Cerpen Beni Irawan (Radar Banyuwangi, 03 September 2022)
ADALAH Markudi, petugas kebersihan di terminal. Malam itu, ketika melakukan tugas terakhir menjelang pulang; membersihkan toilet terminal, ia mendengar air mengucur dari salah satu kamar mandi. Dilongoknya itu kamar mandi dan ia menemukan keran di sana tidak tertutup dengan baik dan bak di bawahnya hampir penuh.
Markudi masuk dan memutar gagang keran, tetapi air malah makin banyak yang keluar; kerannya bocor. Dan, ia seharusnya bisa memperbaiki itu. Namun, karena malam sudah hampir larut dan ia harus bergegas pulang karena terbayang istrinya yang menunggu di meja makan—maklum pengantin baru— ia keluar toilet dan menemukan selembar koran di atas kotak infak kebersihan. Koran itu ia sobek dan remas-remas lalu digunakan untuk menyumpal keran yang bocor. Markudi yang tidak tahu di koran itu ada gambar pahlawan, kembali melakukan tugas dan setelahnya pulang bergegas.
Besoknya ketika masih terasa kecupan istrinya, kepala kebersihan terminal memanggil Markudi ke kantor. Ia yang merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa, berjalan tenang ke kantor atasannya. Melihat wajah keras atasannya membuat Markudi teringat dengan keran yang bocor semalam.
“Duduk!” perintah kepala kebersihan terminal.
Markudi duduk dan tanpa menunggu kemarahan meluncur dari atasannya, ia menjelaskan peristiwa semalam. Ia mengaku salah karena tidak langsung memperbaikinya tetapi malah menyumpalnya dengan koran.
“Kau tahu ada gambar siapa di koran itu?”
“Saya akan memperbaikinya sekarang, Pak.”
“Gambar siapa?!” atasannya menggebrak meja.
Markudi menciut di tempat duduk. Ia menggelengkan kepala yang tertunduk.
“Di sana ada gambar pahlawan!”
Markudi mengangkat kepala, memandang langsung ke arah atasannya untuk kemudian segera mengalihkan pandangan pada kertas-kertas di atas meja. Ia belum paham atas apa yang telah ia lakukan.
“Kau tahu apa maksudnya?”
“Tidak tahu, Pak.”
“Kau bisa dipecat karena itu. Kalau sampai pihak berwajib tahu, kau bisa dilaporkan dan masuk kurungan.”
Markudi menelan ludah.
“Semoga belum—”
Kalimat kepala kebersihan terminal terputus karena ketukan pada pintu. Dia memandang Markudi yang pucat pasi.
“Masuk!”
Dan, yang masuk adalah pihak kepolisian yang telah menerima laporan bahwa salah satu petugas kebersihan telah melakukan penghinaan terhadap pahlawan nasional.
“Tunggu dulu, Pak,” cegah kepala kebersihan kepada polisi yang ingin membawa Markudi. “Bisa saya jelaskan.”
“Kalian bisa menjelaskan nanti di kantor polisi. Sekarang, saya harus membawa penghina pahlawan ini ke kantor.”
“Tapi, Pak—”
Polisi menyeret Markudi yang terus-terusan bilang, “Pak, saya tidak tahu… saya tidak tahu… saya tidak bermaksud begitu… Pak, saya tidak tahu….”
Di ruang interograsi, Markudi dicecar habis-habisan dengan pertanyaan. Dan, setiap pertanyaan itu menggiringnya untuk mengakui kesalahan.
“Sungguh, Pak. Saya hanya ingin menutup keran yang bocor itu. Saya tidak tahu kalau koran yang saya pakai itu ada gambar pahlawannya.”
“Kenapa kau tak memeriksanya terlebih dahulu?” Markudi tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa rela ketika digiring ke penjara.
Selama di penjara, selain memikirkan istrinya yang seminggu sekali mengunjunginya dan bertambah cantik, ia banyak memikirkan tentang keadilan di negeri yang tak kalah cantik ini. Ia memang mengakui kesalahannya karena telah menyumpal keran dengan gambar pahlawan dan layak mendapat hukuman. Tetapi mereka yang setiap hari menaruh dompet dengan lembar-lembar uang bergambar pahlawan di pantat, seharusnya mendapat hukuman juga. Tetapi tak bisa Markudi tampik bahwa hukum memang tumpul pada mereka yang beruang. Semakin ia pikirkan, ia semakin berang.
“Mas yang sabar. Ini cobaan rumah tangga kita. Pasti ada hikmahnya. Marah juga tak menyelesaikan masalah,” kata istrinya di suatu kunjungan.
“Ya, Dik. Tapi kamu itu, loh, baru beberapa bulan menikah sudah ditinggal suami masuk penjara.”
“Ini bukan salah, Mas. Bukan salah siapa-siapa. Tuhan hanya sedang menguji coba rumah tangga kita.”
Markudi menghela napas.
“Bagaimana keperluanmu sehari-hari?”
“Alhamdulillah tercukupi. Sisa gaji Mas bulan lalu juga masih ada. Kalau habis, nanti mahar dari Mas bisa digunakan.”
“Semoga sebelum Adik lakukan itu, Mas sudah bebas.”
“Amin.”
Dalam hati Markudi bersyukur punya istri yang tabah dan setia. Ia membayangkan bagaimana orang-orang berkata-kata tentang dirinya dan pasti istrinya sudah mengebalkan telinga. Markudi merasa bersalah atas itu. Dan merasa bersalah karena telah memaksa istrinya jatuh cinta padanya.
