Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola

Cerpen Aliurridha (Jawa Pos, 03 September 2022)

SUDAH lama sejak kali terakhir aku bertemu dengannya. Sejak dia tidak dipakai lagi oleh tim sepak bola kampusku, kami tidak pernah bertemu. Bahkan sekadar menghubungiku, dia tidak pernah. Harusnya aku tidak mengiyakan ketika dia mengajakku bertemu.

Biasanya jika berurusan dengannya, aku pasti sial. Tapi aku tidak bisa menolak ketika dia mengajakku untuk membela kesebelasan kampungnya. Aku merasa ini langkah tepat untuk meningkatkan jam terbangku.

“Jadi butuh berapa orang, Mat?”

“Enam atau tujuh orang, lebih juga tidak apa. Biar ada cadangan.”

“Lah memangnya tidak ada pemuda di kampungmu?”

“Bukan tidak ada pemuda, tapi tidak ada yang bisa main bola. Karena panen tembakau Amaq sedang bagus, aku diminta mengajak teman-temanku yang pandai main bola.”

“Tidak ada yang bisa main bola,” ulangku.

Rahmat diam. Mungkin dia tersinggung. Dia pasti mengira aku sedang mengejeknya. Padahal aku memang mengejeknya. Aku masih kesal ketika dia berbohong dulu. Dia berkata bahwa ayahnya adalah pemain sepak bola hebat yang hampir direkrut Persija, tapi tidak jadi karena sebelum berangkat ke Jakarta, ayahnya lebih dulu kenal wanita cantik yang kemudian menjadi ibunya. Melihat wajah Rahmat, aku langsung ragu. Tapi Rahmat memang pandai bicara. Aku dan semua teman-teman di klub bola kampus percaya apa yang dikatakannya. Tapi begitu melihat Rahmat main, kami tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Rahmat benar-benar payah, dan sejak saat itu kami memanggilnya Rahmat Persija.

“Jadi bagaimana, bisa tidak?”

“Bisa saja. Nanti aku ajak beberapa temanku.”

“Yang mainnya hebat ya.”

“Susah, Mat. Kalau yang mainnya hebat maunya dibayar.”

“Yoh dibayar ini. Panen tembakau Amaq lagi bagus. Carikan yang hebat mainnya.”

“Kalau begitu aku ajak seniorku sekalian,” kataku pada Rahmat. Sesuatu yang aku sesali kemudian.

***

Saat Rahmat memperlihatkan kostum yang akan kami gunakan sore itu, aku langsung protes. Kostum itu jelek betul: kainnya tebal dan desainnya ketinggalan zaman. Tapi yang membuatnya lebih tidak sedap dipandang adalah warnanya yang hijau tua dengan garis-garis loreng hitam. Rasanya kami seperti tentara masuk desa.

“Ada kok. Ada tiga lagi kostum kita selain ini. Tapi harus pakai yang ini sekarang.”

“Kenapa begitu?”

“Pokoknya begitu sudah kalau mau menang.” Lalu Rahmat mendekati telingaku dan berbisik, “Ini saran beliau.”

Dari Rahmat aku tahu yang dia maksud dengan beliau adalah orang pinter yang cukup terkenal di kampungnya. Aku tidak percaya pada orang pinter. Lebih dari itu, aku tidak percaya semua yang dikatakan Rahmat. Tapi aku tidak peduli. Toh yang penting kami semua dibayar.

Rupanya kecewaku karena kostum tidak ada apa-apanya dibandingkan kecewaku saat melihat lapangan tempat kami akan bermain. Ada gundukan-gundukan mirip polisi tidur dengan jarak satu langkah anak-anak pada bagian timur lapangan. Bagian yang tidak rata itu sekilas terlihat seperti sawah baru habis dibajak. Rahmat memang pernah berkata bahwa lapangannya sedikit tidak rata.

Ini sih bukan tidak rata lagi, tapi hancur sehancur-hancurnya. Bahkan lebih hancur dari wajahmu, Mat.

