Cerpen Heru Patria (Radar Madiun, 03 Juli 2022)
NEGERI Pa Nick membara. Seekor mutan kadal raksasa datang ke tengah kota dan menghancurkan setiap bangunan yang ada dengan semburan apinya.
Penduduk Kota Kac Au tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.
Poh Onh yang memiliki kemampuan lintas galaksi merasa terusik. Dengan gagah berani ia keluar menghadapi mutan kadal itu. Tak ayal, perkelahian brutal pun terjadi. Kota Kac Au bergetar seolah dilanda gempa bumi.
Akibatnya banyak rumah warga yang hancur. Warga kecewa dan marah. Mereka menuduh Poh Onh sebagai biang permasalahan ini. Poh Onh dicap sebagai Sang Penghancur dan justru dimusuhi semua orang. Niat baik Poh Onh justru menuai caci maki.
Akibat emosi, Poh Onh lengah. Kedua tangannya ditangkap oleh mutan kadal. Lalu, dengan kekuatan supernya, Poh Onh dilemparkan ke ruang angkasa.
“Jangan senang dulu, Poh Onh! Aku akan tetap mengejarmu meski sampai ke ujung semesta!” ucap mutan kadal dengan tawa membahana.
***
“Aaarrrhhh!”
Sesosok makhluk besar berwarna hijau melolong keras saat tubuhnya melayang dengan kecepatan tinggi. Jeritan menyayatnya memecah langit. Sesekali makhluk hijau itu jungkir balik di angkasa ketika tubuh besarnya membentur sebongkah batu meteor. Akibat bertempur dengan mutan kadal yang coba merusak kotanya, raksasa hijau itu terlempar ke planet Qi Sruch. Planet berhawa dingin yang terletak di dekat salah satu satelit planet Saturnus yang berjumlah tujuh.
Bruug!
Dengan suara berdebum yang keras, tubuhnya mendarat di tanah yang gersang. Akibat empasan tubuhnya, seketika angin menderu membawa serta pasir dan debu.
“Lariii! Ada monster jatuh dari angkasa!” teriak sekelompok orang cebol yang merupakan penduduk planet Qi Sruch.
Perlahan makhluk hijau itu bangkit. Sejenak ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Matanya yang tajam sempat terpicing manakala melihat deretan rumah-rumah kecil yang hanya setinggi lututnya. Tak satu pun ia temukan adanya tumbuhan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bebatuan.
“Hei, tidak adakah orang di sini?” Suara beratnya memecah keheningan.
“Siapa kau? Untuk apa kau datang ke planet kami?” Satu suara balik bertanya.
Raksasa hijau mengedarkan pandangan, tapi tak melihat siapa-siapa.
“Menunduklah, monster hijau! Kami ada di bawahmu!”
Ia menunduk. Benar saja, di sekeliling kakinya ada puluhan orang cebol yang sedang menodongkan senjata ke arahnya. Embusan napasnya sampai membuat orang-orang yang berdiri di depannya jadi sempoyongan.
“Siapa kalian? Di manakah aku sekarang?” tanyanya seraya membungkukkan badan.
“Kau sedang berada di planet Qi Sruch. Kami adalah kaum Ri Buth. Jika kau ingin selamat, kau harus tetap bergerak. Hancurkan batu-batuan atau apa saja. Sebab kalau tidak, pemimpin kami yang akan menghancurkanmu!”
Hahahaha! Raksasa hijau tertawa ngakak. Gertakan orang cebol itu terdengar lucu baginya.
“Apa? Kalian ingin menghancurkan aku? Jangan mimpi kaum cebol!” cemoohnya.
“Jika kau tak percaya omongan kami, silakan. Kau akan rasakan sendiri akibatnya!”
Selesai berkata begitu, satu per satu kaum Ri Buth melangkah pergi. Mereka bergegas sembunyi di rumah masing-masing.
***
Dalam keheningan raksasa hijau duduk terdiam menatap langit yang semakin gelap. Seiring makin kelamnya keadaan, perlahan tapi pasti udara bertambah dingin. Daerah sekelilingnya menjadi berkabut. Tak ayal udara beku mulai menusuk kulitnya yang tebal.
