Saksi Mata (3)

Cerpen Dian Erha (Rakyat Sultra, 18 Juli 2022)

KEPALAKU serupa arsip yang menyimpan banyak rahasia. Akan kuberitahu apa pun yang ingin kalian ketahui, termasuk mengapa dan bagaimana peristiwa di malam itu bisa terjadi.

Aku mengetahuinya. Benar-benar mengetahuinya. Tidak seperti yang diberitakan atau disimpulkan orang-orang.

Tepat 3 jam sebelum peristiwa malam itu, aku berlari-lari kecil menuju tempat para pedagang makanan berjualan. Langit hampir gelap dan kaki-kaki manusia mulai bertolak meninggalkan pasar. Seperti hari-hari biasa, tidak ada yang benar-benar berbeda selain menu obrolan para pedagang yang mulai berganti topik.

Sudah hampir 2 bulan mereka resah dengan rencana relokasi pasar yang mengharuskan mereka pindah ke tempat baru. Sebagian besar kukuh menolak. Banyak yang tidak menyukai tempat baru itu. Letaknya tidak strategis sebagai tempat berdagang, sebab dinilai jauh dari jangkauan masyarakat. Belum lagi, kata para pedagang, ukuran lapak yang ditawarkan terlalu kecil.

Namun, karena adanya kejadian menghebohkan dari pedagang beras yang diamuk istrinya, timbul gosip yang—sedikit banyak—telah mengalihkan mereka dari topik relokasi yang selama ini menjadi topik unggulan.

Kabar menghebohkan itu terus menyebar dengan cepat, lompat dari mulut ke mulut. Ada yang bilang pedagang beras itu berselingkuh. Itu sebabnya sang istri murka dan berteriak akan menghancurkan hidup lelakinya.

Seharusnya ia tidak melakukan itu. Seharusnya, perempuan itu tidak membiarkan siapa pun mendengar serapahnya.

Senja itu, sebelum para pedagang membereskan lapak dan menutup toko mereka, kupercepat langkahku menemui Irdan, satu-satunya pedagang makanan yang setiap hari merelakan 1 atau 2 potong ayam dagangannya untukku dan adik-adik. Pemuda itu begitu baik hati dan tidak pernah pelit.

Hanya ada dua orang di pasar ini yang begitu perhatian pada kami. Irdan dan wanita tua pemilik toko kelontong yang mengizinkan kami tidur dan bermain di depan tokonya. Di sanalah adik-adikku sedang menunggu.

Beruntung, aku tiba sebelum Irdan meninggalkan pasar bersama dagangannya. Pemuda itu sedang sibuk membereskan gerobak. Aku segera mendekat. Aku memang sedikit terlambat, gegara ketiga adikku yang tidak bisa diam.

“Maaf ya, Lang. Hari ini ayamnya cuma satu potong,” kata Irdan sembari mengusap kepalaku.

“Tidak apa-apa. Lagi pula potongan ayam itu lumayan besar.”

Walaupun tetap tidak akan cukup untuk kami makan berempat. Paling tidak, ada pengganjal perut yang bisa mengurangi rasa lapar kami malam ini. Aku segera menerimanya, berterima kasih, lantas bergegas menuju toko kelontong.

Semenjak terpisah dari ibu, aku memang selalu berkeliling pasar mencari makanan untuk adik-adikku. Mereka, adik-adikku, tidak berani berkeliling. Ketiganya terlalu takut pada penguasa pasar yang sering mengadang dan memukuli mereka saat berusaha mencari makan. Hanya aku yang memaksa berani dengan mengendap-endap di antara kios dan toko, meski risikonya harus luka dan babak belur jika tertangkap.

Di depan toko, adik-adik bersorak menyambut kedatanganku. Kami makan dengan sedikit rakus. Tentu, sepotong ayam tidak membutuhkan waktu lama untuk dihabiskan oleh empat mulut, itu sebabnya aku memilih berhenti lebih cepat.

Hari sudah gelap. Perutku masih lapar dan aku yakin, perut ketiga adikku juga sama laparnya dengan perutku. Jadi, aku kembali ke area pedagang makanan yang beberapa saat lalu ditinggalkan pedagang, biasanya ada sisa-sisa makanan yang masih bisa disantap di sana.

Sesekali langkahku mengendap-endap, sesekali berlari kecil. Aku sudah hafal jalur mana saja yang aman untuk dilalui tanpa harus tertangkap oleh penguasa pasar. Aku harus memutar lebih dulu ke arah barat, tempat toko sembako berjejeran, lalu menuju utara, tempat para pedagang makanan biasa berjualan.

Saat tengah melewati kios beras itulah aku melihat seorang perempuan, bersama seorang lelaki berpostur cukup tambun. Sesekali perempuan itu menunjuk ke arah kios. Mereka berbincang dengan suara rendah yang hampir serupa bisikan. Meski demikian, pendengaranku yang tajam masih bisa menangkap pembicaraan mereka.

“Pikirkan lagi,” ucap lelaki itu.

“Aku sudah bosan menunggu. Dia masih tidak mau menceraikan istrinya.”

