Lelaki dari Tukad Badung

Cerpen I Wayan Suardika (Kompas, 28 Agustus 2022)

SORE seharusnya terang. Tetapi mendung menangkupnya, seperti juga menangkup Sura yang berdiri di tepi pagar besi jembatan Tukad Badung. Ia mematung di situ. Matanya memandang ke bawah, ke Tukad Badung, sungai yang membelah Denpasar sejak dahulu kala.

Sura menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi jembatan. Pandangannya tak berubah, tertuju ke bawah, lekat menatap air sungai yang berwarna coklat. Air agak meninggi dari biasa dan mengalir deras.

Lelaki itu melemparkan pandangannya ke kejauhan hingga matanya membentur sebuah jembatan kecil melintang di atas sungai. Jembatan itulah sesungguhnya yang menjadi penghubung utama Pasar Badung dan Pasar Kumbasari.

Tak jauh di bawah jembatan kecil itu seharusnya ada sebuah dataran kecil memanjang. Kini dataran kecil itu lenyap. Tetapi di benak Sura, dataran kecil itu masih tersimpan dengan sangat jelas. Tak sadar kalau pulau kecil itu kemudian jatuh ke lamunannya….

.

TELAH mulai malam. Tetapi Sura masih di Tukad Badung. Ia bersama sejumlah teman sebayanya masih ngobrol melingkar di dataran di tengah sungai. Anak-anak itu nampak semangat betul berbagi tutur. Masing-masing berupaya meneguhkan pokok cerita mereka.

“Bagaimana kalau umpamanya Wang Yu berduel pedang dengan Tilung atau David Chiang?” sela seorang dari mereka. Wajahnya tegang dan matanya melotot seperti mau keluar.

“Semua yang kau sebutkan itu tak ada artinya jika melawan Jango. Apa artinya pedang kalau pistol Jango sudah meletus,” tanggap yang lain.

Makin panas mereka menjagokan pujaan bintang film mereka.

“Dengar…, dengar!” seorang anak mencoba menghentikan keributan mereka. “Malam ini diputar film India di bioskop Wisnu. Yang main Hema Malini, Mumtaz, dan Rajesh Khanna. Ayo kita nyerobot. Penjahatnya Prem Chopra. Pasti heboh baku pukulnya lawan Rajesh Khanna!” ajaknya dengan penuh semangat.

Tetapi ajakan anak itu disambut dingin oleh kawan-kawannya.

“Film India!” gerutu seorang anak. “Banyak nyanyinya!”

Keseruan baku cakap mereka dijeda oleh sebuah panggilan berkali-kali. “Suraaa…, Suraaa…!”

Sura bergegas menghampiri panggilan itu.

“Sudah malam. Ibumu meminta aku mencarimu,” seru Mbok Wati, seorang gadis kecil jelang remaja ketika Sura berdiri di depannya. “Ayo pulang. Kau bisa kena cakcak sama ibumu!” gerutu Mbok Wati.

“Ya, aku pasti kena cakcak. Sudah biasa,” sahut Sura sekenanya.

Sampai di rumah, ibu hanya memperlihatkan muka masam.

Tukad Badung adalah tempat bermain Sura sehari-hari. Lebih sempit lagi di sekitaran dataran kecil di tengah sungai itu. Ia bahkan telah memiliki sebuah pondok kecil di situ. Sura akan berada di sana menjelang sore. Sering pula menjelang siang selepas munuh di Pasar Badung.

Sura juga bercocok tanam kangkung di pinggir sungai. Anak-anak dan remaja yang menjadi “penghuni tetap” dataran kecil di tengah sungai itu pada umumnya bercocok tanam kangkung selain juga munuh di pasar. Dua kegiatan ini membuat mereka menjadi “anak yang banyak uang” untuk ukuran anak-anak.

Di seluruh masa kanak-kanak dan masa bermain Sura, selalu ada Mbok Wati yang membayang-bayangi anak itu. Sedikit yang dipahami Sura adalah bahwa Mbok Wati tak lebih dari tetangga belaka. Gadis kecil itu bukan kakak kandung, bukan pula kakak tiri atau sepupu atau tidak siapa pun. Mbok Wati sepenuhnya hanyalah tetangga. Rumah mereka berdempetan di tengah sesaknya di antara rumah tetangga yang lain tak jauh dari tepi Tukad Badung dan dua pasar besar di tengah Denpasar itu.

