Cerpen Kak Ian (Koran Tempo, 27 Maret 2022)
HAN Kyu baru saja siuman. Bangsal, tempat ia terbaring tidak sadarkan diri beberapa hari itu, tampak sepi. Namun, saat ia bangkit, dirinya seperti terlepas dari mati suri saja. Walaupun belakang kepalanya masih terasa nyeri seperti terbentur benda keras.
Sialnya, saat Han Kyu baru ingin memincingkan netranya untuk melihat sekeliling bangsal, dan masih menahan sakit, tetiba di hadapannya sudah berdiri dua orang berseragam polisi—yang satu lelaki dengan mata elang. Ia menatap Han Kyu begitu tajam. Sedangkan satunya lagi seorang wanita dengan senyum yang ramah. Ia seperti menyapa Han Kyu. Tapi, saat Han Kyu melihat wanita itu, di tangannya tergenggam notes dan pulpen.
Sebenarnya mereka mau apa? Pikir Han Kyu.
Setelah itu Han Kyu beralih pada sosok yang menyebalkan. Di depannya sudah berdiri lelaki muda sebaya dengannya. Ia menatap ke arah Han Kyu sambil cengar-cengir seperti kuda kenyang (diberi) makan.
“Kamu siapa?” tanya Han Kyu sambil mengingat-ingat wajahnya, walau kepalanya masih terasa sakit. “Aouw!” jeritnya sambil memegang kepala.
“Ya sudah, kau istirahat saja dulu! Maafkan dua orang tadi! Mereka itu dari kepolisian. Mereka memaksaku untuk menemuimu. Baiklah, kami akan meninggalkanmu untuk istirahat,” kata lelaki yang sebaya dengan Han Kyu itu sambil menyebut nama seseorang. Han Kyu, yang mendengar nama itu disebut, seperti mengenalinya.
“Han Kyu?” dirinya mencoba mengingat nama itu. “Aouw, kepalaku sakit sekali!” Rasa sakit di kepala Han Kyu membuatnya tak mampu lagi berpikir panjang.
“Kalau begitu, kami juga akan kembali ke kantor. Jika ada perlu sesuatu, panggil kami. Atau nanti kami akan datang lagi. Sekali lagi maaf, kami mengganggu Tuan Han Kyu. Kami pamit. Mohon kerja samanya nanti.”
Belum sampai Han Kyu menenangkan diri. Kini datang dua orang lagi menghadap dirinya. Satu lelaki berkacamata—yang di lehernya berkalung stetoskop. Sedangkan satu lagi wanita muda tanpa riasan, tapi cukup menarik hatinya. Mereka ternyata dokter yang menangani Han Kyu saat tidak sadarkan diri dan seorang perawat.
“Baiklah Tuan Han Kyu, kami ingin memeriksa kembali kesehatan Anda,” dokter itu memeriksa kembali kondisi Han Kyu. Sedangkan perawat yang memiliki tahi lalat kecil di bibir tipisnya itu menatap Han Kyu sambil menulis, ada atau tidak keluhan dari Han Kyu.
“Karena tidak ada sesuatu yang patut dikhawatirkan lagi, kalau begitu kami kembali bertugas karena ada pasien lagi. Tapi kami berharap Tuan Han Kyu mau kooperatif kepada pihak kepolisian untuk persoalan kronologi baku tembak di salah satu perumahan yang Tuan Han Kyu saksikan pagi itu. Selamat istirahat!”
Han Kyu kini kembali sendiri di bangsal itu. Tapi saat itu dirinya agak tenang. Mungkin karena tadi perawat itu menyuntikkan cairan di tabung infusannya?
Namun yang pasti Han Kyu kembali memikirkan ucapan dokter itu. Dokter itu mengatakan Han Kyu harus kooperatif tentang persoalan baku tembak di sebuah perumahan mewah yang dilihatnya. Walaupun ia bukan bagian dari para pelaku itu.
