Cerpen Edna S (Haluan, 17 Juli 2022)
RUMAH rapuh membawa Samsuir pada masa ia ditimang ibu. Sekelebat bayang-bayang masa ia dan tiga orang adik perempuan yang masih kecil tengah memenuhi rongga dadanya. Kini rumah itu rencananya akan diratakan dengan tanah. Lama Samsuir terpekur di rumah yang sudah dikosongkan itu. Matanya beku.
Samsuir ingat, bagaimana ia serta ketiga adiknya yang kecil-kecil pergi ke tepian sungai untuk mengangkat batu untuk pondasi rumah. Jaring-jaring jala sengaja ia bawa biar sambil menyelam, ia juga bisa mencakau ikan sungai, lumayan untuk makan mereka. Peluh yang berderai, singgulung kepala selalu tak senang letak ketika batu-batu tertonggok di kepala mereka. Cuaca panas menyebabkan batu ikut hangat menembus kepala.
Lain lagi kayu dan papan, Bapak dan Samsuir menyewa arik orang lain ketimbang membeli papan dan kayu siap pakai yang dijual Mak Sutan. Sebab, lagi-lagi alasannya karena duit yang tak pernah menyampai.
Setiap belahan papan di dinding rumah adalah pautan kenangan. Dinding rumah mereka walaupun tidak sebagus dinding rumah orang-orang pada masa itu, sungguh lebih mewah bagi mereka.
Ada kebahagiaan tersendiri jika kita mendapatkan sesuatu yang memang kita bersusah payah dahulu. Begitu nikmat jerih payah mereka hingga dinding dan rumah itu dapat tertutup jua. Tempat berteduh dari hujan badai, tempat mengendapkan diri dari terik panas. Jadilah rumah setengah permanen.
***
Ini sudah kali keberapa Samsuir mengurus tetek-bengek anak kemenakannya perkara warisan. Serasa tak ada kerjaan lain yang patut ia kerjakan. Padahal, Samsuir sendiri tentu punya tudung periuk sendiri pula. Ada anak[1]bini yang harus dipikirkannya juga. Lebih-lebih lagi, sebagai anak sulung, lelaki satu-satunya, badannya sebenarnya sudah tak sanggup memikul beban sebagai mamak. Akan tetapi, kepada siapa lagi dunsanak akan menenggang kalau tidak pada udanya seorang?
Setelah beberapa lama kemudian, Uma datang membawakan segelas kopi untuk Samsuir. Melihat ragak Uma yang takut memulai pembahasan Samsuir pun memandangi lekat-lekat air muka adiknya itu.
Ada perasaan getir di hati Uma. Hatinya yang begitu kelu membuka percakapan dengan adanya. Bagaimana tidak, selagi kecil hingga sudah punya anak menantupun Samsuirlah yang turun tangan mengurus segala keperluan. Ia begitu segan sebenarnya untuk terus menjerat Samsuir ke dalam masalahnya. Ia mengerti dengan kesemrawutan pikiran Samsuir, mengapa adik-adiknya tak bisa akur dan mengapa selalu saling bingit.
Dahulu sekali, kedua orang tua mereka selalu menekankan pada anak-anaknya bahwa sepeninggal mereka kelak kakak-beradik jangan bercerai-berai. Jangan saling berebut apa-apa yang mereka tinggalkan. Bahwa pembagian warisan sudah diatur. Namun, menyaksikan rumah ini akan diruntuhkan tersebab keras hati adik-adiknya tidak akan tenang tulang-belulang kedua orangtua mereka di alam kubur.
“Mana, Sumiarti dan Maria? Aku sudah bilang, jangan bawa perkara pusaka ke meja hukum. Kita bisa selesaikan ini baik-baik!?” Samsuir menghela napas begitu dalam. Dilihat dari wajah Uma, tak ada sedikitpun air mukanya membayang penyesalan atas pertengkaran dengan beberapa orang kakak perempuannya itu.
Uma tak bergeming, tak tau hendak dikata. Pintu rumah yang sudah lumus anai-anai terbuka lebar. Samsuir mulai menggisa-gisa rambut. Rambutnya seketika acak-acakan, berkali-kali menggarukkan kepala, peningnya tak perlu dikata.
Samsuir masih teringat, ketika ia menyelesaikan perkara pembagian sawah. Sawah yang bersakit-sakit tulang ia taruko ketika bujang dulu. Sawah yang lebih kurang hanya 8 sukat benih. Sebagian dari tanah sawah itu, tak bisa dibajak karena rawa. Karena itu pulalah ketiga adiknya bersitegang saat pembagian sawah itu berlangsung.
“Uda tengganglah perasaanku. Suamiku sudah lima belas tahun sakit-sakitan, uda memberikan pula bagian sawah rawa pada kami. Bisa-bisa kami tak makan kalau begini. Apa daya aku ini, Da. Selama Nasir sakit-sakitan, akulah yang mengisi kebutuhan dapur. Kini, aku pula yang akan mencangkul sawah rawang ini!?” Rahai Uma.
“Enak saja, Uni! Uni pikir jika suami tidak mampu bekerja berpengaruh pula ke pembagian piring sawah. Semua kita juga susah. Suamiku memang tak sakit-sakitan, tapi coba pula uda telaah, anakku begitu banyak dan rapat usianya. Lima orang anak yang dinafkahi dengan hasil mengampo. Kini ditambah pula dengan menggarap sawah yang tak bisa dibajak mesin. Sementara kalau sehari saja suamiku tidak bekerja, bisa-bisa kami hanya bisa menyuap anyang pucuk ubi. Tidak, aku tidak mau bagianku sawah rawa!” Tegas Maria.
