Cerpen Fery Lorena Yanni (Suara Merdeka, 17 April 2022)
SEBAGAI seorang gadis yang normal, aku mempunyai impian yang sempurna sejak masa remajaku, meski akhirnya aku tahu, tak ada kesempurnaan yang dapat diraih. Selalu saja ada cacatnya, selalu saja ada kegagalan yang harus terjadi, sebagaimana yang aku alami. Kesempurnaan yang dulu kuimpikan, benar-benar hanya menjadi sebuah impian.
Sejak masa kecil sekolah, aku selalu dituntut untuk menjadi seorang anak yang sempurna. Dan bodohnya aku yang polos begitu saja menurut. Tak ada sedikit pun niat untuk menentang maupun melawan. Meski demikian, aku patut berbangga, karena toh, dengan menjadi anak penurut aku telah berhasil membuat kedua orang tuaku bangga. Berbagai prestasi aku kantongi. Siapa sih, yang tidak akan bangga ketika di bufet ruang tamu penuh dengan piala karena prestasinya?
“Kalian tidak boleh pacaran sebelum lulus sekolah. Kalian harus bisa bekerja dulu, baru boleh pacaran,” Ibu selalu berpesan kepada kami, dua putrinya yang sudah beranjak remaja.
Aku mengangguk. Kakakku diam saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Walau tak perlu menunggu lama aku pun menemukan jawaban atas diamnya kakakku. Dalam waktu singkat, sudah tersebar berita kakak perempuanku satu-satunya pacaran dengan anak laki-laki dari sekolah sebelah. Sedangkan aku, aku tak mau jadi anak durhaka. Aku selalu menurut apa pun titah orang tuaku, meski dengan demikian, aku harus mengorbankan masa remajaku untuk bisa merasakan cinta pertama, cinta monyet.
“Halo, cantik.” Sapa seorang teman laki-lakiku.
Ah rupanya Ari. Seorang teman satu angkatan denganku, tapi berbeda jurusan. Dia satu jurusan dengan kakakku. Dari kakakku lah aku mengenal Ari. Dan sejak itu, kami menjadi dekat.
Beberapa kali Ari berusaha mengungkapkan perasaannya padaku, dan dia ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman denganku. Sebenarnya aku tak lupa pada pesan ibu. Aku tidak boleh pacaran sebelum aku lulus. Tapi, aku juga remaja normal, yang juga ingin merasakan dicintai. Meski aku tetap harus menyimpannya dalam hati.
“Kalau kamu sampai jadian sama Ari, pacarku hanya akan bisa diam. Ari itu sok pintar, sombong. Ndak pantas kamu mencintai dia,” kata kakakku malam itu di pintu kamarku, kemudian berlalu.
Sungguh aku tak habis pikir. Sejak malam itu, keesokan harinya, Ari menghindariku, menjauh dariku sampai detik ini. Bahkan aku dengar-dengar slentingan, ternyata Ari pacaran dengan kakakku. Lho???
Sebagai gadis normal, aku pun punya impian dan rencana untuk masa depanku. Menjelang saatku mulai bekerja, aku mulai menyusun rencana untuk masa depanku. Mengejar karir sehingga bisa membanggakan kedua orang tuaku, serta impian untuk meraih kebahagiaan sempurnaku.
“Aku akan menikah pada usia dua puluh delapan,” janjiku pada diri sendiri.
Ya, pada usia dua puluh delapan, kurasa adalah saat yang sempurna. Karir yang tepat berada di puncak, keuangan yang pastinya sudah mapan, kedewasaan berfikir yang tentu sudah tidak diragukan lagi. Aku yakin, usia dua puluh delapan adalah saat yang tepat untuk membina rumah tangga. Sungguh sempurna.
Tapi sekali lagi, kesempurnaan itu ternyata hanyalah sebuah mimpi.
Pada awal bekerja, aku merantau ke Jakarta, berdua dengan kakakku. Salah satu pesan ibu adalah, supaya aku selalu mengalah pada kakakku karena dia adalah pengganti orang tuaku di rantau nanti. Aku harus menurut padanya.
Baiklah! Tidak masalah, pikirku. Begitulah, dalam banyak hal, aku harus banyak mengalah dari dia. Apapun yang kumiliki, apapun yang kupilih, jika dia menginginkannya, maka aku harus menyerahkannya padanya. Aku harus mengalah dengannya.
Dan kembali, aku ini bodoh dan tidak berdaya, hanya bisa menurut karena aku tidak bisa menjadi durhaka.
“Kak, kenalkan, ini Aji, pacarku,” saat itu usiaku menginjak dua puluh tujuh tahun.
Sudah beberapa bulan aku menjalin hubungan dengan Aji, seorang manager di sebuah apartemen di Sunda Kelapa. Wajah tampan dan kulit putih, karir yang mapan, siapa sih, yang tidak bangga?
Dan sesuai pesan ibu, karena aku harus menganggap kakakku sebagai pengganti orang tua, maka aku memperkenalkan Aji pada kakak sebelum nantinya aku akan mengajak Aji pulang ke kampung dan menemui ibu.
