Kambing Kurban

Cerpen Andhini Kusuma (Radar Bromo, 10 Juli 2022)

DARI kejauhan Haikal melempari ayam-ayam tetangga dengan kerikil. Anak ayam tak luput terkena sasaran kejahilan bocah itu. Sekumpulan ayam berlari ketakutan kembali ke kandang. Dia masih tertawa kegirangan sambil mencari kerikil.

“Jangan membuat masalah lagi! Kamu apakan lagi ayamku!”

Pak Jamal keluar rumah dengan senewen saat mendengar keributan dari luar. Matanya melotot, meneriaki Haikal agar menghentikan tingkah bodohnya itu. Haikal tak menggubris kemarahan si pemilik yang membuatnya berteriak dan tetangga mulai berkerumun. Pak Jamal lalu menarik telinga bocah itu sampai merah.

“Aaaa, sakit Pak, lepasin.”

“Kasihan ibumu kalau kamu selalu membuat masalah.”

Dengan wajah kesal Haikal pamit berangkat ke masjid, terdengar azan Duhur berkumandang. Pak Jamal melihat bocah itu dengan tatapan lesu.

Ayah Haikal meninggal saat dia berumur 3 tahun, ibunya menjual jajanan pasar. Sejak kecil Haikal selalu diajarkan untuk tidak meninggalkan salat berjamaah di masjid. Hanya hujan petir atau sakit yang membuatnya absen. Meski hal itu tidak mengurangi sifat pembuat onar dalam dirinya.

Imam memberi sedikit ceramah tentang Idul Adha. Berhubung besok sudah tanggal 10 Dzulhijah, warga sudah menyiapkan beberapa kambing dan dua sapi untuk kurban. Saat imam mulai ceramah, Haikal sudah meninggalkan masjid. Itu adalah kebiasaan Haikal langsung pergi setelah salam.

Esoknya saat takbir bergema, Haikal dan ibunya berjalan kaki ke masjid untuk salat. Sepanjang perjalanan dia menendang kerikil sampai mengenai orang dan berakhir murka. Hampir menjewer telinganya jika tidak diimbau ibunya. Melempar sandal sampai mengenai kucing liar, mengambil peci teman dan menaruh sembarangan. Ibunya kehabisan kesabaran menyuruhnya wudu dan langsung masuk masjid.

“Mbeeeeekkk, coba bersuara selain mbek gitu loh, Mbing,” ejek Haikal sambil memukuli tubuh salah satu kambing dengan ranting.

“Coba kamu yang dipukul, apa kamu akan menyukainya?”

“Kok kamu tahu kalau dia bakal sakit? Bisa bicara sama kambing?”

“Sudahlah, Kal. Capek aku ngomong sama kamu.”

Dimas geram sambil menarik paksa ranting pohon dalam genggaman Haikal. Tepat saat dia sedang melamun.

***

Saat penyembelihan hewan kurban, Haikal ikut melihat dan berteriak-teriak saat orang lain bertakbir. Setelah daging dipisahkan dari tulang dan tubuh sapi dikuliti, dia pulang ke rumah untuk tidur siang. Pukul dua siang Haikan terbagun. Dia mendapati beberapa bungkus plastik berisi daging sapi dan kambing di dapur.

“Haikal, mau mencoba sate buatan Ibu? Barusan matang nih,” kata ibunya sambil menarik lengannya.

Bau arang bercampur daging yang matang di atas pemanggang merasuk ke hidung. Dia duduk di samping ibunya melahap sate. Baru satu suapan, dia muntahkan daging yang mampir sejenak di lidah.

“Apaan ini! Kenapa dagingnya nggak enak sih!”

“Apa iya?” tanya ibunya, mencoba sendiri sate.

“Ini enak, Kal.”

Wanita itu mengerutkan kening.

“HAMBAR!” Bentak Haikal sambil lalu meninggalkan ibunya begitu saja.

Dia keluar rumah bertemu dengan Pak Jamal.

“Haikal, apa masakan ibumu sudah matang? Bapak tadi mencium bau harum saat lewat rumahmu,” tanya Pak Jamal dengan lembut.

“Makanan nggak enak! Hambar!” jawabnya ketus.

“Haikal nggak boleh begitu! Itu masakan ibumu sendiri, ibu yang melahirkanmu. Ibumu sudah susah payah memasak. Setidaknya kamu ada rasa belas kasih sedikit.”

“Pak Jamal kalau ketemu Haikal suka banget ceramah, mau jadi pendakwah.”

