Cerpen Marwanto (Kedaulatan Rakyat, 17 April 2022)
ALYA mempercepat langkah. Ia harus segera tiba di perpustakaan kampus. Ruangan penuh buku telah menunggunya. Kalaupun sudah dipenuhi pengunjung, ia akan senang hati nunut membuka laptop di lobi. Asal ia bisa mengakses internet, mengirim tugas kuliah.
Puluhan pesan di WhatsApp tak dihiraukan. Ia sedang tergesa. Pukul sembilan baru rampung mengetik tugas kuliah. Setelah persiapan seperlunya, Alya bergegas tancap gas. Meninggalkan kos meluncur ke kampus tercinta. Ia melewatkan rutinitas yang tak pernah ditinggalkan: sarapan pagi. Karena tergesa ia tidak sarapan. Di dompetnya tinggal ada selembar uang ceban.
Uang Rp 10 ribu itu akan dipakai sarapan usai mengirim tugas kuliah, diperkirakan pukul 10.00. Jam tanggung memang: dianggap sarapan terlalu siang, tapi belum waktunya makan siang. Hari ini Sabtu. Di akhir pekan ia akan bertemu ayah tercinta. Lelaki yang selalu menunggu dengan rindu. Jika sudah di rumah, Alya dapat makan tanpa beban, tanpa berpikir uang jajan. Ah, tombol bensin di motornya tinggal satu digit pula. Namun Alya penuh keyakinan. Sisa bensin itu cukup untuk ke kampus, bahkan pulang ke kampung halaman.
Alya hanya butuh lima menit untuk sampai kampus. Usai memarkir motor, ia berjalan menuju perpustakaan. Belum 50 meter melangkah, dikejutkan suara tangis: perempuan kurus kumal menggendong anaknya. Bayi mungil itu terlihat kelaparan. Matanya cekung, mulutnya kering. Alya iba melihatnya. Ia membuka tas, ingat kebiasaannya membawa roti dan air mineral. Sial, roti itu telah ia makan tadi malam saat perutnya keroncongan akibat lembur membuat tulisan.
Di sela-sela mengerjakan tugas kuliah ia sering membuat tulisan, dikirim ke media maupun untuk lomba. Bakatnya menulis ia warisi dari bundanya. Ah, tak mungkin ia hanya memberi perempuan dan balita itu air mineral saja. Tanpa pikir panjang ia pun membuka dompetnya.
“Maaf Ibu, mungkin ini bisa untuk beli makanan di kantin sebelah.”
Perempuan itu mengangguk. Menatap Alya dengan pandangan misterius. Alya melanjutkan langkah. Setiba di perpustakaan masih tersisa kursi kosong. Dengan cekatan membuka laptop mengemail tugas kuliah. Lega. Ia pun membuka WhatsApp. Jadi ingat ada agenda rapat. Temannya sesama pengurus Hima-Sos sudah menunggu di gedung sebelah.
“Tumben Alya datang telat, biasanya paling awal.”
“Maaf, Kakak, saya harus ke perpus dulu tadi.”
Rapat dimulai, seperti biasa Alya menjadi pembawa acara. Baru berjalan setengah jam, perut Alya keroncongan. Ia ingat belum sarapan. Sudah pukul 10.00. Ia minta Silvia menggantikan posisinya.
Alya meninggalkan ruang rapat menuju kantin. Dalam perjalanan ingatannya melayang: tugas kuliah yang menumpuk, deadline lomba menulis, dan tentu saja ayahnya yang tiap akhir pekan selalu menunggu. Juga ingat perempuan yang ditemui selepas ia memarkir motor. Lho, bukankah uang ceban yang tinggal satu di dompetnya telah ia berikan padanya?
Alya urung menuju kantin yang tinggal sejengkal. Seumur hidup orangtuanya tak pernah mengajarkan punya utang. Meski kelaparan sekalipun. Ia berjalan lamban kembali ke tempat rapat.
“Alya, kamu ikut kan?”
“Memangnya pada mau ke mana?”
Rapat akan dilanjutkan di rumah Burhan, tak jauh dari kampus. Ada syukuran kecil di rumah ketua Hima-Sos itu. Alya menimbang: biasanya kalau kumpul di rumah teman bisa sampai sore. Tapi kalau tidak ikut, ia menzalimi perutnya yang keroncongan. Ia putuskan ikut, sebagai bentuk solidaritas sesama pengurus sekaligus sikap kompromi terhadap perutnya.
Rapat di rumah Burhan berlangsung asyik. Selain bisa mengemban tugas melanjutkan posisi pemandu rapat, perut Alya juga telah memperoleh haknya diisi makan siang.
Jelang senja Alya meninggalkan rumah Burhan menuju kampung halaman. Perjalanan di kala senja diwarnai kerinduan hati bertemu ayah tercinta. Tiba di halaman rumah ia baru ingat kalau sedang ada hajatan kirim doa memeringati dua tahun meninggalnya bundanya. Alya pun gabung majelis doa bersama.
Meski badan lelah, usai acara doa bersama Alya tidak segera bergeser ke kamar sebelah. Ia mematung di ruang tamu. Pandangannya menyapu beberapa foto dan buku. Termasuk foto keluarga yang masih lengkap: Ayahnya yang gagah, dirinya yang masih SMA dan bundanya yang cantik jelita. Alya larut dalam kenangan masa silam, kenangan yang membuatnya lambat laun terpejam.
Dalam tidur Alya bermimpi bertemu perempuan yang sempat ia beri uang ceban. Perempuan itu memberi Alya hadiah buku sambil menggendong anaknya. Tapi balita itu tak lagi kelaparan. Ibu dan anak terlihat ceria sekali. Azan Subuh membangunkan mimpi Alya yang langsung teringat bundanya.
Esoknya Alya ziarah ke makam bunda. Usai berdoa, ia menaburkan bunga di atas pusara. Air matanya menetes seiring taburan bunga yang jatuh ke tanah basah itu satu per satu. Di taburan bunga terakhir, gawainya berbunyi. Pesan WhatsApp memberi kabar: Alya dinyatakan juara lomba cerpen tingkat nasional.
Ia berucap lirih tapi menggema ke angkasa: “Bunda, cita-citamu akan kulanjutkan.” ***
.
.
Wisma_Aksara, 2021-2022
Marwanto. Pegiat sastra di Kulonprogo.
.
Bunga untuk Bunda. Bunga untuk Bunda. Bunga untuk Bunda. Bunga untuk Bunda. Bunga untuk Bunda.