Semula ia masih bisa bertahan. Namun, ketika hawa dingin mulai merasuk hingga ke tulang, raksasa hijau menggigil kedinginan.
Dengan ukuran tubuhnya yang sepuluh kali lipat dari warga setempat, menumpang tidur di rumah warga jelas tak mungkin. Ia harus menemukan tempat yang muat untuk dimasuki.
“Oh, kiranya benar apa kata orang-orang cebol tadi. Aku harus terus bergerak agar tubuhku tetap hangat!” gumamnya.
“Huuaaa!”
Diiringi geraman yang kuat, raksasa hijau segera bangkit. Ia melompat ke sana-ke mari sambil menendang apa saja yang ia lalui. Batu-batu besar yang ia jumpai dihancurkan dengan tinjuan. Lantaran tubuhnya yang berukuran besar, tak urung beberapa rumah warga ikut hancur terkena amukannya walau tanpa disengaja.
Keruan saja perilakunya mengundang reaksi warga kaum Ri Buth yang semula tenang tinggal di dalam rumah. Dengan berbagai peralatan perang yang dimiliki, orang-orang cebol itu membuntuti raksasa hijau. Mereka takut jika gerakan raksasa hijau yang liar akan mengenai dan merusak rumah warga.
Sekilas pandang kaum Ri Buth terlihat seperti sedang mengejar buruan yang sangat membahagiakan.
Sementara dari rumah yang paling besar di wilayah itu, seorang gadis bernama Gemp Art menatap semua kejadian itu dengan gusar. Ia teringat sumpah ayahandanya yang sudah diumumkan ke segenap penjuru semesta.
***
Braakk!
Ram Ai geram. Lelaki cebol berambut putih sebahu dengan mahkota berhiaskan tengkorak singa itu menggebrak meja. Ia adalah pemimpin kaum Ri Buth yang sangat disegani.
“Bodoh! Kenapa kalian mengusir raksasa hijau itu, heh! Bukankah kalian semua tahu kalau planet Qi Sruch ini adalah planet dingin yang hanya memperoleh sinar matahari selama sehari dalam setahun. Kehadiran raksasa hijau seharusnya bisa kita manfaatkan untuk menciptakan kekacauan agar planet tetap hangat!”
“Tapi, Master Ram Ai, raksasa hijau itu juga terus bergerak menghancurkan apa saja yang ditemuinya. Bukankah hal itu merupakan suatu kekisruhan?” bantah seorang warga.
“Iya, benar. Apa yang dia lakukan itu hanya akan menghangatkan tubuhnya sendiri. Bukan menghangatkan planet kita.”
“Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan, Master?”
“Kalian harus cari raksasa hijau sampai ketemu. Ajaklah berperang agar tubuh kalian semua hangat. Karena setiap tetes keringat dari kita akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup planet Qi Sruch ini.”
“Baik, Master. Kami siap laksanakan perintah!” Kali ini semua yang hadir menjawab dengan kompak.
Master Ram Ai tersenyum. Ia dengan sigap meraih senjatanya yang sedari tadi tergeletak di bawah singgasana berbahan metal baja. Menghangatkan planet Qi Sruch merupakan tanggung jawab utamanya.
***
Poh Onh, si raksasa hijau, sedang bersembunyi di dalam sebuah gua yang besar. Gua itu adalah bekas tambang plutonium yang telah ditinggalkan pekerjanya. Konon, penambangan yang abai terhadap lingkungan itu yang menyebabkan planet Qi Sruch diterjang musim dingin berkepanjangan. Tingginya penggunaan bahan peledak membuat polusi merebak. Kabut hitam selalu menutupi langit sehingga sinar matahari tak pernah sampai ke planet mereka. Hanya ketika matahari dalam posisi terdekat dengan ekliptika, planet Qi Sruch bisa tersentuh jilatannya.
Poh Onh berjongkok seraya memeluk kedua lututnya. Udara yang teramat dingin membuat mulut dan hidungnya senantiasa mengeluarkan asap naga setiap kali ia mengembuskan napas.
