Ompi yang (Sengaja) Tertukar

Cerpen Edna S (Padang Ekspres, 14 Agustus 2022)

JIKA bukan karena Ompi, saya tak berniat untuk menghadiri reuni sekolah. Sudah sepuluh tahun sejak hari kelulusan itu, saya tak pernah bertandang lagi ke SMAN 2 Sikelir. Malas saja datang walau reuni hampir tiap tahun diadakan. Malas saja, di samping reuni sebagai ajang silahturahim, tempat memupuk ingatan lama, reuni juga ajang berbagi gosip, ajang memamerkan pangkat serta pencapaian. Ya, profesi sebagai penulis amatiran seperti saya, apa yang patut dipamerkan? Syukur-syukur diliput koran, malah sering ditolak ketimbang terbit.

Saya tentu akan bertemu laki-laki itu lagi. Sudah enam kali acara reuni terlewatkan. Tapi, Ompi, selalu mengingatkan saya. Mengingatkan agar saya melihat Omi yang sengaja tertukar dengan mata kepala sendiri.

Saya tak habis pikir, lelaki yang dulunya ceking, kering masik, dengan dua gigi depan ompong, postur yang menggairahkan sekali untuk diledek, diejek teman-teman sekelas, kembali mengusik pikiran saya. Apa yang tengah ada dibenak Ompi saat semua siswa membulinya? Ompi malah girang, rasa luar biasa mendapat julukan seperti itu. Saya tentu semakin geli, ketika Ompi memakai riasan saat membawakan lagu Ayam Den Lapeh, di acara perpisahan kakak kelas, dulu.

Saya tentu semakin tercengang, saat ia melanjutkan pendidiikan dengan program studi Seni Tari, Drama dan Musik.

“Jadi, apa maksudmu dengan menceritakan Ompi padaku?” Tanggapan suami saya sungguh membuat saya semakin mengingat Ompi.

***

Saya nyaris tak punya teman, selain Ompi. Saya benar-benar perempuan tulen dengan segala kefeminiman. Setiap kali saya keluar dari zona nyaman, ada saja yang nyeleneh, bahwa saya baru saja memasuki fase pubertas. Begitupun dengan Ompi.

Suatu siang, selepas pelajaran Sin, Cos, Tan, Ompi menghampiri saya yang sibuk memecahkan soal di buku LKS. Beberapa saat, ia menutup buku saya, lalu memandang saya lekat. Saya salah tingkah. Lebih lagi, saya cemas pandangan Ompi menumbuhkan olok-olok teman sekelas.

“Bajingan!” Segala isi kelas menolehkan wajah ka arah saya. Tapi, Ompi begitu emosi hingga abai pada riuhnya suara manusia-manusia labil yang kemudian timpal menimpal meledek saya.

Emosi saya seperti lahar panas yang siap menyebur ganas. Tapi, saya tak berani melawan Dion. Kesalahan apa yang tengah saya lakukan, hingga Dion meraba-raba paha saya. Ah, Dion memang doyan nonton film dewasa. Bisa jadi dia sedang kesetanan dengan film itu.

Sebab ledekan yang tak berujung, mencukil-cukil rasa jengkel Ompi. Ia renggut rambut keriting Dion. Rambut yang lebih kriwil dari benang halus buah labu. Ia tarik sekuat tenaga, saya pukul mulut Dion dengan buku. Dion menjerit kesakitan, sambut berbalas, ia bereaksi jauh beringas. Wajah kemayu Ompi berubah menjadi sirah. Ia lemparkan pensil, lalu menjambak kepala Dion. Dasar, Dion gatal! Ujar saya begitu keras.

Selepas kejadian itu, Ompi semakin sering menganggu pikiran saya saat belajar. Bukan main pula, ledekan teman kelas bahwa Ompi akan menjadi sesuatu yang harum dalam bilik hati saya kelak. Saya menepis, sebab Ompi memang suka berteman dengan wanita, suka menirukan gaya wanita, berjalan lentik, dan suka menari, wajar saja dia senang dengan saya.

***

Saya punya cerita untuk Ompi. Janji saya padanya setelah sepuluh tahun berlalu. Ia selalu mengingatkan. Saya kira, suami saya yang bekerja di seni pertunjukkan teater mengerti betul maksud dari pengakuan yang akan saya utarakan. Atau, Zaki, semakin bersemangat untuk menyaksikan saya kembali bertemu Ompi.

Cerita saya ini, saya tuliskan agar Ompi gampang mengingat kejadian sebelum kami lulus. Hari terakhir sekolah, saya ingin memastikan apakah Ompi menaruh hati kepada saya. Di hari terakhir itu, saya pergi ke belakang laboratorium sekolah. Apa maksudnya, ia selalu memperlihatkan aksi heroiknya pada saya, membela saya, atau saya yang melihatnya tidak seperti bencong? Sembari menunggu Ompi, hujan tak putus-putus jatuh di genteng berkarat laboratorium sekolah. Setengah jam, saya menunggu Ompi di sana. Ketika ia datang, dada saya kempas-kempis.

“Kau ingin apa, hah?!” Tanpa pembuka, saya mulai utarakan maksud hati saya.

“Kau ingin tahu?” Timpal Ompi sembari mengambil sepuluh jenis cat air, lalu menuliskannya di tembok laboratorium.

