Cerpen Fajar Irawati (Suara Merdeka, 24 April 2022)
MALAM semakin larut. Hujan begitu deras, diiringi suara petir yang menggelegar bersahutan, seakan-akan menambah malam semakin mencekam dalam kesendirianku di rumah tanpa suami di sampingku.
Dalam pernikahan kami yang baru seumur jagung, suamiku—Mas Aldi—selalu saja mencari alasan untuk pergi keluar rumah dan meninggalkanku sendiri. Setiap kali aku menanyakan mengapa dia pulang larut malam, dia selalu berkata bahwa ini bukan urusanku. Tidak seperti pasangan pengantin baru yang mengumbar kemesraannya di depan banyak orang. PERNIKAHANKU hambar tidak ada kata mesra, bahkan belaian sayang pun tak pernah aku rasakan.
***
ENTAH mengapa, aku harus dipertemukan dengan Mas Aldi. Dia adalah anak seorang pengusaha kayu terkenal di kotaku, sementara orang tuaku adalah keluarga biasa saja. Ibuku seorang buruh cuci dan ayahku juga bekerja sebagai buruh kayu di tempat Pak Rahmat—orang tua Mas Aldi—menjalani usahanya.
Pagi tadi, Mas Aldi berkemas dengan membawa alat-alat pancing. Dia tidak akan berpamitan kepadaku, jika aku tidak menanyakan.
“Mau ke mana, Mas?” tanyaku.
“Mancing,” jawabnya dengan nada datar.
Kemudian, dia pergi dengan melajukan motornya tanpa mengindahkanku.
***
MALAM semakin larut. Hujan sudah tidak begitu deras dan suara petir pun perlahan sirna. Aku masih dalam kesendirian menunggu suamiku pulang sambil rebahan di kursi panjang. Tak terasa mataku terpejam karena rasa kantuk yang tak tertahankan.
Aku terbangun ketika mendengar suara motor Mas Aldi dan segera berlari membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya. Dia berjalan memasuki rumah dalam keadaan basah kuyup.
Aku segera menyiapkan air hangat untuk dia mandi. Saat dia mandi, aku siapkan pakaian gantinya. Kemudian, kubuatkan secangkir teh panas. Tak peduli sikap dia yang kaku dan dingin, aku tetap melayaninya semampuku.
Setelah Mas Aldi selesai mandi, kutawarkan secangkir teh hangat itu kepadanya.
“Silakan diminum, Mas!”
Kemudian, dia meminumnya tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya.
“Maaf, Mas. Kenapa pulangnya sampai larut?” tanyaku.
“Bukan urusanmu!”
Kalimat itu lagi yang keluar dari mulutnya setiap kali aku menanyakan mengapa dia pulang larut malam.
Kali ini, aku tidak boleh diam. Aku harus berani mengungkapkan perasaanku yang tesiksa atas sikapnya selama ini kepadaku.
“Selama ini, aku ini siapamu, Mas!? Aku ini istrimu. Aku berhak tahu apa pun tentang kamu, Mas!”
“Oh, ya?”
Dia menjawabnya dengan ekspresi datar. Kemudian, menyeruput tehnya kembali.
“Mas, tolong jawab pertanyaanku! Kenapa kamu menikahiku, tetapi setelah menikah malah kamu tidak pernah menganggap aku ada?”
“Terus, apa maumu?”
“Aku ingin dianggap dan diperlakukan sebagai istri sewajarnya, Mas!”
“Aku kasihan sama kamu, tapi aku tidak mencintaimu,” jawab Mas Aldi.
“Lalu, kenapa kamu mau menikah denganku kalau tidak cinta sama aku, Mas?” Aku kembali mengulang pertanyaanku.
“Orang tuaku yang memintaku untuk menikahimu.”
“Terus kenapa kamu mau, sementara kamu tidak mencintaiku?”
“Sudahlah! Kamu tidak perlu tahu.”