Mengingat sambutan tak ramah dari kaum Ri Buth, timbul rasa benci di hatinya. Ia merasa kehadirannya sama sekali tak dihargai di sini. Ingin rasanya ia kembali ke kotanya, tapi jalan pulang belum diketemukannya.
Diam-diam Poh Onh merasa heran dengan kondisi alam planet Qi Sruch. Dalam kondisi normal, saat hatinya sudah merasa tenang seperti sekarang, biasanya tubuhnya menyusut kembali seukuran orang normal. Namun, udara yang selalu dingin membuat massa ototnya tak bisa berubah.
Saat pikiran Poh Onh berkecamuk soal kondisi planet tempat dirinya terdampar ini, serta makin tebalnya rasa benci pada kaum Ri Buth yang tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan tentang jati dirinya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kegaduhan yang bersumber dari luar gua.
“Itu raksasa hijaunya! Sekarang sudah bermutasi jadi kadal!”
“Serbuuu!”
Dengan mengesampingkan hawa dingin yang masih menyiksa, Poh Onh bangkit dari duduknya. Perlahan ia melongok ke luar gua. Oh! Alangkah terkejutnya ia. Di luar tampak ratusan orang cebol sedang berperang melawan mutan kadal raksasa.
“Hai Poh Onh, jangan jadi pengecut. Keluarlah! Hadapi aku yang sudah jauh-jauh menjelajah galaksi untuk mengejarmu!” Suara mutan kadal menggelegar.
Wuuss!
Hampir saja gerakan cepat ekor kadal yang berkelebat cepat di mulut gua menyambar tubuhnya. Untunglah raksasa hijau bisa menghindar dengan gesit. Meski tak urung sikunya membentur dinding gua.
“Oh, kaum Ri Buth sepertinya terlalu gegabah. Mereka belum tahu seberapa besar kekuatan mutan kadal itu!” gumamnya sambil menggeram.
Mengingat sambutan kaum Ri Buth yang kurang bersahabat pada dirinya, sebenarnya Poh Onh merasa enggan untuk membantu mereka. Ia ingin mencari aman dengan tetap tinggal di dalam gua. Namun, hati nuraninya tak mengizinkan hal itu. Saat dilihatnya sudah begitu banyak kaum Ri Buth yang menjadi korban, maka ia tak sampai hati. Ia merasa harus turun tangan.
Namun, lagi-lagi keraguan membayang di pikirannya. Ia takut kejadian buruk yang kerap menimpa di tempat asalnya akan terulang lagi.
Betapa tidak! Tiap kali ada kerusuhan di kotanya, dengan sukarela ia turun tangan untuk mengatasinya tanpa peduli musuhnya sebesar apa. Namun, ukuran tubuhnya yang besar tanpa sengaja kerap mengenai bangunan di sekitarnya sehingga menimbulkan kerusakan. Akibatnya, niat baik yang ia lakukan justru dinilai sebagai biang kehancuran. Ia dicap sebagai The Destroyer yang jahat.
Ia mengusap dadanya yang bidang sekadar untuk menguatkan tekad berbuat kebaikan. Kini, soal bagaimana nanti orang menilai, ia tak hirau lagi. Toh selama ini ia tak pernah berharap ada orang yang menyebutnya pahlawan.
Perlahan raksasa hijau menyelinap keluar gua. Dengan tatapan waspada ia terus memperhatikan pertempuran dari balik sebuah batu besar. Tepat ketika ekor mutan kadal yang bergerigi tajam itu bergerak liar hendak meratakan perumahan kaum Ri Buth, dengan gesit ia tangkap dan ia lemparkan sekerasnya.
Brugg!
Tubuh mutan kadal membentur batu sebesar gunung anakan. Seketika batu itu hancur berkeping-keping. Bagian punggungnya terluka dan mengucurkan darah. Sambil mengerang kesakitan, mutan kadal bangkit. Ia tersenyum menyeringai melihat musuh telah berdiri di hadapannya.
