Kopi dari Kampung Halaman

Cerita Anak Angga Aryo Wiwaha (Majalah Bobo Edisi 14 Tahun L, 07 Juli 2022)

SORE itu, aku dan Ayah sedang duduk di beranda rumah. Hari Minggu seperti ini, Ayah memang selalu menghabiskan waktu di rumah, karena libur dari kerja. Sekolahku pun libur, sehingga kami sekeluarga bisa berkumpul di rumah. Ayah mengisi sore dengan membaca koran dan aku membaca buku cerita yang dibelikan oleh Ayah dan Ibu.

Tak lama kemudian, Ibu datang membawa secangkir kopi dan meletakkannya di meja kecil yang berada tepat di samping Ayah.

“Terima kasih, Ibu,” ucap Ayah kepada Ibu.

“Sama-sama. Diminum ya, Ayah,” jawab Ibu.

Ayah memang sangat suka minum kopi buatan Ibu. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, sesampainya di rumah saat pulang kerja, dan di akhir pekan seperti ini, Ayah selalu meminta Ibu membuatkan kopi untuknya. Bisa dibilang, Ayahku ini rajanya ngopi. Aku yang melihatnya pun tak tahan untuk bertanya.

“Ayah minum kopi lagi?” tanyaku kemudian kepada Ayah dan Ibu.

“Ayah, kan, suka sekali kopi. Bikin semangat katanya,” jawab Ibu. “Bukan begitu, Ayah?”

“Betul sekali, Ibu,” kata Ayah.

“Apa yang membuat Ayah suka sekali kopi,” tanyaku lagi.

“Karena Ayah tahu cerita tentang kopi ini.”

“Cerita tentang kopi?” sahutku penasaran. “Memang kopi ada ceritanya? Seperti cerita Malin Kundang, begitu?”

“Ha ha ha…” Ayah tertawa. “Yang Ayah maksud itu adalah cerita perjalanan kopi ini sampai bisa kita minum di sini.”

“Memang bagaimana ceritanya, Ayah?” tanyaku sambil mendekati Ayah, bersiap menyimak cerita yang baru pertama kali kudengar.

“Nadia ingat, di mana kita merayakan Lebaran kemarin?” tanya Ayah.

“Di rumah Nenek,” jawabku.

“Nadia, rumah kakek dan Nenek itu berada di Kabupaten Wonosobo. Udara di sana dingin karena memang ada di dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Sumbing,” jelas Ayah yang seketika membuatku teringat.

“Benar, Ayah, ada gunungnya!” seruku. Karena sering tertutup kabut, puncak Gunung Sumbing lebih sering tidak terlihat dari rumah Nenek.

Ayah kemudian menjelaskan bahwa Kakek memiliki kebun kopi yang letaknya lebih tinggi dari desanya. Setiap hari, Kakek bersama teman-teman petani kopi lainnya pergi ke kebun kopi untuk merawat, memupuk, menyiram, membersihkan hama, atau memanen buah kopi jika sudah matang.

“Buah kopi? Memang kopi berasal dari buah?” tanyaku semakin penasaran.

Ayah kemudian mengambil ponselnya, mengetik beberapa saat, kemudian menunjukkan layar ponselnya kepadaku.

“Ini adalah buah kopi, atau yang sering disebut ceri kopi, karena bentuknya seperti buah ceri,” kata Ayah menjelaskan.

Aku melihat sejenak buah-buah kecil yang masih melekat di pohonnya itu. Ada yang berwarna merah terang, merah gelap, jingga, dan ada pula yang masih berwarna hijau. Aku yakin, yang berwarna hijau itu pasti buah yang belum matang.

“Lalu buah-buah berwarna itu diapakan? Bagaimana bisa jadi minuman berwarna hitam?” cecarku tak sabar.

Ayah kemudian menjelaskan, bahwa setelah dipanen dari pohonnya, Kakek akan membawa buah-buah kopi itu ke sebuah tempat untuk memisahkan buah-buah yang baik dari buah-buah yang kurang baik.

Nah, prosesnya cukup unik, karena buah-buah kopi tersebut akan direndam di dalam air. Beberapa saat kemudian, akan ada buah kopi yang mengambang. Buah kopi yang mengambang itu akan dipisahkan, karena dianggap buahnya kurang baik.

“Yah, sayang, dong, kalau buahnya dibuang,” ucapku.

“Biasanya, buah yang kurang baik cuma sedikit, kok,” kata Ayah. “Dan buah kopi itu tidak dibuang, tapi akan dimanfaatkan untuk hal lain.”

Ayah kemudian melanjutkan, setelah buah-buah kopi yang baik telah terpilih, Kakek bersama petani kopi lainnya akan melakukan proses pengupasan kulit buahnya, sehingga akan didapat biji-biji kopi berwarna putih kekuningan. Nah, biji-biji kopi ini akan direndam selama satu setengah hari, dan airnya harus diganti juga.

“Wah, lama juga ya, Yah?” tanyaku takjub.

“Betul, memang lama. Supaya didapatkan biji kopi yang bersih. Nah, setelah bersih, biji-biji kopi itu harus digiling lagi supaya lepas kulit tipisnya, jadi, deh, biji kopi yang siap disangrai,” kata Ayah.

“Bukan, Ayah,” sanggah Ibu yang dari tadi hanya mendengarkan. “Biji kopinya harus dijemur lagi selama lima hari,” lanjut Ibu.

“O iya, Ayah sampai lupa. Padahal proses jemurnya itu yang paling lama,” kata Ayah.

“Lalu, kalau sudah dijemur selama lima hari, baru bisa disangrai?” tanyaku meneruskan penjelasan Ayah sebelumnya.

“Betul sekali, Nadia,” jawab Ayah.

“Tapi, sangrai itu apa ya, Bu?” tanyaku tak mengerti.

“Sangrai itu memasak biji kopi, tapi tidak menggunakan minyak atau air. Jadi, biji kopinya dimasak dalam keadaan kering,” jawab Ibu menjelaskan. “Proses sangrai itulah yang membuat biji kopi berwarna hitam.” lanjutnya.

“Kalau Nadia tahu, orang yang menyangrai kopi yang Ayah minum ini adalah Nenek, lo,” kata Ayah.

“Wah, Nenek hebat sekali!” ucapku takjub.

Ayah melanjutkan penjelasan Ibu, “Biji kopi yang sudah disangrai itu akan digiling menjadi bubuk. Nah, bubuk kopi pun siap diseduh air panas, ditambah gula atau susu, maka jadilah kopi di cangkir yang Ayah minum ini.”

“Panjang sekali perjalanan kopi itu, ya,” kataku. “Kakek dan Nenek pasti lelah sekali mengerjakan itu semua.”

“Untuk itulah Nadia, kita harus mendukung Kakek dan Nenek, serta petani-petani kopi lainnya dengan melestarikan dan meminum hasil kopi mereka,” kata Ayah sambil tertawa. ***

.
Kopi dari Kampung Halaman. Kopi dari Kampung Halaman. Kopi dari Kampung Halaman.

Arsip Cerpen di Indonesia