Sebagai pemain sayap yang mengandalkan kecepatan kedua kakiku, aku yakin tidak akan berfungsi banyak di pertandingan ini. Dan benar saja dugaanku, mainku sangat buruk. Seharusnya aku bisa menyarangkan gol jika saja lapangan sedikit lebih rata. Padahal bek-bek lawan lambat semua, tapi aku malah tidak berani penetrasi. Aku takut berlari di lapangan rusak ini. Terpaksa aku lebih banyak memberi umpan pada Mulyanto si tinggi-besar-cepat-bertenaga yang rupa-rupanya tidak takut berlari di lapangan yang lebih rusak dari wajah Rahmat. Tapi Mul memang terkenal sebagai striker mandul. Dari ketiga belas peluangnya, hanya satu yang jadi gol. Tapi herannya, meski tim kami bermain buruk, kami bisa menang. Padahal kami sama sekali tidak pernah bermain di lapangan seburuk ini. Lebih heran lagi karena kami menang beruntun. Padahal kami tidak pandai-pandai amat mainnya.

Entah ini karena orang pinter itu atau tidak, aku tidak tahu pasti; yang kutahu, kami berhasil melaju ke babak delapan besar. Memang tidak pernah menang banyak, tapi kami tidak pernah sekali pun mengalami kekalahan sejak penyisihan grup. Seri pun tidak. Padahal beberapa kali tim kami bertemu pemain-pemain hebat yang disewa tim lawan. Pemain-pemain hebat itu pernah mengalahkan klub kami dulu, tapi kami tidak kesulitan menyingkirkan mereka. Teman-temanku mulai percaya dengan orang pinter-nya Rahmat. Bahkan Herjan, temanku yang terkenal sangat alim, ketika disuruh menampung air kencingnya ke botol mineral untuk kemudian disiram ke gawang yang dia jaga, mau saja melakukannya. Meski sekali-dua kali gawangnya masih kebobolan, itu adalah rekor untuk Herjan yang sering blunder.

***

Ketika aku sedang pemanasan sebelum pertandingan perempat final digelar, kapten timku, Kandar, mendatangiku. Tidak biasanya dia mendatangiku sebelum pertandingan. Aku bukan pemain yang dianggap penting olehnya. Jika bukan karena aku yang mengenalkannya pada Rahmat, aku mungkin tidak dipakai olehnya. Karena itu, aku merasa ada gelagat buruk ketika dia mendatangiku. Dan benar saja dugaanku.

“Ada uangmu seratus ribu?” tanya Kandar.

“Tidak ada, Bang,” kataku berbohong. Aku tahu betul Kandar kerap meminjam uang pada anggota klub dan suka terlambat atau pura-pura lupa menggantinya.

“Bohong kamu. Sini saya periksa dompetmu.”

“Ada sih, Bang,” kataku cengengesan. Bedebah ini pasti mau taruhan. Dia pasti jadi percaya diri karena menang terus.

“Sini uangmu,” kata Kandar setengah memaksa.

“Tapi, Bang, cuma ini uangku.”

“Selesai pertandingan langsung saya ganti,” kata Kandar agak memaksa.

Setelah mengambil uangku, Kandar berjalan ke arah kerumunan di pinggir lapangan. Aku mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Di sana, aku melihat Kandar sedang berbicara dengan seorang lelaki paro baya.

“Yoh saya sih yang pegang uangnya. Tidak mungkin saya kabur, Pak. Saya kan sedang main. Kalau Bapak yang pegang, bisa saja Bapak kabur.”

***

Habis sudah uangku! Langsung lemas aku ketika melihat Sabardo berdiri di seberang lapangan. Setahuku, tidak ada satu bek pun di Lombok yang mampu menghentikan Sabardo ketika menggiring bola. Apalagi bek tengah kami adalah Kandar yang postur badannya lebih mirip babi ketimbang pemain bola. Kandar tidak mungkin bisa menghentikan Sabardo yang bisa berlari lebih cepat dari Mul. Apalagi Sabardo sejuta kali lebih tajam dari Mul dalam hal mencetak gol.