Ia mulai menggambar, mata bulat, kepala bulat, hidung seadanya, bibir yang berkumis, kaki lengan, tangan yang hanya digariskan menyerupai gambar salah satu ikon susu penyubur badan. Saya tergelak, sebab apa yang digambar itu adalah dirinya yang kurus ceking, tak berbodi. Tapi, kemudian ia melanjutkan gambarnya. Sepasang pria tengah bercumbu, tubuhnya kekar, Ompi menuliskan sebuah nama, Ayah dan Paman Beno.

Seumur hidup, baru kali itu saya melihat kejantanan Ompi. Wajah kemayu berubah menjadi wajah lelaki tulen. Ompi menepuk lengan saya dengan cat air.

Ternyata, Ompi pun merasakan bahwa hanya saya saja yang menganggapnya lelaki normal. Ia uraikan pula, bahwa sedari kecil, orangtua Ompi sudah bercerai. Ibunya selingkuh dengan salah satu karyawan bank tempat ia bekerja. Setelah bercerai, ayah Ompi selalu gonta-ganti istri. Dan tidak ada yang bertahan hingga setahun pernikahan.

“Lalu, apa hubungannya sepasang lelaki berbadan kekar yang kamu gambar?” Potong saya.

Ompi melanjutkan, bahwa sepasang lelaki berbadan kekar, tegap, laki-laki tulen itu tengah memadu cinta, bak lelaki dan perempuan menjalin hubungan. Sedari umur empat tahun, Ompi tak punya ibu sambung lagi. Saya berkelakar, “Ayahmu mungkin sedang kesepian”.

Ompi melanjutkan, ia begini kemayu karena ia mau jadi perempuan saja. Sebab, ayah selalu membawanya ke tempat kecantikan. Ayah selalu mengatakan menjadi wanita lebih asyik ketimbang menjadi lelaki maco.

***

“Ayolah! Saya tidak cemburu pada Ompi,” protes Zaki, suami saya.

“Benar. Saya menaruh hati pada Ompi. Ompi pernah mengisi kesepian saya.” Saya yakin suami saya telinganya begitu jengang jika saya mengungkit masa lalu saya. Tapi, ia tak pernah menyangka bahwa saya pernah jatuh hati pada Ompi. Saya semakin menjadi bercerita.

Sebelum kami pergi dari laboratorium, Ompi menarik tubuh saya, lalu refleks mata saya meredup, saya merasakan bibir kami saling bersentuhan, lembut.

Lalu, kenapa saya malah menikah dengan Zaki?

“Ciuman itu adalah perpisahan sesungguhnya.”

“Apa yang kau janjikan pada Ompi?” Saya membuang muka, saya yakin air muka Zaki sedikit berubah.

Zaki mulai plengak-plengok, mencari-cari keberadaan Ompi di antara para alumni. Namun, hingga selesai acara kami tak menemukan lelaki kurus itu.

Zaki, suami saya pulang lebih dahulu. Saya sengaja mengunjungi belakang laboratorium sekolah sebelum pulang. Saya mempercepat langkah.

Astaga, saya benar-benar kehilangan kata-kata untuk menggambarkan dua orang yang mesra di belakang laboratium sekolah. Ompi! Ompi yang tak lelaki lagi, semua tubuh yang hanya dimiliki perempuan begitu melekat di tubuhya.

“Ompi, kenapa jadi begini?” ujar saya lirih.

“Beginipun asalkan saya nyaman, apa salahnya?”

“Makasih sudah menepati janji, ya. Saya dengar kamu mahir menulis cerpen. Tulislah tentang saya yang sekarang. Bukan Ompi yang pernah kau tolak sebagai suami dulu.”

“Ompi, sungguhpun dunia terbalik, kau tak mungkin jadi suami saya. Sungguhpun, seluruh tubuhmu kau buat seperti seorang perempuan. Kau tetaplah seorang lelaki takkan tertukar Ompi! Sungguh, jika kau ada usaha sedikit saja untuk memperlihatkan sisi kelaki-lakianmu, bukan tidak mungkin orangtua saya akan mepertimbangkan lamaranmu, dulu. Kau malah bilang, akan menjadi seorang wanita. Lalu, menikahiku di antara pria-pria yang kau suka. Semua sudah tertakar Ompi!” Gumaman itu sejenak bersarang di kepala saya.

Tubuh saya terguncang seketika saat menyaksikan Dion—lelaki yang pernah berbuat mesum kepada saya—merangkul pinggang Ompi dengan mesra. Dunia, sungguh terlalu! ***

.

.

Edna S, berdomisili di Sungai Lundang, Pesisir Selatan. Ia alumnus Universitas Negeri Padang. Edna aktif menulis esai, cerpen, dan resensi yang kadang ditolak media. Karya-karyanya pernah dimuat berbagai media seperti; Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Scientia.id, morfobiru.com, BMR FOXS Indonesia, dan Waspada. Ia dapat disapa melalui Facebook @Edna Susanti, atau via email ednasusanti121212@gmail.com.

.

Ompi yang (Sengaja) Tertukar. Ompi yang (Sengaja) Tertukar. Ompi yang (Sengaja) Tertukar.

Arsip Cerpen di Indonesia