Laila (2)

Cerpen Ilham Wahyudi (Media Indonesia, 13 Maret 2022)

MAHLI duduk menunggu di sebuah kafe yang tak jauh dari stasiun kereta. Dia sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Mahli memang tidak pernah mau telat, terlebih kalau itu berhubungan dengan Laila. Baginya, menunggu Laila adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sedang mabuk dan Mahli adalah seorang pemabuk berat.

Sambil menunggu Laila datang, Mahli berencana memesan segelas teh dengan campuran buah leci. Namun, sesampainya di depan meja pramusaji, mendadak dia membatalkan niatnya. Nanti saja saat Laila datang. Bila ia datang, Mahli ingin memesankannya segelas cappucino dingin. Persis seperti 10 tahun yang lalu saat dia pertama berjumpa Laila, di kafe yang sama. Jangan-jangan Mahli ingin peristiwa sedekade lalu itu terulang sama persis. Namun, kala itu Laila terlihat cantik—meski usia Laila sudah memasuki kepala empat—bagaimana dengan sekarang?

Mendadak Mahli teringat sesuatu—sesuatu yang dia masukkan di tas ranselnya. Namun, sudah dia berdiri memutari meja dan kursinya, tas ranselnya tidak juga ketemu. Mahli melambaikan tangannya ke arah pramusaji, tapi mereka sibuk lalu-lalang, tidak menghiraukannya.

Jangan-jangan tas ransel Mahli tertinggal di stasiun kereta? Duh, kembali ke stasiun dan mencari tas ransel yang hilang tentulah pilihan yang akan membuang-buang waktu. Bisa saja saat Mahli kembali ke stasiun, Laila datang, dan akhirnya memutuskan pergi karena tidak menemukan Mahli. Pasti itu akan lebih mengecewakan Mahli daripada sekadar kehilangan sebuah tas ransel.

Mahli kesal. Bagaimana tidak? Di dalam tas ransel itu, Mahli menyimpan salinan percakapannya dengan Laila 10 tahun lalu. Salinan percakapan itu bahkan sudah Mahli laminasi supaya kalau terkena cipratan air hujan atau tumpahan minuman, kertas yang penuh kisah itu akan aman-aman saja. Kekesalan Mahli semakin bertambah-tambah bila dia mengingat niatnya yang ingin menunjukkan salinan itu kepada Laila; sebagai bukti bahwa perasaannya kepada Laila tidak sedikit pun berkalih.

Sahih sudah, tahun-tahun yang berlalu ternyata tidak mampu sekubit pun menjadikan Mahli lupa pada Laila—perempuan berkerudung dengan senyum yang merona. Kenyataannya, mereka sama sekali tidak pernah bersua lagi, atau bahkan berkomunikasi sejak pertemuan di kafe ini. Namun, sekali lagi, perasaan Mahli pada Laila tidak menyusut, bahkan terus menumbuh dan semakin lebat-membesar seperti pohon beringin yang rindang.

Mahli dan Laila saat itu sesungguhnya belum lama saling mengenal. Perkenalan mereka dimulai dari sesuatu yang tidak nyata—lewat sebuah aplikasi pencari jodoh. Meski hanya dari sebuah aplikasi, getar-getar purba yang biasanya selalu hadir ke dalam relung hati para pecinta, akhirnya berkunjung juga ke hati mereka.

Mereka saling tertarik, saling menaruh hati, dan saling meracuni sampai akhirnya sulit untuk keluar dan lepas dari rantai rindu yang mereka ciptakan sendiri. Namun, status salah satu dari mereka yang masih dalam sebuah ikatan suci membuat mereka mau tidak mau, suka tidak suka, harus menyudahi semua itu. Laila tak ingin menjadi yang kedua dan Mahli pun tak ingin melepaskan yang sudah terikat jauh sebelumnya.

Mahli bukannya tidak berusaha keras untuk meyakinkan Laila, bahkan Mahli siap memperkenalkan ratunya kepada Laila. Namun, Laila tetap menolak. Bagi Laila, cinta seorang pria hanya untuk seorang wanita; tidak boleh terbagi atau dibagi. Begitulah hati jika sudah kuat-teguh, meski seribu bukti Mahli tuangkan—bahwa ratunya siap berbagi istana—Laila tetap baka pada pendiriannya; menampik menjadi yang kedua.

Syahdan, dua manusia dewasa itu pun akhirnya memutuskan berpisah dan saling tidak memberi kabar. Akan tetapi, sebelum berpisah—pada pertemuan pertama mereka—Mahli mengungkapkan sebuah janji kepada Laila.

“Laila, 10 tahun dari sekarang, di jam yang sama, aku tunggu kamu di kafe ini. Kamu boleh tidak datang, tapi kalau kamu datang, aku akan buktikan bahwa cintaku yang suci ini memang tulus meski aku membaginya,” kata Mahli sambil menatap tajam mata Laila.

