Cerpen A Sukma Asar (Fajar Makassar, 22 Mei 2022)
SENJA yang memikat. Di ufuk, langit sedang menampakkan warna jingga yang kemerah-merahan pada garis batas cakrawala. Senja yang sebenarnya tidak indah bagi gadis yang bertubuh semampai itu. Ia berdiri mematung di tepi laut, rambut panjangnya tergerai ditiup angin. Ia sedang menatap ayahnya dan dua orang pamannya berusaha mendorong perahu ke tengah laut.
Radiah namanya. Ia telah menamatkan sekolahnya setahun lalu di madrasah setingkat SMA. Ia punya cita-cita yang sederhana, menjadi seorang juragan kapal. Sebuah keinginan yang tidak jauh dari kehidupannya sebagai gadis pesisir, setiap hari berteman dengan ikan, karang, pasir dan asinnya air laut.
Radiah masih berdiri menatap ayahnya, sesekali memandang ke laut lepas. Sebuah kegeraman bersemayam dalam dirinya, menyentak nuraninya hingga wajah gadis itu seperti beku karena terbalut amarah. Keinginannya ikut menangkap ikan tidak terbendung.
“Pulanglah, Radiah! Ini bukan pekerjaanmu!”
“Tidak! Aku ingin ikut Ayah melaut!” Tubuh Radiah masih bergeming.
“Pulang kataku!” Suara ayahnya setengah berteriak.
“Tidak! Pokoknya aku ingin ikut Ayah!” Radiah mulai berjalan ke arah perahu. Dua orang pamannya sudah berada di dalam perahu.
“Pekerjaanmu ada di rumah, Radiah! Membantu ibumu menjaga adik-adikmu, membelah ikan, mengasini dan menjemur. Apa pekerjaan itu belum cukup bagimu?”
Radiah diam. Kedua kakinya sudah basah terendam air. Tubuhnya mendekati badan perahu. Ia terkejut tatkala ayahnya memegang erat tangan kanannya. Ia segera berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman ayahnya. Mata Radiah menyimpan bara.
“Pulang Radiah!” Suara keras ayahnya yang bergema dan nyaris tertelan suara ombak, tidak membuat Radiah luluh.
“Aku sudah bosan di rumah terus berurusan dengan ikan! Setiap hari bau ikan!” Teriakan Radiah tidak kalah menggema.
Sire melepaskan pegangannya seketika, lalu menatap lekat wajah anak perempuan satu-satunya itu. “Keras kepala!” Rahangnya tampak bergerak-gerak.
Ia tidak menyangka sama sekali, Radiah akan mengeluarkan kalimat seperti itu kepadanya. Walaupun Sire sadar, sikap yang dimiliki Radiah adalah sifat yang menurun dari dirinya. “Itu pekerjaanmu sebagai anak perempuan seorang nelayan! Kamu tidak bisa mengelak, tidak usah pula kau berpikir setinggi langit, Radiah!”
Radiah menghentakkan sebelah kakinya sehingga jipratan air mengenai wajah ayahnya. Sire terkejut dan kembali menatap tajam Radiah. Sejurus kemudian, Sire mengibaskan tangannya menahan emosi. Ia segera menaiki perahu tanpa memperhatikan lagi anaknya.
Radiah masih berdiri di samping perahu dengan kaki terendam. Rambutnya masih menari dengan angin, kadang menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya sendu menyaksikan perahu yang membawa ayahnya semakin menjauh, tampak seperti siluet.
“Besok, aku harus ikut!” Radiah berjalan pulang. Kaki telanjangnya segera meninggalkan jejak di sepanjang jalan menuju rumahnya. Suara azan Magrib samar menyentuh ruang pendengarannya.
“Ada apa kamu, Radiah?” Ibunya muncul dari pintu. Radiah sedang duduk termenung di sebuah bangku panjang di depan rumahnya. Rumah itu berdekatan dengan rumah-rumah nelayan lainnya, tanpa tiang penyangga di bawah, berdinding papan dan berlantai tanah.
Radiah hanya menoleh sebentar kepada ibunya, lalu beralih melihat parit kecil di hadapannya, pembungkus aneka jenis snack berhamburan. Ketika ibunya mendekat dan mencoba menyentuh punggungnya, Radiah pun semakin membatu. Giginya terdengar gemeretak. Ujung sandalnya dihentak-hentakkannya di tanah.
“Pokoknya aku ingin ikut melaut besok!”
