Persimpangan Tak Bertu(h)an

Cerpen Khalil El Rachman (Fajar Makassar, 15 Mei 2022)

SUARA klakson pecah memecah hening pagi, udaranya masih menusuk kulitku, mataku terkadang masih terpejam. Tak ada satu keinginan pun yang kuminta selain mereka dapat kembali. Tapi, apa daya dua orang kesayanganku tergeletak dengan warna merah membasahi trotoar, mengalir begitu cepat secepat aku kehilangan mereka.

“Kepada siapa harus aku mengutuk, apakah pada lampu lalu lintas yang telah menjalankan perintah begitu patuhnya. Atau kepada kedua orang tuaku yang selalu menasihatiku untuk mematuhi lampu lalu lintas?”

Mobil mewah dengan suara klaksonnya yang begitu panjang dari jauh cepat menyambar dua malaikatku. Setelah itu tak ada lagi yang aku ingat selain kerumunan orang dan suara-suara klakson yang pecah di hari itu. Roti kesukaanku buatan Ibu pun yang warnanya putih berubah merah darah masih di genggamannya erat.

“Nak, kamu di sini saja ya, ayah mau jemput ibumu di seberang, dekat saja, tuh ibu sudah pegang rotinya!” ucap ayah sembari tersenyum meyakinkanku semua akan baik-baik saja.

Lambaian tangan ibu semakin meyakinkanku semua akan baik-baik saja. Namun apa dayaku, lambaian tangan itu menjadi lambaian terakhir, salam perpisahan dari ibu, juga senyuman terakhir ayah.

Beberapa tahun kemudian sejak peristiwa itu, aku selalu takut dengan suara klakson, juga tak bisa lama menatap lampu merah, menatapnya lama sama saja membawaku lelap kembali ke waktu itu.

Meski begitu, di perempatan jalan, merah adalah warna kesukaanku jauh berbeda dengan mereka yang duduk di atas tunggangannya, entah plat merah atau hitam.

“Pak, korannya, Pak!” ucapku menjajakan terbitan hari ini. Tapi, aku ternyata hanya bicara dengan robot yang telah diatur untuk melaju ketika lampu merah padam.

“Kenapa dengan hari ini? Rasanya sangat lain dari hari kemarin,” gumamku dalam hati.

Sudah dua hari berlalu, hanya air putih yang mengisi perutku, kini kakiku sudah tak mampu menopang tubuhnya. Udara malam juga semakin menusuk kulitku, aku mulai menarik tubuhku menuju tong sampah.

“Alhamdulillah,” ucapku syukur dalam hati mendapatkan beberapa gorengan yang sudah mengeras.

Keesokan harinya, ‘Zaman Digital Lumpuhkan Percetakan Koran’ headline koran hari ini, kepalaku kemudian berputar-putar, bagaimana lagi aku bisa menyambung hidup jika tak ada lagi percetakan? Bulan selanjutnya virus corona yang menjadi headline, sejak saat itu tak ada satu pun sudi membeli koranku, bahkan mereka telah memasang pasang mata yang tajam.

Dunia digital telah mengambil alih sehingga gulung tikar menjadi pilihan yang harus kuambil. Tapi aku masih pusing entah mau jualan apa lagi.Tong sampah juga tak ada lagi yang terisi, warung-warung semuanya tutup.

Beberapa bulan persimpangan jalan yang kutinggalkan, dari jauh tak ada yang terlalu berubah, warna catnya, pohon-pohon di pinggirnya, lampu lalu lintas, hanya satu keluarga dengan koran-koran menumpuk di tangan mereka yang menjadi pembeda hari ini.

“Korannya, Pak, korannya, Bu,” suara nyaring dari kejauhan.

“Pak, sudah berapa lama jualan koran di sini?” tanyaku pada bapak itu.

“Oh, baru lima hari, Nak.”

“Gimana, Pak? Ada yang mau beli gak?”

“Nggak ada yang mau beli, Nak.”

“Jadi makannya bagaimana, Pak?” tanyaku penasaran, karena kalau lima hari nggak ada yang beli, pikirku mustahil mereka bisa makan.

Cangkang putih mata bapak itu mulai berkaca-kaca, bibirnya digigit, dan bagai air bah terjun bebas membasahi bumi, tak ada jawaban yang langsung aku dapatkan selain isakan pilu bapak itu.

“Aku mengerti, Pak, aku juga sama seperti bapak dan bapak ini lebih beruntung masih bisa hidup bersama keluarga,” ucapku sambil menceritakan dengan detail bagaimana potret berdarah waktu itu.

Bapak itu mulai menyeka air mata, menghentikan isakannya, lalu memandang istri dan anaknya. Wajah berseri sambil menyapu dada, yang aku anggap rasa syukurnya karena masih memiliki keluarga.

“Nak, kamu tinggal sendiri ya?”

“Iya, Pak.”

“Mau tau gimana caranya bapak mendapatkan uang?”

“Iya, Pak, bagaimana caranya?”

“Ikut bapak saja, tapi bapak tidak bisa janji dapat uang atau tidak.”

“Iya, Pak, siap.”

Malam mulai dingin, segera aku pulang bersama, lalu kulihat gubuk sederhana yang lebih nyaman dari tempatku.

“Bu, tidak usah saya dikasih nasi, saya masih kenyang,” ucapku, tapi apa mau dikata, suara auman perutku membongkar segalanya.

“Tuh, suara apa tadi yang bunyi?” tanya istri bapak itu sambil tertawa.

“Nak, makan saja,” lanjut bapak itu.

“Iya, Kak, makan saja,” sahut bocah kecil anak keduanya.

Aku jadi merasa bersalah karena harus menumpang dengan mereka. Nasi putih ini aku baru memakannya lagi setelah dua bulan lamanya, terasa sangat nikmat ditemani sayur kangkung.

“Oh ya, Pak, bapak kan sudah janji mau ngasih tau caranya dapat uang.”

“Iya, Nak, tenang saja, besok bapak kasih tahu.”

Bintang malam ini tak satu pun yang menampakkan diri, segera kami memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.

Keesokan harinya aku mulai paham bagaimana bapak ini mendapatkan uang, mengelilingi lorong kota menawarkan jasa sedot wc dan menguras got, di sanalah ada pundi-pundi rupiah yang dapat kami bawa pulang. Terkadang hanya lima ribu, sepuluh ribu rupiah yang kami dapat.

Tidak selamanya orang menyewa jasa kami, maka dari itu untuk mengakalinya kami kembali ke perempatan jalan. Tapi kataku pada bapak untuk tak usah jual koran lagi.

“Lalu kita mau jual apa, Nak?”

“Jualan bensin aja, Pak.”

Benar apa kataku, ada satu dua kendaraan yang mampir. Hidup kami berangsur-angsur membaik. Andika kini bisa membeli mainan kesukaannya. Namun, aku tidak mengerti mengapa kejadian lima belas tahun lalu, terjadi lagi hari ini.

Kulihat Ibu dan Andika sedang menangis memegangi Ayah.

Hari itu aku berjanji dalam hati tak akan percaya lagi dengan lampu lalu lintas, sejujur-jujurnya lampu lalu lintas masih dibohongi oleh orang yang lalu lalang di bawahnya. ***

.

.

KHALIL EL RACHMAN. Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting UIT Makassar 2021 dan Penulis Genre Fiksi dan Non-Fiksi.

.

Persimpangan Tak Bertu(h)an. Persimpangan Tak Bertu(h)an. Persimpangan Tak Bertu(h)an.

Arsip Cerpen di Indonesia