Cerita Remaja Heru Patria (Radar Banyuwangi, 25 Juni 2022)
PERNAHKAH kau dengar hujan yang turun di malam hari? Ketika daun-daun luruh merunduk ke bumi. Dan binatang malam telah enggan ’tuk bernyanyi. Hanya angin malam yang bertiup malu-malu, menebarkan selimut dingin pada segenap manusia yang mencoba mencari hangat tanpa semangat.
Saat itu masih ada Nuril yang terjaga. Duduk mematung di tepian ranjangnya yang beku sembari menatap tiga kuntum mawar merah dalam sebuah vas berbahan porselen warna biru muda. Seolah memiliki satu kekuatan magis yang teramat besar, mawar merah itu membuat matanya tak mampu berpaling. Bahkan, mengedip pun enggan.
Mawar biasa memang. Nuril dan juga siapa pun juga pasti sering menjumpai mawar serupa banyak ditanam di halaman rumah tetangga. Bahkan, di taman depan kampus juga banyak. Namun, ketiga kuntum mawar itu bagi Nuril menjadi luar biasa lantaran gara-gara ketiga mawar itu, sekarang ada begitu banyak tanda tanya dan keresahan yang memenuhi benak gadis yang mulai beranjak dewasa itu.
Betapa tidak! Semenjak cerpen perdananya yang berjudul Si Cebol Rindukan Prita dimuat di media, tiba-tiba saja setiap Sabtu pagi, ia menemukan sekuntum mawar merah di bawah jendela kamarnya yang memang menghadap ke jalan raya. Bukan itu saja. Di batang mawar itu selalu terikat potongan kertas kecil berwarna biru dan berbentuk hati dengan bertuliskan sebaris kata-kata puitis bin romantis.
“Ciumlah harumnya mawar ini, Manis…. Ada sesuatu yang sangat didambakan, darimu… pada pengirimnya.”
Duuuh, bayangkan! Hati perempuan mana yang tidak akan melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi bila mendapat ucapan semesra itu. Tak berlebihan kiranya jika hati Nuril dibuat klepek-klepek tak berdaya. Ditambah lagi kiriman bunga mawar dan kata-kata manis itu bukan hanya sekali dikirim oleh sang pemuja rahasianya, tapi sudah empat kali dengan yang ia terima tadi pagi. Makanya, tak heran kalau Nuril jadi penasaran setengah mati.
Andai saja ia hidup di zaman kerajaan dahulu kala, ia pasti sudah membuat satu pengumuman resmi lewat kerajaan. Barangsiapa yang mau mengakui telah mengirim bunga mawar dan kata-kata manis lewat bawah jendela kamarnya, kalau perempuan akan ia angkat jadi saudara dan kalau laki-laki akan ia jadikan suaminya. Tapi dengan syarat harus ganteng, pintar, dan kaya raya… ha ha ha ha! Sayang, ia kini hidup di zaman Mbah Google sehingga hal seperti itu jelas tak mungkin dilakukannya.
Oh! Gemericik air hujan di luar belum juga reda. Sedang jam di tembok kamar Nuril sudah berdentang 11 kali. Sementara rasa kantuk belum juga menghampirinya. Mawar-mawar merah itu serasa mengganjal kelopak matanya hingga tak mampu terpejam jua.
“Ril, kau ini aneh deh Ril,” ujar Saskia tadi siang sewaktu jam istirahat sambil menikmati bakso di kantin kampus.
“Aneh bagaimana maksudmu, Sas?” Nuril bertanya tanpa semangat. Sebab hati dan pikirannya masih saja kepikiran tentang siapa pengirim mawar merah itu.
“Kau ini kan penulis, Ril… jadi wajarlah kalau ada penggemar. Jadi seharusnya kau itu senang dan bangga, bukannya malah sedih dan manyun kayak gitu.”
“Sas, kalau mawar itu memang benar dari penggemarku, harusnya ya sebutin identitasnya, kan.”
“Yaaa… itu namanya pemuja rahasia, Ril. Biar kamunya penasaran kali,” goda Saskia pula.
“Bukan penasaran tapi yang ada malah ketakutan, tahu!”
“Takut gimana?”
“Kau mikir nggak sih? Apa jadinya kalau yang kirim mawar merah itu ternyata adalah orang yang punya niat jahat. Mau menculik aku misalnya.”
“Ha ha ha ha ha!!” Di luar dugaan Sakia malah tertawa ngakak.
“Kok kau malah ngakak, Sas? Senang ya kalau aku sampai beneran diculik orang, hah?!” ucap Nuril sewot.
