Cerpen Beri Hanna (Koran Tempo, 24 April 2022)
Pengantar singkat:
DARI lima judul tulisan yang ditulis Mario, si anak malang yang dibunuh ayahnya yang bernama Gottahrd, hanya dua yang bisa saya baca dan dapat saya salin ulang. Tulisan ini ditulis lengkap dengan tanggal dan bulan, dua tahun sebelum kejadian yang menimpa Mario dan ibunya, yakni pada 2014. Tentu saja saya tidak tahu bagaimana Mario bisa menulis hal-hal ganjil sekaligus aneh, mengingat, ketika dibunuh, ia masih berusia 14 tahun.
Apa yang telah dipelajarinya dari tumpukan buku-buku sastra di tempat kejadian perkara yang sempat kami selidiki, tidak mengantarkan pada hasil yang memuaskan. Begitu juga dengan apa yang telah dipikirkan Mario, atau dimimpikannya setiap malam sehingga dapat menulis sebuah ramalan di kertas-kertas usang. Saya katakan ramalan karena sampai saat ini saya sendiri masih takjub pada tulisannya. Memang, bisa saja sebetulnya tulisan ini palsu atau dengan kata lain tidak ditulis Mario. Ada seseorang yang sengaja menulisnya dengan maksud dan tujuan yang entah apa. Tetapi, hal demikian sama seperti buah semangka dibelah dua: isinya hanya air di mana-mana. Bukannya mendapat kebenaran, malah bisa tergelincir pada kekeliruan sop kuah semangka dengan prasangka pada biji-biji berwujud serupa.
Saya tidak pernah punya keinginan menyalin tulisan ini kalau bukan karena seorang perempuan yang menurut identitas memiliki hubungan darah dengan keluarga Mario. Perempuan ini datang pada Rabu malam ketika hujan, delapan tahun setelah kejadian pembunuhan itu. Saya sudah lima tahun pensiun saat menerimanya di rumah dalam keadaan bingung. Dia berkali-kali menceritakan perjalanannya yang jauh dari sebuah desa kecil dengan menumpang beberapa kendaraan hingga sampai di sini. Ketika saya tanya, dari mana dia tahu alamat saya sekaligus peristiwa Mario dan ibunya yang dibunuh? Dia menjawab dari mimpi yang mengganggu tidurnya selama beberapa tahun. Naluri seorang perempuan mengantarkannya kepada kebenaran. Dan terbukti, apa yang terjadi seperti apa yang dirasakan olehnya.
Oleh sebab itu, saya menelepon teman kantor yang masih bekerja dengan niat awal meminta bantuan untuk mengusir perempuan yang keliru ini. Tetapi, karena dia terlihat sangat berharap dan berkeras rela menunggu dan tidak mau apa-apa, termasuk makanan yang saya suguhkan, tentulah saya luluh dan menjadi percaya kepadanya. Saya pikir keganjilan ini masih akan berlanjut, terlebih saya sendiri sudah pernah membaca tulisan Mario, delapan tahun yang lalu. Di sambungan telepon, dengan suara terbata-bata, saya beranikan diri untuk meminta akses ke barang bukti yang sebetulnya sudah saya lupakan. Saya tahu sebenarnya ini salah, tetapi lagi-lagi saya merasa perlu membantu perempuan ini. Untunglah teman mengabulkan apa yang saya minta. Setelah mendapatkan kertas-kertas usang coretan tangan Mario, saya menyalinnya rangkap dua. Satu saya berikan kepada si perempuan, dan satu saya simpan sebagai arsip.
Beginilah salinan saya atas tulisan Mario, tanpa mengubah atau menambah-nambahkannya.
.
TULISAN I: Babi Terbang
Seekor babi putih bersayap terbang melintas kota. Tidak ada yang mengetahui atau melihat keajaiban itu selain Mario yang sedang bermimpi. Sewaktu itu siang sedang panas dan papa tengah bertengkar dengan mama. Untuk terakhir kali, Mario melihat papa pulang dalam keadaan mabuk dan menampar mama di hadapan Mario tadi malam. Setelah itu, papa pergi dan Mario tidak tahu bahwa siangnya papa kembali lagi untuk bertengkar, lalu tidak pernah pulang ke rumah.
