Cerpen Arafat Nur (Jawa Pos, 27 Maret 2022)
INI benar-benar tempat hantu yang nyata, pikir Talita. Sudah nasib. Atau tepatnya, sudah takdir. Sudah menjadi takdirnya bersuami seorang lelaki buruk rupa yang tinggal di pelosok desa. Suaminya lelaki berkulit gelap, wajah dipenuhi bopeng parut luka cacar, mata kecil, hidung besar, dan cuping telinganya agak lebar.
Desa tempat tinggal suaminya itu betul-betul sangat terpencil dan diselubungi hutan pinus yang di bawahnya dipenuhi semak belukar. Penduduknya tinggal di rumah-rumah kayu kumuh dan kotor, saban harinya sibuk meletakkan sesajen di kolong rumah, di kali, batu, dan pohon-pohon besar sebelum berangkat ke ladang dan sawah mengurus tanaman kunyit, jahe, dan padi.
Talita yang cantik. Perawan kota yang menarik. Kenapa bisa mendapatkan lelaki kampung pelosok yang buruk rupa? Demikianlah orang-orang di lingkungannya bertanya-tanya tak habis pikir. Konon, desa tempat tinggal suami Talita masih sangat kolot. Penduduknya masih mandi telanjang bulat di sungai, menyembah pohon dan batu, percaya takhayul, dan suka main sihir.
“Jangan-jangan Talita kena pelet,” kata seorang teman dekat Talita yang prihatin.
“Apa benar?” tanya teman lainnya bergidik.
Namun, Talita yang cantik, berparas jelita, dan kemayu memang tidak ada lagi yang melamar. Usianya sudah di pengujung tiga puluhan. Jangankan orang tuanya, dia sendiri begitu ketakutan menjadi perawan tua seumur hidup seperti beberapa perempuan yang tidak memiliki suami sampai nenek-nenek dan akhirnya meninggal sendirian di rumah yang sunyi. Talita begitu ketakutan kalau dirinya mengalami nasib sial serupa itu.
“Lihat apa yang terjadi sekarang,” tuding ibunya setelah Talita menolak lamaran tujuh lelaki. “Tidak seorang pun lagi yang datang melamarmu. Untuk apa paras cantik kalau tidak memiliki suami?”
Kata-kata ibunya itu begitu terngiang-ngiang di telinganya. Menurut kepercayaan orang-orang tua, bila sampai tujuh lelaki yang melamar ditolak, seorang gadis tidak bakalan mendapatkan jodoh seumur hidupnya. Bukan sebab Tuhan tidak memberikan jodoh. Semua orang memiliki jodoh masing-masing. Hanya, ketika Tuhan memberinya, dia menolak. Jadi jangan salahkan Tuhan.
Semula Talita tidak terlalu menggubris kata-kata itu. Dia tidak terlalu pusing dengan apa yang diumbar orang-orang sekeliling. Bukannya dia tidak mau segera menikah, bukan! Melainkan ketujuh lelaki yang datang melamarnya itu tidak sesuai dengan selera dan hasrat dirinya. Tidak satu pun dari mereka mampu menggetarkan hatinya. Talita tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang-orang bahwa kelak dia sulit mendapatkan jodoh kalau menolak terus.
Anehnya, setelah lelaki ketujuh ditolak, memang tidak ada lagi yang datang melamarnya, sampai kemudian usianya menginjak tiga puluh tujuh. Sejumlah lelaki yang menjadi teman pergaulan Talita dulu satu per satu menjauh. Ada yang mendapat pekerjaan di kota lain. Ada yang pindah karena suatu sebab. Dan, kebanyakan dari mereka akhirnya menikah dan pindah rumah.
Lantas, Talita pun bersumpah. Siapa pun lelaki kedelapan yang datang melamar akan langsung diterimanya.
***
Suatu hari Talita ikut serta mengantarkan rombongan pengantin perempuan yang menjadi tetangganya ke sebuah desa dekat kaki gunung. Di tengah acara pesta itu, seorang lelaki berkulit gelap, wajah penuh bopeng, hidung bulat pesek, dengan kuping yang agak lebar menegurnya dengan sopan.
“Namaku Toro,” lelaki itu memperkenalkan diri. “Maaf ya, Mbak, kalau aku bersikap lancang. Aku yakin Mbak belum menikah, benar kan?”
“Lho, kok Mas tahu?” tanya Talita heran.
“Maaf ya aku lancang lagi,” kata Toro merendahkan kepalanya. “Aku melihat bentuk pinggul Mbak yang masih rata.”