“Bapak hanya menasihatimu karena kamu salah,” balas Pak Jamal tenang.

“Terserah Bapak deh, Haikal mau jalan-jalan dulu,” ucapnya.

Pak Jamal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu.

Saat berjalan mengelilingi kampung, dia terpikirkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dia pikirkan. Mengapa dia tidak memiliki teman, mengapa selalu sendirian, mengapa teman-temannya selalu pergi saat ia dekati. Kebetulan Dimas, Reyhan, dan Asep lewat dari arah berlawanan. Haikal pun bertanya pada ketiganya.

“Woy, kenapa nggak ngajak aku main bareng?”

“Kamunya nggak seru, maunya menang sendiri, suka gangguin temen-temen, kami gak suka,” jawab Dimas mewakili.

Haikal hanya tercenung mendengar kata-kata itu, lalu meninggalkan teman-temannya tanpa sepatah kata pun. Mereka bingung melihat tingkah Haikal barusan. Tidak biasanya dia diam saja seperti itu.

Sampai rumah, dia masih memikirkan ucapan Dimas. Hingga jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, dia pun bersiap untuk berangkat tidur. Membaringkan tubuh di kasur, kembali merenungi perbuatannya selama ini sampai jatuh tertidur.

“TIDAK!”

Haikal terbangun pada dini hari. Ibunya yang di sebelah terkejut dan ikut terbangun.

“Ada apa Haikal?”

“Haikal mimpi buruk, Bu,” jawab Haikal pelan.

“Tidak apa-apa, itu hanya mimpi. Memangnya Haikal mimpi apa?”

Ibunya mengelus rambut anak lelakinya, penuh perhatian.

“Haikal mimpi dikejar kambing. Kambingnya warna hitam, serem, Haikal takut,” ucap Haikal dengan mata berkaca-kaca lalu menangis pelan. “Astaghfirullah, sudah. Sekarang ikut ibu salat Tahajud saja yuk,” ajak ibunya.

Pukul dua pagi keduanya melaksanakan salat Tahajud bersama dengan khusyuk. Haikal sedikit tenang saat salat dan mengeluh dalam doa kepada Tuhan. Dia teringat akan perbuatannya pada kambing kurban tempo hari. Dia berjanji tidak mengganggu hewan lagi terutama hewan kurban.

Haikal lalu bercerita pada ibunya tentang perkataan Dimas kemarin. Ibunya menasihati untuk berubah lebih baik agar tidak dijauhi temannya lagi. Haikal pun mengerti, dia juga telah sadar akan perbuatannya selama ini.

Waktu berjalan hingga saat subuh tiba, anak dan ibu itu melaksanakan salat Subuh bersama di masjid. Yang berbeda kali ini adalah tidak ada keributan yang diprakarsai olehnya. Selepas dari masjid Haikal mengaji, dibimbing oleh ibunya, meski terbata-bata dan masih mengantuk. Kegiatan itu berlangsung sampai ibu Haikal hendak berangkat ke pasar.

***

Di Lebaran tahun berikutnya, dia sudah bangun dari pagi membantu ibunya membersihkan rumah. Sepulang dari sekolah Haikal memijat kaki wanita itu yang capek seharian berjualan di pasar. Para tetangga dalam hati mengamini perubahan dalam diri Haikal termasuk Pak Jamal. Tak jarang bocah itu memberi makan kucing liar, memungut sampah yang berserakan di jalan untuk dimasukan ke dalam tong.

Bahkan Haikal sudah belajar menabung, uang saku dari tahun lalu untuk disumbangkan pada masjid menjelang hari kurban. Namun, dia tidak menyumbang dalam bentuk uang, dia membeli dua ekor kambing hasil dari menabung dan membantu ibunya. Hal itu menjadi teladan bagi warga lain di sekitar rumah. Dia ikut takbiran setiap Idul Fitri dan Idul Adha, naik ke truk terbuka sambil memuji Tuhan.

Suatu hari Dimas bersama dua orang teman lewat rumah Haikal. Melihatnya duduk termenung sendiri, membungkus jajanan pasar buatan ibunya. Hari itu cuaca sedang panas-panasnya, tapi angin sepoi berembus pelan. Di tangan mereka ada layangan serta benang. Musim kemarau memang musim bagi perajin layangan meraup untung.

“Haikal, main yuk,” teriak Dimas.

“Ayo!” jawabnya dengan semangat. ***

.

.

Jalan Semeru, 28 Juni 2022

.

Kambing Kurban. Kambing Kurban.

Arsip Cerpen di Indonesia