Penjaga Setia

Cerpen Christya Dewi Eka (Suara Merdeka, 28 Agustus 2022)

“BAIK, Tuan Rufus de Zwarts.”

“Kau sudah dengar rencana pembangunan pintu air yang melintasi Desa Jragung?”

“Belum, Tuan.”

“Ini tanah terkutuk. Kering. Sepuluh bulan aku di wilayah ini dan hujan baru turun satu kali. Lantas bagaimana dengan area jati? Kerontang! Ranggas!”

“Biasanya hujan turun normal, Tuan. Sesuai musim. Entah apa yang terjadi tahun ini.”

“Ja, ja, ja, entah apa yang terjadi dengan musim sialan ini. Di tempat lain curah hujan begitu tinggi. Tapi di sini, justru di wilayah kekuasaanku, setetes pun tidak ada air hujan turun. Hanya ada keringat dan air kencing dari petani-petani malas itu saja.”

“Maksud Tuan tadi, ada rencana dari Gubernur Jenderal mengatasi kemarau di sini?”

Dat is juist! Gubernur Hindia memang genius. Beliau sudah memikirkan cara memecahkan perkara air. Sebentar lagi, akan dibuat saluran untuk irigasi dengan pintu air seperti di Nederland. Air dari Boyolali melimpah-limpah. Cukup untuk mengairi sawah dan hutan di Demak, Grobogan, dan Semarang.”

“Baik, Tuan Rufus.”

“Jadi, mulai sekarang tugasmu merekrut pemuda dan laki-laki dewasa kerja bakti menggali saluran.”

“Berapa banyak, Tuan?”

“Sebanyak-banyaknya. Proyek ini harus cepat selesai. Permintaan kayu jati dari NISM begitu banyak. Tapi belum bisa kita penuhi karena jati di sini belum layak jual. Sebelum jalur kereta api ke Aceh, Sumatera, dan Sulawesi dibuka setidak-tidaknya kita bisa memasok setengah dari permintaan kayu jati.”

“Maaf, tapi sebagian pemuda dan laki-laki sudah terkonsentrasi pada tanam paksa, Tuan Rufus. Saya khawatir jika mereka ditarik untuk kerja penggalian saluran, hasilnya tidak maksimal.”

“Heh? Uruslah pakai akalmu! Jangan lupa, bila proyek ini rampung, kucukupkan sandang, pangan, juga tanah beberapa bahu. Bila gagal, kau sekeluarga masuk bui. Mengerti?”

Wongso tertegun.

“Apa tidak sebaiknya diadakan upacara tolak bala sebelum pengerjaan saluran, Tuan, supaya kita selamat sampai pekerjaan rampung?”

“Pertanyaan apa itu? Kau tahu berbicara dengan siapa? Mana ada upacara tolak bala. Jangan kaitkan dengan hal yang tidak masuk akal. Ini murni logika. Ilmu pengetahuan! Pekerjaan teknik! Segera kerjakan!”

***

Beberapa bulan kemudian, Wongso melaporkan dengan hati gundah. Barangkali, yang paling berharap keberhasilan proyek ini adalah Wongso. Dia tidak peduli apakah pasokan kayu jati untuk NISM cukup atau kurang atau lebih. Dia hanya berpikir tentang keluarga: mendapat rezeki tambahan bila berhasil, atau masuk bui atau yang ditakutkan hukuman mati bila gagal.

“Maaf, Tuan Rufus de Zwarts, semua sektor melaporkan, pengerjaan saluran irigasi terhambat. Saluran berhasil digali walaupun dengan alat sederhana, namun debit air yang mengalir melebihi perkiraan.”

“Kau bodoh, ya? Pakai akalmu, Wongso! Buatlah tanggul juga. Jangan asal gali. Otomatis air tidak akan meluap ke desa.”

“Sudah, Tuan. Justru itu masalahnya, tanggul air tidak berguna. Air selalu melampaui ketinggian tembok. Sudah berkali-kali ditinggikan, masih sama saja. Akibatnya banjir menggenangi area sekitar saluran.”

Godverdomme! Lebih kokoh lagi! Lebih tinggi lagi! Lebih tebal lagi! Kau harus belajar dari sejarah Nederland yang berhasil mengatasi masalah air. Bahkan air laut! Gunakan otakmu untuk mengatasi banjir kiriman ini atau kukirim kau ke bui dengan tuduhan mangkir dari tugas!”

Lagi-lagi ancaman itu!

“Maaf, saya memohon petunjuk Tuan. Saya sudah berusaha sekuat tenaga namun kendala belum teratasi.”

Godverdomme! Kau sungguh merepotkan! Beberapa hari lagi aku datangkan konsultan Eropa spesialis bangunan air. Biar kulihat apakah pekerjaanmu sebaik paparanmu.”

***

“Kau gila, Rufus! Ini Jawa. Bukan Nederland. Di sini orang hidup menyanjung alam. Ada penjaga tak kasat mata yang berkuasa atas tanah, air, tanaman, atau hewan. Kau harus izin kepada penguasa yang tidak kelihatan tersebut sebelum memulai proyek. Jika kau menyinggung harga diri dan kepercayaan mereka, belum tentu proyek ini bisa selesai.”

