Cerpen Waliyunu Heriman (Pikiran Rakyat, 25 Juni 2022)
PARA ustaz dan kiai di kota ini sudah tak percaya lagi pada niat tobat Ben Santot. Mereka menganggap tobat Ben Santot, tobat sambal belaka. Hari ini tobat, besok lusa maksiat.
Tak hanya sekali Ben Santot mendatangi pemuka agama, membuat semacam pengakuan dosa lalu menyatakan diri bertobat dan menyatakan diri ingin belajar agama agar bisa hidup lebih baik. Nyatanya, setelah bertobat, diberi nasihat panjang lebar agar tidak menempuh jalan hidup yang sesat, Ben Santot kembali lagi bersekutu dengan iblis.
Memalak para pedagang di pasar, bermain judi, meneguk alkohol sampai mabuk lalu pergi ke tempat pelacuran. Habis uang kembali memalak atau membobol rumah orang. Membegal orang-orang berduit di jalanan yang sepi. Entah berapa nyawa orang yang ia habisi demi memenuhi hasrat hatinya; berjudi, mabuk, dan bermain dengan perempuan lokalisasi.
Namun, kali ini niat Ben Santot untuk bertobat sungguh-sungguh. Itu kenapa ia menolak ajakan Sugiwa dan Subali, dua bajing luncat paling garang, untuk membegal truk elektronik di suatu tempat.
“Ketahuilah oleh kalian, mulai saat ini saya akan berhenti hidup sesat. Jangankan membegal, memungut sisa nasi di piring orang saja tak akan saya lakukan.”
“Kata-katamu sangat manis tapi pahit bagiku untuk percaya.”
“Sebesar apa pun kesungguhanmu, malaikat sudah bosan mendengarnya, haha…”
“Kalian berdua jangan mencemooh saya. Kalau saya marah, kalian tak ada artinya. Sepuluh orang macam kalian cukup satu tangan saya ladeni.”
Sugiwa dan Subali diam, enggan beradu mulut berkepanjangan sebab bisa jadi ucapan Ben Santot mau bertobat bualan belaka dan jika betul begitu, berbahaya. Ben Santot bisa murka, lalu seperti yang sudah-sudah, iblis yang bersemayam dalam tubuhnya, membimbing Ben Santot untuk ugal-ugalan menghajar Sugiwa dan Subali hingga babak belur. Menyeretnya di aspal, lalu menjeburkannya ke selokan.
“Sudah, pergilah kalian berdua, jangan mengusik niat baik seseorang kecuali kalian mau menderita,” lerai Sarwiti, penjaga warung kopi tempat mereka bertemu. “Tak usah hiraukan orang dua itu,” sambung Sarwiti. Perempuan penghuni lokalisasi itu tersenyum manis pada Ben Santot, langganan yang telah dianggapnya sebagai suami.
“Saya juga tak akan pernah lagi menyentuh kamu, Sarwiti. Jangankan menyentuh, datang saja jangan kamu harap.”
“Baiklah lakiku yang jantan dan gagah. Tapi apa enggak sebaiknya sebelum kamu insyaf singgah dulu ke kamar saya nanti malam? Anggaplah itu malam terakhir sebelum kamu tak akan melihatku lagi.”
“Jangan kacaukan saya, Sarwiti, kalau hidup kamu tidak mau saya kacaukan!”
Ben Santot pergi untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda, mencari seorang perempuan yang tiga hari lalu ia dapatkan tengah duduk di taman kota. Perempuan itu, entah gelandangan atau gila, atau kedua-duanya, duduk di atas bangku kayu sebuah gazebo tua.
Berpakaian sangat rudin, membawa buntalan kain, dan sebuah tas kain kumal entah berisi apa. Ben Santot terpikat oleh perempuan kotor yang ia yakini sebagai orang gila itu, sebab tangannya memegang sebuah buku bertulisan latin dan huruf Arab. Saat dihampiri, perempuan itu sedang gemerengeng membaca ayat suci dengan intonasi yang indah, seperti intonasi orang mengaji yang Ben Santot dengar lewat pengeras suara masjid atau musala.
Ketika dihampiri, perempuan itu bangkit dan mengemasi bawaannya, lalu berjingkat pergi ke tempat lain seolah tahu yang datang adalah sosok iblis dalam jelmaan manusia. Di tempat lain, perempuan gila itu duduk dan melanjutkan pekerjaannya, membuka buku dan membaca ayat-ayat suci yang sama sekali tak dikenali Ben Santot.
Penasaran, Ben Santot kembali menghampiri, kembali perempuan itu pergi ke tempat lain, sampai akhirnya langkah Ben Santot terhenti oleh sekelompok pria yang datang mengejar untuk suatu urusan, dan ia kehilangan jejak.
