Nasihat Ibu

Cerpen Ahmad Atho’illah (Radar Tuban, 12 Juni 2022)

SEKALI waktu, dalam suasana yang santai—tanpa beban dan masalah hidup yang ingin saya utarakan, ibu selalu berkata, jangan berharap pengakuan dan penghormatan dari orang lain. Cukup lakukan laku hidup dengan iklhas, penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta membawa manfaat.

Saya dekat sekali dengan ibu, pun dengan bapak, tapi tidak sedekat dengan ibu. Sejak kecil, ibu selalu mendidik saya untuk ikhlas. Tidak hanya sekadar tutur kata, tapi juga laku hidup.

Ibu memiliki banyak saudara, tapi yang hidup hingga tumbuh dewasa dan berumah tangga hanya lima. Ibu anak bungsu.

Dalam pertalian saudara, ibu, bude, dan pakde hidup rukun. Lebih tepatnya, ibulah yang selalu merukunkan diri. Sementala-mentala-nya pakde dengan saudara bungsunya, ibu selalu ikhlas—tidak pernah sakit hati. Hingga dalam hal warisan pun, ibu selalu mengalah. Tidak pernah meminta atau memaksa untuk minta bagian yang lebih. Bahkan sama sekali.

Ibu hidup dan membangun keluarga bersama bapak dengan segala kesederhanaan. Memulai dari nol, mengumpulkan sendiri pundi-pundi rezeki. Baginya, rezeki itu tidak hanya dari warisan yang dibagi. Tapi dari Gusti Yang Maha Pemberi. Begitulah prinsip hidup ibu. Dari dulu hingga kini.

Dari kedekatan yang amat itulah, banyak cara pandang dalam hidup saya dipengaruhi oleh ibu. Utamanya dalam hal keikhlasan. Sejak kecil ibu selalu mendidik saya untuk menanamkan keikhlasan dalam diri.

Ibu tidak pernah bilang bahwa orang yang ikhlas akan seperti ini dan itu. Mendapatkan ini dan itu. Tidak. Ibu sama sekali tidak pernah menyampaikan perihal sebab dan akibat dari kehidupan. Prinsip ibu mengalir. Sebab, yang mengatur segala keteraturan hidup seorang hamba adalah Gusti Yang Maha Pengasih. Bukan manusia yang menentukan. Manusia hanya menjalankan selayaknya wayang. Kita hanya bisa berharap menjadi wayang atas rida-Nya.

Ibu hanya bilang, kelak, laku keikhlasan akan sangat berguna dalam hidup saya. Lakukan dan jalankan saja. Tidak perlu berharap orang lain mengetahui keikhlasanmu. Biarkan orang lain menilai dengan sudut pandang dan penilaian masing-masing. Kata ibu, biarkan. Jangankan kepada sesama manusia, kepada Tuhan pun kadang suuzon. Begitulah manusia, kata ibu.

Setiap kali kegelisahan menyergap, saya sangat kangen dengan ibu. Yang biasanya hanya pulang sekali dalam seminggu, ketika kondisi yang demikian, saya langsung pulang—menemui ibu—meminta nasihatnya.

Ikatan batin seorang ibu teramat kuat. Belum sempat seorang anak yang dibesarkan dari air susunya ini mengeluh—menyampaikan segala keluh kesah yang dihadapi, ibu sudah lebih dulu tahu. Ada masalah apa? kata ibu setiap kali anaknya hendak mengadu(h) di pangkuannya.

Batin seorang ibu pada anaknya sangat sensitif. Tanpa bicara, ibu sudah tahu perihal yang dirasakan anaknya. Ibu tipikal orang tidak banyak berkata. Biasanya, ibu hanya ngendikan, “Rasa ikhlasmu masih berharap pengakuan dari orang lain.”

Sesingkat itu ibu menasihati setiap anak-anaknya. Dan, setelah itu kita membicarakan hal lain. Lebih tepatnya ibu yang mengalihkan pembicaraan—menanyakan kabar cucunya dan ibu dari cucunya. Ketika sudah mendengar cucunya dan ibu dari cucunya sehat, ibu langsung berucap syukur. Dan saat itulah, air mata dari anak yang masih belajar ikhlas ini menetes.

Sekali waktu, dalam suasana yang santai—tanpa beban dan masalah hidup yang ingin saya utarakan, ibu selalu berkata, jangan berharap pengakuan dan penghormatan dari orang lain. Cukup lakukan laku hidup dengan ikhlas, penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta membawa manfaat.

Tidak hanya sekali, pesan hidup yang demikian selalu ibu sampaikan: jangan ber harap pengakuan dan penghormatan atas apa yang sudah kamu lakukan dan perjuangkan. Sebab, hanya rasa sakit yang akan mengendap dalam batinmu. Rasa sakit dari pengharapan yang sesungguhnya tidak diperlukan.

Cukup pasrahkan pada Gusti Maha Pengatur atas segala keteraturan hidup ini. Sebab, barokah datang dari tanggung jawab yang dikerjakan secara sungguh-sungguh, penuh dedikasi, dan ikhlas, bukan pengharapan pengakuan dan penghormatan dari orang. ***

.

.

Ahmad Atho’illah. Wartawan Jawa Pos Radar Tuban.

.

Nasihat Ibu. Nasihat Ibu. Nasihat Ibu.

Arsip Cerpen di Indonesia