Rufus tidak percaya pada pendengarannya. Temannya seolah-olah membela Wongso. Frank si insinyur lulusan terbaik spesialis bangunan air, terbiasa mengerjakan proyek dam besar, sekarang menyuruhnya melakukan hal di luar nalar! Hah!

“Sejak kapan kau percaya takhayul, Frank? Ilmu pengetahuan adalah jawaban semua masalah. Tidak perlu mencari kambing hitam pada penguasa yang tidak kelihatan. Di sini, akulah penguasanya. Dan kau, hanyalah konsultan bangunan. Pecahkan masalah banjir ini dengan logika. Kau cukup memperbaiki konstruksi tanggul, menguatkan fondasi, dan membuat pintu air yang kokoh. Begitu kan seharusnya. Het is klaar!

“Takhayul katamu? Aku melihat sendiri kegagalan pengerjaan jalan yang membelah hutan Kalimantan dan Madura. Banyak alat yang rusak, pekerja yang sakit, konstruksi yang roboh, atau cuaca yang tidak mendukung. Kau tahu kenapa? Karena kepala suku di sana tidak menerima kedatangan pekerja bangunan yang kelak mendatangkan pembaruan dan keterbukaan.”

“Itu tidak bisa dijadikan sebab-akibat yang benar, Frank. Itu hanya praduga sembrana. Kekurangan pengetahuan. Kemiskinan mekanika. Lantas kau mencari jawaban dari hal yang tidak logis. Kau bergantung pada ilmu yang tidak jelas.”

“Lalu untuk apa Perang Jawa sampai pecah? Bukankah mereka yang terlalu fanatik mempertahankan kesucian tanah leluhur? Arogansi membabi buta. Bahkan sampai rela menyerahkan nyawa tidak terhitung demi nama baik nenek moyang. Dengar itu, nama baik! Harga diri! Mau tidak mau kau harus mengakui, merekalah tuan tanah yang sebenarnya, merekalah pemilik awal tanah ini sebelum kita datang. Orang Jawa! Tanpa izin mereka, proyek ini gagal dan kita rugi. Bisa jadi, akan banyak pekerja yang tewas.”

“Kau lupa, Frank? Saat ini akulah penguasanya. Bukan inlader Jawa itu! Bukan pula roh-roh leluhur mereka!”

“Ja, ja, ja, boleh juga argumenmu. Baiklah kulihat sampai mana ketahananmu menghadapi keturunan Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarub, dan Ajisaka yang peradabannya tidak bisa dilogika orang-orang Eropa. Tapi kuperingatkan agar kau waspada sebelum jatuh korban lebih banyak lagi.”

“Lantas apa saranmu?”

“Mintalah izin pada tetua adat di sini. Sampaikan salam hormat. Turutilah segala persyaratan yang diajukannya.”

“Omong kosong!”

“Hanya sampai saluran baru itu selesai dibangun. Atau kau mau rugi?”

Geram. Rufus meremas selembar koran lama dan melemparkannya ke sudut ruang. Dahinya sedikit berkerut. Apa pun kendalanya, proyek ini harus selesai tepat waktu. Menuruti saran Frank sama saja menjatuhkan harga diri bangsa. Tetapi jika itu satu-satunya syarat agar pekerjaan lancar, demi keuntungan jangka panjang, mau tidak mau Rufus harus mencoba saran tersebut.

“Baiklah. Biar Wongso yang mengerjakan. Kupertaruhkan nama baikku demi menuruti idemu yang konyol dan kekanak-kanakan.”

***

Di sebuah rumah sederhana, terdengar lantunan beberapa santri putra mendaras. Dua buah lampu teplok adalah satu-satunya sumber cahaya. Kyai Amin melinting tembakau dengan tenang. Raut wajahnya mencerminkan kebijakan. Wongso menghadap dengan dada sedikit berdebar. Walaupun Wongso tidak pernah secara khusus belajar agama, dia larut dalam suasana haru mendengar ayat-ayat Allah disuarakan dengan lembut.

“Hormat saya, Yayi. Saya berkunjung memiliki suatu maksud. Mohon Yayi sudi mendengarkan.”

“Maksudmu sudah bisa kutebak. Kau ingin supaya pengerjaan saluran irigasi lancar dan selamat hingga selesai. Betul?”

Njih, leres, Yayi. Saya menunggu titah Yayi harus bagaimana.”

“Sampaikan pada Tuan Besar, besok sehabis salat Subuh, aku kirimkan tujuh orang santri terbaik untuk membaca kitab mengiringi pengerjaan saluran irigasi. Setiap hari begitu, hingga pekerjaan benar-benar selesai. Semoga Allah rida. Semoga tidak ada bencana lagi. Semoga membawa berkah bagi semua pihak.”

“Amin, Yi. Adakah syarat lain, Yayi?”

“Cukup sediakan satu kamar sederhana dan siapkan makan minum untuk berbuka puasa bagi ketujuh santri itu.”

