Cerpen Diyana Mareta Hermawati (Pikiran Rakyat, 18 Juni 2022)
SEMERBAK bau minyak jelantah mampir di lubang hidungku. Di dapur, samar-samar aku mendengar Emak berbicara seakan diiringi rintihan panjang yang mengilukan.
Akhir-akhir ini, aku sering mendengar Emak diam-diam berbicara sendiri dan kadang terdengar talenan yang dipukul oleh pisau. Rintihan Emak masih terdengar nyaring di telinga, tanpa sadar dia sudah menghampiriku. Tangan Emak yang tersorot lampu kamar terlihat licin. Minyak jelantah mengecup sekujur tangannya.
“Kau ini, kerjaannya tidur terus!”
Sadar akan gertakannya yang hampir tersendat, buru-buru aku merapikan pakaian yang kusut. Terlalu pagi untuk mendengar Emak menggertak. Ujung danau matanya basah. Emak benar-benar habis menangis seperti kemarin dan beberapa hari lalu.
“Temui bapakmu! Temui sekarang, Amar!”
Setiap pagi, setelah Emak diam- diam selesai merintih di pojokan dapur, dia akan melayangkan berbagai makian. Melihat wajahnya, aku tahu Emak begitu kesal pada Bapak.
Di waktu yang sama semenjak Emak terlalu senang memukul talenan dengan pisau cukup keras, Bapak menjadi sangat senang pergi setelah subuh untuk membawa ember penuh ikan menjelang magrib.
Aku tak pernah tahu apa yang sedang dipikirkan Bapak. Apa yang membuat Bapak begitu berambisi dengan memancing ketimbang bekerja? Sejauh yang aku ingat, sangatlah jarang Bapak meluangkan waktunya untuk memancing, walaupun tempatnya bekerja memberikan waktu libur.
Namun, beberapa waktu lalu, salah satu kawan dekatnya yang terbilang gila memancing bersedia memberikan salah satu alat pancingnya pada Bapak. Semenjak itu, Bapak menjadi ikut-ikutan gila memancing ketimbang bekerja.
Lain halnya dengan salah satu pekerjaan bapak kawanku. Di sekolah, Dinar selalu membicarakan pekerjaan bapaknya. Dia selalu memamerkan bapaknya yang bekerja di kota. Kota yang tak jauh dari kampung kami. Bapak Dinar memang menjadi salah satu orang tersohor di kampung. Berkat kepintarannya, dia tak perlu menjadi petani atau pun peternak ikan seperti orang lain di kampung.
Diam-diam dalam wajah basah Emak tersimpan kebosanannya memasak ikan. Ikan goreng bumbu kuning, pecel ikan, bakar ikan, pepes ikan, lalu ikan balado, dan lainnya adalah menu makan kami hampir setiap hari. Setiap menjelang magrib, pada pesisir danau mata Emak yang menghitam, Bapak selalu tampak semringah, “Masaklah pecel ikan, istriku!”
“Ikan lagi?”
“Tentu saja, istriku. Sudah, sudah, ikan ini akan lebih enak jika kau segera memasaknya. Aku akan mandi dulu, ya!”
“Kau ini tukang ikan, suamiku!” Tak lama Emak pun kembali memaki, sedangkan Bapak asyik bersenandung dalam kamar mandi.
Sesekali aku membayangkan Emak menggoda Bapak agar bisa memasak makanan lain. Tapi, akhir dari bayanganku hanya tertuju pada perdebatan sepasang manusia akan kesenangan dan keinginannya masing-masing. Pada akhirnya kemungkinan besar besoknya Bapak akan lebih berambisi untuk mendapatkan lebih banyak ikan. Lalu aku akan lebih sering mendengar Emak memukul talenan dengan pisau sambil berbicara dengan rintihannya yang mengilukan.
Kemarin, Bapak pulang membawa dua ember ikan yang dipancingnya. “Ikan lebih enak dari segalanya, ikan lebih bergizi!” Begitulah kata Bapak lepas Subuh sebelum berangkat memancing. Di dalam pikiran Bapak ikan-ikan selalu melayang―merasuki setiap harinya.
