Kitab Ramuan Mbah Lumut

Cerpen Indah Wulandari Pulungan (Padang Ekspres, 19 Juni 2022)

RUPANYA sendu dan mendung masih tetap berpadu kasih di angkasa tujuh, hingga atap langit tak kuasa lagi membendung tangis yang pecah lewat sisi pembatas antara langit dan bumi. Ia juga tak segan memekikkan gemuruh bersama pesona cahaya yang sangat menakutkan itu. Di sebelah utara, kiranya sapu tangan penyeka lebih dulu tiba menghapus jejak tangis yang lunglai dibelai warna-warni indah pelangi.

Di sana langit bercumbu seolah memberi cemburu pada kekasihnya yang tengah bersedih di ufuk seberang. Kedua sisi langit membelah hamparan bumi lewat batas tak kasat mata yang hanya bisa dijumpai oleh orang-orang beruntung di bumi ini, ialah mereka yang pintar mengaduk-aduk akal sakit orang waras. Demikianlah kalimat pembuka dari kisah singkat ini, mari kita lanjutkan.

Kali ini, aku hendak melukis malam di kanvas putih yang telah kukembangkan di bawah teduh pohon tempatku bersandar. Hanya di sini aku bisa merasa aman tanpa takut bersentuhan langsung dengan sinar surya. Siang yang begitu terik, mengundang rasa hausku untuk menawar malam agar bersedia meleburkan diri ke dalam kanvas berukuran 40×60 cm ini.

Pertama, aku mulai melelehkan pekat kelam ke permukaan putih kanvas tak berdosa itu. Ia telah kunodai dengan hamparan cat akrilik yang tersapu oleh belaian lembut kuas mop. Melihat pekat hitam yang perlahan menutupi kanvas putih ini, membuatku teringat tentang suatu kejadian yang membuat gempar masyarakat beberapa waktu lalu.

Kau tahu, di sudut kota ini terdapat satu bangunan rumah yang tampak sangat menyeramkan. Sisi menyeramkan itu terlihat dari kebiasaan aneh si pemilik rumah, yang menggantungkan kepala-kepala kerbau di bawah rindang pohon beringin yang bertengger di pekarangan rumahnya. Konon katanya, pemilik rumah itu dikenal dengan nama Mbah Lumut. Tidak ada yang tahu dengan siapa ia tinggal di dalam rumah sebesar itu. Orang-orang tidak pernah tahu, dan bahkan tidak mau tahu lagi.

Sempat dulu warga sekitar ingin mengakrabkan diri dengan Mbah Lumut, namun nyatanya tidak semudah itu bisa mengambil hati pria tua, berbadan tegap dan tinggi, serta berkumis itu. Tetangganya juga acuh jika disinggung soal Mbah Lumut, mungkin hatinya pernah terluka dibuat oleh Mbah Lumut, entah sengaja atau tidak, silahkan kau sendiri yang menilainya nanti.

Dua bulan yang lalu, kotaku diserang wabah penyakit kudis (scabies). Wabah ini berawal dari salah seorang warga yang mencuri kepala kerbau di pekarangan rumah Mbah Lumut, sebut saja namanya Rilen. Rilen adalah anak sulung Pak RT yang konon katanya memiliki indra keenam. Setiap saat ia selalu berperilaku aneh, seperti berbicara sendiri dan mengangguk-angguk sendiri seolah mendapat bisikan.

Perilaku anehnya itu membuat orang-orang tidak mau berteman dengannya. Jangankan berteman, mendekatinya saja pun tidak berani. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu, hingga ia berani mencuri kepala kerbau milik gurunya sendiri. Ya, begitulah kata orang-orang. Rilen adalah murid Mbah Lumut yang sangat ia sayangi. Hanya Rilen yang mampu membuat Mbah Lumut tersenyum sebahagia itu.

Saat itu, Mbah Lumut mengajari Rilen meracik suatu ramuan khusus yang dibuat tepat di bawah cahaya bulan purnama. Mereka berdua mengerjakan ramuan itu dengan begitu khidmat.

“Murid kesayanganku, Rilen. Kali ini aku akan mengajari kau cara meracik ramuan yang bisa mendatangkan keuntungan bagimu. Ramuan ini sangat sakral, hingga kau harus membuatnya tepat di bawah cahaya bulan purnama,” ucap Mbah Lumut sembari mengusap-usap kepala Rilen dengan telapak tangannya.

