Capung-Capung Pembunuh

Cerpen Kak Ian (Suara Merdeka, 08 September 2022)

MINGGU pagi itu aku ada janji pada Tini. Jika hari itu aku akan mengajak Tini jalan-jalan. Tini yang mengetahuinya pun sangat senang sekali mendengarnya. Apalagi aku sudah berjanji, saat sekembalinya dari kota akan mengajak anak itu jalan-jalan.

Tini adalah anak kami semata wayang. Anak dari pernikahanku dengan Lastri. Saat kutanya pada Tini mau diajak kemana, ia tidak meminta atau memilih harus pergi ke mana saat aku membawa dirinya. Bagi Tini terpenting ia bisa bersamaku, bersama ayahnya seharian penuh. Akhirnya aku pun menunaikan janji itu.

Kali ini aku membawa Tini tidak jauh-jauh, masih berada di dalam kota tempat tinggal kami. Lebih tepatnya pergi ke sebuah taman bermain dan hiburan yang belum lama ini diresmikan oleh pemda setempat untuk dijadikan taman bermain dan hiburan keluarga.

Tini yang kuajak jalan-jalan seketika itu juga hatinya sangat berbunga-bunga. Pipinya seketika merah semu. Karena keinginannya sudah kukabulkan.

Maklumlah sebagai seorang Ayah sekaligus pencari nafkah, aku sangat jarang pulang. Apalagi sebagai buruh proyek di kota. Aku hanya bisa kembali ke rumah jika sudah genap tiga purnama atau lima purnama, baru bisa menemui Tini dan Lastri, istriku. Kesempatan itu pun aku gunakan untuk mencurahkan kasih sayangku ke Tini dan tentu tidak ingin menyiakan-nyiakan momen langka itu sedikit pun.

Setali tiga uang. Tini pun tidak mau kehilangan momen yang ditunggunya itu. Ia juga melakukan hal yang sama pula. Ingin selalu bersamaku, bersama ayahnya seharian penuh.

***

Aku dan Tini sudah siap bergegas untuk berangkat jalan-jalan. Sedangkan Lastri tidak ikut bersama kami. Karena Lastri tahu ia tidak ingin merusak kebahagiaan putri semata wayangnya itu bersama ayahnya yang sangat jarang sekali bertemu. Apalagi untuk bersama-sama.

Akhirnya Tini bisa seharian bersamaku. Apalagi jika saat musim liburan tiba, melihat teman sepermainannya pergi jalan-jalan atau liburan bersama Ayah dan Ibu mereka. Tini hanya bisa mengintip dari balik jendela saja saat teman-teman sepermainannya itu bepergian atau mengisi liburan. Walaupun dalam hatinya menjerit kecil. “Kapan ayahku pulang?”

Begitu gumam Tini yang ia lontarkan dalam hatinya tanpa tidak diketahui siapa pun.

Ternyata hal itu belum seberapa yang Tini derita. Paling yang menyesakkan saat anakku mendapatkan perisakkan, saat ketika bermain dengan teman sepermainannya. Teman-temannya itu mengatakan ia (sebenarnya) tidak punya Ayah. Jika punya Ayah kenapa tidak ada di rumah bahkan tidak pernah mengajaknya liburan saat teman-temannya berkata demikian.

Tini yang mendengarkan ucapan itu dari teman-teman sepermainannya pun hanya mampu menguraikan air mata. Lalu kembali pulang sambil mengisak dan memeluk Lastri. Tidak lain orang yang melahirkan Tini.

Setelahnya itu, Tini pun dinasehati Lastri. Jangan pernah memedulikan teman-temannya itu, bila hanya membicarakan tentangku, ayahnya. Bukankah Tini sudah tahu rupa wajahku, wajah ayahnya?

Apalagi potoku sebagai seorang ayah, sudah Tini tempel di balik lemari kayu, tempat ia menaruh pakaiannya. Jika saat rindunya tak terbendung lagi pada ayahnya itu. Ia tinggal memandangi potoku!

Lagi pula bukankah Tini sudah sering kali mendengar suara baritonku itu dari balik ponsel. Bila ia sangat rindu pada ayahnya. Ia lebih dahulu merengek pada istriku.

Usai itu Lastri pun menyambungkan melalui sambungan ponsel padaku yang sedang mencari sebongkah emas di ibu kota. Ibu beranak satu itu ingin memberitahukan jika buah hatinya sedang rindu pada ayahnya.