“Maaf karena telah—”
“Tidak perlu minta maaf, Mas. Sebagai istri sudah seharusnya begitu.”
“Terima kasih, Dik.”
“Ya, pahlawanku.”
Senyum istrinya mekar.
Markudi ingin tersenyum, tetapi entah, mendengar kata pahlawan, hatinya gerah.
***
Gambar pahlawan telah menyelamatkanku dari rumah tangga yang keliru. Aku menyadari itu sebulan setelah menikah dengannya. Di bawah kasur, ketika membersihkan tempat tidur, aku menemukan pembungkus kain bertuliskan ayat suci. Di dalam bungkus kain itu, ada puntung rokok dan kertas bertuliskan namaku yang dikelilingi tulisan yang tak kupahami. Aku jadi ingat bagaimana pertemuan pertama dengan lelaki yang sekarang menjadi suamiku.
Itu adalah akhir pekan dan aku pulang dari kota tempatku bekerja ke tempat asal. Menggunakan bus, menempuh perjalanan lima jam. Aku pulang kesorean sehingga aku sampai terminal agak kemalaman dan terminal sudah sepi dari angkot. Menunggu jemputan yang tadi kupesan di kursi tunggu, seorang lelaki, petugas kebersihan di terminal itu, mendekatiku. Ia sopan menyapa dan meminta izin duduk di kursi sebelah. Kami berbasa-basi dan ia sambil merokok dan asapnya beberapa kali terbang ke wajahku. Aku tidak pernah senang dengan perokok. Lebih-lebih perokok yang tidak tahu tempat. Namun, malam itu, entah kenapa, aku nyaman-nyaman saja. Asap rokoknya yang menerpa wajahku dan seolah-olah ingin tinggal di sana malah membuatku jatuh cinta.
Jemputan datang dan sepanjang perjalanan pulang, aku diserbu kerinduan. Ketika akan kembali ke kota tempatku bekerja, aku bertemu dengannya lagi. Kami bertukar kontak. Lalu kami menjalin hubungan. Ia tidak berlama-lama dan langsung melamar. Itu juga yang kuharapkan karena aku tidak kuat diserang kerinduan. Lantas kami menikah selang beberapa bulan kemudian. Pernikahan sederhana. Hanya dihadiri keluarga.
Dihitung dari pertemuan pertama, hanya enam bulan untuk aku mantap berumah tangga dengannya. Aneh memang. Tetapi cinta memang dipenuhi keanehan-keanehan.
Namun, beberapa keanehan memang layak mendapat penjelasan. Seperti kasusku ini. Aku jatuh cinta dan mantap berumah tangga dalam waktu singkat karena telah diguna-guna. Maka setelah menemukan pembungkus kain itu, aku menghubungi kantor tempat suamiku bekerja. Yang menjawab telepon adalah atasannya.
“Tolong, bagaimanapun juga, cari cara untuk menghukumnya. Dia telah mengguna-guna saya.”
***
Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutmu ketika suatu sore, kau menerima panggilan dari perempuan yang diam-diam kaucinta tetapi malah dinikahi bawahanmu. Dan, kau semakin tak banyak berkata-kata ketika dia meminta tolong padamu untuk menghukum bawahanmu yang menjadi suaminya. Kau tak perlu penjelasan lebih lanjut dan langsung bersedia dan memutar otak untuk mencari cara menghukum bawahanmu itu.
Maka ketika petang tiba, kau masuk ke toilet dan membocorkan salah satu keran di kamar mandi. Itu menjelang larut malam dan terminal sudah sepi ketika kautaruh selembar koran bergambar pahlawan di atas kotak infak kebersihan. Kaubersorak dalam hati ketika bawahanmu yang sedang membersihkan toilet tergesa-gesa dan mengambil itu koran. Kau yakin, koran bergambar pahlawan itu akan ia gunakan untuk menyumpal keran yang sengaja kaubocorkan.
Besoknya, sebelum kaupanggil bawahanmu ke kantor, kau sudah menelepon polisi. Dan, kau juga menghubungi istrinya, perempuan yang kaucintai, untuk menyiapkan barang bukti jika nanti ditanya polisi.
“Ya, halo?” kata perempuan itu di seberang. Kau sambil menahan getaran di dada bertanya, “Apa yang ia gunakan untuk mengguna-gunamu?”
“Ada pembungkus kain. Isinya kertas bertuliskan nama saya yang dikelilingi tulisan aneh dan—”
“Itu saja? Namamu mirip dengan salah satu nama pahlawan perempuan, kan?”
Beberapa lama perempuan di seberang tak menjawab. Dia kaget karena kautahu namanya dan kautahu kekagetan itu.
“Aku tahu namamu karena sejak dulu aku mencintaimu. Tapi bawahan sialan itu malah mengguna-gunamu lebih dulu dan menikahimu,” jelasmu.
Perempuan di seberang tersipu.
Lalu sekarang, ketika bawahanmu mendekam di kurungan, kau menjalin hubungan gelap dengan istrinya yang kaucintai sejak lama.
“Jangan dulu menceraikannya. Kau biasa saja. Kunjungi dia biar hancur hatinya nanti ketika keluar, tahu-tahu kau sudah jadi milikku. Biar adil.” ***
.
.
Yogyakarta, 2021
Beni Irawan, lahir di Dusun Terengan, Lombok. Beberapa tulisannya telah tersebar di berbagai antologi bersama dan media cetak. Tinggal dan berkarya/bekerja di Yogyakarta.
.
Menyumpal Keran dengan Koran. Menyumpal Keran dengan Koran. Menyumpal Keran dengan Koran. Menyumpal Keran dengan Koran.