“Tidak bisa begitu, Maria. Aku tidak mau sawah begitu rawa. Sementara untuk tanah saja, kami kebagian tanah di tepi jurang. Apa yang bisa dibikin di tanah seperti itu, jangankan tagak rumah, untuk berkebun sawit saja tidak bisa. Tidak, ini tidak adil!” Sanggah Sumiarti.
Kepala Samsuir semakin pening, tak ada satupun dari keempat adiknya itu yang mau mengalah. Mereka saling mengelak. Dengan kepala dingin Samsuir mengambil keputusan. Jika tidak ada yang mau mengalah, maka tidak ada seorangpun yang boleh menggarap sawah. Baik yang bisa dibajak, maupun rawa. Tak makan, biarlah mampus. Untungnya, dengan segala keterpaksaan, Uma mau juga mengalah. Dengan iming-iming, sebatang durian yang ada di tepian Lubuk Setan diberikan kepadanya.
Kini, ada lagi yang bikin kepala Samsuir seperti hangus terbakar. Rumah gadang ini pula yang diperkarakan adik-adiknya. Kata mereka lagi, rumah itu sepatutnya dibagi-bagi pula. Mereka merasa punya hak untuk saling menguasai.
Sebelumnya rumah peninggalan keluarga mereka ini tak punya polemik apapun. Damai-damai saja. Rumah peninggalan orang tua mereka itu dihuni adik sulungnya, Uma. Akan tetapi, karena kesulitan ekonomi Uma belum juga bikin rumah sendiri. Ia hanya memoles hal-hal bangunan yang rusak saja.
Sumiarti memang jarang pulang. Ia tinggal dan menetap di Bengkulu. Tanah warisannya, ia jual untuk modalnya membuka toko baju distro. Selebihnya lagi untuk biaya sekolah militer anak sulungnya, Ramli.
Kata orang, berwiraswasta ada namanya untung-untungan. Sumiarti ada pada posisi beruntung. Toko baju milik keluarga mereka lama-kelamaan ramai pengunjung. Tiga tahun terakhir sedang menjamur di wilayah tempat Sumiarti dan suami jualan.
Sebab, ada acara perkawinan Datuk Rajo Babega—lelaki yang menolong anak Sumiarti masuk tentara—Sumiarti mengunjungi kampungnya kembali. Segala lahan sudah padat oleh bangunan-bangunan. Segala telah berubah meski hanya tiga tahun ia tidak mengunjungi kampung halaman. Tetapi, Sumiarti tidak mengunjungi rumah peninggalan orang tuanya itu. Ia malah memilih tinggal di rumah Datuak Rajo Babega.
Dari sanalah awal mulanya pertengkaran. Sebatang durian yang diperuntukkan Uma sedang berbuah lebat, sedangkan Uma menyewakan bulat-bulat pada Mak Sutan. Buahnya tentu tak dapat dibagi-bagikan ke sanak lain. Ketika bertandang ke rumah Datuk Rajo Babega, Sumiarti malah disuguhi oleh beberapa durian. Mulai pula segala hasutan seperti susahnya bertenggang pada keluarga sendiri, satu buah durian pun tak diberi.
“Minta satu durian saja tidak dapat. Dunsanak model begitu susah dibawa ber-iya. Kau punya hak atas rumah yang dihuni Uma, Nar.” Ujar Datuk Rajo Babega.
Sementara Maria memang sering mengungkit-ungkit perkara rumah itu. “Biarlah bangunan itu diganti baru oleh Uma. Jelas pula hasil keringat dia sendiri. Rumah itu rumah kedua orangtua saya pula. Tak ada ragak Uma mau bikin rumah. Sementara, tanah perumahan sudah ada. Rumah gadang tetaplah milik bersama.”
Selepas itu, timbul adu mulut. Saling berebut.
Tak tanggung-tanggung. Sumiarti mengerjakan segalanya begitu cepat tanpa memberitahu Samsuir dahulu. Tidak, bahkan tak ada yang mau mengalah. Hingga Sumiarti mengajukan gugatan ke pengadilan.
***
“Tak ada yang menang. Semua merugi. Kita badunsanak sudah tak dipandang orang. Beradik-kakak begini pula.”
“Tapi lebih baik begini. Lebih baik menyaksikan saudara menjadi gelandangan. Daripada menyaksikan ia tinggal di rumah ini. Tak berbenak!”
Samsuir menghela napas. Sudut matanya berlinang air. Ia tak kuasa melihat mesin traktor sedang mencangkuk rumah orangtuanya itu. Sedang, ada yang bergumam-gumam sendiri, apakah perlu untuk membuat sertifikat tanah dan rumah?
Jika kuat betul cukil-mencukil sertifikat rumah tak ada tanding. Sedang yang lain, sibuk menjadi tukang tonton saja ketimbang melarai Uma dan suaminya menjalar-jalar tak karuan di halaman rumah.
Kalau begitu, apa gunanya ninik mamak, kalau segala mengadu pada hukum?
Adat tergerus, mamak tak bisa bicara. Samsuir berlalu pergi. Pergi ke tanah pusara ibu dan bapaknya yang mungkin sedang meratapi ketragisan anak-anaknya di dunia. ***
.
.
Edna S, berdomisili di Sungai Lundang, Pessel, alumnus Universitas Negeri Padang. Karya-karyanya esai, cerpen, dan resensi dimuat berbagai media cetak dan daring.
.
Perkara Warisan. Perkara Warisan . Perkara Warisan . Perkara Warisan .