“Aku tidak mau kalau sampai dilangkahi. Kalian baru boleh menikah setelah aku menikah nanti,” tanpa basa-basi kakak langsung memutuskan jalanku.
Aku menjadi ragu. Saat ini kakak belum ada rencana menikah, tapi dia tidak mau dilangkahi. Aku harus menunggu dia menikah dulu. Kapan? Berapa lama?
Setahun, dua tahun, aku menunggu. Tak tampak tanda-tanda kakak akan menikah. Sedangkan kedua orang tua Aji sudah tidak sabar untuk melihat Aji menikah dan memberikan keturunan. Hingga akhirnya, aku harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya melepaskan Aji, karena aku sendiri tidak tahu dia harus menungguku sampai kapan. Tak mudah memang, tapi aku harus bisa.
Setahun semenjak aku harus melepaskan Aji, aku pulang ke kampung halaman dan menetap. Masih sulit bagiku melupakan Aji. Tapi aku harus tetap berjuang. Hingga akhirnya aku bisa kembali membuka hati pada usia dua puluh sembilan.
Sebuah cinta yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Awal mulanya semua baik-baik saja saat Andi mendekat dan berusaha masuk menjadi anggota keluarga kami.
“Aku tidak setuju kalau adik menikah dengan Andi. Aku tidak suka karena adik selalu mendapatkan yang lebih baik dari milikku!” kakak kembali menentang hubunganku.
Entah apa yang akhirnya membuat kedua orang tuaku yang semula begitu mendukung hubunganku dengan Andi, tiba-tiba menentang habis-habisan. Orang tuaku sering ribut hanya karena Andi dan aku.
Dan kembali, aku harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya melepaskan cinta dan impianku. Aku hanya karena tidak ingin menjadi durhaka, kembali melepaskan kebahagiaan yang harusnya aku genggam. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti dan penurut. Aku tidak ingin menjadi durhaka. Ah andai aku dulu durhaka, kebahagiaan itu pasti sudah akan aku genggam.
Selama lebih dari sembilan tahun, hatiku beku. Kepatuhanku, keikhlasanku, telah membunuh nuraniku. Kututup pintu hatiku rapat-rapat. Rasa takut untuk kembali kehilangan hanya karena ketidakinginan menjadi seorang anak durhaka benar-benar telah mengunciku.
Kadang berfikir, andai aku menjadi durhaka untuk tetap mempertahankan cintaku, mungkin saat ini aku sudah akan bahagia bersama keluarga kecilku. Tapi aku terlalu patuh. Aku terlalu bodoh dan takut untuk menjadi durhaka, meski akhirnya aku harus merelakan kebahagiaan itu pergi dariku.
“Aku akan menikahimu,” mungkin inilah kata-kata terindah yang akhirnya mampu kembali membuka pintu hatiku yang sempat tertutup rapat selama sembilan tahun. Ah akhirnya. Setelah kesedihan karena kehilangan sosok seorang ayah yang selama ini menjadi panutan dan peganganku, tiba-tiba dia datang menawarkan cinta dan tempat bersandar.
“Aku tidak suka dan aku tidak setuju kalau dia menikah dengan laki-laki ini.”
Sekali lagi, jalan yang mulai kutapaki harus teputus. Tak hanya kakak, bahkan ibu yang sebelumnya begitu bahagia ketika aku menemukan sandaran setelah sembilan tahun aku terombang-ambing, kini ikut menentang. Kembali aku dipaksa untuk menjadi seorang anak penurut, anak berbakti dan aku tidak boleh menjadi durhaka.
Harapan dan impian akan sebuah kebahagiaan yang sempat membuatku begitu bersemangat menapaki kepala empat, harus pupus di tengah jalan. Mereka memaksaku untuk kembali menjadi seorang yang hanya bisa berdiri seorang diri, menjadi penonton untuk kebahagiaan orang-orang tanpa bisa mencicipi barang sedikit kebahagiaan itu.
Aku yang sendiri, harus kembali menyusuri jalan seorang diri, tanpa ada pegangan dan tempat bersandar. Aku harus kembali menerima tamparan, hinaan dan cacian sebagai pambawa aib karena aku yang terlalu patuh untuk melepas semua cinta yang datang.
Aku kembali bersandar pada batu takdir. Takdir yang memberiku sebuah cerita tentang kepatuhan yang harus mengorbankan cinta dan kebahagiaan. Takdir yang memaksaku untuk selalu berkata IYA meski hatiku berkata TIDAK. Takdir untuk selalu menyesali sebuah keputusan berkali-kali.
Andai aku dulu durhaka, semua pasti akan beda cerita. ***
.
Fery Lorena Yanni adalah penulis buku anak yang tinggal di kota Salatiga. Awalnya menulis puisi-puisi yang selalu dibacakan di radio. Selain menulis cerpen, Fery mulai belajar menggambar supaya nanti bisa mengilustrasi ceritanya sendiri.
.
Andai Aku Dulu Durhaka. Andai Aku Dulu Durhaka. Andai Aku Dulu Durhaka.