Neraka Bersarang di Mataku

Cerpen Endang S Sulistiya (Rakyat Sultra, 27 Juni 2022)

MALAM tak lagi perawan. Serupa nenek tua yang tak lagi kentara pancaran pendar kegairahan pada ronanya. Keriput, mengerut, gelap berlarut-larut. Kelam malam lamat-lamat merajut jubah kelabu dalam kebisuannya. Denyut-denyut nadi kota kian melemah, menanda kota mendekat pada semadi. Sepi menyelimuti seantero kota kecil ini. Sesekali motor berdengung membelah sepi. Setelahnya sunyi kembali mendominasi.

Aku dan laki-lakiku mendekap sisa-sisa gairah malam. Erat, tak membiarkannya dilumat sepi. Setiap dekapan, kami hayati sepenuh hati dan perasaan. Setelahnya, gairah itu menggiring kami untuk mengisap sari-sari malam. Bernas, kami melakukan apa yang diperintah dingin dan semilir angin, seolah-olah tak akan ada lagi malam lain.

Meski ingin kami melewati sisa-sisa malam berdua hingga pagi membunuhnya, harapan itu tak bisa disandingkan dengan kemestian yang seharusnya berjalan. Aku harus pulang. Menghabiskan sisa malam di kamar seorang perawan. Sementara laki-lakiku sudah seharusnya kembali ke sarang bermukimnya.

Mobil kami menepi. Di depan sebuah rumah yang telah berubah menjadi tembok pemisah, kami berpandangan dalam keengganan. Saat kami masih ingin menikmati sekali lagi sari-sari gairah malam, rumah itu seolah mencegah. Beberapa kali rumah itu seakan memperingatkan, aku harus segera masuk atau hal buruk terjadi.

Langkah kakiku sebelah-menyebelah berjingkat, meminimalisasi derap pada lantai. Dalam hati aku berharap Ibu telah dibuai mimpi. Kalaupun ia terbangun salat malam, semoga ia khusuk dalam munajatnya atau kalau ia masih terjaga, semoga pendengarannya tak menyerap kedatanganku.

“Dia, lelaki yang selalu kau igaukan dalam tidurmu itu?” suara parau yang melesat ke dalam gendang telinga hampir saja merontokkan jantungku. Saking terkejutnya, jeritan yang hendak meluncur melewati kerongkongan justru amblas menyelusup ke perut.

Dalam remang cahaya di ruang tengah, mata awasku menangkap sosok ibu yang duduk tenang di sofa panjang. Kali ini aku mesti berterima kasih dengan efek terkejutku ini karena berarti aku tak perlu mencari-cari alasan untuk menjawab. Sengaja aku memperpanjang jangka keterkejutanku sementara aku mencari cara untuk berlalu dari acara interogasi yang akan berangsur memuakkan.

“Benar kau mencintainya?” interogasi berlanjut pada pertanyaan berikutnya.

“Kurasa,” kata itu meluncur begitu saja dari bibirku meski sebelumnya telah kuputuskan untuk tak menjawab apa pun.

“Jauhi dia!”

“Kenapa?” tanyaku memprotes. “Kalau hanya karena laki-laki itu membawaku pergi diam-diam lalu mengantarku pulang terlalu malam, rasanya hukuman itu terlalu mengada-ada. Lebih-lebih Ibu belum mengenal laki-lakiku kecuali dari kaca jendela!” timpalku menyuguhkan argumen.

“Aku melihat neraka bersarang di matanya!” ketusnya bagai roket. Cepat dan membuatku tersentak.

“Neraka? Ha ha ha,” tawaku terbelah-belah teriris pisau yang menggelitik. Antara geli, lucu, dan bingung.

“Neraka yang bersarang di matanya akan menjebakmu sedemikian rupa. Berhati-hatilah karenanya!” pungkas ibu seraya berlalu meninggalkanku. Aku bergeming dalam cenung, dalam remang yang seolah telah mengurungku dalam pekatnya.

***

Rutinitas kantor benar-benar membuatku bosan. Berkali-kali kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Akan tetapi, dengan tindakanku itu, rasanya waktu seolah memperlambat diri. Mengerjaiku.

“Ada acara selepas jam pulang kerja?” tanya Widuri, rekan kerjaku menebak kegelisahanku. Widuri tak hanya rekan kerja biasa, dia teman kentalku sejak sama-sama menginjak kaki di bangku SMA dan berlanjut ke bangku kuliah hingga kini berada bersama di ruang kerja.

“Ya, begitulah,” desahku.

“Janji bertemu dengan laki-laki yang tempo hari itu?” tebaknya dengan mata memicing.

Aku mengangguk. Seketika kulihat wajah Widuri berubah.

“Sebagai teman, aku berkewajiban mengingatkan. Untuk kebaikanmu, lebih baik kau jauhi laki-laki itu. Apa sulitnya mencari laki-laki lain?”

“Apa sulitnya menerima laki-laki itu sebagai kekasih dari temanmu ini?” balasku.

“Dia laki-laki beristri! Kudengar lebih dari satu istri!” ujarnya sinis. “Hubungan yang terjalin di antara kalian hanya akan saling menjerumuskan ke dalam lubang neraka!” imbuhnya bertambah-tambah sinis.

