Cerpen Annisa Fathina (Kaltim Post, 20 Februari 2022)
TRING… Tring… Tring….
Suara ponsel Delia bergetar.
“Siapa sih ganggu orang tidur aja,” ucap Delia dengan nada kesal sambil mengucek matanya.
“Assalamualaikum,” suara perempuan lansia.
“Waalaikumussalam, ini siapa?” jawab Delia dengan suara khas bangun tidur.
“Ini tante Sulis, Nak, tadi tante telepon nomor bundamu tapi tidak ada jawaban. Tante mau nyampaikan Vino, anak tante Rani, meninggal,” sahut si penelepon.
“Inalillahi wa inalillahi rojiun….” Delia sangat terkejut karena Vino adalah teman main semasa kecilnya. Mereka terpaut 5 tahun.
“Iya, Nak, tolong kasih tahu bundamu ya. Assalamualaikum.” Tante Sulis adalah tetangga tante Rani.
“Terima kasih tante, waalaikumussalam,” Delia menaruh ponselnya.
Dia berlari menuju ruang tamu menemui Elena dan bunda yang duduk di sofa.
“Kamu kenapa, Del? Kok sedih begitu?” ucap Elena dengan wajah terheran-heran melihat adiknya.
“Kak, ada kabar duka dari Tante Sulis,” nada suara Delia sedih dengan mata berkaca-kaca.
“Kabar apa, Del?” Elena kebingungan.
“Kak Vino meninggal, Kak,” air matanya jatuh setelah mengucap nama sepupunya itu.
“Inalillahi wa inalillahi rojiun….”
“Bun, gimana aku sama Delia ziarah ke makam Kak Vino sekarang mumpung Sabtu. Kita udah lama gak ketemu Kak Vino, sekalian pertemuan terakhir, Bun,” saran dari Elena.
“Sekarang? Desa Cadet itu jauh, Nak, bunda khawatir. Ayah juga masih kerja di luar kota.” Orang tua mana yang tidak khawatir jika dua gadisnya pergi jauh ke desa tanpa diawasi.
“Tenang, Bun, kami ada ilmu bela diri. Lagian hanya empat jam, Bun,” ucap Elena meyakinkan.
“Sarapan dan mandi dulu ya, badan bunda kurang fit, titip salam buat mereka ya.” Bunda tak bisa menyembunyikan wajah cemas, namun mengizinkan karena percaya pada anak-anaknya.
Setelah selesai makan bersama, mereka mandi dan mempersiapkan perlengkapan.
“Elena dan Delia pergi sekarang ya, Bun,” kata Elena sembari menggendong ransel miliknya.
“Periksa lagi barangnya takut ada yang ketinggalan,” perintah Bunda.
Mereka bersaudara berdua, Elena seorang mahasiswi, sedangkan Delia kelas dua SMA.
“Sudah Bundaku sayang, kami pergi dulu ya, assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam, hati-hati ya, kabari Bunda terus.”
Setelah empat jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.
“Akhirnya ya Kak nyampe juga, eh bentar Kak aku kasih tahu Bunda dulu biar ga khawatir,” kata Delia sambil mengeluarkan ponsel dari jaketnya.
“Iya, Del,” ucap Elana yang mulai berjalan ke rumah tantenya.
Setelah menelepon bundanya, Delia menyusul kakaknya.
“Assalamualaikum,” salam Elena dan Delia sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumussalam, kalian Elena dan Delia, ‘kan? Masuk, Nak,” ucap tante Rani.
“Iya, kami turut berduka cita atas kepergian Kak Vino,” kata Elena sambil mencium tangan om dan tantenya.
“Iya, Nak, kalian apa kabar?” tanya Rani kepada kedua keponakannya itu.
“Alhamdulillah baik, tante dan om gimana kabarnya?”
“Ya begitulah, Del,” jawab Rani dengan wajah sedih kehilangan anaknya.
“Kalian cuma berdua? Orangtua kalian?” sambung Hendry, ayah Vino.
“Iya om, maaf, Ayah lagi kerja di luar kota, sedangkan Bunda kurang fit, mereka titip salam.”
“Semoga bundamu cepat sembuh ya, kalian nginap di sini aja,” kata Hendry sembari tersenyum.
“Terima kasih om, kami berdua langsung pulang saja setelah ziarah ke makam,” jawab Elena.
“Kalian hati-hati, tempatnya di ujung desa ini,” kata Hendry.
Setelah diberikan petunjuk mereka bergegas ke pemakaman itu.
Sepanjang jalan dipenuhi pohon. “Ada Nenek tuh, kita tanya aja ya,” kata Delia turun dari motor.
“Nek, kuburan di mana ya?” tanya Delia dengan tersenyum.
“Kalian lurus naik gunung, sebenarnya itu bukan kuburan tapi gubuk tua tempat orang meninggal, biasa suster yang mengurus pemakaman itu,” jawab nenek itu sambil memegang sapu.
“Bukannya di kubur di bawah tanah ya, Nek?” tanya Elena dengan muka bingung.
“Adat-istiadat di sini ditaruh di gubuk itu, lalu diurus suster,” nenek itu menerangkan adat-istiadat di Desa Cadet.
“Suster?” ucap Delia dalam hati.
“Terima kasih, Nek,” jawab Elena tersenyum.
“Iya, Ndok, sama-sama, siapa yang meninggal, Ndok?” tanya si Nenek.
“Sepupu saya Nek.”
“Hati-hati, Ndok.”
“Hah? Beneran di gubuk, Kak? Aneh ya,” Delia kaget, ini pertama kali mereka mendengar ritual sebuah desa.
“Iya, gapapa kita harus menghormati adat mereka,” kata Elena sambil menyeka keringat di jidatnya.