“Kaum Ri Buth, minggirlah kalian semua!” teriak Poh Onh ketika mutan kadal kembali mengarahkan serangan ke permukiman warga.
Duel besar tak terelakkan. Dua makhluk raksasa bergumul dengan hebat. Kaum Ri Buth telah menyadari kekeliruannya. Kini mereka bahu-membahu membantu Poh Onh menghadapi mutan kadal itu.
Setelah bergumul beberapa waktu, Poh Onh mendapat kesempatan menyarangkan tinju kerasnya ke dada mutan kadal.
Bug!
Mutan kadal terhuyung beberapa langkah. Akibat pukulan keras yang menimpa dadanya, serta-merta dari mulutnya keluar semburan api yang dahsyat. Melihat hal itu, Poh Onh tak mau buang-buang waktu.
Secepat kilat ia tarik ekor mutan kadal, lalu ia putar-putar sekencang-kencangnya. Hingga semburan api dari mulut mutan kadal memenuhi langit. Akibatnya, udara bercampur debu yang semula membeku, perlahan tapi pasti mencair. Menjadi titik-titik air yang terlihat seperti hujan salju.
Saat perhatian Poh Onh terbagi pada kaum Ri Buth yang sedang bersuka ria menyambut rintik air, mutan kadal membalikkan badan menubruk tubuh Poh Onh.
Beberapa saat lamanya mereka berguling-guling di atas tanah yang mulai basah. Hingga akhirnya tubuh mereka membentur dinding gua yang kokoh dan terpental ke angkasa. Melesat cepat menembus langit yang mulai bersih.
***
Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, untuk kali pertama kaum Ri Buth berkumpul setelah berpuluh tahun tak merasakan kehangatan surya. Atas pimpinan Ram Ai, mereka berdoa bersama sambil menatap langit yang cerah.
“Wahai kaum Ri Buth semuanya. Hari ini seharusnya kita menjura memberi hormat pada Poh Onh yang telah membebaskan kita dari masa dingin yang panjang. Dia yang semula kalian sia-siakan, ternyata justru menjadi makhluk paling berjasa untuk kelangsungan hidup kita. Untuk itu, suatu saat aku akan mengajak beberapa dari kalian untuk mengucapkan terima kasih padanya dengan menyusul Poh Onh ke tempat asalnya,” ucap Ram Ai penuh wibawa.
“Horeee!”
Kaum Ri Buth menyambut dengan gegap gempita. Setiap jilatan sinar matahari yang menyentuh kulit mereka, dirasa bagai kehadiran Poh Onh yang kini menjadi penyelamatnya. Makhluk yang semula mereka sangka sebagai lawan, pada akhirnya justru menjadi dewa penyelamat kehidupan.
Ram Ai terharu sampai menitikkan air mata. Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, tapi Poh Onh telah pergi tanpa ia ketahui bagaimana nasibnya kini. Ia beserta kaumnya hanya bisa berharap semoga Poh Onh diberi selamat. Agar kelak ia dapat membalas kebaikan yang ditinggalkan.
Namun, di balik sukacita itu, putri semata wayang Ram Ai yang bernama Gemp Ar justru berlinang air mata. Ia teringat sumpah ayahandanya beberapa waktu lalu. Barang siapa bisa membebaskan planet Qi Sruch dari musim dingin yang berkepanjangan, jika perempuan akan dijadikan saudara bagi putri Gemp Ar, jika lelaki akan dijadikan suami.
Putri Gemp Ar tak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi jika ia kelak harus bersuami raksasa hijau. Perbedaan ukuran tubuh yang jauh membuat pikirannya keruh.
Mana tahan jika ia harus memberikan pelayanan ranjang! Karena ia sadar bahwa hidup tidak untuk jadi pahlawan. ***
.
.
HERU PATRIA .Tinggal di Blitar. Penulis bisa dihubungi di FB Heru Patria dan IG @heru.patria54
.
Tidak untuk Jadi Pahlawan. Tidak untuk Jadi Pahlawan. Tidak untuk Jadi Pahlawan. Tidak untuk Jadi Pahlawan.