Sesudah Tubuh Terpisah

Cerpen Noorca M Massardi (Suara Merdeka, 15 Mei 2022)

IZINKAN saya mengaku dosa. Mungkin cuma dosa kecil. Karena perbuatan itu sungguh saya lakukan tanpa sengaja. Karena terlalu gembira, ketika syuting adegan terakhir sore itu selesai, bersamaan dengan jatuhnya cahaya matahari di ufuk barat, saya menendang-nendang hamparan salju di sekitar lokasi. Sambil melompat-lompat, saya menyepaki tumpukan salju, hingga berhamburan ke depan dan ke samping langkah kaki saya.

Begitu sampai ke tepi jalan raya, tiba-tiba saya mendengar suara perempuan mengeluh kesakitan. Sesaat saya tertegun. Itu bukan suara jeritan orang dewasa, tapi seperti rintihan seorang remaja. Ya, itu memang suara seorang perempuan muda. Saya pun menengok ke sekeliling, mencari arah datangnya suara.

Di sisi kanan lapangan kecil tempat syuting itu, saya perhatikan deretan ruko penjual makanan kecil dan barang kelontong. Ruko-ruko itu tampak sederhana, khas di sebuah kota kecil di luar ibu kota, dengan sedikit halaman parkir. Saya lihat ada beberapa orang lelaki dewasa tengah mengelilingi seseorang. Saya pun datang menghampiri.

“Maaf, ada apa gerangan?” kata saya sesudah mendekati kerumunan kecil itu.

“Tidak ada apa-apa. Hanya ada yang terluka kecil,” kata seseorang sambil membuka jalan agar saya bisa melihat ke tengah kumpulan.

“Ini gara-gara kamu…!” kata seorang gadis, yang keningnya tampak mengucurkan darah, dan tetesan darah itu merembes keluar dari jari jemarinya, dan kemudian terserap kertas tisu.

Telunjuk gadis yang tengah berusaha menghentikan pendarahan, itu tampak mengacung dan tepat menunjuk ke arah hidung saya.

“Lo, kenapa saya? Apa yang saya lakukan?” kata saya heran sambil mencoba mengingat-ingat perbuatan apa yang sudah saya lakukan hingga gadis itu bisa terluka.

“Tadi kamu menyepak-nyepak gundukan salju. Salah satu tendangan kamu sudah melontarkan sebuah batu dan langsung mengenai kening saya. Padahal, saya baru hendak beranjak dari warung ini,” kata gadis itu dengan sorot mata marah dan kecewa.

“Oh, maafkan saya. Saya sungguh tidak tahu. Saya tidak sadar kalau ada sebutir batu yang ikut tertendang ketika saya menyepak beberapa gundukan salju itu!” kata saya merasa amat berdosa, sambil membuat isyarat memohon maaf, dengan kedua telapak tangan saya.

Semua pasang mata di lingkaran kecil itu kini memandang ke arah saya. Juga dengan tatapan marah, kecewa, dan kesal.

“Sekali lagi saya mohon maaf. Izinkan saya membawa adik ke dokter atau ke rumah sakit. Saya akan bertanggung jawab…!” kata saya segera.

“Tidak perlu. Anda bukan mahram-nya. Anda tidak boleh dan tidak bisa membawa pergi anak saya, yang tidak ada hubungan darah dan keluarga dengan kami!” kata seorang pria berusia 40-an tahun, dengan cambang dan jenggot lebat.

“Oh, Anda ayahnya. Maafkan saya. Saya sungguh tidak sengaja!” kata saya semakin merasa bersalah.

“Anda boleh terkenal sebagai sutradara. Tapi di sini Anda hanya warga biasa. Jangan sombong dengan kemampuan Anda mau membawa ke dokter atau ke rumah sakit, yang jauhnya puluhan kilometer dari sini!” kata seseorang yang sejak awal tampak kurang bersahabat melihat kedatangan saya.

“Maafkan saya. Bukan begitu maksud saya. Izinkan saya ikut mengobati luka gadis ini!” kata saya sambil berusaha mendekati gadis yang duduk di bangku di depan warung makan itu.

Namun baru selangkah maju, kerah baju saya sudah dicengkeram seseorang, yang langsung mendorong tubuh saya ke belakang, hingga saya nyaris terjengkang, bila tidak membentur tubuh seorang di belakang saya.

“Jangan coba-coba mendekat! Sekali lagi, Anda bukan mahram-nya. Anda sudah melukai kening gadis ini, dan sekarang Anda mau mencemarkan nama baiknya dengan mencoba menyentuhnya…!” kata lelaki bertopi dan berjaket tebal itu.

Tentu saja saya merasa keder sesaat. Sebab, tidak ada maksud saya sama sekali untuk menyetuh gadis itu. Saya hanya ingin melihat seberapa besar lukanya, karena darahnya tampak tak kunjung berhenti menetes dari kening gadis itu.

