Bapak Sambung

Cerpen Juwita Andriana (Kedaulatan Rakyat, 10 Juli 2022)

ORANGTUA kandung atau sambung tentu beda karena runtutan raga. Tapi soal rasa tak ada yang mampu memastikan yang tiri lebih buruk, yang kandung lebih baik. Atau malah sebaliknya, dan bisa saja malah sama.

Gunjingan miring tentang bapak tiri selalu mengusik pikiran Pandu. Apalagi sejak undangan pernikahannya yang akan digelar Minggu depan mulai disebar. Pagi ini saja saat sedang joging melewati taman, tak sengaja ia mendengar obrolan trio emak di gerobak tukang sayur.

Sengaja ia memilih beristirahat di balik pohon sambil mencuri dengar.

“Pastilah Bu, wong Ibu tiri saja susah buat bisa sayang sama anak orang, apalagi Bapak tiri?” cerocos Bu Rini yang berbadan gempal dengan menggebu.

“Iya ya, hari gini mau-maunya nikah sama yang udah bekas, yang fresh saja masih banyak,” cibir wanita di sebelah tak kalah seru.

Eman ya. Tapi kan siapa tahu memang jodohnya, lama-lama nanti juga bisa sayang sama anaknya,” balas wanita yang berada di samping tukang sayur dengan nada rendah.

Halah Bu Seto ini lho, kaya nggak tau saja gimana si Malika itu.”

“Ya jangan gampang suudzon, orang kita juga tidak tahu benar atau tidak,” sanggah Bu Seto pelan dan lembut, khas cara bicaranya.

“Mana nggak jelas siapa Bapak anaknya. Bikin malu kompleks kita aja,” ucap Bu Rini tak mau kalah pendapat.

Sempat mendengar nama Ika disebut, kuping Pandu yang masih duduk selonjor jadi panas. Tak tersadar telapak tangannya terkepal. Napasnya berhembus lebih cepat, semakin memompa aliran darahnya naik ke ubun-ubun. Tapi ia tahan hingga air mukanya jadi memerah dan otot-ototnya menonjol keluar.

Nama wanita yang disebut tak lain nama calon istrinya, Malika. Pandu tak tahan lagi. Ia berdiri nyaris berdeham tapi diurungkan. Lalu memilih berlalu. Lanjut berlari. Pulang.

***

TIBA di rumah, Pandu langsung menemui ibu yang sedang sibuk mengaduk adonan kue di dapur.

“Bu…” panggil Pandu berat dan gusar. Ditopangkan sikunya di atas meja, mengacak-acak rambut frustasi.

“Ada apa, Ndu? Pulang-pulang kok sudah lesu begitu,” uca wanita berusia 50-an itu sambil menepuk pundak anaknya dengan sabar.

“Ibu sudah sering dengar omongan tetangga tentang Malika?” tanya Pandu hati-hati dan berharap cemas.

Bu Satiti tersenyum simpul lalu duduk di hadapan putra sulungnya.

“Apa ada yang salah dari Malika? Soal anaknya, kita tak perlu ikut menghakimi siapa Ayahnya toh kita juga tidak benar-benar tahu.”

“Apa Ibu tidak malu punya menantu seperti dia nantinya?”

“Setiap manusia pernah berbuat salah, tapi yang penting saat ia mau memperbaiki diri ya kita juga mesti legawa dan menghargai. Bisa merasa itu penting, bukan sebaliknya merasa bisa. Belum tentu jika kita ada di posisinya, kita bisa melakukan jauh lebih baik.”

Bu Satiti kemudian menggenggam tangan Pandu lembut, ditatap wajah anak lelakinya itu.

“Apakah kamu sekarang jadi ragu menikahi Malika?”

Pandu menunduk tak berani menatap. Setetes air mata jatuh di punggung tangan ibu. Tiba-tiba ia bergeser dan bersujud di kaki ibunya.

“Maafkan Pandu, Bu. Ampuni Pandu ya Bu. Pandu tetap akan menikahi Malika.” Kalimatnya terjeda sesaat dengan suara yang lebih lemah.

“Anak Malika itu anak Pandu. Pandu yang menghamili Malika waktu sebelum Pandu kuliah ke Australia. Malika takut mengganggu studi Pandu….” Tak sanggup Pandu meneruskan kalimat.

Seumur hidup baru kali ini Pandu menangis tergugu sebagai lelaki. Terbayang selama ini betapa perjuangan dan penderitaan Malika membesarkan darah dagingnya sendiri.

“Gusti Allah….” Bu Satiti kehabisan kata-kata.

Ia turut menitikkan air mata dan mendekap erat Pandu. Mungkin ada rasa kecewa dan amarah namun beliau tahu saat ini semua emosi itu tak diperlukan lagi. Walau terlambat, setidaknya kini putranya berusaha dan mau menyambung tanggung jawab atas kekhilafannya.

Saat sudah cukup tenang, Bu Satiti memberi saran pada Pandu, “Sebaiknya umumkan saja besok di akad nikah, demi Malika, demi Satria, cucu Ibu.” ***

.

.

Juwita Andriana. Tinggal di Tegalrejo Yogyakarta.

.

Bapak Sambung. Bapak Sambung. Bapak Sambung.

Arsip Cerpen di Indonesia