“Boleh jadi begitu menurutmu, tapi bagiku cinta adalah surga,” tandasku pongah.

“Sungguh! Aku melihat neraka telah bersarang di matanya. Kau boleh menertawaiku, tetapi kali ini jangan kau ragukan ucapanku!”

“Aneh! Sungguh aku makin tak mengerti. Ibuku mengatakan hal yang serupa denganmu,” desisku, kering. Kutelan ludahku dua kali, membasahi kerongkongan yang gersang.

“Kalian berdua tidak sedang bersekongkol membohongiku, bukan?” imbuhku menyelidik.

“Celakalah kau kalau menganggap demikian. Ibu dan sahabat adalah dua orang yang tak akan pernah membohongimu!” Widuri menampakkan ketersinggungannya.

“Maaf, bukan maksudku menuduh kalian, tetapi … entah mengapa pemikiran itu muncul begitu saja di kepalaku. Aku hanya ingin tahu. Hal apa yang membuatmu begitu tak menyukai laki-lakiku? Tentunya lepas dari gosip bahwa ia pria yang punya banyak istri,” aku melembutkan suaraku dengan harapan Widuri akan berkata jujur dan adil.

“Apakah kau sungguh tak dapat melihat neraka itu di matanya? Jika kau sanggup melihatnya, kau tak akan bertanya demikian,” tukas Widuri dengan wajah bergidik.

***

Bergegas, kukemasi barang yang tercecer di meja kerja. Kulihat jarum di jam tangan lalu memperbandingkan sudutnya dengan jam dinding kantor. Sepertinya aku masih punya waktu untuk sekadar berbenah diri. Pasti rutinitas kantor hari ini telah mengacaukan penampilanku.

Kulangkahkan kaki menuju toilet. Setibanya, aku langsung bersitatap dengan cermin yang berbingkai kayu jati itu. Selayak berkonsultasi dengan dokter, cermin di depanku mulai menganalisis kekurangan penampilanku. Tak sampai 10 menit, masalahku telah teratasi, aku pun siap menemui laki-lakiku di sebuah restoran.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku heran kepada laki-lakiku, sesaat setelah aku duduk di kursi.

“Oh, iya, tidak-tidak! Maksudku, kau begitu cantik malam ini,” kata laki-lakiku gagap kemudian ia mengelus punggung tanganku. Aku tersipu malu mendengar pujiannya.

Makan malam ditemani obrolan seru menjadi agenda berikutnya. Selama mengobrol dengannya itu, pandangan mataku tak pernah lepas dari matanya. Aku ingin membuktikan ucapan Ibu dan Widuri, benarkah ada neraka yang bersarang di matanya? Lalu seperti apa neraka itu? Bukankah Ibu dan Widuri belum pernah melihat neraka? Lalu dari mana mereka menyimpulkan bahwa sesuatu yang bersarang di mata laki-lakiku adalah neraka.

“Mengapa kau menatap mataku sedemikian rupa?” tanya laki-lakiku heran.

“Pernahkah kau melihat neraka, Kekasihku?” ucapku lembut, manja.

“Neraka? Buat apa kau menanyakannya, Sayang?”

Hmm, hanya ingin menanyakannya saja, Kekasihku.”

“Kalau hanya karena itu kurasa kita tak usah membahasnya di sini. Pembicaraan tentang neraka bisa-bisa menghanguskan nuansa romantis malam ini. Lihatlah! Bunga, lilin, dan segelas anggur ini tampak tak suka mendengar pembicaraan tentang neraka!” ujar laki-lakiku, tegas.

“Begitukah?” gumamku pasrah.

Pandangan mataku selanjutnya tertuju secara bergantian kepada bunga, lilin, dan gelas anggur. Tiba-tiba mataku menangkap bayangan pada gelas anggur di depanku. Apa itu yang berkilat-kilat di sana? Kembang api? Kobaran api?

Bayangan pada gelas anggur itu makin tampak jelas ditangkap oleh mataku. Rumah api, penyiksaan, binatang mengerikan, isak tangis, dan jeritan. Kepalaku mendadak pening. Aku memegangi kepalaku dengan dua tangan.

“Ada apa lagi? tanya laki-lakiku panik.

“Aku ke toilet dulu,” pamitku seraya berdiri.

Tanpa menunggu izin keluar dari mulut laki-lakiku, aku melesat menuju toilet. Kurasa kini laki-lakiku tengah terbengong-bengong di tempat duduknya. Akan tetapi, aku pun juga tak mengerti apa yang telah terjadi dengan diriku.

Lantas di depan cermin tempat aku berdiri sekarang, aku dapat melihat neraka telah bersarang pula di mataku. ***

.

.

Endang S Sulistiya menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS ini berusaha kembali ke dunia tulis-menulis setelah sekian lama vakum. Ia tergabung dalam grup Diskusi Sahabat Inspirasi. Dengan nama pena Lara Ahmad ataupun Endang S Sulistiya, cerpen-cerpennya mendapatkan kesempatan dimuat media lokal dan nasional.

.

Neraka Bersarang di Mataku. Neraka Bersarang di Mataku.

Arsip Cerpen di Indonesia