Cerpen Anita Kencana Wati (Haluan, 19 Juni 2022)
SUARA ibu yang terdengar sangat kegirangan dari halaman rumah sambil memanggil namaku, membuatku merasa penasaran. Kutinggalkan tulisan di laptop, yang baru berisi satu alinea. Aku bergegas menemui ibu.
“Lihat Tia, lidah buaya kita ada yang berbunga! Seumur hidup Ibu, baru sekali ini Ibu melihat lidah buaya berbunga,” seru ibu dengan mata berbinar. Ibu menunjukkan tanaman lidah buaya yang berbunga itu kepadaku.
Jika ibu yang sudah berusia delapan puluhan tahun, baru sekali ini melihat tanaman lidah buaya berbunga, apalagi aku. “Ya ampun, Tia juga baru sekali ini lihat tanaman lidah buaya berbunga, Bu,” ujarku merasa kaget bercampur gembira. Kami berdua pun asyik mengamati lidah buaya yang berbunga itu.
Tujuh tahun yang lalu, ibu menanam lidah buaya itu di halaman rumah kami. Ada tiga pohon yang ibu tanam saat itu, dari sejak kecil, sehingga menjadi besar. Yang berbunga, hanya satu pohon saja.
Karena sudah berusia tujuh tahun, tiga pohon lidah buaya itu tumbuh besar dan gemuk. Berbeda dengan lidah buaya lainnya yang masih berusia di bawah tujuh tahun.
Ibu memang menanam cukup banyak lidah buaya di halaman rumah kami. Kadang dipakai ibu untuk masker wajahnya. Terkadang untuk merawat rambutnya. Walau sudah tua, ibu masih rajin merawat wajah dan rambutnya. Terkadang ada juga tetangga yang meminta lidah buaya itu, untuk obat, atau untuk keperluan lainnya.
Rasa penasaran karena tanaman lidah buaya di rumah kami ada yang berbunga, membuatku jadi ingin tahu, apakah hanya ada di rumah kami? Segera kuambil handphone dari kamar. Aku pun mencari tahu lewat Google. Ternyata, tanaman lidah buaya memang ada yang berbunga, tapi termasuk jarang dan langka.
“Memang ada yang berbunga, Bu. Tapi jarang dan langka,” kataku memberitahu ibu.
“Ya, sudah. Kalau begitu, kita masukkan dalam rumah saja. Nanti diambil orang kalau di halaman ini,” sebut ibu nampak khawatir.
Masalahnya, saat itu musim mencuri bunga memang sering terjadi. Terutama bunga jenis keladi. Apalagi yang namanya bunga janda bolong. Sudah banyak tetangga kami setiap pagi hari melaporkan kehilangan bunga di halaman rumahnya.
Akhirnya, tanaman lidah buaya yang berbunga itu kami pindahkan ke dalam pot. Kemudian diletakkan ke dalam ruangan tamu. Sementara lidah buaya lainnya tetap berada di halaman rumah.
Ibu tampak sangat menyayangi lidah buaya yang berbunga itu. Tak pernah jemu dia melihatnya. Bahkan, terkesan seperti melihat sesuatu yang sangat berharga. Seperti melihat perhiasan emas permata.
Tak jauh beda dengan ibu yang merasa sangat gembira, aku juga menunjukkan rasa senang memiliki lidah buaya berbunga di rumah kami, dengan memosting fotonya di Facebook.
Banyak kawan yang kemudian memberi komentar pada postinganku itu. Ada yang merasa tak percaya kalau lidah buaya berbunga, karena belum pernah melihatnya. Ada yang menyatakan kekagumannya. Tapi ada juga seorang kawan yang menyatakan kalau dia sudah sering melihat bunga lidah buaya. Sebab, dia tinggal di dekat kebun lidah buaya yang memang dikembangbiakkan untuk dijual. Dari sekian banyak tanaman lidah buaya di kebun itu, pasti ada beberapa pohonnya yang berbunga, katanya.
Suara panggilan masuk di handphone, menghentikan kegiatanku menanggapi komentar kawan-kawan di Facebook. Ternyata dari Karina.
Limabelas tahun yang lalu, aku dan Karina pernah satu kantor. Namun, tujuh tahun yang lalu, aku memutuskan pindah kantor. Walau begitu, aku dan Karina masih sering jumpa. Kami juga sering saling memberi komentar untuk postingan di Facebook. Berhubung usiaku lebih tua, Karina memanggilku Kakak.
“Kak, bolehkah Karina minta, atau membeli bunga lidah buaya itu? Untuk obat kanker payudara emak kami, Kak.” Suara Karina di handphone terdengar begitu berharap.
“Selama ini, emak kami minum jus lidah buaya untuk obat tradisional kanker payudaranya. Tapi kalau ada bunganya, lebih bagus lagi, Kak,” tambah Karina.
Aku terdiam. Tak bisa segera menjawab permintaan Karina. Mataku menatap ke arah ibu yang begitu asyik memandang bunga lidah buaya. Ada keinginanku untuk membantu Karina mendapatkan bunga lidah buaya itu. Tapi, bagaimana dengan ibu? Apa mungkin ibu mau memberikan bunga lidah buaya itu pada Karina?
“Sebentar ya, Karina. Kakak tanya pada Ibu dulu. Nanti bagaimananya, Kakak kabari Karina,” ujarku pada Karina.
Setelah memutuskan pembicaraan dengan Karina, aku mendekati ibu. “Barusan ada kawan yang nanya di handphone, Bu. Bolehkah dia minta atau membeli bunga lidah buaya ini. Katanya, untuk obat kanker payudara emaknya,” tanyaku pelan dan hati-hati.