***

Setiba di taman bermain dan hiburan Tini pun langsung menghambur ke dalamnya. Ia begitu sangat senang sekali. Setelahnya itu ia mencari taman yang banyak ditumbuhi tanaman hias atau bunga-bunga indah untuk bisa bermain denganku. Bersama ayahnya. Itu dilakukan Tini agar tidak ingin acara bermain bersamaku hari itu diganggu pengunjung lainnya.

Tidak lama kemudian Tini pun menemukan salah satu taman bunga. Di mana taman itu banyak dihiasi berbagai bunga-bunga yang indah dan juga dihinggapi oleh beberapa serangga yang cantik-cantik pula. Melihat adanya banyak serangga-serangga cantik aku pun ikut tertarik juga untuk menangkapnya.

Saat itu aku melihat seekor capung yang sangat indah sayapnya dengan bentuk mata majemuk yang tidak seperti biasanya. Aku pun akhirnya tertarik untuk menangkapnya yang nantinya akan dihadiahkan untuk Tini. Terlebih aku mengetahui dari Lastri, jika Tini itu seringkali membasahi kasurnya setiap pagi menjelang. Tapi saat ditanya oleh istriku, anak gadis berambut sebahu dan beberapa giginya yang tanggal ia selalu mengelak.

“Itu air hujan yang jatuh dari genting.”

Begitu alibi gadis kecil itu. Hal itu pun membuat aku yang mendengar pun tersenyum geli ketika istriku menceritakan kelakuan putrinya itu.

“Baiklah akan kutangkap capung itu untuk anakku! Siapa tahu capung itu bisa menghentikan guyuran hujan lokal di kasur anakku tiap pagi menjelang,” gumamku yang diam-diam ingin menangkap serangga itu karena sudah menarik perhatianku. Walaupun tanpa sepengetahuan Tini.

***

Ternyata menangkap hewan invertebrate itu tidak semudah pikiranku. Berapa kali nyaris tertangkap tapi selalu gagal. Padahal aku sudah tahan nafas agar hewan yang tidak memiliki tulang belakang itu tidak mengetahui gerak langkahku jika sedang diincar untuk ditangkap. Tapi lagi-lagi gagal untuk diraih.

Akhirnya membuatku penasaran dan terus mengejar hewan bersayap itu sampai dapat. Aku pun terus mengejarnya.

Hup! Aku akhirnya bisa juga menangkap capung itu. Serangga yang sejak tadi mencuri perhatianku. Dengan tangan kosong aku pun bisa menjapit sayap hewan itu dengan jemariku. Walaupun jemariku tidak luput dari gigitannya.

Usai itu aku pun mendekati Tini yang sedang asyik pula mengejar segerombolan kupu-kupu. Tapi sejak tadi ia sama sekali tidak dapat menangkap seekor pun. Sampai ia terlihat kelelahan.

Kudekati Tini sambil membawa capung yang sudah kuraih untuk menangkapnya. Tini pun menoleh ke arahku. Ia melihat ada seekor capung ada di tanganku. Agak sedikit takut ia pun menjauhiku perlahan-lahan.

“Capung itu untuk apa, Yah?”

“Untuk mengobati kamu, Sayang!”

“Kan aku tidak sakit, Ayah?!”

“Kalau kasur kamu keseringan basah tiap pagi menjelang. Apa itu bukan sakit?”

“Ah, Ayah!”

“Ya, sudah sini dekat Ayah. Siapa tahu jika Ayah tempelkan di pusar kamu. Kasurmu tidak lagi basah.”

Kulihat Tini lamat-lamat menjauhi. Ia seperti tidak mau kutempelkan capung itu ke pusarnya. Ia bahkan menolak. Terkadang juga menjerit lalu menjauhiku lagi. Hingga sampai aku tidak melihat tubuh kecilnya.

Untung tidak dapat diraih, malang pun tak dapat dicegah. Sebuah pick up hitam pembawa sayur-mayur yang tidak tampak dilihat oleh Tini saat berlari untuk menjauhiku dan juga menghindari capung yang kubawa. Membawa Tini pergi selama-lamanya.

Brak! Tubuh kecil Tini terpental jauh beberapa meter.

Tini tertabrak pick up hitam. Darah segar pun langsung berhamburan mewarnai kejadian itu.

Aku yang mendengar bunyi seperti orang tertabrak pun bergegas mencari Tini. Karena sejak aku membawa capung ke hadapan Tini. Ia sudah ketakutan.

Setelah terpentalnya tubuh kecil Tini di alas jalanan dekat taman bermain dan hiburan tetiba capung-capung itu mengerubungi Tini yang sudah terkapar tidak berdaya.