Ben Santot belum pernah marasakan kepenasaranan yang mahadahsyat selain kepenasaranan terhadap perempuan itu. Perempuan gila dengan muka amat kusam oleh kotoran dan koreng, dengan bau tubuh yang tak karuan, dan dengan berbagai keburukan lainnya, tiba-tiba menyedot seluruh pikiran dan perasaannya.
“Saya tidak gila. Saya waras bahkan sangat waras. Saya bidadari pemilik kecantikan dan kemewahan dunia. Saya tersesat selama hidup hingga saya dikutuk menjadi orang seperti sekarang. Tapi saya bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup dan bertobat.”
Kalimat itu yang diucapkan perempuan gila pada suatu malam saat Ben Santot—dalam keadaan mabuk seusai pesta alkohol dan lunglai setelah bercengkerama dengan teman Sarwiti yang baru datang dari kampung, dan semua itu dilakukan Ben Santot setelah membobol toko emas milik seorang Tionghoa—menemukannya di trotoar jalan. Ben Santot terjaga dini hari itu dan memutuskan untuk segera pergi mencari perempuan gila itu sampai ketemu.
Ben Santot memutuskan untuk bertobat lalu menikahi perempuan itu. Siapa pun perempuan itu akan dibawanya hidup bersama. Ben Santot mendatangi setiap tempat yang ia pikir menjadi tempat perempuan gila itu berdiam, terminal, pasar, kolong jembatan, dan tempat-tempat para gembel atau gelandangan tinggal. Namun, perempuan itu tak kunjung ditemukan.
Keinginan Ben Santot untuk menemukan perempuan itu sedemikian kuat seperti halnya ketika ia ingin meneguk minuman keras atau ketika ia ingin meniduri Sarwiti dan teman-temannya di lokalisasi. Tak ada yang bisa menghalangi apalagi mencegah keinginan itu.
“Seorang Ben Santot, preman besar, tergila-gila oleh perempuan gila? Hah, apa kata dunia? Kamu sudah gila?”
“Itu urusan saya. Kamu tak usah ikut campur. Cukup kamu katakan di mana dia berada kalau memang kamu tahu.”
“Saya tak mau ikut campur urusan sampah!”
Ben Santot mendelik. Ucapan Dasamuka barusan membuat kemarahannya mencuat seketika. Ben Santot memandang jalang lelaki seusianya, yang telah bertahun-tahun menjadi rekan sesat. Dasamuka membalas pandangan Ben Santot dengan cara dan nyali yang sama.
Malam belum begitu larut, tetapi para gembel di ujung stasiun sudah terlelap. Di bawah cahaya lampu jalan Ben Santot dan Dasamuka seperti dua ekor kucing kasmaran berebut betina. Lalu, keduanya bergumul, saling jotos, saling jambak, saling banting, saling injak.
Belasan jurus sudah berlalu ketika Ben Santot dalam posisi terlentang di bawah tindihan Dasamuka, berhasil meraih batu sebesar kepala bayi lalu membenturkannya sekuat tenaga pada kepala Dasamuka hingga cekikannya lepas, limbung, lalu terkulai tak sadarkan diri. Ben Santot bangun menyeret tubuh Dasamuka ke tengah rel, kemudian pergi setelah mendengar suara klakson kereta api.
Anjing-anjing berkerumun itu menarik perhatian Ben Santot yang masih gontai oleh rasa sakit pada tubuhnya setelah berkelahi habis-habisan dengan Dasamuka. Pada jarak 5 meter ia melihat sosok tubuh terjulur di antara kerubungan anjing.
Ben Santot mendekat, menyeruak anjing-anjing itu yang seolah tak peduli pada kehadirannya. Sosok tubuh perempuan terbujur kaku. Perempuan yang selama berhari-hari ia cari, sekarang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Dalam kesedihan dan penyesalan yang mahadahsyat, Ben Santot merangkul dan memeluk tubuh itu, memanggulnya pergi. Ben Santot akan membawa jenazah ke rumah Kiai Dasuki—yang diyakini akan memberi jalan bertobat.
Mungkin iblis telah menghabisi nyawa perempuan itu agar ia tak menjadi teman Ben Sentot menyudahi hidup sesat. Kemarahan Ben Santot mencuat. Melangkah trengginas di aspal kota yang mulai lembab.
Bocah-bocah pengamen, yang bernaung di bawah halte itu, berdiri serempak. Menatap ke arah seorang laki-laki yang melangkah gegas di seberang mereka.
“Ben Santot!”
Bocah-bocah itu melongo melihat bangkai anjing di pundak Ben Santot. ***
.
.
Waliyunu Heriman, tinggal di Majalengka, bergiat di Lambuhan Bulan Literasi dan Mata Pelajar Indonesia. Menulis cerpen, sajak, esai, dan kini sedang merampungkan novel Balalin.
.
Ikhtiar Tobat Ben Santot. Ikhtiar Tobat Ben Santot. Ikhtiar Tobat Ben Santot.