Cerpen D Hardi (Kompas, 20 Maret 2022)
BEDIL itu seketika berpindah tangan padanya. Sebelum adegan berganti sesal, Saudara semua, ya, Saudara pembaca sekalian mesti memahami seutuhnya musabab yang melatarbelakangi kenekatan tokoh utama kita.
“Mungkin lebih baik jika aku ikut mampus,” lenguhnya dengan napas derit rem terakhir kereta.
Sebelum menjual daging, Durak adalah seorang tukang jagal yang sigap menjagal apa pun jenis daging; satire yang saya dapat dari orang pasar. Pasar Njagali namanya. Klop. Mungkin di masa lawas sebelum berdiri di tanahnya sekarang ketika masih berupa hutan dan tanah rawa yang banyak dihuni dedemit, pernah berlangsung ritual jagal-menjagal yang sengit dan kompetitif, di mana para penjagal berlomba-lomba menjagal setiap korbannya yang tak berdaya lewat aturan sederhana; siapa dengan cepat, senyap, nan mantap menjagal lawannya, dialah kampiun paling pantas diarak seantero alun-alun.
“Saya tidak menjagal manusia!” tegas Durak bulat-bulat sewaktu pertama kali saya temui di lapas.
“Selalu ada asap pada api yang menyulut,” kata saya, menyalakan rokok lalu melemparkan sebungkus lain buatnya. Dia melengos. Saya sebut nama Laela, panggilan akrab Nurlaela si kembang pasar, raut mukanya ganti seketika bagai menang Porkas.
“Di mana dia sekarang?” todongnya.
“Justru saya ingin tahu darimu. Dia bisa menolongmu,” kata saya, “ada petunjuk?”
Durak melenguh lagi dengan napas derit kereta—kereta usang penuh karat.
“Dua orang mati di tanganmu; tangan yang menggenggam sepucuk bedil panas di hadapan orang-orang. Itu bisa vonis mati!”
“Akar persoalannya tak sederhana,” Durak memotong. “Orang-orang pun tampak mematung saja. Mereka sudah bertungkus lumus dengan kerasnya hidup setiap hari, mana sudi berurusan ke pengadilan.”
Saya melirik sipir yang tadi menerima dengan kesan agak rikuh dua slop keretek agar kami punya waktu lebih. Sekian pewarta pasti mendekatinya.
Sebelum menyebut Laela, bibir dan sorot mata Durak banyak membungkam. Wajahnya mudah terpampang di koran lampu merah dengan judul bombastis: “Buset! Dua Lelaki Bangsat Rontok Mampus Disenggol Bacok Tukang Jagal Gara-Gara Rebutan Pacar”.
Saya tak mau setengah-setengah. Saya tahu, setelah Boni dan Jarot mati, Laela menghilang. Saya juga tahu, beberapa hari setelah jemala begundal kakap bernama Seno remuk dan tewas dengan leher nyaris terpenggal, adalah waktu ketika Jarot tiba-tiba muncul untuk pertama kalinya di pasar. Ada cerita sahih penghubung dua peristiwa itu, saya sedang mencari tahu.
Durak berkisah, Jarot terlalu mencolok sebagai tukang arloji. Dia membuka lapak persis di dekat pintu masuk yang tak jauh dari lapaknya. Buat lelaki berumur, bahunya kelihatan tegap. Selain lup, calak, obeng, dan perkakas lain, Jarot kerap menyisipkan belati Rambo di balik sepatu boots.
“Jaga-jaga, kau kan punya golok,” selorohnya, “pasar ibarat rimba Jon, kau mesti waspada setiap detik, siapa mangsa siapa pemangsa.”
Semua orang dipanggil Jon. Semua diamati. Dia pandai mereparasi dan merakit apa saja, termasuk bedil yang pernah suatu hari diam-diam ia tampakkan di balik jaket kulit.
“Bisa jadi uang,” bisiknya.
Dia berlagak intel Melayu yang sedang menyelidiki kasus. Kalau memang terkait dengan matinya Seno, orang pertama yang patut dicurigai adalah Boni, satu-satunya gali tersisa. Hanya sesama gali yang bisa membunuh kawan sendiri. Mungkin faktor mabuk atau soal pembagian uang siapa tahu; Boni menarik pungutan dan menyetornya ke Seno, lantas merasa kian dongkol selalu di bawah ketiaknya. Pikiran dangkal, memang.