“Keuntungan seperti apa yang bisa kudapatkan melalui ramuan ini, Guru?” tanya Rilen pada gurunya itu.

“Lewat ramuan ini kau bisa menciptakan penyakit dan juga membuat ramuan penawarnya. Hal penting yang perlu kau ingat dari sini adalah bahwa orang-orang akan mengingat jasamu, karena telah membantu menyembuhkan penyakit mereka,” jelas Mbah Lumut.

“Maksud Guru saat ini kita akan meracik ramuan yang mendatangkan penyakit bagi warga?” tanya Rilen keheranan.

“Jangan kau katakan kita sedang membuat penyakit untuk mereka, Rilen. Saat ini mereka sedang sakit, jiwanya sakit, namun mereka tidak sadar dengan sakit itu. Oleh karena itu, kita akan menyadarkan mereka dengan satu sakit yang akan mereka sadari secara nyata. Hingga mereka menganggap bahwa itu adalah karma dari semesta. Di akhir cerita kau akan hadir sebagai orang yang membawa ramuan kesembuhan bagi mereka, dan kau tak akan dilecehkan lagi wahai anakku.” Sendu bola mata Mbah Lumut mengisyaratkan sebuah rasa iba melihat Rilen yang diperlakukan tidak adil oleh warga sekitar.

“Baiklah Guru, mari kita racik ramuan ini. Ini adalah sebuah peluang besar untuk menyadarkan jiwa-jiwa yang sakit akibat kesombongan semata,” Rilen bersemangat ingin meracik ramuan itu.

Kau yang sedang membaca cerita ini, apa kau sadar tengah menjadi saksi bisu dari sebuah kasus kejahatan yang hendak menyakiti banyak jiwa. Atau kau mulai terenyuh dari dialog percakapan antara Mbah Lumut dan muridnya tadi, hingga kau mulai menaruh simpati pada kedua tokoh itu. Kau ingin mengharapkan akhir cerita yang bagaimana?

Aku telah memberimu satu rahasia besar, bahwa penyakit kudis yang diderita oleh warga bukan disebabkan oleh lelucon konyol tentang si Rilen yang mencuri kepala kerbau milik gurunya. Entah apa yang membuat warga berpikiran demikian.

Oh, aku baru mengingatnya. Saat itu, Rilen menggantungkan kepala kerbau di pokok mangga pekarangan rumahnya. Orang-orang pun mengira bahwa kepala kerbau itu adalah milik Mbah Lumut yang ia curi, sehingga membuat Mbah Lumut murka dan mengutuk semua warga.

“Hei, Rilen. Apa kau hendak menyaingi kesaktian gurumu hingga kau mencuri kepala kerbaunya. Kau tahu akibat perbuatanmu itu, Mbah Lumut mengutuk semua warga hingga menderita penyakit kudis. Lihatlah, kenapa hanya kau dan keluargamu saja yang tidak terkena penyakit ini. Kau yang berbuat dan kami yang menerima imbas dari perbuatanmu itu.” Sorak warga kepada Rilen dengan nada yang tinggi.

“Aku tidak mencuri kepala kerbau milik Mbah Lumut. Ini adalah kepala kerbau milik pamanku. Pamanku baru saja memotong kerbau, dan aku meminta kepalanya untuk digantungkan di pokok mangga. Ini sangat berguna untuk menangkal berbagai macam penyakit agar tak masuk ke dalam rumah,” jelas Rilen kepada warga.

“Apakah yang kau katakan itu benar, Rilen? Kau tidak mengada-ngada, bukan?” tanya warga penasaran kepada Rilen.

“Aku tidak berbohong. Kalian boleh mencobanya, dan aku juga punya ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit kudis itu. Jika kalian mau, aku akan memberikannya,” jelas Rilen pada warga, yang membuat warga merasa memiliki kesempatan untuk menyembuhkan penyakit mereka yang tak kunjung sembuh, meski sudah berobat ke dokter spesialis kulit.

“Tolong beri kami ramuan itu, Rilen. Kami sangat membutuhkannya,” pinta salah seorang warga kepada Rilen.