Sial, sial! Apa yang terjadi padaku? Seharian ini orang-orang menghampiriku tanpa jelas. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku? Terlebih orang-orang berseragam kepolisian itu. Untuk apa mereka menemuiku? Pikir Han Kyu.
***
Pagi itu, tidak biasanya Gangnam sepi, terutama di jalan-jalan kecil. Salju pun turun tidak begitu lebat. Jalan raya pun begitu, bisa dilalui kendaraan beroda empat maupun dua tanpa gangguan kemacetan apa pun.
Halnya Han Kyu saat itu, ia akan pergi ke salah satu pengoder taksi online miliknya. Walaupun pagi masih ingusan, masih gelap, ia harus tetap profesional. Sekalipun jarak tempuh itu jauh, tetap akan diterimanya. Terpenting tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik untuk pengguna jasa taksi online miliknya.
Nahas, belum sampai ke tujuan alamat si pemesan taksi, lebih tepatnya belum masuk ke pintu gerbang rumah empunya, astaga, dengan mata kepala sendiri, Han Kyu mendengar suara dar-der-dor. Sebuah letusan yang dilepaskan dari moncong senjata api.
Han Kyu, yang melihat adegan mengejutkan sekaligus mengerikan terjadi di depan mata kepalanya sendiri, pun langsung menghindar. Sembunyi di balik pagar mugunghwa. Tapi ia hanya bisa menyaksikan, tanpa bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, jika dirinya ikut serta di dalam, bukankah itu seperti mengantarkan kematian saja dan ingin mati konyol?
Akhirnya Han Kyu hanya bisa melihat pemandangan gratis itu dari balik pagar mugunghwa. Lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Namun, saat Han Kyu sedang menyaksikan baku tembak itu, ia tidak menyadari kakinya menginjak sesuatu hingga menimbulkan bunyi. Seketika itu, beberapa dari mereka yang sedang baku tembak langsung mengarahkan mata kepada Han Kyu. Saat itu Han Kyu sedang sembunyi di balik pagar mugunghwa. Lagi-lagi Han Kyu tidak bisa berbuat apa-apa dan keringat dingin pun seketika mengucur di tubuhnya.
Han Kyu, yang ditatap seperti itu oleh mereka—dan tidak ingin mati konyol di tangan mereka yang menganggapnya sebagai saksi kunci, tanpa banyak berpikir meninggalkan tempat itu. Ia pun langsung ambil langkah seribu. Lari secepat mungkin.
Menggunakan taksi miliknya itu tidak mungkin. Han Kyu sudah keburu terkejut.
Han Kyu pun terus berlari dan berlari menjauhi pengejaran mereka. Akhirnya Han Kyu memasuki sebuah perkampungan guryong. Ia masih terus lari dan lari, lalu sembunyi agar tidak diketahui mereka. Walaupun napasnya sudah beberapa kali-kali tersengal-sengal.
Tapi, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Han Kyu pun membenarkan tamsil itu. Saat ia sedang istirahat sejenak, tetiba dari arah belakang ada yang mengintainya, lalu….
Buk! Kepala belakang Han Kyu seketika ada yang menghantam. Keras sekali. Hingga tanpa disadari indra penglihatannya menggulita. Semua gelap yang dilihatnya.
Namun saat itu Han Kyu masih setengah sadar. Di tengah kesadarannya itu, ia dibawa oleh para pengejar Han Kyu sebagai saksi mata baku tembak yang dilihatnya. Dengan memakai si roda empat, mereka membawa Han Kyu sambil menyusuri perbukitan. Setiba di sebuah bukit, mereka mengangkat Han Kyu lalu melemparnya hingga terbentur batu besar. Saat itu Han Kyu seakan-akan tidak lagi bernyawa.
Anehnya, saat Han Kyu dalam keadaan separuh sadar, mendadak wajah ibunya menari-nari di kelopak matanya. Lalu tangan ringkih ibunya ingin meraih tangan Han Kyu yang saat itu ada di suatu tempat. Entah, tempat apa itu ketika ibunya ingin meraih tangannya. Han Kyu benar-benar tidak tahu.