Mereka sampai di gubuk. “Kak, ini gubuknya?” tanya Delia heran.
“Iya Ren, merinding eh,” jawab Elena.
Suasana gubuk sangat hangat dan sunyi.
“Permisi, Suster, apakah ini gubuk orang meninggal?” tanya Elena.
“Iya,” jawab suster penjaga mayat itu. Dia berpakaian putih dan rambutnya panjang berwarna hitam.
“Mayat Vino sebelah mana ya?” tanya Elena.
“Masuk aja,” jawab suster.
Setelah mereka masuk ke gubuk tua itu, Delia melihat bayi bergerak di atas kasur mayat itu. Dan Delia tampak heran, tetapi tidak berani ngomong ke Elena karena suster penjaga mayat itu di depan pintu. Mereka berkeliling mencari mayat Vino.
“Kok bayinya gerak ya?” ucap Delia di dalam hati.
Setelah berkeliling, Delia menemukan mayat Vino. “Kak, mayatnya sebelah sini,” ucap Delia.
Setelah mereka menghampiri mayat Vino, Delia berbisik kepada Elena.
“Kak, lihat tadi ada mayat bayi yang bergerak? Kurasa mayat di sini bukan mati, tapi dikasih obat,” bisik Delia yang suka membaca mengenai mayat yang mati dengan tidak wajar.
“Iya, Del, aku mikir begitu juga,” kata Elena dengan wajah ketakutan.
“Kak lu masih hidup ‘kan?” tanya Delia sambil menggoyangkan tubuh Vino.
“Kak lihat matanya Kak Vino bergerak tapi tubuhnya kaku. Gimana, Kak?” tanya Delia dengan suara ketakutan.
Vino memberi isyarat dengan menengok ke arah obat-obatan. Sudah diduga, mayat di sini mati secara tidak wajar.
Elena lari kabur dari gubuk itu entah ke mana, sedangkan Delia masih di gubuk.
“Mau ke mana kamu?” tanya suster dengan mata melotot.
“Saya mau pulang ke rumah, saya sudah selesai ziarah, Sus,” jawab Delia.
Entah ke mana lari kakaknya itu. Delia menemukan satu rumah warga yang tidak jauh dari gubuk.
“Saya keponakan Tante Rani,” kata Delia dengan napas tidak beraturan.
“Kok capek gitu? Sini masuk ke rumah,” sapa ibu yang tinggal tidak jauh dari gubuk itu.
“Tadi tuh, Tan…,” belum selesai menjawab, ternyata suster muncul di jendela.
“Semangat bekerja, Sus,” sapa ibu itu kepada suster dengan tersenyum.
Suster itu hanya tersenyum. Saat Delia menghadap ke belakang, suster itu memberi kode pada Delia bahwa ia dilarang bercerita. Kemudian suster itu balik ke gubuk.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu itu kepada Delia.
“Tadi, Tan, saya lihat semua mayat itu bergerak bukan karena meninggal tapi karena bubuk kematian, Tan,” jawab Delia dengan suara ketakutan.
“Ada-ada saja,” ucap ibu dengan nada tidak percaya.
“Saya tidak bohong,” jawab Delia sambil berusaha meyakinkan ibu itu.
“Sepertinya kamu kelelahan, kamu istirahat di sini aja, besok pagi pulang,” saran ibu itu.
“Terima kasih, Tante,” sambung Delia dengan wajah sedikit lega.
Keesokan paginya ibu dan suaminya bersiap ke pasar menggunakan sepeda motor tua.
“Saya boleh ikut?” tanya Delia.
“Motornya hanya cukup berdua, kamu jalan kaki lalu kami jaga dari belakang,” jawab ibu.
“Baik, Tan,” jawab Delia dengan muka pasrah.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ibu dan suaminya itu menghilang.
“Ke mana mereka? Serem banget,” Delia ketakutan dan mulai berlari sekencang mungkin.
Tiba-tiba saja, ada angkot melintas.
“Sampai ke kota, Pak. Nanti saya bayar lebih.” Delia berpikir ini jalan satu-satunya.
Setelah duduk di angkot selama empat jam, akhirnya Delia sampai di rumah dengan membayar sejumlah Rp 400 ribu kepada sopir angkot.
Hatinya terasa lega setiba di rumah. Namun, saat akan masuk, tiba-tiba Delia merasakan keganjilan.
“Assalamualaikum, Bunda, Kak Elena.”
Tak ada jawaban. Delia pun membuka pintunya.
“Hahahaha,” tawa suster menggema. Dia duduk di sofa rumah Delia.
“Kenapa kamu bisa sampai sini?” tanya Delia kaget.
“Yang dikatakan soal mayat itu, benar. Aku punya dendam di desa itu. Karena kamu tahu rahasia ini, maka kamu juga harus seperti mereka,” suster itu mengancam.
“Gak, Sus, saya tidak ceritakan kepada siapa pun.” Delia ketakutan dan berlari.
“Kau juga harus terima nasib seperti mereka. Rasakan ini!!!” Suster itu mengeluarkan bubuk kematian.
“TIDAKKKK….” teriak Delia.
“Del, sadar, ini Bunda,” ucap Bunda dengan wajah kebingungan melihat anaknya mengigau.
“Bunda tadi ada bubuk kematian, Bun,” kata Delia takut.
“Bubuk kematian dari mana? Mimpi ya kali kamu? Dari tadi kamu tidur doang,” ucap Elena terbahak-bahak.
“Akhirnya, cuma mimpi,” bisik Delia sambil mengelus dada. ***
.
.
ANNISA FATHINA, lahir 26 September 2003, mahasiswi akuntansi Universitas Mulawarman.
.
Bubuk Kematian