Laila diam. Lalu beranjak memunggungi Mahli dan meninggalkannya.

***

Laila duduk di depan cermin. Dipandanginya wajahnya yang mulai berkerut. Garis-garis tanda penuaan itu belakangan semakin kentara di wajah Laila sehingga sebagus apa pun Laila merawat diri, kerut itu pasti akan tetap muncul.

Laila memang tidak sama persis seperti 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, pancaran kecantikannya masih terang bersinar dan bila Mahli melihat itu, pastilah dia akan semakin mabuk. Semakin mabuk.

Alarm pengingat di ponsel Laila berbunyi. Ia memang sengaja memasang alarm itu sejak sebulan yang lalu meskipun ia sesungguhnya tidak begitu yakin Mahli akan datang menepati janji.

Laila mengenakan kembali kerudungnya. Sebelumnya, ia sempat melepaskan kerudungnya saat keraguan tiba-tiba saja mengerumuninya. Ia perhatikan tubuhnya di cermin sambil merapikan pakaiannya yang menurutnya masih terlihat kurang apik. Aneh. Padahal, Laila sudah tampak sangat rapi dan sopan. Apakah perempuan seusia Laila memang masih memedulikan hal-hal semacam itu?

Di ruang tamu, keponakan Laila sudah menunggu sejak sejam yang lalu. Laila sebenarnya bisa saja memesan taksi atau mungkin menyetir mobil sendiri. Namun, seperti 10 tahun yang lalu, Laila ingin diantarkan oleh seseorang saat ia pertama sekali bertemu dengan Mahli. Hanya karena sepupunya—yang dulu mengantarkan Laila bertemu Mahli—berhalangan dan anak-anak Laila sudah melanglang buana, ia pun meminta anak sepupunya mengantarkannya bertemu dengan Mahli.

“Ilham, ayo!” tegur Laila kepada keponakannya.

“Wow, Tante cantik sekali seperti mau ketemu pacar,” keponakan Laila coba menggoda Laila.

Laila tersenyum. Namun, sejurus kemudian, tubuh Laila sontak bergetar. Ia seketika menjadi mesin tua yang dipaksa bekerja; berat sekali rasanya kaki ia langkahkan. Ilham yang melihat peristiwa itu heran dan bertanya.

“Tante, baik-baik saja?”

“Ya, tapi kenapa mendadak tubuh Tante terasa lemas dan kaki Tante bergetar, Ilham?”

“Tante grogi?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Entahlah, Tante juga tidak tahu kenapa,” jawab Laila berbohong.

Ya, Laila memang berbohong. Sepuluh tahun lalu ia juga mengalami hal yang sama ketika Mahli tiba-tiba saja mengajaknya bertemu. Saat itu, Laila sama sekali belum ada persiapan. Walakin, karena rasa penasarannya kepada Mahli, ia pun datang menemui Mahli. Apalagi, Mahli mengatakan ia sudah di perjalanan dari stasiun kereta tempatnya turun.

Laila mencoba membaringkan tubuhnya di sofa dibantu Ilham. Ia berusaha mengembalikan tenaganya yang mendadak pergi entah ke mana. Dimintanya Ilham menyalakan mesin mobil. Ilham pun bergegas menuju garasi, kemudian kembali lagi ke ruang tamu. Sabar Ilham menunggu Laila menenangkan diri.

Tidak berapa lama, Laila memaksakan tubuhnya untuk bangkit dan berjalan. Ia masih terlihat sangat lemah. Akan tetapi, keinginannya bertemu Mahli melampaui rasa lemah yang Laila rasakan. Ilham pun membantu Laila berjalan menuju pintu mobil.

Sesampainya di dalam mobil, seketika tubuh Laila kembali normal. Ia seperti merasa tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal beberapa menit yang lalu, ia serupa wanita tua yang rapuh. Ilham kembali menggoda Laila.

“Kelihatannya Tante memang ingin bertemu pacar, atau mantan pacar barangkali, dan karena kekuatan cinta, tenaga Tante akhirnya kembali lagi,” canda Ilham sambil menahan tawa. Laila pun tersenyum dan meminta keponakannya itu untuk segera tancap gas.

Di jalan, lutut serta hati Laila sesekali masih bergetar, serupa 10 tahun yang lalu ketika ayah Ilham mengantarkannya ke kafe yang sama.

***

Mahli tampak semakin gelisah. Jika 15 menit lagi Laila tidak muncul, berarti Laila tidak tepat waktu. Terlambat memang sudah menjadi suatu hal biasa. Apalagi macet di kota tempat mereka tinggal sudah sejak dulu tidak juga dapat diselesaikan oleh pemimpin kota. Namun, Laila yang Mahli kenal tidak pernah ingkar janji.

