Cerpen Tri Budiyanto (Suara Merdeka, 22 Mei 2022)
SIUUU…!!!
Ribuan mortir bersliweran di atas kepala kami. Jatuh ke tanah berdentam memekakkan telinga.
“Gila!” teriakku sambil ngumpet di bawah bangkokan batang pohon besar yang telah hancur dimakan bom.
Kami, satuan gerilyawan yang telah terpisah dari induk pasukan, telah terjebak di Jurang Kematian yang berbentuk seperti mangkok bakso. Ini akibat pengkhianatan kawan kami, Sanca, yang menjadi informan bagi tentara pemerintah dan memerinci posisi kami.
“Tinggalkan posisi. Selamatkan diri kalian. Jangan sampai tertangkap!” teriak Ciu, komandan kami, kepada anak buahnya yang tinggal 69 orang. Tapi semua anak buahnya menolak dan siap mati di samping Sang Komandan.
Posisi kami memang tidak menguntungkan. Berada di dasar jurang dan tak ada jalan keluar. Satuan kami hancur lebur dihujani bom, mortir, granat, dan disapu senapan mesin. Belum lagi bom napalm yang dijatuhkan dari pesawat-pesawat pengebom.
Dari 69 orang, enam orang tertangkap ditambah Komandan Ciu. Lainnya terbantai. Hanya aku satu-satunya yang lolos. Ini berkat Ajian Sluman-Slumun-Slamet yang telah aku kuasai sejak muda. Aku lewat begitu saja, berjalan santai di depan pasukan pemerintah yang telah memerangkap kami bagai gerombolan tikus. Mereka tidak bisa melihatku walau ada di depan hidung.
***
Tiga hari kemudian aku menyusup ke ibu kota provinsi. Media-media mainstream dan online yang propemerintah mengabarkan: Gerombolan Chodhott telah berhasil dihancurkan. Komandannya yang legendaris, Ciu, ikut tertangkap dan langsung dieksekusi. Dari foto yang disebar media, Komandan Ciu tampak terbaring di atas meja dan kedua tangannya telah diamputasi untuk identifikasi sidik jari mayat. Seminggu kemudian dikabarkan itu benar sosok mayat Komandan Ciu.
***
Sejak remaja aku telah mengikuti sepak terjang Komandan Ciu. Dia bercita-cita mendirikan bangsa yang tanpa penindasan manusia di atas manusia yang lain. Jalan yang ditempuh adalah menghancurkan bentuk negara yang sudah ada dengan kekuatan bersenjata. Dan itu berarti: Revolusi!
Ajaran-ajarannya memikat anak muda yang bersemangat tinggi. Dengan mudah Komandan Ciu membentuk satuan-satuan gerilyawan yang sangat militan yang beroperasi di kota-kota dan pedalaman yang membikin pusing pemerintah.
Operasi militer besar-besaran dilancarkan untuk menumpas habis gerombolan Chodhott. Tapi sampai bertahun-tahun Komandan Ciu dan pasukannya tak terpatahkan dan menjadi duri dalam daging.
Aku terpikat dan menceburkan diri ke dalam Revolusi Komandan Ciu!
***
Kini sang Komandan mati. Tak ada lagi pimpinan. Tak ada lagi panutan. Walau foto wajahnya menempel di topi, kaus, sampai bikini. Bagaimana masa depan perjuangan?
Aku menelusup di sel-sel gerilyawan di kota-kota dan desa-desa. Menemukan semangat yang anjlog, putus asa yang sangat patah arang. Tak ada lagi nyanyian yang berkobar-kobar. Himne-himne sunyi dan puisi-puisi yang mati. Organisasi kacau. Perencanaan strategi dan taktik jungkir-balik. Moral organisasi merosot. Perlawanan menuju kehancuran.
Aku mengumpulkan sisa-sisa elan vital. Hanya sedikit. Dengan grup yang kecil mencoba menegakkan benang basah di sana-sini. Hanya menemui mimpi-mimpi perjuangan yang tidak pernah diwujudkan dalam tindakan. Cita-cita sang Komandan terkubur bersama jasadnya di kuburan.
***
Duaaarrr..!!!
Ledakan besar mengguncang ibu kota negara. Rumah rakyat, Gedung DPR, bersama bank pemerintah, rumah sakit pusat, markas-markas tentara dan polisi, juga Istana Presiden hancur dalam waktu bersamaan.
Terjadi chaos. Aparat pontang-panting. Ibu kota lumpuh. Tak lama kemudian pencarian dan penuduhan kepada kambing-kambing hitam pelaku terorisme bermunculan di media-media. Operasi militer menyapu seluruh negeri.
Tak lama kemudian teridentifikasi, pelaku pengeboman adalah gerombolan teroris yang dijuluki: Champrettt. Hadiah besar bagi siapa pun yang bisa memberi informasi atau menangkap hidup atau mati sang komandan teroris.
***
Aku menyaksikan semua itu lewat layar televisi di sebuah kedai kopi yang artistik di tepi pantai yang menawan di sebuah negeri tropis yang menakjubkan. Kujilat ampas kopi klotok yang penghabisan lalu meletakkan cangkir kopi dari kayu itu dengan puas.
Berdiri ke kasir. Membayar. Melangkah keluar dari kedai. Saat melewati tong sampah di samping pintu dengan diam-diam kutempelkan logo bergambar kelelawar hitam yang lagi mengedipkan mata untuk anak buahku sebagai pertanda bahwa aku pernah hadir di sini. ***
.
.
Semarang, 1 April 2022
—Tri Budiyanto, alumnus Sastra Undip, aktivis teater kampus, dan mantan demonstran. Kini bekerja sebagai redaktur di Suara Merdeka.
.
.