Saat babi bersayap melihat Mario, babi terbang merendah dan seolah berbicara seperti manusia, “Naiklah,” kata babi. Mario bingung. “Tidak ada waktu,” babi mendesak, memberi tahu Mario. Dengan tidak mengerti maksud babi, Mario melihat gedung-gedung kota runtuh berantakan. Dari puing-puing yang merata, lalu bergerak menjadi jarum-jarum tajam menjulang langit. Saat itu ketakutan menjalar dari luar ke dalam diri Mario.
Sebelum babi pergi, Mario melompat ke atas punggung babi. Mario dan babi pun terbang setinggi awan. Beberapa saat kemudian, Mario sadar setelah melihat mama melambai-lambaikan tangannya. Mama berteriak-teriak meminta pertolongan dari jarum-jarum yang tumbuh. Mario berusaha memberi tahu babi, tetapi teriakan Mario seolah tidak terdengar, bahkan oleh diri sendiri. Mario merasa telah mengambil keputusan salah: pergi terbang bersama seekor babi bersayap, sedangkan mama sengsara di antara tumpukan jarum yang tiba-tiba dapat melentur, bahkan menggulung tubuh mama. Mario tidak keliru. Sebab, di ketinggian, ketika Mario tidak sanggup melihat mama yang terus melambai dengan tubuhnya telah tenggelam dalam jarum-jarum—yang sekali-sekali mengempas tubuh mama dan tertusuk mata jarum—babi memutar badannya dan Mario terjatuh dengan kecepatan di luar batas angan-angan, menghentikan detak jantung Mario dalam mimpi itu.
Mario terbangun dan berteriak “Babi!” sehingga membuat mama yang masih kalut serta rapuh setelah bertengkar terkejut, lalu berlari ke kamar Mario. “Ada apa?” mama bertanya. Mario seketika menjawab ada babi terbang. Mama bertanya di mana dan Mario menjawab di mimpi. Tetapi, setelah Mario menceritakan ulang apa yang diingat dari mimpi, mama tidak pernah terkejut atau berlari ke kamar dan menanyakan apa yang telah terjadi kepada Mario.
.
Mario.
ditulis 13 April 2012
.
TULISAN II: Permintaan Setelah Ratusan Tahun Mati
Empat ratus tahun setelah Gottahrd mati, ia tidak pernah ingin kembali ke dunia. Malas, katanya pada suatu waktu ketika dewa peniup roh bernama Hambala memberinya kesempatan kedua untuk hidup. Gottahrd sering mendengar semua—tanpa terkecuali—yang pernah mati mengambil kesempatan itu, menyelesaikan semua hal yang belum tuntas di dunia. Ada juga yang melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan, hingga alasan iseng dan bosan bergentayangan di alam yang entah bagaimana terlalu keliru serta tidak masuk akal bagi makhluk yang telah jatuh cinta pada dunia.
Ketika Dewa Hambala datang untuk kali ketiga, Gottahrd tetap tidak ingin mengambil kesempatan itu. Kepada beberapa roh yang baru atau datang kedua kali di alam kematian ini, tentulah Gottahrd didekati karena semua dari mereka tahu bahwa hanya Gottahrd yang didatangi sampai tiga kali oleh Dewa Hambala. Kepada roh-roh lama dan baru, Gottahrd juga menjelaskan hal yang sama: malas. Ia bahkan tak banyak bicara setelah Dewa Hambala datang untuk ketiga kalinya itu dan menjadi lebih banyak termenung, tanpa melakukan apa-apa.