“Aku akan memberikan ramuan ini kepada kalian. Oleskan saja ke permukaan kulit yang sakit, semoga kudis yang ada di tubuh kalian itu dapat sembuh secepatnya. Ramuan ini adalah racikan yang dibuat oleh Mbah Lumut. Kalian harus berterima kasih kepadanya.” Rilen memberikan warga ramuan itu.

Benar saja, ramuan itu sangat mujarab. Hanya dua kali oles, kudis-kudis yang ada di tubuh warga mulai mengering. Warga sangat berterima kasih kepada Rilen dan Mbah Lumut. Mereka amat menyesali perbuatan mereka yang selama ini memandang sebelah mata kedua orang itu. Di saat mereka hendak bertamu ke rumah Mbah Lumut, terlihat di sana Rilen yang tengah menangis terseduh-seduh. Tubuhnya lunglai tak kuasa menahan kepedihan akibat gurunya yang telah menghilang, pergi tanpa isyarat apa pun.

“Ke mana perginya Mbah Lumut, Rilen? Kami ingin mengucapkan terima kasih kepadanya,” tanya warga kepada Rilen yang tengah menangis itu.

“Aku tidak tahu. Mbah Lumut telah pergi entah ke mana. Ia telah menghilang,” ucap Rilen lesu.

Berita hilangnya Mbah Lumut membuat gempar seluruh warga. Tidak ada yang tahu ke mana perginya ia. Yang mereka ketahui, bahwa Rilen yang meneruskan ilmu Mbah Lumut. Kini Rilen dikenal sebagai orang pintar yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ia tak lagi dikucilkan oleh warga. Mereka hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera.

***

Aku kembali melanjutkan lukisan malamku. Hingga tak terasa kemilau senja telah menjalari tubuhku. Ia menyatu bersama cahaya langit berwarna oren kemerahan yang mnyelimuti bundar bumi tak berujung. Aku telah menyelesaikan lukisan malamku, tepat sebelum pekat malam yang nyata menghapus kabur cahaya yang terselip di dalam lukisan ini. Sejenak, aku terhanyut dalam lukisan malam penuh bintang yang begitu indah, hingga tak sadar jejak langkah seseorang terdengar mulai mendekatiku.

Perlahan ia menyapu seluruh sunyi dan menyelinap masuk ke dalam pendengaranku. Aku mulai takut membayangkan sosok yang hendak menghampiriku ini. Padahal bisa saja aku langsung berbalik arah untuk melihat siapa yang datang ke arahku. Tapi aku memilih diam membatu sembari menunggu suara itu memanggilku. Tak berapa lama, suara langkah kaki itu terhenti tepat di belakangku.

“Aku ingin memberikan kitab ramuan ini kepadamu. Ini adalah satu-satunya harta benda paling berharga yang kumiliki. Aku tahu, kau adalah orang yang sangat bijak. Kau pasti tahu apa yang harus kau perbuat. Terimalah ini.” Aku dibuat kaget dengan suara ini. Aku mengenalnya, dan aku ingin melihatnya lagi.

Sesaat aku langsung berbalik arah untuk melihat wajah orang yang berbicara denganku tadi. Namun ia telah hilang bersama kabut malam yang menenggelamkan diri ke dalam lukisanku. Kitab itu tergeletak di atas rumput dan aku memungutnya. Kau pasti tahu orang yang memberikan kitab ramuan itu adalah orang yang telah hilang tanpa jejak beberapa waktu lalu, ialah Mbah Lumut. Dan aku yakin, Mbah Lumut akan kembali lagi.

Dering alarm membuatku terbangun, tepat pukul lima pagi. Aku mulai bergegas bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mimpi yang sangat panjang telah kulewati, tapi aku lupa dengan mimpi-mimpi dalam tidurku tadi. Akhirnya, aku berhenti untuk berusaha mengingat mimpi itu. Aku melanjutkan menyantap sarapan pagi buatan ibuku tercinta. ***

.

.

 Indah Wulandari Pulungan adalah mahasiswi S-2 Kajian Budaya Universitas Andalas. Aktif menulis, dan beberapa tulisannya telah dimuat di media massa.

.

Kitab Ramuan Mbah Lumut. Kitab Ramuan Mbah Lumut. Kitab Ramuan Mbah Lumut.

Arsip Cerpen di Indonesia