“Semua pedagang dipajaki kecuali kamu,” pancing saya.
“Mungkin jiper lihat golok daging.” Ia mengisap rokok seadanya.
“Saya penasaran,” tanya saya, “kenapa orang-orang menjulukimu ‘tukang jagal’?”
Durak terdiam sejenak.
“Siapa lagi, tiada bukan pasti Rohim. Menurutnya, anak komunis selamanya anak komunis.” Ia menggeram. “Bapak guru sekolah biasa, tapi dituduh macam-macam, kata mereka, Bapak selamat karena berkhianat, hanya komunis yang bisa membunuh kawan sendiri. Ajaib betul. Rohim itu penjual sembako, masih kerabat Laela. Sepupuan. Laela dimodali warung kopi, tak jauh dari lapak saya. Dia gadis yatim. Matanya teduh. Rambutnya hitam arang. Bibirnya serona jambu air. Suaranya, bagai sembilu angin kesepian. Dada saya panas setiap kali gerombolan Boni ongkang-ongkang ngopi sambil iseng menggodanya meski ditanggapi sedingin es, kecuali pada saya. Laela melihat saya seperti saya melihatnya. Diam-diam kami kerap jalan di luaran. Sesekali saya traktir bakso, es teler, atau ke bioskop lama nonton film-film Barry Prima. Laela suka film laga. Saya suka aroma samponya di bahu saya.”
“Kamu jatuh cinta?”
“Saya belum pernah merasakan ini semenjak ibunya Durak meninggal,” jawabnya.
“Tunggu, Durak, maksudmu?”
“Anak saya di kampung, istri yang kasih nama serupa nama saya, mungkin dikiranya saya tak bakal hidup lama, ternyata….” Durak melenguh lagi, kecut. Ia benamkan sisa rokok di asbak. “Istri saya dulunya incaran Rohim, tapi lebih memilih saya.”
Saya mengangguk paham.
“Lama-lama Rohim tahu hubungan kami, tatapannya penuh jijik setiap kali berserobok, namun begitu lain jika kedatangan Sapin, wajahnya ramah sumringah persis mental oknum jajahan terhadap penjajah.”
“Sapin?” Saya dapat satu nama lagi.
“Sapin tangan kanan seorang calon kepala daerah, tokoh pemuda yang mudah tepergok secara kasatmata sesungguhnya tak muda lagi, malah menjelang kisut!”
Nada Durak melonjak. Ia bertaruh, Rohim tak bakal keberatan bila Sapin melamar Laela, bahkan buat jadi istri kedua. Sapin sering mampir ke lapak Rohim seraya mencuri-curi pandang ke warung Laela. Jika kebetulan Boni ngejogrok di sana, Sapin urung berlagak pesan kopi.
Suatu hari calon dukungannya datang berkampanye. Ia berjanji akan mengubah pasar, seperti pasar-pasar modern yang tertata apik, resik, dan steril dari pungutan liar, dari para preman yang siapa pun telah mafhum merujuk ke gerombolan Boni. Saya dengar Boni mencak-mencak dan melancarkan ancaman jika siapa pun berani memilih calon bawaan Sapin. Lelaki yang pelipisnya tergores codet melintang itu ingin kekuasaan total tanpa tawar-menawar.
Oke, secara status quo Boni butuh pasar. Sedang Sapin ditugasi membersihkan pasar—membersihkan di sini seperti mengamankan dalam tanda kutip. Saya mulai meraba sesuatu. Apa hubungannya dengan Jarot?
“Perkiraan saya salah soal Jarot,” Durak menyisir rambut yang awur-awuran dengan jemari, “dia memang mata-mata, tetapi bukan aparat yang menyelidiki kematian Seno. Justru dia penjagalnya!”
Saya terperanjat. Dada saya berdesir.