Sabardo yang bernama asli Sabar ini memiliki gaya berlari, menggocek, dan menendang bola seperti Ronaldo. Orang-orang sampai mengubah namanya dan memanggilnya Sabardo karena hal itu. Dan Sabar memang agak mirip dengan Ronaldo. Sekilas dia benar-benar terlihat seperti Ronaldo: posturnya tinggi, ramping, dan berkulit kecokelatan. Potongan rambutnya pun sangat Ronaldo. Kecuali wajah kampungan yang tidak mungkin diselamatkan dengan satu-dua kali operasi plastik, semua yang ada pada dirinya memang sungguh sangat Ronaldo. Namun sayang, hari itu bukan hari yang baik untuk Sabardo.

“Ini uangmu!” kata Kandar. Aku agak tidak percaya ketika pertandingan berakhir Kandar langsung mengembalikan uangku. “Apa saya bilang, kalau saya sudah bilang akan kembalikan, pasti saya kembalikan,” kata Kandar tersenyum. Matanya yang sipit terlihat semakin sipit saja. Aku mengangguk-angguk meski aku tahu semua itu bohong belaka. Seandainya tadi kami kalah, uangku pasti tidak kembali.

“Besok aku ikut taruhan, Bang.”

“Aku juga.”

“Aku juga.”

Semua teman satu timku, kecuali Mulyanto dan aku, tertarik pasang taruhan. Bahkan Herjan pun sampai mau ikut pasang taruhan. Aku tetap menolak ketika Kandar menawarkan. Aku tidak percaya orang pinter itu. Lagi pula guru mengajiku dulu pernah berkata, syirik adalah dosa paling tidak termaafkan.

***

Atas saran orang pinter itu, kami menggunakan kostum berwarna merah dengan logo kepala sapi di bagian dada kanan. Bangsat, ini kostum yang paling kubenci. Selain model dan warnanya mirip Manchester United, bisa-bisanya ada lambang kepala sapi di dadanya. Bangsat betul! Merah dan sapi adalah kombinasi yang mengerikan. Tapi aku mengiyakan saja karena tidak ada teman-temanku yang protes. Mungkin karena mereka sedang dilanda euforia; sekali lagi menang, kami akan masuk final. Mungkin juga mereka benar-benar percaya pada orang pinter itu. Lalu ketika melihat Rizki, Dedi, dan Herjan benar-benar menyerahkan uangnya ke Kandar, aku jadi tergoda, dan dengan sedikit malu-malu, aku ikut menyerahkan uang.

“Bukannya kamu bilang tidak percaya,” kata Kandar mengejekku.

“Aku memang tidak percaya dukun, tapi aku percaya pada tim kita. Kita mulai kompak dan Kak Mul mulai tajam,” balasku. Tentu saja aku berbohong. Mul tidak pernah menjadi tajam. Dia hanya pintar mendapatkan peluang dan pintar juga menyia-nyiakannya.

Hari itu kami menang lagi. Itu membuatku menyesal hanya berani bertaruh seratus ribu. Harusnya aku bisa dapat lebih banyak. Ini sudah sedikit, kena potong pula. Kandar memotong uang anak-anak itu sepuluh persen, katanya untuk ongkos bandar. “Bajingan betul babi itu, rakusnya nggak ada lawan,” bisik Rizki di telingaku. “Tapi tidak apa-apa, yang penting kita menang,” balasku. Teman-temanku kini benar-benar percaya kalau orang pinter itu memang punya ilmu. Jika dia melihat celah untuk kami bisa menang di final, teman-temanku rela mempertaruhkan semua uangnya.

***

“Apa harus pakai baju itu?” tanyaku tidak percaya ketika Rahmat menyerahkan kostum hijau loreng jelek itu. “Ini final, Mat. Kita harus tampil keren.”

“Beliau melihat warna hijau melayang-layang di langit biru.”

“Apa tidak bisa pakai yang kuning saja?”

“Loh bukannya kamu bilang tidak suka yang kuning, katamu mirip baju partai,” kata Rizki memprotesku.

Semuanya sih mirip baju partai. Kecuali baju hijau loreng bangsat ini.

“Malas saja pakai kostum itu, kainnya tebal dan berat.”

“Ini saran beliau. Kalau mau menang harus dituruti,” ulang Rahmat.

“Kalau begitu yang satunya saja. Yang ada gambar Kakbah di dadanya itu,” saranku.