Sura merasa Mbok Wati menganggap dirinya sebagai adik “betulan”. Dan Sura juga menyukai gadis itu. Selain Mbok Wati penuh perhatian kepadanya, gadis jelang remaja itu juga cantik, tubuhnya sintal dan kulitnya putih.

Suatu hari ketika Sura dan Mbok Wati pulang dari Tukad Badung melewati Kawasan Kampung Arab, seorang remaja lelaki Arab memepet dan mencoba merayu Mbok Wati. Dengan perasaan marah, Sura menendang tubuh remaja lelaki Arab itu dan sesudahnya ia memasang kuda-kuda ala Bruce Lee dan bersiap-siap menyambut tanggapan dari remaja lelaki itu. Remaja lelaki Arab itu keder. Ia menyingkir menjauhi Sura dan Mbok Wati.

“Badanmu kecil, tapi nyalimu besar!” puji Mbok Wati.

Sura nyengir kuda. Sekecil itu, tapi ia sudah bisa membusung dada karena bangga oleh pujian Mbok Wati.

Perhatian Mbok Wati yang tulus dan penuh rasa “mengasuh” itu membuat Sura jadi rindu jika gadis jelang remaja itu tidak bersamanya. Jika mereka bersama, dan Mbok Wati sedang tidak membantu ibunya, mereka akan melakukan hal yang sama bersama-sama.

Mereka sering munuh bahan-bahan dapur di dalam pasar bersama-sama, dan jika perolehan Sura terlampau sedikit, maka Mbok Wati akan memberikan sebagian besar hasil pungutannya kepada Sura.

Mbok Wati bahkan sering menemani Sura menonton film di bioskop Wisnu justru pada saat jam kedua, suatu “jam tontonan” yang hampir mustahil bagi anak-anak karena saking larut malamnya. Bagi khalayak, jam sembilan malam adalah waktu yang cukup larut, kota sudah mulai lengang dan orang-orang juga mulai jarang berkeliaran. Kedua anak itu justru memulai menonton bioskop pada jam kedua itu. Dan jika mereka pulang hampir tengah malam, maka masalah besar akan pasti menimpa Sura. Ibu tak akan membuka pintu rumah kendati anak itu menggedor sekeras mercon!

Hingga tiba masa sekolah untuk Sura.

“Aku tak ingin sekolah, Mbok,” ujar Sura.

“Tapi tanganmu sudah menyentuh kuping,” tukas Mbok Wati. Ukuran seorang anak boleh sekolah ialah saat tiba masanya tangan seorang anak bisa meraih kupingnya dengan tangan yang berlawanan arah dengan telinga si anak.

“Aku bodoh dan miskin, Mbok,” Sura tetap bertahan dengan keinginannya.

“Kita orang miskin, ya. Tapi kau tak bodoh, Sur! Kau bukan anak bodoh!” bantah Mbok Wati.

“Tapi kenapa Mbok tak bersekolah?” tanya Sura.

“Karena aku tak suka sekolah!” sahut Mbok Wati.

“Aku tak ingin sekolah!” balas Sura.

“Itu beda, Sur! Sudahlah, kau harus sekolah. Kau tak akan pernah tahu apakah kau bodoh atau tidak bodoh jika kau tak buktikan dengan bersekolah!” Mbok Wati menutup baku bantahnya ia meninggalkan bocah itu sendirian di depan rumah Mbok Wati.

Pada hari berikutnya, Mbok Wati mengantar Sura pergi ke sebuah SD di Kereneng. Gadis jelang remaja itu mengantar Sura mendaftar dan diterima.

“Orangtuanya mana?” tanya guru yang bertugas mencatat murid baru.

“Mereka kuli pasar semua, Bu. Mereka buta huruf, tak tahu urusan sekolah,” sahut Mbok Wati tegas.

Sura diterima di sekolah itu.

Dan ternyata Sura menyukai dunia sekolah.

Mula-mula Mbok Wati masih mengantar Sura pergi ke sekolah pagi-pagi. Tapi gadis remaja itu tak mungkin terus-menerus meninggalkan pekerjaannya menjajakan nasi bungkus setiap pagi di Pasar Badung dan Peken Payuk. Ia hanya bisa menjemput Sura saat anak itu pulang sekolah.

“Ternyata aku menyukai sekolah, Mbok,” ujar Sura.

“Sudah kuduga!” tegas Mbok Wati.

“Bagaimana Mbok tahu?”

“Perasaanku saja.”

