Sajak-sajak Triskaidekaman (Jawa Pos, 14 Mei 2022)
WARGA NEGARA
.
semilir wangi dupa di depan sesusun pigura tua
kini beling anyir bercecer darah:
menyekanya perlu segenerasi,
atau bergerobak-gerobak demi sambung
serak berantak tangga, putus dari loteng.
.
gembok selot patah takkan tumbuh,
genggam beras terhambur takkan berganti,
jumud tersungkur memeluk bumi pertiwi:
selayang pandang swasembada hijau
tatkala sebelah sepatumu
menginjak belahan nyawa kami
di lembar lecek kartu hijau.
.
xiaomei melarung selipat perahu di selokan,
“kapan tabo jemput kita?”
.
kukepang rambutnya sambil menggumun tanya:
ke manakah perahu pulang
jika di sini
seharusnya rumah?
.
.
Jakarta, Juni 2020-April 2021
.
.
.
JANTUNG NEGARA
.
Lumpur menyemprot,
semprot serapah dan knalpot
bau karat angkot deru menjemput:
tepuk sebelah kini bersambut.
.
Petrikor hanya romantis dalam novel,
tidak di kecamatan kita. yang
kita hadapi sekarang
kepulauan jejas kapang
dan karat kerja keras tiada ujung:
bahaya terlekas menyengat dari sudut rumah.
.
Tudung bertadah cucur air mata tembok,
pancang demi pancang pengkor
dalam nama gubernur:
semalam siaga berapa?
.
Bergumun-bergumul,
terpekak belasah terlebat dalam
sejarah, kita berharap
larut
dalam air
dan pergi jauh dengannya.
.
.
Jakarta, 3 Maret 2022
.
.
.
ASET BANGSA
.
pitamnya bukan untuk
kautampi.
.
ingin tampil itu biasa,
tapi alah kadang tak bisa-bisa:
pilek pun bisa jadi pelik.
.
pitamnya naik, mendelik:
“ini delik aduan, bodoh!”
.
kawan-kawan unggulmu
tak beradu, tak mengadu
tetap kaugulung-gulung,
gulung lidahmu berkilah,
“nawaitu… nah ya itu!”
.
ketika pitamnya membalakmu
hangus,
gugus pita depan rumahmu:
betapa bulus
karangan itu.
.
Alah mendelik, pelik bersiasat:
“suatu saat akan kualat.”
.
.
Jakarta, 31 Maret 2022
.
.
.
BELAJAR MEMASAK
.
semua dapur bermula dari satu
resep, semua orang
bisa, tak perlu belajar:
menjadi gagal.
.
pada mulanya semua pengungkep ayam
semua pengecah sayur
adalah ayam sayur.
.
di atasnyalah bawang merah meringis terkelupas,
panji bawang putih terkibar,
tetes gurih tempias dari para mata
yang bukan bendera.
.
telur retak,
tepi-tepi hangus kerak:
dinding tercengkeram lengket dan amis
serupa mimpi buruk yang teraduk.
.
oh kuping,
keluarlah dari dinding,
kujamu kau hingga kau jamur.
.
kaku ekor bawal
bekas mengipas panas osengan.
.
minyak angkara neraka melencit
buih-buih merajam, lepuh
terhampar, tersampar.
.
dapur berkepul, belum
tentu makmur.
.
kadang itu
kebakaran
atau wangi
melati yang kadung bawang.
.
.
Jakarta, 21 Maret 2022
.
.
.
TRISKAIDEKAMAN. Tinggal di Jakarta, sesekali menulis. Karya-karyanya terpilih sebagai nominasi Buku Sastra Pilihan Tempo pada 2018, 2019, 2020, dan 2021.
.
BELAJAR MEMASAK.