Pedagang Air Mata

Cerpen Sapta Arif Nur Wahyudin (Radar Madiun, 10 Juli 2022)

“APABILA kesedihan mendadak dihilangkan Tuhan, apakah Tuan masih mampu bahagia?”

Suara lembut perempuan membuyarkan lamunanku.

“Tuan, kesedihan macam apa yang membawamu ke sini?” tambahnya.

Seketika, bilik berukuran dua kali dua meter itu dibanjiri instrumental Kiss The Rain yang dibawakan Yiruma.

Seluruh dadaku mendadak penuh. Sesak.

Kenangan menyeruak dari salah satu bagian kepalaku. Muncul sosok Anjani. Ia mengenakan kaus putih bergambar micky mouse dengan balutan celana jins ketat. Sebuah jaket Adidas melingkar di pinggangnya. Memeluk tubuhnya yang mungil namun berisi.

Aku mengorek kembali sosok Anjani pada satu sore di masa lalu. Ia datang dengan langkah tergesa. Menghampiriku yang khusyuk membaca buku di meja pojok dekat jendela.

“Pedagang Air Mata! Jual beli kesedihan dan aneka luka yang tidak mampu disembuhkan,” ucapnya sambil membanting sebuah tumpukan kertas yang dibundel dengan penjepit begitu sembarangan. Ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Kemudian duduk di sebelahku, menutup paksa buku yang sedang kubaca.

“Bagaimana?” ucapnya lagi.

Saat itu, aku masih bengong sambil berupaya masuk ke kedalaman matanya.

“Kita mulai renovasi minggu depan ya!” kali ini ia melingkarkan tangannya di lenganku. Sambil menyandarkan kepala. Bau harum menyeruak dari rambutnya yang halus.

Tidak semua orang bisa berdamai dengan kesedihan. Bahkan ada juga yang tak mampu menangis meskipun hatinya telah robek atau bahkan pecah berkeping-keping. Hancur lebur. Tidak semua orang mampu memahami kesedihan, oleh sebab itulah air mata diciptakan Tuhan. Begitulah Anjani memulai prolog rencananya untuk mengubah klub buku yang kami rintis menjadi Toko Jual Beli Air Mata.

Klub buku ini sebenarnya adalah perpustakaan yang dilengkapi kedai kopi. Kami memanfaatkan ruko dua lantai peninggalan ayah Anjani. Lantai pertama dikonsep sebagai perpustakaan utama, sedangkan lantai dua adalah kedai dengan fasilitas perpustakaan mini di setiap sudut ruangan. Kami sama-sama gila baca dan terobsesi mencerdaskan masyarakat dengan buku. Cukup klise memang. Namun, entah setan atau iblis mana yang datang merasuki kami berdua, sehingga meski kedai kopi ini jauh dari kata untung, kami tetap bertahan.

Anjani yang mahir berbahasa Inggris dan Prancis, memiliki pekerjaan sambilan sebagai pekerja lepas penerjemah tulisan. Sedangkan aku, mempertaruhkan hidup pada media-media yang berbaik hati mau memuat tulisanku. Mulai dari cerpen, puisi, ulasan buku, artikel, hingga reportase. Hingga ide gila itu datang entah dari mana, Anjani memutuskan untuk melepas potensi pendapatannya sebagai penerjemah.

Maka dimulailah perjalanan penuh darah ini.

Anjani percaya, di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, terlalu banyak orang mengalami kesedihan. Terutama lantaran kehilangan orang yang begitu dicintai. Atas dasar itulah, ide serampangan itu muncul.

“Kita hanya menambahkan fasilitas bilik kesedihan,” kata Anjani.

Aku mengernyitkan dari, melihat pancar semangat dari kelopak matanya.

“Sediakan bilik berukuran dua kali dua, setinggi dua meter. Dua atau tiga bilik kurasa cukup.” Aku masih diam saja, menanggapinya. Sesekali manggut-manggut agar ia mau meneruskan cerita.

“Konsepnya cukup sederhana, kita buat fasilitas curhat.”

“Fasilitas curhat?” tanpa sadar aku mengulangi kata itu dengan menekan kata curhat begitu dalam.