“Mbok harusnya sekolah.”

“Sudah kubilang, aku tak suka sekolah. Lihat sekolah saja aku pusing!”

Sura nyengir.

Kesenangan akan sekolah membuat Sura lebih banyak belajar dan membaca. Ia mulai “menarik diri” dari dunia munuh, mulai jarang hadir pada percakapan-percakapan seru di “daratan” tengah sungai dan tak lagi bercocok tanam kangkung di tepi Tukad Badung. Hanya kegemaran ke bioskop nampaknya belum mereda. Dan sejauh itu, Mbok Wati tetap menjadi “pengasuh” dan teman setia, terutama mengunjungi toko-toko buku dan taman bacaan.

Sering pula Mbok Wati memberi uang untuk keperluan sekolah Sura. “Untuk tambahan beli buku,” ujar Mbok Wati. “Atau untuk sewa komik.”

Sering pula Sura menangis di kamarnya jika mengingat kesetiaan dan kebaikan Mbok Wati.

Hingga menjelang tamat SD, Sura dan Mbok Wati dan para tetangganya tak lagi diperbolehkan mengontrak tanah di tepi Tukad Badung. Mereka tercerai-berai, mencari permukiman baru di sekitar kota. Dan kesalahan terbesar Sura ialah tak tahu ke mana Mbok Wati dan keluarganya pindah. Ia sendiri kemudian pindah ke Pekambingan, masih terbilang kawasan di tengah kota.

Sura masih mencoba mencari tahu dari beberapa tetangga di mana persisnya Mbok Wati dan keluarganya tinggal. Beberapa dari mereka hanya mengatakan suatu kawasan, bukan sebuah alamat lengkap. Yang lain mengatakan Mbok Wati dan keluarganya bertransmigrasi ke Sulawesi. Untuk kepastian transmigrasi ini, Sura telah mengecek ke jawatan transmigrasi di kotanya. Sialnya, ia bahkan tak tahu siapa nama lengkap orangtua Mbok Wati. Hingga menginjak bangku perguruan tinggi, Sura masih terus mencari. Sejauh itu ia hanya heran, bagaimana mungkin kota sekecil ini bisa “menyembunyikan” seorang Mbok Wati?

.

GERIMIS akhirnya jatuh juga. Titik-titik air itu melepaskan Sura dari lamunan. Namun ia masih tetap berdiri di tepi jembatan Tukad Badung. Berat hatinya beranjak dari situ. Sungai yang mengalir di bawahnya begitu banyak menyimpan kenangan. Dan bila ia memandangnya, maka lelaki itu seperti dibukakannya pintu masa lalu, masa di mana segala kemurnian tertimbun di sana.

Kemurnian yang paling bercahaya dari masa lalunya justru ada pada Mbok Wati. Bagi Sura, gadis kecil menjelang remaja itulah yang menjadi pembentuk utama atas dirinya yang menjadikan dirinya seperti sekarang ini; seorang lelaki dari Tukad Badung yang memiliki semua yang diimpikan orang.

Ya, bagi banyak orang, Sura telah memiliki segala. Ia telah menjadi orang. Tapi jauh di dalam lubuk nuraninya, ia justru seperti kehilangan segala ketika ia sama sekali belum berbuat sesuatu untuk seorang bernama Mbok Wati.

Mbok Wati, di manakah engkau berada? ***

.

.

Denpasar, 14 Juli 2022

.

Keterangan

Tukad: sungai

Mbok: kakak perempuan

Munuh: memungut ceceran hasil bumi di pasar tradisional.

Cakcak: memarahi dengan memukul (bisa juga dengan memakai sapu lidi, kayu, atau benda lain)

.

.

I Wayan Suardika adalah pesastra, pengamat seni rupa dan mantan jurnalis, tinggal di Denpasar. Novel dan antologi cerita pendeknya telah diterbitkan. Kini tengah menyelesaikan sebuah novel berlatar jurnalisme.

Ari Winata, perupa asal dan tinggal di Bali. Sejak 2011 hingga 2019, tiga kali menggelar pameran tunggal di Denpasar dan Surabaya. Saat ujian sarjana Program Studi Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana 1999, karya lukisnya mendapat predikat terbaik. Selain menjadi ilustrator di majalah dan tabloid anak, dia juga berkesenian mural.

.

Lelaki dari Tukad Badung. Lelaki dari Tukad Badung.

Arsip Cerpen di Indonesia