Cerpen Cindy Wijaya (Koran Tempo, 06 Maret 2022)
SINAR bulan menyoroti aku yang tersungkur di tanah. Kubalikkan badan, memegang dada dengan kedua tangan. Panas betul di situ. Pekerja Gemeentewerken seperti sedang meluruskan ususku di sepanjang jalan. “Cukurungan! Kacang rebus sialan!” umpatku sambil mengerang cukup keras. Setelah berkali-kali lolos dari bren dan granat, aku tak sudi menjadi prajurit yang mati konyol karena kacang basi.
Jantungku berdetak tak wajar. Pikiran-pikiran tak mau tenang. Kubayangkan rel kereta di Mojokerto yang bergelombang ditarik lurus oleh sekumpulan orang berkaus kutang. Kupandangi lagi sekitar jalanan dengan mata nyata. Para pria serta wanita tua memandangku ketus. Mereka pikir aku cuma sedang mabuk. Kukuatkan diri agar terus jalan, biar terbungkuk-bungkuk. Sedangkan mata-mata marah masih berkeliaran. Mereka tahu siapa aku dari seragam yang kukenakan, makanya mereka begitu.
Aku merupakan penghuni asrama rehabilitasi Dinoyo. Setelah penyelesaian damai Malenos, sisa prajurit Permesta dikirim ke Desa Dinoyo untuk direhabilitasi status sosialnya karena kami dianggap bekas pemberontak. Tidak paham juga aku bagaimana ceritanya status sosial bisa dipulihkan jika setiap hari selama dua bulan ini kami dibiarkan tanpa latihan militer, kerjanya hanya apel pagi dan makan. Hari-hari kami cuma makan dan buang-buang waktu. Perut-perut sudah semakin buncit karena jarang latihan. Perutku sendiri tidak demikian, aku yakin kehilangan berat badan karena makanan asrama yang tak cocok di lidah Minahasaku yang pemilih.
Saking bosannya beberapa dari kami mulai cari-cari masalah di lingkungan sekitar. Mencuri ternak, mengeroyok orang, mengganggu anak-anak kecil. Sekadar improvisasi terhadap kebosanan hidup. Kami sudah setengah gila diperlakukan begini. Bukankah bijak jika setidaknya kami diberi kesempatan untuk menjadi berguna bagi masyarakat sekitar? Membangun jembatan atau apa saja begitu! Ini kami dibiarkan tak berguna.
Makanya aku ikut mobil angkutan ke Mojokerto. Acara jalan-jalan seorang diri ini pun membosankan karena sikap antipati warga. Mereka sehari-hari berbahasa Jawa, jadi semakin sulit menjalin komunikasi. Bingung juga menentukan marah mana yang lebih marah. Marahnya mereka karena tempatnya kedatangan sisa-sisa pemberontak, atau marahnya kami? Kami ini juga masih manusia yang butuh bergaul, butuh diterima masyarakat. Di kampung-kampung Minahasa, bahkan di Kota Manado, asal lewat saja semua yang punya mata pasti memandang kagum. Kami masuk kedai kopi dan biapong, pemiliknya tak izinkan membayar, gratis! Di sini, kami cuma mau mengobrol saja mustahil!
Tak ada yang betul-betul tahu apa kami akan senang jika akhirnya dipulangkan kembali ke Minahasa, apa kami akan biasa saja? Ibuku mungkin sedang bangga-bangganya mengira aku memakai seragam tentara nasional dan berlatih keras. Di antara kami pasti tak ada yang mau pulang sebagai orang gagal, tapi rasa ingin pulang itu amat kuat di tengah keputusasaan kami menjalani rehabilitasi yang tidak jelas ini.
Dan gara-gara kacang rebus—kacang basi yang dihangatkan oleh penjualnya—aku harus bersusah payah kembali ke tempat angkutan kota. Tapi sakit perut ini justru jadi satu-satunya semangat untuk bertahan, (bicara jangka pendek)—setidaknya—sampai tiba di asrama dan menyembuhkannya. Di bangku belakang, kuremas perutku yang tak berdaging banyak dengan kedua tangan seperti hendak mengeringkan baju basah. Angkutan yang kutumpangi tak ramai. Tiga orang—jika sopir dihitung—tak memperhatikan kesakitanku sedikit pun.