Kemudian, dia berdiri lalu berjalan menuju ke kamarnya. Aku duduk sendiri dengan perasaan sesak di dada. Butiran air mata menetes membasahi pipiku. Andai waktu bisa kembali, aku tidak mau patuh kepada orang tuaku untuk menikah dengan Mas Aldi kalau aku harus mengalami pernikahan yang seperti ini. Untuk apa aku tinggal di rumah yang mewah tetapi semuanya hambar.
***
HARI berganti hari, pernikahanku masih terasa hambar dengan sikap suamiku yang acuh tak acuh kepadaku. Aku merasa tidak kuat menghadapi ini semua. Kutenteng tas bajuku dan aku pulang ke rumah orang tuaku. Rumah sederhana yang penuh dengan kehangatan, tidak seperti rumah yang aku tinggali sekarang. Rumah mewah, tapi terasa sunyi dan hampa.
Aku sengaja tidak pamit kepada Mas Aldi. Biar saja dia sendiri. Mungkin, dia lebih bahagia tanpaku di rumahnya. Toh dia tidak pernah peduli denganku.
Sesampainya di rumah orang tuaku, aku disambut hangat oleh Ibu.
“Ayu, kamu pulang? Mana suamimu?” tanya Ibu.
Aku tidak menjawab pertanyaan ibuku. Setelah kusalami tangan ibuku, segera kupeluk erat tubuh rentanya lalu air mataku berderai membasahi pipiku.
“Kamu ada masalah dengan suamimu, Nduk?”
Aku menganggukkan kepala lalu menceritakan semua kepada Ibu tentang kehidupan rumah tanggaku yang hambar dan dingin dengan deraian air mata.
“Kenapa aku harus menikah dengan dia, Bu?”
Ibu menghela napas panjang.
“Maafkan kami, Nduk. Kami tidak menyangka kalau pilihan kami malah membuatmu menderita. Waktu itu, keluarga Pak Rahmat berjanji kepada keluarga kami untuk menjodohkan putranya denganmu karena beliau berutang budi dengan bapakmu.
Dulu saat kamu kecil, bapakmu pernah menyelamatkan nyawa Pak Rahmat dari perampok di rumahnya. Beliau ingin menaikkan derajat keluarga kami dengan menikahkan putranya denganmu. Kami pikir, cinta akan datang dengan sendirinya setelah kalian menikah. Tapi kenyataannya malah seperti ini,” kata Ibu sedih.
Aku hanya diam menunduk setelah mendengar cerita Ibu. Tak berapa lama, Bapak datang dan menyapaku gembira.
“Kamu pulang, Yu? Loh, mana suamimu?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutku.
“Sudah, Pak! Biar nanti Ibu yang cerita. Sekarang, biarlah Ayu ke kamarnya dulu.” Bapak mengangguk dan menghentikan ucapannya.
Kemudian, Ibu mengantarkan aku ke kamar. Kurebahkan tubuhku sambil memejamkan mata karena kepalaku sangat pening. Mungkin karena hampir setiap hari aku menangis sehingga membuat kepalaku sakit.
***
PADA suatu malam, aku merenung di kamarku. Sudah hampir satu minggu ini, aku tidur di rumah orang tuaku. Namun, Mas Aldi tidak mencariku. Dia tidak menanyakan kabar lewat ponselku. Aku benar-benar sakit hati. Aku ingin segera berpisah dengannya daripada aku terus menangis menjalani mahligai pernikahan yang hambar. Namun, aku juga tidak mau membuat kedua orang tuaku sedih, jika aku berpisah dengan suamiku.
Saat kutermenung, tiba-tiba aku dikagetkan dengan panggilan Ibu.
“Ayu!”
Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan menjawab panggilan Ibu.
“Ya, Bu.”
“Ada tamu mencarimu, Nduk.”
“Siapa, Bu?”
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Ibu menarik tanganku dan mengajakku ke ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu, aku sangat terkejut. Ternyata, tamu itu adalah Mas Aldi—suamiku—yang aku pikir tidak akan pernah mencariku. ***
.
.
Cilacap, November 2021
—Fajar Irawati adalah guru SMP Negeri 4 Cilacap, tinggal di Jl Duku, Kelurahan Tegalreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap.
.
.