“Tidak bisa. Sesuai saran beliau, kita harus pakai baju ini,” tegas Rahmat. “Dan ada satu lagi permintaannya. Kita semua disuruh balik celana dalam.”

Ketika aku mau protes lagi, Kandar menghentikanku. “Sudah tidak apa-apa. Yang penting kita menang. Tidak usah protes terus kamu,” Kandar menoleh ke arahku. “Balik celana dalammu. Kalau tidak nanti saya yang balik celana dalammu.”

Apa yang dikatakan Kandar membuat teman-temanku tertawa. Seketika itu juga aku ingin memanggang babi ini. Tapi aku segera ingat, babi haram dimakan. Lalu dengan kesal aku membalik celana dalamku. Ini bukan karena aku takut Kandar, tapi aku takut pada lawan kami di final. Aku takut semua uang yang kuserahkan ke Kandar lenyap sebab di kubu lawan ada Cobok yang disebut Messi-nya Lombok Tengah. Ada juga Heri yang wajah dan permainannya mirip Thierry Henry. Ada juga Wayan Roni yang merupakan striker andalan Perselobar. Belum apa-apa, aku sudah minder duluan. Sadar betul aku kalau timku tidak akan punya kesempatan menang selain berharap pada jaminan orang pinter-nya Rahmat.

Tidak salah dugaanku, di lapangan seburuk ini pun Cobok masih mampu menari dengan begitu lincahnya. Dua-tiga orang dilewati dengan mudah sebelum ia menyarangkan gol ke gawang Herjan. Kami ketinggalan 0-1.

Bersusah payah aku mengirimkan umpan ke Mulyanto. Si tinggi-cepat-kuat-bertenaga itu berhasil berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Tapi begitu ia menendang, bolanya melayang tinggi. Bahkan jika gawang itu disusun dua kali, bola itu masih lebih tinggi. Namun aku tidak pesimistis. Sebab, entah mengapa, kami bisa mengimbangi permain tuan rumah. Itu sebelum Kandar dengan gobloknya menghantam kaki Cobok di kotak penalti, dan Cobok berguling-guling seperti Neymar di Piala Dunia 2018 ketika Brasil lawan Meksiko.

Kami kalah 0-2. Aku yang tidak terima langsung saja mendatangi Mulyanto.

“Kak Mul tidak balik celana dalam, ya?”

“Tidak. Kenapa memangnya, Lif?”

“Pantas saja tidak gol,” kataku membentaknya.

Mulyanto hampir menghantam wajahku jika tidak segera dilerai Kandar. Kandar langsung menyeretku menjauhi Mulyanto yang mengamuk. Melihat dia masih bisa mengamuk seperti itu, aku curiga Mulyanto tidak mengeluarkan separo tenaganya. Dan itu membuatku semakin kesal saja.

“Kamu ngawur saja ngomong begitu ke Mul. Jangan singgung dia kalau gagal cetak gol,” kata Kandar.

“Biar saja. Dia bodoh makanya kita kalah. Dia juga tidak balik celana dalamnya.”

“Lho kamu balik celana dalam?”

“Iya. Memangnya Bang Kandar tidak?”

“Stt…” Kandar menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. “Ini uangmu. Saya tidak jadi taruhan. Sudah kamu jangan bilang-bilang ke Rahmat kalau kita tidak balik celana dalam. Tidak logis itu. Karena lawannya kuat, saya tidak jadi taruhan.”

Lega betul aku mendengarnya. Meski kalah dan kesal pada teman-temanku, aku senang karena uangku kembali. Ternyata Kandar baik juga, begitu pikirku. Namun beberapa hari setelah itu, ketika kami latihan di lapangan, Rizki menertawakanku yang memuji-muji kebaikan Kandar.

“Eh goblok. Ditipu kamu itu. Jadi dia taruhan Kandar. Dia bertaruh pegang tuan rumah. Dia bertaruh kita kalah.” ***

.

.

ALIURRIDHA. Penerjemah dan pengajar penerjemahan di sebuah perguruan tinggi. Ia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

.

Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola. Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola. Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola. Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola.

Arsip Cerpen di Indonesia