Perjalanan yang seharusnya tak berapa lama menjadi terasa berpuluh-puluh jam, aku tak bohong. Perutku masih melilit. Setelah turun dari angkutan, sengaja kuempaskan diri lagi ke tanah, menahan sakit. Halaman asrama sepi serupa desa mati. Tapi sakit perut ini adalah satu-satunya semangatku untuk bertahan.
Asrama juga sepi. Kamar-kamar terbuka lebar tanpa orang di dalamnya. Kuserukan nama ajudanku berulang-ulang (aku tak lagi punya ajudan, semua berstatus sama di sini, dia sendiri yang masih menyediakan diri melayaniku). “Empi! Di mana ngana?” Pikiranku mulai goyah bahwa telah tiba hari akhir di dunia bagi umat manusia untuk terangkat ke surga dan aku tertinggal sendirian, sampai kudengar suara selayaknya sorakan penonton bola kaki.
Dari barak sebelah keributan itu berasal. Kawan-kawanku sedang saling dorong menyaksi sesuatu dari pintu yang terbuka. Sesuatu yang lebih seru daripada pertandingan bola kaki. Biar kuberi tahu mengapa kawan-kawanku itu tak ada malunya lagi! Sudah tak ada gadis-gadis yang bisa diajak kenalan (terlihat saja tidak!) di sekitar sini, pun di Mojokerto. Para orang tua mendadak jadi amat penyayang, tak mau anak gadisnya menjadi korban karena kami punya cap buruk. Wajar saja kalau hasrat kami tak terkendali.
Wanita ini datang dengan maksud membeli sabun batangan yang merupakan jatah mingguan kami selama di asrama yang sering kami uangkan. PSK senior yang menyukai keterusterangan. Maka ketika muncul hasrat satu prajurit dan mengajaknya bertempur di ranjang, tanpa pikir panjang dia bersedia. Beralis segaris, kulit lengannya tak lagi kencang dan bibirnya bersudut indah. Ekspresinya datar-datar saja seolah-olah tak ada beban hidup atau beban lain yang harfiah menindih tubuhnya.
Prajurit kalap itu merasa berhasil memangsa buruan, padahal dialah mangsanya. Dahinya bersinar oleh keringat, napasnya seperti baru menyelesaikan lari jarak jauh sekali. Semua ini disaksikan kerumunan penonton yang bernapas tersengal-sengal, tegang, dan riuh sekaligus. Dia ciumi lagi leher si wanita yang menahan kepalanya agar tak semakin ganas. Aku lihat punggung tangannya yang berurat. Ah, godaan itu! Dengan enggan, sang PSK senior membalikkan posisi tubuhnya ke atas, membuat satu kaki prajurit kelelahan itu meronta-ronta bagai ancang-ancang kaki kuda. Hebatnya adalah wanita itu melakukannya dengan pragmatis, seolah-olah dia cuma mengikuti manual yang telah dihafalnya.
Penonton bersorak sambil saling pegang bahu atau kepala kawannya yang berjongkok, kusen pintu juga. Cepat betul prajurit itu KO. Melihat ini mata-mata lapar di pintu terbuka segera memanfaatkan kesempatan. Satu lagi prajurit maju dengan tak sabaran meski sorot matanya ragu. Wanita dengan rasa pengertian tinggi itu mengiyakan. Bahkan seperti seorang ibu, dia membantu membukakan celananya dengan sabar, mengeluarkan batang sabun dari saku yang telah disiapkan sebagai bayaran. Sang prajurit melompat ganas ke atas tubuhnya. Diperagakannya gaya memacu kuda dengan mata melihat ke bawah. PSK senior merasa perlu mengeluarkan suara tersakiti dari bibirnya yang datar.
Prajurit yang ini, perlu kujelaskan bahwa dia adalah seorang amatiran. Meski sudah menikah, dia belum pernah mengecap malam pertama. Miris betul. Paginya menikah, malamnya sudah dijemput truk ke markas sebab esoknya kami diangkut ke Bitung untuk berlayar sampai kemari, dengan janji akan dijadikan anggota tentara nasional. Kubayangkan istri yang ditinggalkannya itu lebih kasihan lagi kalau tahu kejadian malam ini, juga mertua si prajurit—atau bekas prajurit, entahlah status kami apa sekarang—yang mungkin mengutuk-ngutuk mantu yang belum mengapa-apakan anak gadisnya. Omong-omong soal bekas prajurit, apakah itu juga yang bakal keluargaku tulis di batu kubur? “Berbaring di sini seorang bekas prajurit”. Moralku tambah merosot memikirkan itu.