Sambil masih menahan sisa tawanya, Saskia menjawab dengan santainya.
“Bukan begitu Ril, Coba dong kau mikir! Mana ada orang yang mau menculik kamu kecuali orang yang mau rugi besar. Lha, sehari aja jatah makanmu sebajong gitu he he he.”
Spontan Nuril pasang wajah cemberut. Persis kayak Pak Kebon yang lagi gak dibikinin kopi sama bininya.
“Sudah, jangan cengengesan saja. Sekarang bantu aku mikir gimana caranya supaya rahasia ini segera terungkap.”
“Ya kita selidiki aja, Ril. Kita sembunyi dan mengintai diam-diam siapa pelakunya. Gimana menurutmu?”
Aha! Nuril tersenyum. Tumben Saskia sableng ini punya pikiran yang masuk akal. Mungkin ada malaikat baik hati yang sedang menghampirinya sehingga otaknya bisa berjalan dengan sempurna.
***
Pulang kuliah, dengan masih membawa bias-bias tanda tanya dibenaknya, Nuril turun dari angkot dan berjalan lambat-lambat menuju sebuah tempat fotokopi. Karena itu tempat fotokopi satu-satunya di kawasan tersebut, maka tak ayal selalu ramai. Terpaksa Nuril harus mengantre sambil menahan nyanyian lapar dari segenap penghuni perutnya.
Saat mengantre itulah tiba-tiba saja matanya melihat sosok laki-laki tengah berdiri di depan toko bunga yang ada di seberang jalan. Dari postur tubuhnya ia dapat mengenali bahwa lelaki itu pastilah Herman, si ketua ekskul basket yang sok jadi playboy walaupun berwajah pas-pasan.
Penasaran, Nuril pun keluar dari antrean fotokopi dan lantas berjalan mengendap-endap menuju toko bunga itu. Dan, begitu mendekat… olala, Nuril terbelalak tak percaya. Dengan jelas ia dapat melihat ada seikat mawar merah di tangan lelaki yang tak pernah masuk dalam kategori tipenya itu. Tapi bunga-bunga itu… ohh!
“Ya Tuhan, mungkinkah Herman yang selama ini mengirim mawar merah untukku? Ampuuun Gusti, jangan sampai hal itu terjadi,” desis Nuril lirih.
Serta-merta berbagai bayangan hitam mendekap pikirannya. Tak dapat ia bayangkan betapa akan malu dirinya jika sampai jatuh ke dalam pelukan playboy cap duren tiga itu. Otomatis dirinya akan menjadi cewek nomor ke sekian yang pernah singgah di kehidupan laki-laki itu. Sungguh amit-amit, deh!
Terlalu takut jika bayangan buruknya akan menjadi kenyataan, Nuril nekat menghadang Herman yang baru saja hendak melangkah pergi dari tempat itu.
“Hei, tahan langkahmu! Sebelum kau pergi jelaskan dulu kepadaku, untuk apa kau beli mawar merah itu, hah? Atau jangan-jangan kau ya yang selama ini kirim-kirim bunga ke aku. Ngaca dong, ngaca!” damprat Nuril tanpa basa-basi.
“Hei, jadi cewek jangan kegeeran dong! Kalau ngiler ingin aku kirimi bunga, bilang aja. Gak usah pakai marah-marah gitu. Asal kau tahu ya, aku beli bunga mawar ini untuk ditabur di makam nenekku. Jadi kalau kau juga mau bunga ini, ya silakan kau nyusul nenekku dulu ke alam baka,” seloroh Herman sambil cengengesan.
Gubrak!
Muka Nuril langsung merona merah. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi karena kungkungan rasa malu yang tak terperi. Bagai kerupuk kesiram air kuah, Nuril lemas tanpa gairah. Malunya tuh di sini, di hatinya!
***
Suatu hari.
Gerimis masih mengiringi ketika Nuril membuka pintu rumahnya. Pagi ini ia sengaja bangun saat azan Subuh masih bergema. Ia ingin melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Ia ingin mengadu pada Tuhan terkait serangkaian kejadian buruk yang menimpanya semenjak ada teror kiriman mawar merah yang tak jelas siapa pengirimnya.
Benar saja! Nasib baik kiranya sedang berpihak pada Nuril. Saat langkahnya baru saja sampai di teras rumah, matanya sudah menangkap adanya orang berkelebat dari bawah jendela kamarnya. Karena sama-sama kaget, tak urung sosok misterius itu pun sempat menoleh ke arahnya.
Oh Tuhan!