“Iya, simpelnya, kita menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan. Ingat, Wage, semua orang butuh didengarkan. Ketika kesedihan merebak seperti sekarang, seorang pendengar yang baik sudah barang tentu mengalami kelangkaan. Dan, kita masuk dalam peluang itu!”

“Tidak usah pasang harga, kita buat kotak harga sukarela atau lebih sederhananya bayar seikhlasnya,” kali ini Anjani memberikan tanda petik pada kata “bayar seikhlasnya”.

Begitulah kami memulai profesi baru sebagai pedagang air mata. Awalnya, kami hanya berdua menyediakan telinga dan hati yang lapang. Satu demi satu pelanggan datang.

Seorang perempuan paruh baya yang mengaku kehilangan suami dan anaknya adalah pelanggan pertama. Ia adalah seorang perawat yang dirundung perasaan bersalah. Perempuan ini menganggap bahwa kematian dua orang yang paling dicintainya itu lantaran ketidakmampuannya mencarikan rumah sakit saat kondisi kritis. Ironis memang.

Kemudian, datang lagi perempuan lain yang kehilangan kekasihnya. Saban malam, ia dihantui perasaan gelisah lantaran benih yang telanjur tertanam di perut. Lain waktu, datang pula seorang guru. Perempuan tua berusia lima puluhan itu dirundung ketakutan. Satu per satu siswanya memberikan kabar sedih atas kehilangan orang-orang yang dicintai.

Orang-orang silih berganti datang, semakin bertambah, dan membuat kami kewalahan. Hingga akhirnya kami memutuskan libur sejenak. Membuat lowongan kerja pegawai Toko Jual Beli Air Mata. Namun, bukannya bisa bernapas sejenak, orang-orang yang telah menjadi pelanggan kami protes. Mereka mengiba membutuhkan kami sebagai pendengar. Membutuhkan kami untuk menawar kesedihan dan luka yang dalam.

Pada akhirnya kami berhasil menambah tenaga pegawai dengan upaya mati-matian. Aku dan Anjani sudah tidak menjadi pendengar lagi. Aku lebih sibuk mengurusi pengembangan bisnis ini dengan memikirkan kemungkinan membuka cabang.

Dugaan Anjani benar, semua orang ingin didengarkan. Kotak sukarela yang awalnya berkonsep seikhlasnya, bisa dikatakan berhasil. Sangat berhasil. Awalnya orang-orang datang dengan membayar ala kadarnya. Paling tidak, uangnya cukup untuk membeli makan dan kopi setiap hari.

Lambat laun, nominal uang yang masuk kotak harga sukarela semakin meningkat. Semakin banyak. Meskipun ada beberapa yang benar-benar tidak memiliki uang dan secara terang-terangan—dengan malu-malu juga—mengatakan tak punya apa-apa selain kata “terima kasih” untuk membayar jasa pendengar, namun itu tak sebanding dengan orang-orang yang membayar jauh lebih besar.

Enam bulan Toko Jual Beli Air Mata berjalan, kami memiliki dua belas bilik kesedihan di lantai satu dan tujuh bilik di lantai dua. Ketika aku harus memikirkan kemungkinan membuka cabang, Anjani tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar.

“Bukankah ini seperti yang kau inginkan?” kataku.

Suatu ketika, Anjani tiba-tiba meneleponku. Ia bercerita mengalami hal-hal ganjil yang membuatnya gelisah tak berkesudahan.

“Pada suatu malam, aku melihatmu datang ke rumahku. Kau datang begitu saja. Tanpa mengetuk pintu, tanpa membangunkanku. Ketika terjaga, aku menemukanmu di depan lemari es yang terbuka.

Sial betul! Aku terbangun oleh perasaan takut yang tak wajar. Tubuhku terasa dingin. Menggigil. Saat itu, cahaya lampu dari dalam lemari es gagal memperlihatkan wajahmu. Aku segera menghampirimu. Memelukmu dari belakang. Tapi, kau menampiknya, berbalik arah menghadapku. Memperlihatkan sesuatu yang mengerikan di dalam lemari es.”

Anjani berhenti sejenak.

“Kau hanya bermimpi kan?” tanyaku menerka.

