Takdir Hitam

Cerpen Ribut Achwandi (Suara Merdeka, 18 September 2022)

PANGGUNG itu berlatar kain hitam. Begitu pun sisi kanan-kirinya. Ditutup kain serbahitam. Nyaris tak ada celah. Tak satu pun lubang tersisa.

Usai menata panggung, sang penata panggung menuruni tangga segi tiganya. Lantas, enteng ia melenggang sambil bicara, “Warna hitam itu memberi kesan gelap. Gelap itu angker, sakral, dan berwibawa. Selain itu, mengesankan seolah-olah dimensi ruang panggung menjadi lebih luas dari aslinya! Gelap juga memberikan kesan tentang berbagai kemungkinan, karena dunia ini sejatinya hanya ladang kemungkinan. Ah, aku suka.”

“Kalau begitu, hitam itu menipu dong?!” seloroh seorang penabuh musik perkusi yang sejak dari tadi sudah berada di atas panggung, menata perlengkapan yang akan dimainkannya saat konser nanti.

Seketika, sorot mata sang penata panggung menajam. Dua pangkal alisnya nyaris menyatu. Hanya berbatas kerutan pada pangkal hidungnya yang tak terlalu menonjol. “Menipu?” tanya penata panggung sambil memincingkan alisnya.

“Seperti katamu tadi, gelap memberi kesan seolah-olah ruang panggung itu luas. Padahal, tidak. Kalau begitu, apa namanya selain menipu?”

Penata panggung menggeleng. Lalu berjalan mendekati pemusik perkusi itu sambil berdalih, “Bukan. Bukan menipu. Kau perlu tahu, setiap warna memiliki kodratnya masing-masing. Dan, hitam punya kodratnya sendiri. Takdirnya memang begitu, Kawan.”

“Aku kira, hitam tak hanya gelap, tetapi juga muram. Menyeramkan!” seloroh penabuh perkusi itu kemudian setelah ia meletakkan kendang di sisi kanan panggung.

“Itu karena kau penakut!” sergah penata panggung dengan nada bicaranya yang dibuat agak meninggi.

Penabuh perkusi itu lantas bangkit dan berdiri. Kemudian berkata, “Apa kau juga seorang pemberani?”

“Maksudmu?” penata panggung membalas.

“Sudah begitu banyak orang mengatakan, gelap itu menakutkan. Sampai-sampai mereka benar-benar menghindarinya jauh-jauh. Tak ingin bertemu dengan gelap. Mereka tak bisa berdamai dengan gelap,” terang penabuh perkusi itu.

Ucapan penabuh perkusi itu membuat penata panggung sejenak mengunci mulutnya. Jari telunjuknya mengatupkan bibirnya sambil ia angkat wajahnya, menerawang pandang ke segala arah. Ia edarkan pandangannya ke arah latar belakang panggung yang baru saja usai ia tata. Seluruhnya berwarna hitam pekat. Tak seberkas pun sorot cahaya lampu terpantul. Semua cahaya dengan segenap warna-warnanya terhisap oleh lembaran kain hitam itu.

Hitam memang menjadi warna misteri. Selain mengesankan dunia gelap, hitam menjadi warna yang memiliki daya serap tinggi atas segala warna cahaya lampu yang menyorot ke arahnya. Seperti juga pada langit malam. Gelapnya demikian pekat, hingga cahaya bintang yang paling terang pun tak sampai membias. Hingga, tampak betul bintang-bintang itu sebagaimana titik-titik bercahaya yang bertaburan di atas kegelapan.

Ya, apalah jadinya malam tanpa kegelapan? Barangkali manusia tak akan dapat merasakan keindahan langit malam. Barangkali manusia tak dapat menangkap kesan ketinggian bintang-bintang. Barangkali pula manusia tak akan dapat menikmati kelap-kelip bintang yang bertebaran di langit. Juga tak akan mendapatkan keindahan bentuk rembulan.

Begitu pula dengan bayangan manusia yang melekat pada dinding, ketika tubuh mereka ditimpa cahaya. Hitam. Pekat. Tanpa mengenal bagaimana rupa wajah mereka. Pun tanpa mengenal warna kulit, warna rambut, atau pula warna baju mereka. Hanya siluet. Tetapi, apakah itu yang juga menakutkan manusia?

Pikiran penata panggung mengelana. Membaca segala yang tampak hitam, yang kerap ia jumpai. Bahkan, membaca segala hal yang “dihitamkan” kambing hitam. Mungkinkah itu juga yang membuat manusia takut? Merasa dikambinghitamkan?

Beribu alasan dan kemungkinan ia sisir. Tetapi, ia tak juga menemukan jawaban yang gamblang. Mengapa manusia takut pada hitam?

“Aku kira ada yang keliru dengan rasa takut mereka,” balas penata panggung. “Mestinya, mereka mensyukuri kehadiran warna hitam ini. Tanpanya, mungkin saja kita akan kesulitan memejamkan mata.”

“Tidur?”

Penata panggung itu mengangguk kecil. Lalu menoleh ke arah penabuh perkusi itu.

“Tidur tak bisa diartikan gelap segelap-gelapnya. Ada spektrum warna-warna yang terkomposisi secara acak saat mata memejam. Kadang, spektrum warna itu membentuk beragam citra. Beragam peristiwa muncul dan berlangsung tanpa hitungan waktu yang pasti, tanpa tata ruang yang jelas. Peralihan ruang-waktunya bahkan rupa pun demikian cepat melesat. Aku rasa tidur tak bisa disebut sebagai dunia gelap, Kawan,” jelas penabuh perkusi.