“Di malam bergairah itu, Laela menguak segalanya,” lanjut Durak. “Bergelagat cemas, di tepi ranjang yang masih hangat dia peluk saya dari belakang. ‘Aku menyaksikan tanpa sengaja malam itu,’ dia bilang, ‘Jarot menebas leher Seno dengan belatinya tanpa ampun. Begundal tatoan itu menggelepar, hingga selang detik kemudian berhenti. Pasar begitu sunyi. Hanya hening dan tak lama datang seseorang dengan seringai menjijikkan. Sapin. Dia tak bakal dirindukan siapa pun, pasar ini mesti bersih dari kecoak, ucapnya dingin pada Jarot.’”
***
Saya mendengarkan Durak terus berkisah ketika sipir lapas memberi sinyal, sudah hampir satu jam. Tak bisa lebih. “Besok di jam segini, saya masih jaga,” sahutnya berbisik dengan kumis bergetar.
Saya lihat wajah Durak plong, bagai tuntas memuntahkan lahar panas.
“Kabarkan ini pada dunia,” pisah Durak menjauhkan jarak, lalu menghilang.
Dunia mana, fiksi atau nyata?
Sipir lapas menutup pintu besi. Metromini lewat, saya berjalan saja susuri kota. Menaiki jembatan. Melewati pedagang kaki lima. Menelusuri gang-gang sempit, sekumpulan bocah—yang lolos dari program KB—mengerubungi abang penjual gulali yang mencetak hati pelangi.
Kali besar membelah jalur kendaraan, airnya gelap pekat; seperti kehidupan, seperti jalanan. Seperti kota rimba, ketika orang-orangnya beradu kuat saling terkam, sekaligus eksotis, bagai poster-poster syur film lokal yang bertahan dari serbuan Cynthia Rothrock dan Chuck Norris.
Benak saya masih terngiang-ngiang di lapas. Kematian Seno nyatanya tak membikin begundal lain macam Boni gentar. Para begundal pun saling tengkar: antara si kerah biru dan putih. Hingga tiba hari naas itu; Boni yang mabuk kelewat batas menggoda Laela dengan meraba-raba bokongnya tepat di depan mata kepala Durak. Jarot pun tiba-tiba muncul. Dalam hitungan detik, Boni-Jarot-Durak terpaut niat rantai saling menghabisi.
Laela berlari ke arah Durak. Boni hendak mencabut pisau dari pinggang ketika, cap! Golok daging telah menancap di batok kepalanya. Durak meneriaki Laela untuk lari. Jarot menyerang Durak bertubi-tubi dengan belati Rambo-nya meski berhasil dielak sampai jatuh. Keduanya bergumul hebat. Giliran Jarot akan mencabut bedil, Durak berhasil mendepaknya hingga mereka berguling-guling di tanah basah dan bedil itu seketika berpindah tangan padanya; menempel di jidat Jarot yang memohon ampun. Tetapi tak ada ampunan gratis hari itu.
“Memangsa atau dimangsa,” cetus Durak.
Bedil meletus.
Laela seharusnya dapat bersaksi. Namun, dia menghilang sejak kejadian itu. Berbulan-bulan lewat, ada gosip bilang Laela telah dinikahi siri oleh Sapin dan Rohim pura-pura tak tahu. Tetapi Rohim sepertinya jujur; di suatu subuh depan lapaknya, tiba-tiba tergeletak seorang bayi mungil tanpa siapa pun mengakui. Hidungnya mirip Durak. Matanya mirip Laela. ***
.
.
Bojongsoang, November 2021
D Hardi, banyak mengarang cerpen. Tinggal di Bandung. Karyanya telah tersiar di berbagai media cetak dan digital, seperti Basabasi.co, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Detik.com, dan Bacapetra.co. Buku kumpulan cerpen berjudul Palindrom (Poiesis/2021) telah terbit.
Suharmanto, kelahiran Bantul tahun 1976. Lulusan Fakultas Seni Rupa ISI yogyakarta. Empat kali pameran tunggal dan sudah lebih dari 60 kali pameran bersama. Beberapa kali menerima penghargaan, antara lain Karya Terbaik Pameran Refleksi Zaman, ISI Yogyakarta, tahun 1998 dan 10 Besar Terbaik Peksiminas IV, BSMI Yogyakarta.
.
.