Dulu saat mereka sedang menggebu-gebu bertukar pesan, Laila pernah berjanji akan melanjutkan obrolan yang mendadak berhenti karena anak Laila minta dibuatkan makanan. Laila mengatakan 20 menit akan kembali melanjutkan obrolan mereka. Benar, di menit ke-19 Laila sudah menyapanya lagi. Hal itu sangat membekas di benak Mahli. Jadi, wajar kalau kali ini Mahli terlihat cemas.

Laila melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.20. Ia harus sudah sampai minimal pada pukul 16.30, sementara jalanan sedikit macet. Ilham mencoba menenangkan tantenya. Laila memang tampak gelisah. Sesekali ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berharap saat membuka telapak tangannya, Mahli sudah ada di depan mata. Namun, setiap telapak tangan Laila buka, hanya antrean mobil dan motor yang ia lihat. Begitu terus sampai waktu di jam tangan Laila sudah menunjukkan pukul 17.10. Laila sudah telat 40 menit.

Mahli bersiap-siap meninggalkan kafe. Dalam hati dia masih ingin memberi Laila waktu 20 menit lagi. Jika 20 menit itu terlewat, Mahli memutuskan akan pulang. Ia melongok ke arah jendela. Hatinya mencelos. Sekonyong-konyong Humairah, sang ratu hati Mahli, muncul di depan kafe.

Mahli terkejut, mengapa Humairah bisa datang ke situ. Bukankah ia seharusnya ada di rumah? Mahli mencoba mengingat-ingat—pernah, tidak, dia bercerita tentang kafe itu atau tentang pertemuannya dengan Laila. Namun, tiba-tiba pikiran Mahli kacau. Seperti ada kabut di benaknya—yang Mahli ingat hanya Laila serta janjinya kepada Laila.

Bingung dengan apa yang ia saksikan, Mahli pun beranjak dari kursinya. Ia memberanikan diri mendekati Humairah yang baru saja masuk kafe. Saat Mahli hendak membuka mulut, mengucap nama Humairah, pintu kafe kembali terbuka.

***

Sesampai di parkiran kafe, Laila langsung buru-buru turun dari mobil. Ia bergegas membuka pintu kafe. Namun, di ruang kafe yang tidak terlalu besar itu, tidak dilihatnya Mahli. Justru ia bertatapan langsung dengan seorang perempuan berparas teduh.

“Mbak Humairah?” sapa Laira sedikit ragu.

Sosok Humairah masih ia ingat dari foto yang sempat Mahli tunjukkan. Mahli memang memberi tahu perihal Humairah yang baik hati dan penyabar kepada Laila.

“Iya. Mbak Laila?” balas Humairah pelan.

“Mbak datang dengan Mahli?” tanya Laila penasaran.

“Tidak, Mbak Laila. Saya sendiri,” jawab Humairah dengan wajah sendu.

“Oh?” Laila bingung hendak berkata apa. Perasaannya tidak enak.

Mahli yang kini sudah berdiri di antara kedua perempuan itu mulai dihinggapi keheranan. Mengapa Laila dan Humairah seolah mengabaikannya, sementara dia tepat berdiri tepat di antara mereka berdua?

“Lho, Mbak kenapa?” tanya Laila mendengar Humairah mendadak terisak.

“Mas Mahli, dia sudah meninggalkan kita, Mbak. Seminggu yang lalu, ia mendadak tidak sadarkan diri, dan… dan….” tangis Humairah pecah.

“Saya ingat dia punya janji dengan Mbak pada hari ini. Sebulan sebelum kepergiannya, Mas Mahli menceritakan janjinya dengan Mbak Laila kepada saya.”

Laila termangu. Seluruh tubuhnya serta-merta tak bertenaga. Rasanya ia mau pingsan.

Mahli yang mendengar ucapan Humairah tertegun. Pertanyaan-pertanyaan meluncur keluar dari bibirnya, tapi tidak ada satu pun yang dapat ia dengar. Ia menatap lengannya yang perlahan menjadi tembus pandang. Tubuhnya terasa ringan, pelan-pelan menghilang seolah ditelan udara.

Mahli mengalihkan pandang kepada Laila dan Humairah. Dua wanita yang ia cintai itu terlihat semakin menjauh. Jauh, tidak tergapai. ***

.

.

Akasia 11 CT, 2022

Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatra Utara. Ia seorang juru antar makanan di Dapuribu dan seorang fuqara di Amirat Sumatra Timur. Beberapa cerpennya dimuat dan ada yang ditolak media-media nasional. Buku kumpulan cerpennya, Kalimance Ingin Jadi Penyair, akan segera terbit.

...

Laila (2). Laila (2). Laila (2). Laila (2). Laila (2). Laila (2). Laila (2).

.

Arsip Cerpen di Indonesia