Cerpen Kristophorus Divinanto (Radar Madiun, 13 Maret 2022)
PEDAGANG baru itu membuat Lapangan Gulun kian ramai. Bahkan, setelah banyaknya ulasan tentangnya di media sosial, pengunjung bukan hanya orang-orang Madiun atau sekitar Jawa Timur.
Mereka datang dari Jogja, Cirebon, Jakarta. Bahkan, dari luar Pulau Jawa menyempatkan diri datang ke Madiun.
Ia bukan penjual jajanan, bukan pula menu makanan berat. Pun tidak menjual minuman manis beragam rasa. Sesuatu yang dijualnya adalah perihal yang tidak tergambarkan oleh indra pengecap. Lebih manis dari manis. Lebih pahit dari pahit. Ia menjual kenangan para pengunjungnya.
Pak Weling, demikian sebutannya. Ia tiba pada suatu pagi. Bersikap ramah pada rekan pedagang di sisi kiri dan kanan gerobaknya. Pedagang lain berusaha menerka tentang sesuatu yang akan dijualnya.
Pedagang nasi pecel langsung menggerutu karena ia berpikir makin hari makin bertambah saja orang menjual nasi pecel. Pedagang teh merasa takut andaikata Pak Weling juga menjual minuman teh. Pedagang bubur candil merasa waspada meski sejauh ini hanya dirinya seorang yang menjual bubur candil di Lapangan Gulun.
Namun, prasangka seketika menjadi tanya. Ketika Pak Weling selesai menata gerobaknya, perhatian pedagang dan pengunjung Lapangan Gulun langsung termangu.
Berbeda dengan pedagang yang lain, Pak Weling hanya memajang sebuah kotak warna-warni pada gerobaknya. Ia juga memasang kain rentang bertuliskan “Kenanganmu: yang tak lagi kau ingat biarlah tetap aku ingat”.
Tulisan itu dapat terbaca jelas dengan paduan font huruf dan warna yang ciamik. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk memanggil orang-orang datang ke gerobak Pak Weling. Satu per satu orang mulai datang.
Pembeli pertamanya adalah seorang pengamen Lapangan Gulun yang selalu melantunkan lagu-lagu campursari. Betapa terkejutnya orang-orang setelah melihat reaksi si pengamen usai membeli sebuah kenangan.
Pengamen itu menangis sesenggukan sembari memegang selembar foto yang menampilkan wajah seorang perempuan.
“Ini adalah anak perempuanku yang meninggal di luar negeri karena disiksa oleh majikannya,” kata pengamen itu berulang kali sambil terus menangis dan meninggalkan kerumunan.
Kejadian itu langsung menggemparkan seisi Kota Madiun. Kerumunan mulai memenuhi gerobak Pak Weling. Orang-orang tidak mau ketinggalan untuk membuktikan perihal kenangan yang dapat dibeli.
Setiap dari mereka hanya perlu memilih jenis kenangan macam apa yang ingin dibeli. Pak Weling menawarkan paket Kenangan Manis dan Kenangan Pahit. Masing-masing kenangan dihargai sepuluh ribu rupiah.
Pak Weling juga melengkapi dagangannya dengan paket murah bernama Paket Kenangan Campur, sepaket kenangan yang terdiri dari Kenangan Manis, Kenangan Pahit, dan Kenangan Masa Kecil.
Orang-orang biasanya lebih memilih jenis paket ini karena mereka hanya perlu membayar dua puluh ribu rupiah untuk mendapatkannya.
Usai membayar sejumlah uang sesuai paket yang dibeli, Pak Weling akan meminta pembelinya menulis nama lengkap mereka pada selembar kertas yang telah disediakan. Kertas tersebut kemudian dimasukkan Pak Weling ke dalam kotak warna-warni melalui lubang sempit berbentuk persegi panjang. Mirip seperti memasukkan amplop sumbangan ke dalam kotak yang tersedia pada acara pernikahan.
Setelah kertas dimasukkan, gugus warna-warni pada seluruh permukaan kotak akan memancarkan cahaya dengan kombinasi acak. Ketika kotak tidak lagi memancarkan cahaya, sebuah foto akan muncul dari lubang tempat memasukkan kertas berisi nama lengkap pembeli. Pak Weling mempersilakan pelanggannya mengambil sendiri foto tersebut.
Kian hari orang-orang tidak hanya datang untuk membuktikan kebenaran pedagang kenangan. Mereka datang untuk mengingat kembali perihal peristiwa-peristiwa yang telah hilang dari ingatan. Mereka datang untuk mengingat lagi kenangan manis dan pahit masing-masing.
Seseorang datang dan kembali mengingat pendakian Gunung Wilis bersama suaminya. Seseorang lain datang dan mengingat mantan kekasihnya yang tidak mendapat restu karena berbeda perguruan silat.
Orang-orang datang untuk bahagia dan bersedih. Mereka bisa tertawa sekencang-kencangnya hingga menangis sejadi-jadinya usai menerima lembaran kenangan.
Tentu pedagang lain ikut senang dengan keberadaan pedagang kenangan itu, mengingat makanan dan minuman yang mereka jajakan ikut laris. Tiada lagi mereka yang pulang dengan membawa sisa dagangan. Makanan, minuman, balon, mainan, semua terjual habis.
Jono dan cucunya ikut penasaran dengan pedagang kenangan di Lapangan Gulun. Setelah menyusun rencana sejak minggu lalu, akhirnya keinginan keduanya membeli kenangan bisa terwujud.
Sembari rutinitas bersepeda pagi setiap Sabtu, keduanya mendatangi pedagang kenangan yang ramai dibicarakan. Cucu Jono hanya membeli paket Kenangan Manis karena takut membeli paket Kenangan Pahit. Usianya juga masih terlalu belia untuk membeli Paket Kenangan Campur karena masih bisa mengingat setiap detail peristiwa masa kecil.
Cucunya bersorak girang melihat kenangan yang ia terima adalah kenangan wisata di Jogjakarta bersama keluarga. Ia jingkrak-jingkrak memegang lembar foto di tangannya.
Ia tidak menyadari perubahan sikap sang kakek. Jono hanya terdiam. Wajahnya pucat. Telapak tangannya berkeringat. Sebelumnya Jono tersenyum bangga melihat hasil foto yang keluar dari paket Kenangan Manis. Terpampang fotonya semasa muda ketika masih menjadi TNI dengan seragam lengkap dan senapan di tangan.
Namun, tangan Jono langsung gemetar melihat foto paket Kenangan Pahit. Sosok laki-laki yang ia temui tujuh puluh tahun lalu terpampang di sana. Wajah yang masih sering bertamu pada mimpi buruk Jono.
Wajah seorang petani porang yang Jono bunuh dengan tiga tembakan karena mengibarkan ratusan bendera merah di alun-alun pada masa itu. ***
.
.
KRISTOPHORUS DIVINANTO. Pengajar dan penulis lepas yang tinggal di Madiun.
.
.
Maklumat
Jawa Pos Radar Madiun menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, dan esai. Naskah berupa file Microsoft Word dengan maksimal 800 kata untuk cerpen; 500 kata untuk esai; dan maksimal 5 puisi. Cantumkan uraian singkat identitas diri dan kirimkan karya lewat surel ke alamat radarmadiun.litera@gmail.com
.
.Pedagang Kenangan Lama. Pedagang Kenangan Lama. Pedagang Kenangan Lama. Pedagang Kenangan Lama.