“Tata warna pada mimpi itu ilusi. Itu semua ilusi!” sergah penata panggung. “Semua warna, dalam mimpi, tidak nyata sebagai warna itu sendiri. Tetapi, gelaplah yang memunculkan warna-warna itu. Gelap pula yang menyusun warna-warna yang semula berserakan menjadi teratur. Semua itu karena gelap. Jadi, gelap itu esensi. Lalu, apanya yang perlu ditakuti?”

“Keterpurukan. Itulah yang ditakuti,” tandas penabuh perkusi.

“Keterpurukan?”

“Ya! Keterpurukan. Gelap menuntun manusia ke dalam kebimbangan, lantas menjadi kecemasan, khawatir, hingga akhirnya sampai pada ketakutan dan traumatik,” tegas penabuh perkusi.

“Sebentar, apakah gelap yang menyebabkan orang menjadi terpuruk? Apakah hanya itu?” tanya penata panggung menggugat.

“Hukum masyarakat begitu. Semua orang menyepakati itu,” kilah penabuh perkusi.

“Hukum? Kesepakatan? Sejak kapan?”

Obrolan mereka mendadak terjeda. Keduanya saling diam. Saling mengunci mulut satu sama lain. Keduanya menemui jalan pikiran yang sama-sama buntu. Hanya karena soal warna; hitam.

Memang, sudah jamak orang menganggap hitam adalah kelam. Hitam disimbolkan sebagai dunia kejahatan. Hitam menjadi dunia yang culas dan pendendam. Hitam adalah kelicikan yang disembunyikan. Tetapi, sejak kapan itu berlaku? Mereka sama-sama tak mengetahuinya. Bagaimana itu bisa demikian? Juga, mereka tak cukup pengetahuan. Yang mereka sama-sama tahu, hitam dibenci. Akan tetapi, hitam juga diagungkan.

Seperti saat ini, ketika keduanya sama-sama mengenakan kaus berwarna hitam. Keduanya menyukai warna hitam. Tentu, mereka juga punya alasan yang barangkali tak sama.

Menyadari kaus yang mereka kenakan itu, penata panggung tertawa kecil. Disusul tawa kecil penabuh perkusi. Perlahan tawa mereka makin melantang, makin memenuhi seisi ruang gedung pertunjukan itu.

“Gila!” seru penata panggung sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah kaus yang dipakai penabuh perkusi. Seketika tawa mereka pecah. Ha ha ha ha!

“Betapa tololnya kita. Mempersoalkan warna hitam, sementara kaus kita sama-sama hitam. Gila!” ucap penabuh perkusi lantang.

Makin menjadi tawa mereka. Tak kunjung henti.

“Sebentar, kawan. Aku heran, mengapa kita membicarakan warna? Bukankah pekerjaan kita pagi ini masih banyak? Mengapa kita tak membicarakan itu saja?” ucap penata panggung itu berusaha meredam tawa mereka yang sudah mengocok isi perutnya.

“Kau benar. Kita tak mungkin mengubah kodrat warna. Kita hanya bisa memainkan peran kita di atas panggung ini,” balas penabuh perkusi dengan napas yang setengah terengah-engah sehabis tertawa. Hampir-hampir ia kehabisan napas.

“Ya, ya! Kita mainkan saja peran kita. Kau yang di atas panggung, Kawan. Aku di balik layar,” sergah penata panggung. “Saat kau memainkan perkusimu, aku mesti bersembunyi, menuju ke alam gelap. Menyatu dengan gelap, agar tak terlihat. Sementara kau, di atas panggung ini, akan dihujani beragam warna cahaya lampu. Mainkanlah perkusimu seolah-olah kau bermain di alam yang luas, Kawan.”

“Hei, bukankah kita telah sepakat untuk tidak membicarakan soal warna lagi?” gugat penabuh perkusi.

“Seperti katamu, kawan. Gelap adalah keterpurukan. Di saat aku berada di dalamnya, sebenarnya kau tak hanya menghibur orang-orang yang membeli tiket untuk menontonmu. Aku juga butuh kau hibur. Mainkanlah musikmu. Berilah aku hiburan terbaik, Kawan,” ucap penata panggung itu sambil tersenyum.

Usai mengucapkan itu, penata panggung mendekati penabuh perkusi. Lalu, menepuk bahunya sebagai ungkapan bahwa ia akan meninggalkannya segera. Ada pekerjaan lain yang menunggunya di luar panggung. Beberapa perlengkapan masih menumpuk di gudang. Menunggu untuk ia panggul dan dipindahkan ke atas panggung.

Segera, penata panggung beringsut menepi. Keluar dari panggung lewat pintu sayap kanan panggung. Cahaya lampu yang semula menyala terang, meredup seketika hingga menghadirkan gelap. Riuh tepuk tangan menyambut gelap. Layar ditutup. Semua orang dalam ruangan gedung pertunjukan masih bertahan untuk beberapa lama. Menunggu lampu di bagian penonton kembali dinyalakan, agar saat mereka beranjak meninggalkan gedung pertunjukan itu dapat mengambil jalan yang tepat. Tanpa rasa khawatir menabrak tubuh penonton lainnya.

Ah! Begitulah hitam. Begitu pula gelap. Selalu tak diinginkan, meski sebenarnya kehidupan juga serba gelap. ***

.

.

Ribut Achwandi, pengasuh program siaran Kojah Sastra di Radio Kota Batik Pekalongan, pendiri Yayasan Omah Sinau SOGAN, pengajar di Universitas Pekalongan.

.

Takdir Hitam. Takdir Hitam. Takdir Hitam. Takdir Hitam. Takdir Hitam.

Arsip Cerpen di Indonesia