Njih, Yayi. Matur sembah nuwun. Dalem minta izin pamit mempersiapkan segala sesuatu untuk santri-santri. Mohon doa Yayi bagi kelancaran pembangunan ini.”

***

“Izin menghadap, Tuan. Setelah ketujuh santri itu mengiringi pekerjaan pembangunan dengan lantunan ayat-ayat kitab yang merdu, ajaib sekali air bisa dibendung. Tanggul dan pintu air sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Tinggal sedikit tahap lagi menunggu semen benar-benar kering dan beberapa pekerjaan ringan saja. Sesuai harapan Tuan, air untuk irigasi mengalir lancar.”

“Ja, kau benar. Jika keadaannya seperti ini, pohon-pohon jati akan tumbuh baik. Permintaan kayu bakar dari perusahaan kereta api pasti bisa dipenuhi bahkan melebihi target.”

“Beberapa hari lagi adalah hari terakhir pekerjaan. Adakah instruksi lanjutan, Tuan?”

“Hmmm, ada tugas khusus untukmu. Segera dikerjakan begitu pembangunan ini selesai seratus persen.”

“Baik, Tuan.”

“Berbeda dengan tugas sebelumnya, ini tugas rahasia. Dikerjakan cukup dengan beberapa orang saja.”

Rufus merendahkan suaranya dan memberikan instruksi terakhir. Wongso, meski tidak setuju, harus mengerjakannya dengan baik.

“Sore ini, tambahkan obat tidur pada makanan mereka. Ketika mereka sudah lelap tidur, tutup rapat pintu kamar, kunci, lalu segera lapisi sekeliling bangunan dengan tembok tebal. Juga atap, lapisi dengan semen tebal. Harus cepat! Harus selesai sebelum fajar!”

“Mak… maksud Tuan… mereka akan….”

“Mereka selama-lamanya bertahan menjaga pintu air dan Desa Jragung dari banjir. Alam sudah memilih mereka sebagai penjaga setia.”

***

Gelap. Sesak. Mata begitu berat. Sayup-sayup di kejauhan terdengar suara alat-alat pertukangan. Ada suara memalu sesuatu. Ada suara kasar tembok yang digesek. Juga suara benda-benda berjatuhan menimpa atap.

“Gus, bagaimana ini? Semua jadi gelap.”

“Sulit untuk bernapas.”

“Tenanglah, tetap khusuk berdoa. Bukankah di balik kesulitan ada kemudahan? Tenanglah, hai, jiwa-jiwa yang mutmainah.”

“Sepertinya kita dijebak, Gus.”

“Cukuplah Allah sebagai penolong. Dia sungguh sebaik-baik wakil.”

“Gus, sepertinya aku melihat Izrail. Apakah kita harus pasrah atau melawan sekuat tenaga?”

“Semoga Allah menidurkan kita seperti pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi. Jadi tenangkan dirimu, Kang. Melawan pun tidak ada gunanya.”

“Aku sungguh mengantuk, Gus. Sungguh ingin tidur panjang.”

“Tidurlah, Kang. Kadang kala, tidur lebih baik daripada bangun.”

***

Di belakang surau, Kyai Amin menatah batu-batu persegi panjang. Tujuh buah batu. Tangannya bergetar. Entah karena sudah lanjut usia, atau menahan ledakan hati. Tugasnya belum selesai: mengukir ketujuh nama santri terbaik pada batu-batu, menancapkan di tanah kosong di sekitar rumpun melati, menaburkan kembang tiga warna di atasnya, dan membacakan Surat Yasin.

Kali Jragung kini selesai dibangun. Pintu air yang kokoh dan dicat biru selaras dengan besi-besi jembatan yang dicat merah. Air mengalir deras namun teratur dan bening. Sungguh menakjubkan melihat alam membentangkan permadani kehijauan yang penuh rahasia.

“Orang Jawa menyebutnya tumbal, Rufus.”

Nee, nee, Frank. Orang Inggris menyebutnya guardian angel. Penjaga setia.”

“Bukankah kau tidak percaya roh-roh sebagai penjaga? Kau sebut takhayul.”

“Berkat kau, aku terpaksa percaya itu, Frank. Alam sudah membuktikannya. Fakta berbicara.” ***

.

.

Catatan:

Dat is juist = Itu betul

NISM = Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda)

Het is klaar = Itu selesai

.

.

Christya Dewi Eka lahir di Jakarta, besar di Bekasi, dan kini berdomisili di Semarang bersama 7 buah hatinya. Lulusan Fakultas Sastra Indonesia Undip Semarang tahun 2003 ini karya-karyanya dimuat antara lain di buku antologi puisi Titimangsa Lahirnya Peradaban Bangsa (Komunitas Lingkar Betawi, 2022), Wasiat Botinglangi (Rumah Pare-Pare, 2022), dan Amor en Navidad (Sasami Asih, 2022).

.

Penjaga Setia. Penjaga Setia. Penjaga Setia. Penjaga Setia. Penjaga Setia.

Arsip Cerpen di Indonesia