“Oh Tuhan, sebenarnya aku berada di mana ini!” Pekik kecil Han Kyu antara sadar dan di ujung maut saat itu.
***
“Teman Anda itu terkena prosopagnosia,” dokter yang menangani Han Kyu saat itu sedang menjelaskan kepada Yoon Kye mengenai apa yang dialami rekan baiknya sesama profesi sebagai pengemudi taksi online.
“Apa itu dokter? Prosopagnosia! Apa itu membahayakan untuk Han Kyu?” Yoon Kye memberondong segala pertanyaan.
Prosopagnosia adalah gangguan otak yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan mengenali wajah orang lain atau buta wajah. Hal ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengenali atau membedakan wajah diri sendiri maupun orang lain. Kemungkinan untuk sembuh akan memakan waktu lama. Namun, jika ditangani dengan tepat dan dibantu oleh Anda beserta rekan kerja yang lain untuk mengingat-ingat dirinya kembali, kemungkinan untuk kesembuhan rekan kerja Anda itu bisa saja terjadi. Siapa tahu ada keajaiban nantinya, panjang-lebar dokter itu memberitahukan kepada Yoon Kye. Sedangkan Yoon Kye hanya termenung dan tidak bisa berkata-kata lagi.
“Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan ini di ruangan saya,” lanjut dokter itu.
Saat itu mereka berbicara sambil menuju ke bangsal Han Kyu. Kebetulan hari itu ada pemeriksaan rutin terhadap Han Kyu. Yoon Kye, yang mendengar semua dari mulut dokter, pun sempat tidak percaya bahwa Han Kyu terkena musibah macam itu. Han Kyu tidak bisa mengenali wajahnya sendiri maupun wajah orang lain, termasuk wajah rekan-rekan kerjanya sesama pengemudi taksi online.
Setelah mendapat penjelasan seperti itu, Yoon Kye menemui Han Kyu yang sedang berbaring di bangsalnya. Dengan sekuat hati Yoon Kye menghampiri Han Kyu bersama dokter, walaupun hatinya sangat terpukul. Apakah sebegitunya rekan kerja baiknya itu tidak bisa mengenali wajah siapa pun, termasuk Han Kyu sendiri?
Tidak lama dokter itu memeriksa kondisi Han Kyu, lalu kembali ke pasien lain. Saat itu di bangsal hanya ada Han Kyu dan Yoon Kye.
Pada kesempatan itulah Han Kyu bercerita kepada Yoon Kye apa yang menjadi kegelisahannya selama terbaring di bangsal. Bahwa Han Kyu selalu memimpikan perempuan tua setiap mau memejamkan mata. Wajah itulah yang selalu ada dalam bunga tidurnya. Perempuan tua itu serupa saat Han Kyu dibuang di tengah perbukitan. Antara sadar dan bertaruh nyawa, perempuan itu ingin meraih tangan Han Kyu.
“Maukah esok kau mengantar aku ke Gamcheon, kampung halamanku? Dalam mimpiku, aku selalu diganggu oleh perempuan tua itu. Wajahnya seperti aku kenal, bahkan sangat dekat. Bagiku tidak asing lagi. Tapi aku tidak tahu siapa dirinya,” Han Kyu menumpahkan isi pikirannya kepada Yoon Kye agar ia tahu apa yang Han Kyu rasakan.
Sejenak Yoon Kye terdiam. Mungkin ini salah satu jalan untuk bisa mengembalikan ingatan Han Kyu agar bisa mengingat dirinya dan mengenal orang-orang sekitar, apalagi yang menyayangi dirinya. Yoon Kye pun mencerna ciri-ciri perempuan yang diceritakan Han Kyu. Tidak lain, bukankan itu ibu Han Kyu yang berada di Gamcheon?
“Apakah seperti ini wajah perempuan tua dalam mimpimu itu?” Yoon Kye pun mencoba mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto kepada Han Kyu.