“Dasar kau jurig, Abangggggg!” Emak berteriak tak lama setelah menyaksikan Bapak berbisik di telingaku sebelum memancing. Aku terkejut. Emak memandangku dengan pandangan tajam dan lagi- lagi wajah yang setengah basah. Perlahan wajah kulit sawo matangnya memerah.
“Masih subuh, Mak, sudah, sudah.”
“Jurig, Amar, jurig! Bapakmu sudah dirasuki jurig jarian!”
“Hush! Emak ngomong ke mana saja!”
“Lihatlah bapakmu itu, Amar! Dia terlalu sering datang ke kali yang dekat dengan pembuangan sampah, bukankah sudah sepantasnya tubuhnya dirasuki jurig jarian?”
Akhir-akhir ini seiring kebiasaan barunya, Emak menjadi seorang yang lebih sembrono dalam berbicara. Bisa-bisanya Bapak dibilang dirasuki jurig jarian. Di kampungku, istilah tersebut sering disebut-sebut oleh orangtua.
Biasanya anak-anak akan dinasihati untuk segera masuk ke rumah ketika damar sudah dinyalakan. Anak-anak dilarang main menjelang magrib, takut dibawa jurig. Begitulah. Benar-benar tak habis pikir kalau Bapak benar dirasuki. Urat di kulit Bapak sudah menonjol, bahkan sebagian rambutnya telah memutih. Sama sekali tidak menarik. Jurig macam apa yang tertarik pada bapakku?
Selain karena Bapak selalu memancing di dekat pembuangan sampah kampung, sebutan dirasuki jurig jarian, rupanya bermula ketika Emak ikut-ikutan emak-emak lain menonton hantu.
Sepulangku sekolah, Emak menanggalkan pekerjaan rumahnya. Dia pergi ke rumah Mak Iyong―kalangan orang punya; punya duit, punya rumah gedongan, punya televisi, dan punya hal-hal yang tak dipunya olehku dan tetanggaku yang lain.
Barangkali, sebenarnya Emaklah yang kerasukan jurig jarian, bukan Bapak. Pikirku, pekerjaan Bapak yang memancing di kali setiap hari lebih berbobot dibanding Emak yang selalu menghabiskan waktu menonton televisi di rumah Mak Iyong.
Walau bagaimanapun, berkat Bapak, keluarga kami bisa mengecap hidup lebih panjang. Berkatnya, kami bisa mengisi perut kosong, walau dengan aneka macam masakan berbahan ikan.
Mulanya, tak ada yang dipermasalah kan Emak kalau Bapak senang memancing. Emak membiarkan Bapak memancing semenjak tahu Bapak di-PHK. Waktu itu, wajah Bapak kusut. Katanya pabrik tempatnya bekerja sudah tak membutuhkan orang tua sebab terlalu lelet dalam bekerja.
Mereka membutuhkan orang yang masih muda, enak dipandang, dan cekatan dalam bekerja. Namun, tidak disangka semakin hari, ikan pancingan Bapak semakin banyak. Melihatnya saja membuatku kenyang.
“Kenapa tidak Emak yang pergi menemui Bapak?” Pelan-pelan aku sedikit menahan kesal kalau Emak sudah mulai memintaku menemui Bapak.
“Melihatnya melemparkan umpan saja membuatku muak! Cepat kau pergi, Amar!” Aku terdiam. Akhir pekanku yang biasanya tenang menjadi ramai. “Jadilah anak yang penurut, Amar! Cepat!”
“Bukankah tak jauh beda kebiasaan memancing Bapak dengan kebiasaan baru Emak yang senang merumpi dengan emak-emak tetangga sambil menonton hantu?” Emak diam, pelan-pelan wajahnya memerah. “Dan kau lebih senang tiduran santai ketimbang menuruti emakmu?”