“Aku pun berpikir demikian, mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah mimpi. Namun, di malam yang lain, aku seperti berada di hutan pinus dengan dahan rendah. Saking rendahnya, aku bisa memetik daun dan buah pinus serampangan. Tapi, aku menyadari bahwa di dalam hutan itu aku terjebak dalam kesendirian yang asing. Tiba-tiba muncul suara-suara dari berbagai arah. Aku mendengar mereka bercerita kesedihan, bertubi-tubi, dari mana saja. Aku tertunduk menutup kedua telingaku, memejamkan mata. Dalam. Tiba-tiba, suaramu datang memanggilku dari belakang, menepuk pundakku. Aku lantas berbalik berniat memelukmu. Namun, aku tersentak mendapati tubuhmu tanpa wajah!”

Itu kali terakhir aku berbicara dengan Anjani. Setelahnya, ia hilang.

Pada suatu ketika, aku memutuskan untuk datang ke sini, ke Toko Jual Beli Air Mata. Dengan langkah gontai, dengan sisa keyakinan yang kumiliki, aku datang ke toko yang kurintis bersama Anjani. Aku pun memesan sebuah bilik kesedihan pada resepsionis. Aku melihat wajahnya tercenung sejenak. Lalu, mempersiapkan pesananku dengan gugup. Meski toko ramai, aku tetap mendapat tempat lantaran aku mempunyai akses VIP. Akses mahal dengan pelayanan super.

Aku masuk ke dalam bilik berukuran dua kali dua, kemudian kembali membayangkan Anjani. Merasakan sesuatu yang ganjil merayapi sekujur tubuhku. Aku gemetar, tubuhku menggigil seperti kedinginan.

“Apabila kesedihan mendadak dihilangkan Tuhan, apakah Tuan masih mampu bahagia?” suara lembut seorang perempuan dari balik bilik mengembalikan kesadaranku.

“Tuan, kesedihan macam apa yang membawamu ke sini?” tambahnya.

Seketika, bilik dibanjiri instrumental Kiss The Rain yang dibawakan Yiruma.

“Maafkan aku, Nona, aku bermimpi berada di suatu tempat yang asing dalam keadaan telanjang dan membuka lemari es yang menguar udara dingin. Di lain waktu, aku juga bermimpi menghampiri seseorang yang telah hilang kabar di sebuah hutan pinus yang asing…,” tiba-tiba suaraku tercekat. Air mataku banjir. Aku menutup wajah dengan telapak tangan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ternyata perempuan di balik bilik membuka celah kecil berbentuk kotak berukuran dua puluh kali sepuluh senti di hadapanku. Aku tercekat, mendapati wajah Anjani di sana. Aku pun bergegas keluar bilik, menghampirinya.

Ia duduk membelakangiku. Sekonyong-konyong, aku memeluknya dari belakang. Beberapa saat kemudian, ia mengendurkan pelukanku. Membalikkan badan menghadapku.

Namun, ketika perempuan itu membalikkan badan, aku mendapati wajahnya perlahan hilang seperti memudar menyatu dengan udara. Aku pun berteriak!

***

“Wage! Wage!” aku tersentak mendapati Anjani duduk di seberang meja.

“Kamu tidur?” ucapnya sambil menutup buku yang kubaca. Aku masih diam mengumpulkan nyawa.

“Aku ada ide bagus untuk membuat perpustakaan dan kedai kita jadi ramai!” ucapnya girang. Namun, aku masih memilih bungkam, mencoba menerka arah pembicaraan ini.

“Pedagang Air Mata! Jual beli kesedihan dan aneka luka yang tidak mampu disembuhkan,” ucapnya sambil membanting sebuah tumpukan kertas yang dibundel dengan penjepit begitu sembarangan.

“Jangan Anjani!” ucapku secara spontan.

Aku melihat ekspresi kaget bercampur bingung di wajahnya. Namun, tiba-tiba ia tersenyum.

“Sssttt…. Dengarlah lebih dulu, baru berkomentar,” ujarnya dengan nada dingin. Entahlah, di dadaku ada kengerian mendengar suara Anjani saat itu. ***

.

.

Sapta Arif Nur Wahyudin. Humas STKIP PGRI Ponorogo yang melanjutkan studi di pascasarjana Unitomo Surabaya. IG: @saptaarif.

.

Pedagang Air Mata. Pedagang Air Mata.

Arsip Cerpen di Indonesia