Talita pun dengan agak malu-malu melihat ke arah perutnya. “Rata?”
“Bagaimana ya aku menjelaskan?” ucap Toro agak kebingungan. “Itu, bentuk pinggul Mbak masih belum turun.”
“Belum turun?”
“Iya, seperti bentuk pinggul perempuan-perempuan yang belum melahirkan. Sulit sih membedakannya kalau tidak jeli. Tapi, aku sudah terbiasa mengamati banyak perempuan. Tebakanku belum pernah meleset. Benar, bukan, apa yang kukatakan barusan?”
Dengan tersipu dan seperti terhipnotis, Talita pun mengangguk pelan.
“Maaf ya kalau aku lancang lagi,” lanjut Toro dengan sikap percaya diri. “Apakah Mbak yang cantik ini bisa tertarik sama lelaki jelek sepertiku?”
Talita lama tercenung, berpikir, dan tetap kebingungan. Akhirnya dia menanggapi juga dengan ragu, “Kalau jodoh mau bilang apa.”
“Apa Mbak tidak malu?”
“Aku juga bukan perempuan yang cantik benar….”
***
Dari peristiwa kecil tak terduga itulah akhirnya hubungan Talita dan Toro berlanjut hingga ke jenjang perkawinan. Dan, Talita dapat membuktikan bahwa kata-kata ibunya dan orang-orang tentang dirinya salah. Meskipun lelaki yang menjadi suaminya itu memiliki banyak kekurangan, terutama dari segi wajah, penampilan, dan pendidikan, Toro punya pergaulan luas di desanya.
Lantaran aturan seorang istri harus mengikuti suami, Talita pun tinggal di rumah mertuanya di pelosok desa. Dia berpikir, tidak ada salahnya mencoba hidup di tempat yang jauh dengan suasana berbeda. Lagi pula suasana desa lebih nyaman, sehat, dan menenangkan. Bayangan dan pikiran itu tidak salah karena pada banyak kenyataan memang benar demikian.
Namun, tidak untuk kali ini dan tidak untuk desa tempat Toro tinggal. Sekarang Talita berada di sebuah desa terpencil di tengah hutan yang penduduknya masih sangat kolot. Sebuah desa yang gelap oleh pohon-pohon pinus dan mahoni. Terlebih di pengujung tahun, di saat hujan deras sering turun, lahan cepat sekali menjadi semak dan gelap. Rumah-rumah penduduk seperti terperangkap dalam semak liar yang tidak bisa dikendalikan. Bahkan, di samping rumah, hanya berjalan beberapa langkah, Talita berasa sudah berada di dalam hutan.
Di bawah kerimbunan semak hutan yang dingin itulah rumah-rumah penduduk yang kumuh bertebaran, tanpa sumur dan jamban. Orang-orang mandi telanjang di sungai dan buang hajat di kakus tanah yang kotor. Bau busuk yang sangat tajam menyengat di mana-mana, membuat Talita mual dan sesekali muntah di saat tidak tahan.
Berhari-hari Talita tidak bisa buang hajat. Bukan sebab perutnya bermasalah. Melainkan kakusnya yang aneh dan terasa berada di tengah hutan sekalipun jaraknya hanya sekitar dua puluh langkah dari rumah. Kakus itu berupa lubang galian tanah yang diberi pijakan kayu dan terlindungi bangunan kecil setinggi dada yang hanya muat satu orang. Namun, saat hajatnya tak tertahan, Talita masuk juga ke dalam kakus itu dengan perasaan ngeri dan sangat jijik. Kecoak berpencaran dari lubang tempat tinja yang membuatnya menjerit. Bau tinja dan pesing membuatnya batuk-batuk dan muntah.
Aku harus terbiasa dengan semua ini, batin Talita menguatkan dirinya. Ini belum apa-apa.
Benar, itu memang belum apa-apa. Ada masalah lain lagi yang lebih rumit.
Ketika Talita diketahui hamil, seorang dukun datang ke rumah. Dia berikan buntel kain setelunjuk sebagai azimat yang tidak boleh dilepas dari tubuhnya. Berikut sederetan pantangan yang harus dipatuhi. Mulai tidak boleh melihat kambing merumput hingga dilarang makan jantung pisang.
“Kalau lihat kambing merumput, nanti anakmu suka melet,” kata ibu mertuanya, sehingga setiap kali dia berada di luar dan ada kambing merumput, Talita harus memejamkan mata.
“Kalau makan jantung pisang?” tanya Talita.
“Nanti badan anakmu akan terus mengecil seperti jantung pisang!” jawab ibu mertuanya.
