Ruhi berusaha tersenyum walau berat saat disenyumi oleh Hania. Seseorang mempersilakan Hania duduk. Pikiran Hajah Ruhi mulai terganggu dengan kedatangan Hania.

Hania tetap dalam pengawasan anggota keluarga Supiati. Hania bercakap-cakap dengan ibu-ibu yang membantu-bantu di dapur. Suasana tetap riuh karena percakapan. Hania membuat Hajah Ruhi berhenti mengaduk.

“Saya menyesal Hajah Ruhi. Saya sangat menyesal. Maafkan saya!”

Arah pernyataan Hania tentu saja dipahami orang-orang, begitu juga dengan Hajah Ruhi. Pandangan mata kini tertuju pada Hania. ***

.

.

ALFIAN DIPPAHATANG. Penulis puisi dan fiksi. Cerpennya, Mati Muda, dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Sayembara Penulisan Kreatif Kategori Cerpen oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia 2021.

.

.

Cerpen Jannang karya Alfian Dippahatang sebelumnya terbit di Jawa Pos edisi Sabtu, 19 Februari 2022.

.

Arsip Cerpen di Indonesia