Perempuan itu memandang ke arah kios pedagang beras. “Kalau aku tidak bisa membuat dia berubah pikiran, sekalian saja kubuat dia sengsara.”

“Tapi tidak harus ….”

“Kalau kau tidak mau, ya, sudah. Aku bisa suruh orang lain.”

“Jangan. Biar aku saja,” sergah lelaki itu segera. Kulihat ia menarik napas panjang.

Aku masih duduk di sudut kios lain tepat di sebelah kios pedagang beras dan tampaknya mereka masih belum menyadari kehadiranku.

“Anggap ini kali terakhir aku membantumu sebagai teman.”

Perempuan itu hanya bergumam. Sempat kudengar ia mencibir begitu lelaki itu membelakang. “Banyak gaya, padahal nanti tetap aku beri bayaran.”

Aku tidak begitu paham apa yang akan lelaki itu lakukan di kios pedagang beras. Akan tetapi, ia memegang sebuah jeriken kecil berisi cairan berwarna dengan bau khas. Dengan hati-hati, ia mendekat ke belakang kios. Sementara, perempuan tadi segera berlalu, meninggalkan pasar lebih dulu setelah diberi kode oleh lelaki itu, entah pergi ke mana.

Aku yang salah, karena tetap berdiam diri ketika melihat lelaki itu mengeluarkan korek api. Salahku juga, karena tidak segera kembali kepada adik-adik dan membawa mereka lari. Hanya sesaat setelah lelaki itu menyalakan korek api, kulihat warna jingga mulai menerangi malam. Semula setitik, kemudian merambat, lantas meluas ke segala sisi dalam waktu yang begitu cepat. Suara retakan, patahan, dan letupan yang saling bersahutan muncul serupa paduan suara. Malam tidak lagi gelap.

Wajah adik-adik seketika membayang di kepalaku. Mataku membelalak. Aku bergegas kembali, berlari sekencang mungkin, melompat, berbelok ke area mana saja yang belum menyala, sambil berteriak memanggil-manggil ketiga adikku. Akan tetapi, kobaran jingga itu menyebar lebih cepat. Memukul paksa langkah kakiku hingga mundur semakin jauh.

Api telah membakar pasar. Aku menangis. Menatap nelangsa ke arah toko kelontong.

Orang-orang mendadak ramai berkumpul. Sebagian ikut memadamkan api, sebagian lain menangis, mungkin meratapi segala kerugian. Di kejauhan, Irdan yang rumahnya tak jauh dari pasar, tampak menggotong seember air yang langsung dilemparkannya ke dalam api. Sedetik kemudian ia kembali lesat, membawa pulang ember kosong yang mungkin akan kembali ia isi dengan air.

Di antara kaki-kaki yang sibuk, kurasakan seseorang menarikku. Aku mendongak. Wanita pemilik kelontong langsung mendekapku erat. Seperti mataku, matanya juga basah menatap jilatan api yang masih menari-menari.

Orang-orang mulai membuat perkiraan. Menghubungkan apa saja yang cukup masuk akal untuk dijadikan sumber penyebab. Kabarnya, sudah tahun ketiga pasar itu terbakar.

“Korsleting listrik lagi?”

“Katanya sumber api dari salah satu toko beras.”

“Oh, ya?”

“Apa mungkin istri pedagang beras itu yang membakar kios?”

“Hus! Jangan asal bicara. Kau bisa dilaporkan ke polisi.”

Sudah kubilang, seharusnya ia tidak melakukan itu. Seharusnya, ia tidak membiarkan siapa pun mendengar serapahnya, dan seharusnya, pedagang beras itu tidak membuat perempuan lain membakar kiosnya.

Wanita pemilik kelontong menghela napas berat.

“Kalau seperti ini, mungkin sudah waktunya untuk pindah. Bertahan hanya akan menghasilkan kerugian yang lebih banyak. Sudah tiga kali dan sepertinya kali ini aku sudah tidak kuat,” lirihnya.

Berita mulai disiarkan. Untuk sementara waktu, penyebab kebakaran diduga karena korsleting listrik. Sama seperti penyebab kebakaran sebelumnya. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Aku memberontak, ingin turun dan kembali mencoba mencari adik-adik.

“Belang, jangan turun! Jangan ke sana!”

Wanita pemilik kelontong itu semakin mendekapku erat. Sambil terisak, sebelah tangannya mengelus kepala dan bulu-buluku yang beberapa bagian memendek sebab tadi tersambar jilatan api, “Lihat, kumismu  hampir habis.”

Dalam kurungan dekapannya, aku meringkuk. Memeluk lengan wanita itu dengan pasrah. Mataku bertambah basah, kobaran api bertambah membesar, dan adik-adikku masih berada di sana. ***

.

.

Dian Erha lahir dan besar di Sulawesi Tenggara. Ia menggemari buku dan senang menulis. Beberapa karyanya telah diterbitkan dalam buku antologi cerpen.

.

Saksi Mata (3). Saksi Mata (3). Saksi Mata (3). Saksi Mata (3).

Arsip Cerpen di Indonesia