Kulihat satu per satu kawan-kawanku mendapat giliran. Bahkan sekaligus dua bertempur bersama. Tak ada perkelahian memperebutkan tempat. Tak ada yang mengajukan protes, “Ayo cepatlah!”, satu kepada yang lainnya sebab memang mereka cepat sekali KO. Rasa ingin itu sudah sedari tadi merasukiku, bersamaan dengan sakit perut kacang basi yang melilit-lilit. Sempat kubayangkan ibuku di kampung dan rasa segan bergumul dengan wanita yang kini sedang menjadi gula merah di antara semut-semut lapar. Tapi, ah, tidak juga! Ibuku menikah di usia tua. Kuterka wanita PSK ini seusia kakakku yang paling tua. Tapi beda lagi dengan wanita Jawa yang kebanyakan menikah muda, dia pasti sudah punya anak yang seusia kami. Apa yang dirasanya ketika bergumul dengan lelaki seusia anak sendiri?
Satu per satu kawanku tergeletak bahagia di lantai. Wajar saja, kebutuhan protein kami tidak banyak terpenuhi selama menjalani hari-hari rehabilitasi. Wajar saja cepat KO-nya. Padahal banyak melawan satu. Dan yang satu itu betulan wanita tangguh. Dia berlenggang santai hendak keluar dari kamar dengan membawa bungkusan berisi batang-batang sabun, bayarannya dari pekerjaan paling mulia bagi manusia-manusia hampir putus asa seperti kami hari ini. Oasis kami.
Cukurungan! Sakit perutku semakin menjadi. Padahal sudah kuniatkan ingin bercengkerama dengannya. Kalau kawanku yang tak becus pegang senjata dan hanya tahu persoalan logistik saja sudah mendapat giliran, masak aku tidak? Dengan harga diri sebagai pria petarung, kukerahkan seluruh tenagaku untuk bangkit, berpegangan pada kusen pintu. Aku tegak berdiri. Sengatan listrik menjalari lenganku yang terkena kain bajunya. Dia berhenti, bibirnya yang berujung lancip tersenyum kepadaku. Tangan kirinya (yang kanan memegang bungkusan berisi sabun-sabun) dia arahkan kepadaku. “Jasmine!” Gaya berkenalan Barat yang entah dipelajarinya dari meneer mana. Juga nama yang entah diambil dari mana. Sempat kujangkau meski tak sanggup aku ciumi tangannya itu.
Mereka bukan sedang memulihkan status sosial kami. Yang mereka upayakan adalah bagaimana moral kami semakin merosot dan kebutuhan biologis pria kami meronta tanpa bersuara. Aku harus bertahan. Harus bisa seperti Jasmine yang tak mengenal penat, berlenggang santai dengan bawaan sabun. Wanita itu telah dilempar keluar dari oportuni duniawi. Semak-semak di bawah pohon di jalanan Dinoyo dikuasai wanita-wanita penghibur dengan tarif Rp 25. Di Amerika—pernah kudengar—peralihan era membuat wanita-wanita seperti Jasmine kehilangan kesempatan menghasilkan uang, tergantikan dengan pacar-pacar yang sukarela.
Demikianlah pikiranku menjadi-jadi. Kupegangi perutku sebelum jatuh terkulai, lepas dari tangan berjari-jari panjang milik Jasmine. Masih bisa kudengar tawa kawan-kawanku yang salah sangka. “Dasar lemah syahwat dia! Ha-ha-ha….” ***
.
.
Cindy Wijaya lahir di Manado, Sulawesi Utara, 25 Agustus 1985. Menetap di Tangerang, Banten. Buku kumpulan puisinya berjudul Syukini yang Pulang (2018). Dia mendirikan komunitas Sahabat Cikokol di Tangerang (2014). Sejumlah tulisannya pernah dimuat di majalah sastra dan koran nasional.
.
Dinoyo: Wanita yang Berlenggang Membawa Sabun-sabun. Dinoyo: Wanita yang Berlenggang Membawa Sabun-sabun. Dinoyo: Wanita yang Berlenggang Membawa Sabun-sabun.