Aku meninggalkan Emak yang masih diselimuti merah di wajahnya. Bagaimanapun, aku lebih senang Bapak tak pergi memancing dan Emak yang tak banyak menggerutu, serta memaki. Sepanjang perjalanan aku diam. Namun dalam kepala begitu penuh dengan pikiran-pikiran yang membebani. Pada akhirnya pikiran itu mengerucut pada keinginan agar mereka kembali pada kondisi sebelum Bapak di-PHK. Tenang.
Di kejauhan, aku menemukan Bapak yang duduk di bawah pohon yang menjuntaikan petai-petai muda, tua, dan beberapa bunga petai berserakan. Bapak benar-benar tak menyadari kehadiranku.
Barang kali, Bapak sedang membayangkan banyaknya ikan yang akan dia tangkap hari ini dan melupakan penyakit menahun Emak yang bisa saja kumat di setiap Bapak membuatnya naik darah.
“Emak kembali berulah, memukul talenan dengan pisau cukup keras. Sesekali diam-diam menyembunyikan rintihannya,” ujarku pada Bapak yang diam-diam menenggelamkan dirinya dari kehadiranku.
Kali yang selalu didatangi Bapak untuk memancing mengeluarkan aroma busuk dari pembuangan sampah yang tak seberapa jauh. Herannya, Bapak benar-benar santai dengan aroma busuk yang menusuk hidung, bahkan aku heran ikan-ikan di sini masih hidup dengan ling kungan yang dekat dengan TPS warga. Beruntungnya, kali tak tercemar sampah yang dibuang begitu saja.
“Aroma busuk sampah tidak membuat telinga Bapak tiba-tiba tuli kan, Pak?”
Tali pancing bergerak, rona wajah Bapak berubah.
“Mantap!” ujarnya.
Bapak lagi-lagi tak menghiraukanku. Telinga Bapak seolah sudah dijaga ikan-ikan yang merasukinya hingga tak mengizinkan segala suara memasuki gendang telinganya.
Tidak berselang lama, seekor ikan menarik tali pancing dengan cepat, sayangnya ikan itu lepas sebelum Bapak menariknya.
“Bapak!” Aku sedikit membentaknya.
Bapak tersentak dalam lamunan ikan yang lepas. “Berisik, Amar, berisik!”
“Emak tak ingin makan ikan!”
“Emak akan senang, Amar!”
“Kesenangan tidak akan membuat Emak diam-diam menyembunyikan tangis di sela memasak, Pak!”
“Diamlah, ikan-ikan akan pergi!”
Aroma busuk terbawa angin hingga menusuk hidung, tapi Bapak tak juga luluh untuk beranjak. “Pak!” Aku sedikit membentak lagi.
“Kau harusnya mengerti, ikan-ikan ini akan membantumu menjadi anak yang pintar! Kawanku merelakan salah satu alat pancingnya demi kau juga, Amar! Demi membantumu! Kau harus banyak makan ikan, Amar!”
Bapak melepaskan pancingannya, kami diam. “Kau harus bisa lebih pintar dari bapakmu, sekolah lebih tinggi, dan kerja di tempat yang layak, biar kau tidak di-PHK seperti Bapak!” tambahnya lagi.
“Pak, sudahlah.” Aku mencoba menenangkan Bapak yang sejauh ini baru kutemukan bapakku yang seperti ini.
“Ikan-ikan menari di kepalaku, Amar! Ikan-ikan menari di kepalaku! Aku ingin kau memakannya!”
Bapak menggoyangkan badanku. Aku diam. Mak, Bapak tidak kerasuk an jurig jarian, Bapak kerasukan ikan-ikan! ***
.
.
Bandung, 2019-2020
.
Catatan:
Jurig = hantu;
Jurig jarian = hantu perempuan yang berdiam di sawah atau di tempat (pembuangan) sampah.
.
.
Diyana Mareta Hermawati, mahasiswa Pascasarjana Sastra Kontemporer Universitas Padjadjaran (Unpad) yang bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra-Universitas Pendidikan Indonesia (ASAS UPI) Bandung. Menulis prosa dan puisi.
.
Ikan-ikan Melayang dalam Pikiran Bapak. Ikan-ikan Melayang dalam Pikiran Bapak. Ikan-ikan Melayang dalam Pikiran Bapak.