“Radiah, tugas kita menjual ikan-ikan yang ditangkap ayahmu, Nak. Kamu, Ibu, dan perempuan yang lain di sini tidak boleh ikut melaut menangkap ikan. Itu tugas para lelaki.” Tangan ibunya telah menyampir di pundak Radiah.
“Aku bosan di rumah! Apa kita harus begini terus, Bu? Tidak bisakah aku sekolah lagi?” Radiah tiba-tiba terisak menyebut kata sekolah. Ibunya pun terlihat sedih, dadanya terasa sesak, bulir bening di kedua sudut matanya terlihat jelas.
“Aku tahu, apa tugas Ayah dan Ibu. Ayah menangkap ikan dan ibu menjual atau mengolahnya dengan cara sederhana. Cukupkah sampai di situ?”
Ibunya hanya menelan ludah mendengar anaknya. “Maksudmu apa, Radiah?”
“Ibu jangan pura-pura tidak tahu. Aku dan Ibu sama-sama perempuan. Punya keinginan agar kehidupan kita lebih bagus, rumah bagus, ingin menonton TV besar, ingin berpakaian bagus, makan enak! Aku ingin berubah, Bu! Bosan mendengar radio butut yang suaranya lebih banyak geresekan itu!” Mata Radiah tajam menembus dinding triplek rumah tetangganya.
Ibunya tersentak. Mata tua itu menerawang.
“Kalau besok tidak bisa ikut melaut, aku akan pergi ke kota. Bosan aku mengurus ikan, Bu,” teriak Radiah dengan napas menderu.
Ia menyandarkan kepalanya pada dinding triplek itu. Keduanya dibelai angin yang menerbangkan butiran pasir ke arah mereka, disertai bau ikan yang seharian dijemur.
Radiah berjalan ke dalam rumahnya. Berdiri beberapa jenak melihat seisi ruangan. Sebuah bufet usang yang berdiri sebagai pembatas antara ruang tamu dan tempatnya tidur. Dindingnya dari triplek yang ditempeli kertas koran entah terbitan tahun berapa, bagian bawahnya sudah menguning. Di dinding itu tergantung foto pahlawan proklamator dalam ukuran poster yang sudah usang, keempat sudutnya robek dimakan usia.
Di sudut ruang, terletak meja kecil, di atasnya terletak sebuah radio yang sudah lama tidak dibelikan baterei, tidak pernah lagi dipakai mendengar siaran berita.
Radiah berdiri di pintu lalu menoleh kepada ibunya sekilas. Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan keluar, tidak menghiraukan teriakan parau ibunya.
Radiah berjalan cepat menelusuri jalan setapak antar rumah yang bertebaran plastik dan jerigen bekas minyak. Rak telur teronggok pada salah satu sudut rumah, di sekitarnya bertebaran plastik kecil berwarna-warni bekas sampo sasetan.
Radiah menendang sesuatu dengan keras. Ia terus berjalan menembus hari yang mulai gelap. Ia ingin ke rumah sahabatnya menonton TV. Sebelum masuk rumah, Radiah dikejutkan oleh suara yang sangat dikenalnya.
“Radiah, pulanglah, Ayah menunggumu!” Kedua matanya mengilat karena basah.
Radiah berbalik. Rasa heran menyelumuti pikirannya. Ia menatap wajah ibunya. Sosok wanita yang tiada pernah keluar keluhan di mulutnya, setia menyelesaikan tugas rumah, menjual ikan hasil tangkapan suaminya. Selebihnya ia olah menjadi ikan kering untuk dijual di pasar. Otaknya selalu berpikir bagaimana mengelolah pendapatan suaminya sehingga anggota keluarganya masih bisa makan setiap hari.
Tanpa berkata apa-apa, Radiah mengikuti ibunya, berjalan cepat pulang. Di rumahnya, banyak tetangga berkerumun di pintu masuk. Sejenak Radiah terpaku dan bertanya-tanya. Segera ia menerobos orang-orang dan menemui ayahnya sedang duduk di kursi kayu. Kepalanya memar, wajah dan sebagian tubuhnya luka.
Rasa sedih dan sesal segera menyelinap di hati Radiah. Saat ayahnya pulih nanti, ia benar-benar akan berangkat ke kota, mencari ilmu untuk membuat hidup keluarganya lebih baik.
“Ayah tidak berdaya sekarang. Sudah waktunya aku mengambil alih tugasnya.”
Malam semakin jauh merayap.
“Suatu waktu, aku harus menggantikan ayah melaut,” bisiknya. ***
.