“Maafkan saya. Saya tidak bermaksud..!” kata saya berusaha memerbaiki situasi.

“Sudah…! Lebih baik Anda segera pergi, sebelum keadaan semakin buruk. Saya yang akan membawanya ke dokter kampung terdekat. Kalau memang Anda bermaksud membantu, berikan saja berapa sumbangan Anda untuk pengobatan ini!” kata si Ayah.

“Tapi maaf, saya tidak membawa uang tunai. Sebentar, saya akan memanggil manajer unit saya ke sini!” kata saya sambil mengambil telepon genggam, dan menengok ke arah lapangan syuting yang tadi baru saya tinggalkan.

Untunglah, manajer unit yang saya maksud tampak setengah berlari menuju ke arah saya, dengan pandangan mata penuh tanda tanya.

“Ada apa, Bos?” kata manajer unit bernama Farhan itu.

Saya pun menjelaskan dengan singkat. Dan, setelah mayhem akan situasi, Farhan segera mengambil dompetnya, mengeluarkan seluruh isinya, dan menyerahkannya kepada si Ayah tanpa menghitung.

“Maafkan kami. Hanya ini uang tunai di dompet saya…!” kata Farhan.

Tanpa mengatakan apa-apa, Si Ayah mengambil uang itu, mengantonginya, dan segera mengajak pergi gadis terluka itu. Saya hanya bisa memandang kepergiannya dengan perasaan kikuk. Sebelum melangkah jauh dan menghilang ke dalam lorong deretan ruko, saya masih sempat melihat gadis itu berusaha memandang ke arah saya untuk terakhir kalinya. Tapi, pipi gadis itu langsung ditampar si Ayah, dan ia memerintahkan agar gadis itu segera menutup kembali cadarnya.

***

Baru saja memasuki lobi hotel, tempat rombongan kami menginap, sepulang dari lokasi syuting tadi, lengan saya langsung ditarik produser pelaksana, ke arah ruang tunggu hotel. Dia menunjuk ke arah layar televisi dekat resepsionis, yang tengah menayangkan sebuah breaking-news.

“Mahdi, sutradara terkenal yang baru pulang dari luar negeri, dan tengah merampungkan filmnya yang terbaru, dikabarkan telah memukul seorang gadis desa, di sekitar lokasi syuting, tadi sore, tanpa sebab yang jelas. Gadis itu tampak berdarah di bagian keningnya, dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk divisum dan diobati. Sementara Mahdi dan seluruh kru filmnya langsung melarikan diri dari tempat kejadian perkara,” kata penyiar lelaki, diikuti footage video singkat wajah gadis yang berlumur darah, lalu sosok saya yang tengah dicengkeram seseorang di leher, dan kemudian saya didorong mundur dengan keras. Potongan video itu diakhiri dengan iringan mobil rombongan kru saya, yang tampak bergerak cepat meninggalkan lokasi.

Menyaksikan berita singkat itu, saya hanya bisa terpana. Rupanya tadi ada yang diam-diam merekam kejadian tadi. Entah dengan telepon genggam entah dengan kamera video. Saya tidak tahu. Dan rekaman itu tampaknya sengaja dikirimkan ke saluran televisi nasional itu. Tentu dengan narasi yang di luar fakta, bahkan merupakan fitnah dan mencemarkan nama baik saya, serta tanpa konfirmasi sama sekali.

***

Setelah hampir sepuluh tahun tidak pulang mudik, akhirnya saya bisa kembali ke rumah orang tua saya. Untunglah saya mampu menyelesaikan studi sinematografi, mengikuti magang film, dan dipercaya menjadi asisten sutradara, sebelum kemudian menyutradarai beberapa film iklan dan film komersial. Hari ini saya kembali ke tanah air, ke kampung halaman saya, dengan membawa nama yang cukup harum. Tidak hanya di negeri tempat saya belajar, juga di sejumlah ajang festival film internasional. Kampung kelahiran saya jaraknya sekitar 200 kilometer dari ibu kota negara. Atau hanya 125 kilometer dari kampung tempat syuting terakhir saya kemarin.

Namun, tak sebagaimana saya harapkan, Ayah dan Ibu kandung saya menyambut kedatangan saya tanpa rasa gembira sama sekali. Bahkan terasa hambar dan tidak bersahabat. Tapi, saya yakin, sikap dan penerimaan mereka yang demikian pasti bukan akibat pemberitaan negatif tentang saya di televisi nasional itu. Karena di kampung kami, bahkan hampir di seluruh kampung di negeri saya, kehadiran televisi sangat diharamkan. Dan, tak ada bunyi musik sama sekali. Ada pun radio, hanya disetel setiap jam warta berita, atau bila ada ceramah akbar, atau setiap suara panggilan untuk sembahyang dikumandangkan.