Pada suatu saat, ketika seorang yang dulu pernah mati lalu mengambil kesempatan hidup dan mati lagi untuk kedua kali, rohnya cepat sampai di alam kematian. Ketika roh-roh lain berkerumun melihat kedatangannya, ia berteriak-teriak bahwa kehidupan dan kematian telah membuatnya sadar akan satu hal. Tentu itu membuat roh-roh bertanya dan mendesaknya. Tetapi ia enggan menjawab dan memilih diam, lalu mendekati Gottahrd dan duduk bersebelahan. “Aku tahu sekarang,” katanya, tapi Gottahrd sama sekali tidak tertarik mengatakan sesuatu.
Hal aneh ini terjadi selama beberapa waktu hingga roh-roh lain, yang menunggu Dewa Hambala datang untuk memberikan kesempatan hidup, terganggu oleh pemandangan roh Gottahrd dan sahabat barunya yang diam dan tidak melakukan apa-apa. “Jangan tanggapi mereka, Dewa,” kata roh-roh serentak dan kompak. Tetapi, Dewa Hambala malah mendekat ke Gottahrd dan mengacuhkan roh-roh yang telah menunggu lama kedatangannya.
“Hai, Gottahrd,” Dewa Hambala menyapa. “Apa yang telah terjadi?”
Gottahrd diam tidak menjawab.
“Aku muak dengan sikapmu dan sahabat barumu ini,” Dewa melanjutkan dengan nada murka. “Kau tahu semua mengambil kesempatan itu!”
“Kau salah, Dewa Hambala. Buktinya, aku tidak mengambilnya!” Gottahrd menjawab dengan mata tidak memandang Dewa.
“Itukah kata-kata pertamamu setelah membisu? Kau munafik! Mengambil keputusan ini seolah kau tidak memiliki dosa di dunia.”
Gottahrd akhirnya melihat ke arah Dewa Hambala. Saat itu pertama kalinya ia bercerita panjang lebar tentang dosa. Ia mengaku telah dan terlampau banyak berbuat dosa. Bahkan ia sangat yakin bahwa dewa-dewa tak mampu mengingat satu per satu daftar dosa-dosanya. Demikian apa yang dikatakan Gottahrd membuat Dewa Hambala benar-benar murka. Dewa berkata memang tugas para dewa adalah melupakan dosa-dosa manusia dan seharusnya manusia sendirilah yang perlu mengingat dosa-dosanya agar dapat memperbaikinya. Adapun sebaliknya, dewa akan mengingat kebaikan-kebaikan manusia, sedangkan manusia lebih baik sama sekali tidak mengingatnya. Dengan demikian, Dewa Hambala, yang marah dan hampir saja menendang Gottahrd, memberikan kesempatan keempat kepadanya dan menutupnya dengan kata-kata: tidak pantas seorang dewa sampai murka, terlebih karena roh.
“Aku tetap tidak mau,” kata Gottahrd.
“Lalu apa yang paling kau inginkan, roh sok suci?!”
“Apa pun?”
“Ya. Apa pun. Kau sebutkan saja dan aku akan mempertimbangkannya!”
Gottahrd menatap mata Dewa Hambala dan Dewa menatap mata Gottahrd, bahkan semua roh di alam kematian melihat ke arah mereka yang saling bertatapan. Seketika itu, Gottahrd meminta, jika ia mengambil kesempatan itu, Dewa Hambala harus ikut ke dunia bersamanya.
“Kau minta aku menjadi manusia?”
“Tidak. Kau tetap harus menjadi dewa dan mengabulkan satu permintaanku.”
“Apa?”
“Ketika nanti kita sudah di dunia, aku tidak ingin mengambil kesempatan mati untuk kedua kalinya.”
.
Mario.
ditulis 15 April 2012 ***
.
.
Beri Hanna lahir di Bangko. Pemenang sayembara novel Renjana 2020 dan pemenang ketiga sayembara novel DKJ 2021. Bergiat di Kamar Kata Karanganyar dan Teater Tilik Sarira.
.
Keganjilan Tulisan Mario. Keganjilan Tulisan Mario. Keganjilan Tulisan Mario. Keganjilan Tulisan Mario. Keganjilan Tulisan Mario. Keganjilan Tulisan Mario.