Meski sosok itu berdiri di tempat yang agak gelap, tapi mata Nuril yang tajam dapat mengenalinya. Ya, ia tahu betul pemilik wajah itu. Wajah yang selama ini kerap hadir dalam lipatan mimpinya. Wajah yang selalu membuat jantungnya berhenti berdetak tiap kali mereka berpapasan dan saling melempar senyum di kampus. Rangga! Ya, Rangga! Sang Ketua Senat Mahasiswa yang pagi ini Tuhan tunjukkan sebagai sosok pengirim mawar merah dan kata-kata manis untuknya.
“Alhamdulilah Tuhan, jika ternyata Rangga yang selama ini selalu mengirim mawar merah dan kata-kata manis untukku. Terima kasih Tuhan, kiranya Kau telah menjawab doaku selama ini,” ucap Nuril seraya meneruskan langkah dengan membawa sebongkah harapan indah.
***
Malam Minggu, tepat pukul tujuh, dengan dandanan rapi Nuril sudah duduk di sebuah bangku di sudut Taman Kota. Sesuai pesan yang ia terima bersama mawar merah yang ia dapati di bawah jendela kamarnya tadi pagi, bahwa pemuja rahasianya—yang sudah ia ketahui orangnya, mengajaknya bertemu di Taman Kota ini. Sebuah pilihan lokasi yang romantis. Sebagai penulis cerpen Nuril sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah proklamasi hati yang sudah begitu lama ingin ia dengar akan segera terucap dari orang yang memang ia harap.
“Sudah lama menunggu?” Satu suara lembut terdengar dari balik punggungnya.
Spontan Nuril balik badan dengan mata terpejam. Oh, inikah rasanya saat-saat hendak ditembak oleh lelaki idaman? Seonggok senyum termanis sudah pula ia siapkan di bibirnya yang mungil. Namun, betapa terkejutnya ia ketika tatap matanya sudah seratus persen berhadapan dengan Rangga. Serta merta senyum manisnya sirna. Berganti dengan gemuruh hebat di dadanya yang membuncah.
Betapa tidak! Kali ini di saat ia telah menemukan orang yang selalu mengirimkan mawar merah dan kata-kata manis untuknya, yang ia harap akan menyemaikan benih-benih cinta yang sudah ia tabur di dasar hatinya, Rangga malah datang tidak sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang gadis yang menggenggam erat tangan Rangga dengan begitu mesra. Dan, gadis itu adalah Saskia.
Sejenak Nuril terpaku di tempatnya dengan bibir bergetar, tapi tak mampu berkata-kata sepatah pun.
“Maafkan aku, Ril. Selama ini memang akulah yang selalu mengirim mawar merah dan kata-kata indah untukmu. Semua itu kulakukan karena memang aku mengagumi dirimu. Kau gadis yang cantik dan hebat, Ril. Semula aku juga berharap agar bisa mendapatkan hatimu. Tapi kemudian Saskia hadir menyadarkanku bahwa kau terlalu tinggi untuk kuraih. Karena itu hari ini aku mengajakmu bertemu di tempat ini untuk meminta maaf. Jangan kau anggap aku sengaja PHP sama kamu. Tidak, Ril. Untuk itu aku ingin mengakhiri segalanya sekaligus menunjukkan kepadamu bahwa Saskialah kekasihku.”
Oh Tuhan! Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap. Bumi tempat berpijak terasa miring dan napas terasa pengap. Dengan muka tertunduk lesu Nuril melangkah lunglai meninggalkan Taman Kota itu.
Seiring tenggelamnya bintang-bintang di balik awan, Nuril saksikan harapan indahnya lenyap ditelan fatamorgana. Saat itu ingin ia kejar bayangan Rangga, tapi sayang malam keburu datang menutup hati.
Hingga ia kehilangan jejak. Dalam bilur harapnya yang semakin samar, ia tak tahu lagi ke mana ia harus menyeret langkah. Hingga mawar merah pun telah menghitam kini, sedang hati Nuril masih jua terkunci. Rapat dan sunyi! Akankah mawar yang telah menghitam akan memerah kembali?
Semoga! ***
.
.
*) Heru Patria, nama pena dari Heru Waluyo, seorang novelis dari Blitar. Puisi dan cerpennya banyak dimuat di buku antologi nasional serta berbagai media cetak dan online. Novel terbarunya berjudul Dalbo: Basa Basi Bumi (Elexmedia, 2021) dan Kerontang Kesaksian Pohon (Hyang Pustaka, 2022). Buku puisinya yang baru terbit berjudul Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2021).
.
Hati Tertusuk Duri. Hati Tertusuk Duri. Hati Tertusuk Duri. Hati Tertusuk Duri. Hati Tertusuk Duri.