“I… iya… Te… tapi, a… aku tidak tahu pasti. Aouw, kepalaku sakit!” tetiba kepala Han Kyu kembali sakit ketika ingin mengingat kembali wajah perempuan tua itu. Ia pun tak sanggup.
Yoon Kye kembali memastikan. Tapi, saat melihat Han Kyu mengerang kesakitan, ia pun membatalkannya.
“Baiklah, besok aku antar kau ke kampung halamanmu,” Yoon Kye pun mengiyakan keinginan Han Kyu.
Yoon Kye melihat Han Kyu tersenyum saat ia mengiyakan keinginannya itu. Mungkinkah jika Yoon Kye mengajak Han Kyu kembali ke kampung halamannya bisa membuat ingatan Han Kyu kembali? Tak lain menemui ibu Han Kyu di Gamcheon.
Setelah mereka membicarakan perempuan tua itu di luar bangsal rumah sakit, salju turun begitu lebatnya karena bertepatan dengan bulan ketika salju turun. Antara Januari dan Februari adalah bulan-bulan ketika salju turun sangat deras. Seperti derasnya hati Yoon Kye. Ia ingin sekali Han Kyu bisa kembali mengingat dirinya maupun orang-orang yang menyayanginya. Pun dengan rekan-rekan kerjanya sesama pengemudi taksi online.
Bukan itu saja, Yoon Kye tidak ingin lagi diganggu oleh dua orang berseragam kepolisian itu. Apalagi dengan Han Kyu mengalami kebutaan wajah yang benar-benar menyita waktu, bahkan menghambat Yoon Kye bekerja.
Yoon Kye berharap, setibanya nanti di Gamcheon, Han Kyu bisa mengingat kembali dirinya dengan sempurna. Semoga pula ada sebuah keajaiban menghampiri Han Kyu nanti saat ia menemui perempuan tua itu. ***
.
.
Keterangan:
Prosopagnosia atau face blindness: Kelainan dalam mempersepsikan wajah yang membuat orang yang mengalaminya akan sulit mengenali wajah, termasuk wajahnya sendiri. Keadaan ini biasanya diakibatkan oleh kerusakan otak. Walaupun bukti terkini juga memperlihatkan adanya kemungkinan pengaruh faktor keturunan (genetik). Bagian otak yang berhubungan dengan prosopagnosia adalah fusiform gyrus. Penderita kondisi ini juga susah mengidentifikasi wajah di cermin maupun foto.
Gangnam: Distrik termewah di Kota Seoul yang sangat terkenal di dunia. Sebelumnya, Gangnam merupakan kawasan kumuh. Namun akhirnya dilakukan pembangunan besar-besaran pada awal 1980-an.
Mugunghwa: Nama bunga nasional Republik Korea. Kembangnya tidak memiliki tampilan meriah dan tidak berbau wangi, tampak biasa saja. Bagi orang Korea, mugunghwa menyimbolkan ketekunan, kelembutan, dan keteguhan.
Guryong: Kawasan kumuh yang masih berada di kawasan Gangnam.
Gamcheon: Kampung terkumuh dan miskin di Busan, Korea Selatan. Pada 1950-an, selama perang, Gamcheon merupakan tempat para pengungsi melarikan diri. Beberapa orang pindah ke Gamcheon karena penduduknya sangat miskin. Kemudian warga mulai bekerja dan mendapat uang untuk membangun desa dengan tumpukan bata. Gamcheon hanya punya satu kabupaten pada masa lalu, tapi sekarang ada sembilan.
.
.
KAK IAN, penulis, aktivis dunia anak, dan penikmat sastra. Karya-karyanya sudah termaktub di media cetak dan daring. Sudah memiliki beberapa buku antologi dan lima buku solo. Bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.
.
Prosopagnosia. Prosopagnosia. Prosopagnosia. Prosopagnosia. Prosopagnosia. Prosopagnosia