Ya, Tuhan! jerit batin Talita. Betapa kolot dan terbelakangnya pikiran orang-orang di desa ini. Bukan saja jantung pisang, hampir semua buah-buahan dilarang dimakan!
Akhirnya hidup Talita terkungkung. Apa pun tidak boleh dilakukan kecuali sepengetahuan suami dan mertuanya. Sebab, hidup di desa terlalu banyak pantangan dan larangan. Kayu bakarnya harus diatur sejajar; pangkal dengan pangkal. Daun pisang tidak boleh dibawa masuk ke rumah karena rumah bukan hutan. Dan, setiap melakukan sesuatu harus genap—apa saja, termasuk memasukkan kayu ke tungku api—tidak boleh ganjil.
Karena terlalu banyak yang harus diingat, Talita kerap salah dan setiap hari—betul-betul setiap hari—dia menjadi sasaran kemarahan ayah mertua, ibu mertua, suami, dan orang-orang kampung yang menganggapnya menentang adat. Gara-gara tindakan Talita yang membawa utuh daun pisang masuk ke rumah, menaruh kayu ke tungku sering salah, hantu-hantu dan arwah-arwah yang ada di desa itu marah. Makanya tidak lama kemudian tubuh Talita kejang-kejang dan dia jatuh sakit.
Dukun pun dipanggil untuk menjampi-jampi Talita dan menenangkan hantu-hantu dan arwah-arwah yang marah. Lelaki tua dengan kulit wajah bergelambir itu meminta Toro menyembelih ayam jantan sebagai sesajen. Sesajen diletakkan di sepenjuru rumah. Rumah itu dimantrai, dipercik-percikkan air dan ditaburi garam. Setelahnya mereka yakin tidak ada lagi makhluk halus yang mampu menembus ke rumah itu.
Nyatanya, tidak lama setelah sang dukun memagari rumah, ayah dan ibu mertua Talita jatuh sakit. Sakit yang membuat keduanya tidak bisa bangkit lagi dari tidurnya. Hingga kemudian keduanya meninggal. Keadaan gempar. Toro diliputi kesedihan mendalam. Wajahnya yang buruk semakin terlihat buruk.
Kesalahan pun dikembalikan seluruhnya—seluruhnya—kepada Talita yang tidak bisa menghormati arwah nenek moyang mereka. Gara-gara kelakuannya itu semua orang tertimpa celaka, tidak hanya dia, tetapi mertua dan juga penduduk terkena imbasnya.
Ini benar-benar mimpi buruk. Dan, Talita menginginkan apa yang dialaminya sekarang tetap sebagai mimpi buruk. Namun, kenyataannya ini semua bukan mimpi buruk, melainkan kenyataan buruk. Kenyataan yang benar-benar sangat buruk.
Talita stres. Dalam tidur dia bermimpi telah kawin dengan lelaki yang ternyata berasal dari bangsa jin. Dan, dia mengandung anak jin sampai kemudian melahirkan bayi lelaki yang aneh. Bayi itu memiliki bentuk rupa sangat buruk; wajah bulat, mata kecil, hidung besar pesek, dan daun telinganya sangat lebar.
Talita berteriak-teriak kengerian melihat bentuk bayinya. Tubuh bayi yang baru dilahirkannya itu mendadak tumbuh besar dengan wajah menyeramkan. Dan, bayi itu bangkit hendak membunuh Talita. Talita berusaha bangkit melarikan diri, tetapi tidak bisa. Dia hanya bisa menjerit. Menjerit dengan begitu keras.
“Tolooonnng…! Tolooonnng akuuuu…!” pekiknya kengerian, berkali-kali.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar membungkam mulutnya. Dia melawan-lawan seperti orang tenggelam di tengah lautan yang kehabisan napas.
“Diamlah!” bentak Toro.
Talita pun tersadar. Dia mendengus panjang. Ternyata yang dialaminya barusan cuma mimpi. Semoga semuanya cuma mimpi. Tangannya mengelus-elus perut buncitnya. Bayinya belum lahir. Tidak lama lagi akan lahir.
Tatkala Talita melahirkan, wajah bayi lelaki itu sangat bulat, mata kecil, hidung besar pesek, dan daun telinganya sangat lebar. Bentuk tubuh dan wajah bayi itu persis seperti dalam mimpi buruknya. ***
.
.
Ponorogo, 2021
ARAFAT NUR. Pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Serdadu dari Neraka.
.
Mimpi Buruk Talita. Mimpi Buruk Talita. Mimpi Buruk Talita. Mimpi Buruk Talita. Mimpi Buruk Talita.