Ketika sampai di rumah pukul tujuh malam tadi, saya hanya disambut dengan dua kalimat pendek. Masing-masing dari Ayah dan Ibu.

“Kamu datang sendirian?” kata Ayah sambil meletakkan segelas teh hangat di atas meja belajar di kamar saya, yang kondisinya nyaris tidak berubah sejak saya tinggalkan, usai saya menamatkan kuliah di ibu kota, sebelum kemudian lamaran saya untuk memeroleh beasiswa studi film di luar negeri diterima di sebuah negara Eropa Barat.

“Iya, Ayah. Tak ada orang lain yang bisa saya ajak ke rumah ini,” kata saya.

“Kapan kamu mau menikah?” kata Ibu sambil menyodorkan makan malam kesukaan saya sejak kecil: sate kebab, dan dua lembar kulit kebab yang sudah dipanggang.

“Belum ada jodoh, Bu. Saya masih jatuh cinta pada film,” kata saya sambil berusaha untuk tersenyum, dan mengambil piring makan malam dari tangan Ibu.

Ayah dan Ibu hanya terdiam mendapat jawaban saya. Lalu mereka saling berpandangan satu sama lain, selama beberapa detik, sebelum kemudian masuk ke kamar tidur utama.

Saya menikmati makan malam itu sendirian. Lalu saya membuka laptop ini. Dan menuliskan apa yang terjadi usai syuting hari terakhir itu, sampai saya pulang kampung. Saya mengetik catatan ini melalui telepon genggam. Sebentar lagi akan saya akhiri, dan akan saya kirimkan melalui email. Sebagai sekadar laporan pribadi. Sekarang saya sudah mulai mengantuk. Salam sehat selalu!

***

Saya tak tahu apa yang terjadi ketika saya tertidur. Rasanya lelap sekali. Belum pernah saya merasakan kelelapan seperti ini selama hidup. Yang saya tahu kemudian, entah berapa lama setelah saya tertidur, Ayah dan Ibu, tampak masing-masing membawa satu kantong plastik besar. Lalu mereka membuangnya ke bak sampah di depan rumah. Ayah lalu kembali ke dalam rumah, dan memasuki kamar saya. Saya pun mencoba menyapanya dengan hormat. Tapi Ayah seolah-olah tak mendengar suara saya. Ia mengambil kantong sampah yang lebih kecil dari kolong tempat tidur saya, dan kemudian pergi ke halaman belakang. Dari jendela kamar, saya melihat Ayah mengambil sekop tuanya, lalu ia menggali tanah berpasir yang agak keras karena sudah terselimuti salju sepanjang musim. Ia memasukkan kantong sampah kecil itu ke dalam lubang yang baru digalinya. Dan kemudian menguburnya. Hingga aku terlelap kembali.

Aku baru tersadarkan beberapa waktu kemudian, karena mendengar suara berita dari radio tetangga, yang tampaknya sengaja dikeraskan. Suara radio itu cukup jernih terdengar, karena jarak rumah tetangga itu tak terlalu jauh dari belakang rumah kami. Rupanya, itu adalah berita petang hari.

“Sutradara Mahdi Bakhtiar tewas mengenaskan tiga hari lalu. Tubuhnya dimutilasi dan dibuang ke tempat sampah oleh kedua orang tuanya. Kepalanya sendiri ditemukan terkubur di halaman belakang rumahnya. Warga sekitar yang mencium bau busuk itu langsung melaporkan ke pihak berwajib. Dan, kedua orang tua Mahdi yang ditangkap polisi tanpa perlawanan, mengakui bahwa mereka memang telah dengan sengaja membuinuh Mahdi, lalu memotong-motong tubuh anak tunggal itu. Sebelumnya, mereka telah mencampurkan banyak obat tidur ke dalam makanan dan minuman untuk Mahdi, agar anak itu tidak merasakan kesakitan. Alasan pembunuhan itu, kata mereka, karena Mahdi tidak kunjung mau menikah dan dia lebih mencintai film ketimbang perempuan.

“Jadi, kami harus membunuhnya demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga!” kata Ayah Mahdi kepada pers. ***

.

.

Bintaro, 27 Mei 2021

Noorca Marendra Massardi lahir di Subang, Jawa Barat, pada 28 Februari 1954. Dia adalah seorang sastrawan dan wartawan.

.

Sesudah Tubuh Terpisah. Sesudah Tubuh Terpisah. Sesudah Tubuh Terpisah. Sesudah Tubuh Terpisah. Sesudah Tubuh Terpisah. Sesudah Tubuh Terpisah.

Arsip Cerpen di Indonesia