Aku yang setiba di kejadian itu, di mana Tini sudah tidak berdaya dan bermandi darah, langsung menjerit histeris. Seketika jeritanku saat itu membuat sontak para pengunjung.

Akhirnya para pengunjung yang mengetahui kejadian itu langsung membawa tubuh kecil Tini ke rumah sakit. Sedangkan aku diam, terpaku. Aku tergugu. Lunglai. Melihat anak semata wayang kami, sudah bermandikan darah.

Aku dikecam ketakutan. Apalagi bila nanti Lastri bertanya ke mana Tini tidak bersamaku?

Seketika pikiran-pikiran itu berkecamuk sekaligus menghantui benakku. Bukan hanya itu saja. Aku juga mendengar jeritan Tini mengaduh histeris. “Ayah jahat sudah melepaskan nyawaku bersama capung-capung itu…!”

***

Sejak peristiwa itu terjadi aku pun terus menceracau tiada henti. Pagi, siang, sore dan malam bahkan sampai keesokannya hari aku masih melakukan hal yang sama. Bukan hanya itu saja aku pun pula mengutuk diriku sendiri terus menerus. Tidak lain menyalahkan diriku sebagai akar kematian Tini, anak gadis semata wayang kami. Itu semua berawal dari hewan pembawa kematian anak kami!

Melihat aku seperti itu Lastri pun tidak tega bahkan bersedih. Walaupun ia sudah memaafkanku dikarenakan kecerobohanku atau mungkin kebodohan diriku ini. Mengapa aku begitu mudah memercayakan mitos itu. Bila capung bisa menghentikan seorang anak berhenti mengompol?

Akhirnya melihatku semakin tidak karuan dan tidak terkendali apalagi aku terus menceracau bahkan mengutuk diri. Lastri pun menyerah juga. Entah, karena ia malu atau mengasihaniku agar semua orang tidak lagi melimpahkan kesalahan kematian Tini padaku. Ia pun memasungkan diriku di sebuah rumah. Lebih tepatnya semacam mirip kadang babi.

Aku yang diperlakukan seperti itu oleh Lastri hanya bisa pasrah dan tidak ada perlawanan. Akhirnya aku pun hidup di tempat yang mirip seperti kandang babi. Semua dari makan, kencing dan berak kulakukan di tempat itu. Lama aku berada di sana. Aku pun bosan. Jenuh. Aku pun ingin keluar. Ingin sekali menghirup udara segar.

Ternyata tak diduga Tuhan pun mendengar keinginanku. Ternyata Lastri lupa menguciku setelah memberi aku makan siang saat itu.

Saat itulah aku keluar dari tempat pemasunganku. Sekeluarnya dari tempat itu aku melihat ada segerombolan capung sedang menari-nari menuju ke sebuah hutan lindung yang berada dekat sekolah anakku Tini. Aku pun mengejar mereka dengan sekuat tenaga. Ingin membinasakan mereka.

Namun amarah yang menguasaiku pada hewan itu aku pun tidak memedulikan sekitarku. Jika saat itu ketika aku ingin menyebrangi sebuah jalan setapak sambil mengikuti segerombolan capung menuju ke hutan. Dari arah samping muka sebuah angkot menghantam tubuhku hingga terpental. Seperti apa yang dialami Tini sebelum menghembuskan nafasnya. Aku sudah bermandikan darah sambil menahan sengalnya nafas yang lamat-lamat kurasakan ingin berhenti.

Dan saat keadaan seperti itu, aku pun melihat Tini sedang dibawa seekor capung raksasa dibawa terbang jauh, jauh sekali. Sedangkan aku sendiri tidak bisa menggapainya apalagi menolongnya. Sebab, seketika penglihatanku menjadi gelap semua. Hanya bisa yang kudengar Lastri sedang menuntunku melafazkan kalimat talbiyah. ***

.

.

KAK IAN menulis cerpen, cerita anak dan cerita remaja. Kini aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya sudah termaktub di koran nasional dan lokal. Karya terakhirnya, “Kumpulan Cerita Remaja: Malaikat yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama” (Penerbit Mecca, Desember 2019), “Kumpulan Cerpen: Hikayat Kota Lockdown” (Penerbit Sinar Pena Amala, Agustus 2020).

.

Capung-Capung Pembunuh. Capung-Capung Pembunuh. Capung-Capung Pembunuh. Capung-Capung Pembunuh. Capung-Capung Pembunuh. Capung-Capung Pembunuh.

Arsip Cerpen di Indonesia