Sejenak, nampak ibu terkejut mendengar ucapanku. Tapi, tak ada jawaban dari ibu. Hanya mimik wajahnya menunjukkan kalau ibu keberatan memberikan bunga lidah buaya itu pada Karina.
“Kata kawan itu, selama ini emaknya minum jus lidah buaya untuk obat tradisional kanker payudaranya. Tapi kalau ada bunganya, lebih bagus lagi, Bu.” Seperti yang dikatakan Karina, seperti itu juga kukatakan pada ibu.
“Kalau obatnya memang bisa dengan jus lidah buaya, berikanlah lidah buaya yang di halaman rumah kita untuk emaknya,” kata ibu memberi jawaban.
“Iya, Bu,” jawabku sedih.
Ada rasa penyesalan di dalam hatiku. Kenapa aku tadi memosting bunga lidah buaya itu di Facebook? Sehingga Karina menelponku, meminta tolong padaku agar bisa mendapatkan bunga lidah buaya itu untuk obat emaknya. Tapi, aku tak bisa menolong Karina.
Aku tahu, selama ini Karina telah berusaha semaksimal mungkin merawat ibunya. Baik dengan pengobatan medis, mau pun tradisional. Saat ibunya harus menjalani kemoterapi di rumah sakit, Karina biasanya selalu meminta doa dari kawan-kawan Facebook untuk mendoakan ibunya. Aku sungguh mengagumi Karina sebagai anak yang sangat berbakti pada ibunya. Itulah yang membuatku sedih, tak bisa membantunya.
Tapi, aku juga memaklumi ibuku yang menolak memberikan bunga lidah buaya itu pada Karina. Seumur hidup, baru sekali ini ibu melihat ada lidah buaya yang ditanamnya berbunga. Seandainya, ibu sudah pernah melihat sebelumnya, pasti ibu mau memberikannya pada Karina.
Dengan menguatkan hati, akhirnya aku menelepon Karina. Aku meminta maaf karena tak bisa menolong Karina. Aku juga meminta Karina bisa memaklumi ibuku.
“Iya, tidak apa-apa, Kak,” kata Karina dengar suara menahan kecewa.
“Tapi kalau Karina mau lidah buaya, kata Ibu Kakak, ambil saja ke rumah kami. Jangan sungkan. Ayo, kapan Karina mau mengambilnya?” tanyaku mencoba menghibur hati Karina. Aku berharap, walau tak dapat bunganya, mudah-mudahan dengan mendapat lidah buaya untuk jus emaknya, kekecewaan Karina bisa sedikit terobati.
“Iya, Kak. Nanti kalau mau ke rumah Kakak ngambil lidah buaya, Karina kabari Kakak. Terima kasih dulu ya, Kak,” kata Karina menutup telepon.
Namun, sebulan sudah berlalu. Karina tak pernah datang ke rumah kami untuk mengambil lidah buaya. Aku pun tak pernah melihat postingannya di Facebook. Dia juga tak pernah lagi mengomentari postinganku.
Hari ini, Lisya, kawan sekantor Karina meneleponku. Sama seperti Karina, Lisya juga memanggilku Kakak.
“Kak, sudah dapat kabar apa belum tentang Karina?” tanya Lisya.
“Kabar apa, Lis?” tanyaku heran.
“Karina meninggal dunia, Kak. Ini kami dari kantor lagi takziah ke rumah duka,” kata Lisya. Kudengar suara Lisya menahan tangis.
Sekian detik jantungku terasa berhenti berdetak mendengar kabar itu. “Serius ini, Lis?” tanyaku masih tak percaya.
“Iya, Kak. Tiga hari yang lalu Karina kemoterapi. Pulang dari kemoterapi, dia tidak mau makan. Dia muntah-muntah dan dadanya sesak. Dibawa ke rumah sakit, sehari kemudian meninggal dunia,” cerita Lisya masih dengan isak tangis.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sakit apa Karina sehingga harus kemoterapi, Lis?” tanyaku dengan suara bergetar menahan sedih.
“Kanker payudara, Kak?” sebut Lisya.
“Apaaa? Bukan emaknya Karina yang sakit kanker payudara itu, Lis?” Aku benar-benar merasa terkejut.
“Emaknya sudah belasan tahun kena kanker payudara, Kak. Kalau Karina, lima tahunan. Tapi kami di kantor tidak ada yang tahu kalau Karina juga kena kanker payudara, Kak. Dia tidak pernah cerita. Kami tahu dari sepupunya yang cerita tadi, di rumah duka,” tutur Lisya.
Aku merasa sekujur tubuhku lemas. Aku ingat bagaimana berharapnya Karina bisa mendapatkan bunga lidah buaya yang kuposting di Facebook. Mungkinkah bunga lidah buaya itu bukan hanya untuk mengobati kanker payudara emaknya saja, tapi juga untuk mengobat kanker payudara Karina?
Air mataku menitik. Maafkan Kakak ya Karina, gumamku sedih.
Aku segera bersiap untuk pergi takziah ke rumah Karina. Saat melewati halaman rumah, tatapanku tertuju pada serumpun tanaman lidah buaya yang sebulan lalu sudah menunggu kedatangan Karina. Hijau, segar, besar. Tapi, Karina tak akan pernah datang lagi, untuk mengambilnya. ***
.
Lidah Buaya untuk Kawan Lama. Lidah Buaya untuk Kawan Lama. Lidah Buaya untuk Kawan Lama.