Di Sungai, Air Mata Bisa Mengalir seperti Air

Cerpen Farizal Sikumbang (Suara Merdeka, 09 Oktober 2022)

KAMU pulang setelah mendapat kabar bahwa ayahmu meninggal dibunuh orang. Tubuhnya ditemukan tertelungkup di depan masjid dengan luka bekas tusukan di perutnya. Aku yakin, seandainya ayahmu tidak meninggal dibunuh orang, mungkin kamu tidak akan pulang dan kita tidak akan pernah kembali bertemu.

Setelah usai pemakaman ayahmu, kamu mengajakku ke sungai kecil di ujung kampung. Sungai kecil dengan airnya yang sangat jernih. Semak-semak kecil melingkar sampai ke hulu. Aku sering mengenangmu di sungai itu setelah kamu pergi meninggalkan kampung kita. Dan di sungai ini, dulu, kita pernah merajut banyak kisah. Tapi sejak kepergianmu, aku selalu memagut sepi di sungai ini. Mengalirkan duka dari hulu hingga muara.

“Sungai ini masih seperti yang dulu ya, kecil, tapi airnya bersih,” ujarmu menyeka airmata sisa pada pemakaman ayahmu

“Ya, tapi ikan-ikannya sudah langka, Mala. Ada beberapa orang kampung kita yang memasang tuba bila memburu ikan,” balasku.

“Orang celaka, Bang,” ujarmu.

Perlahan kamu memalingkan wajah ke arah muara. Seperti mencari masa lalu kita yang telah raib di sungai ini. Kamu lalu mendudukkan tubuh pada sebongkah batu, dan mencelupkan dua kaki kuningmu ke dalam air sungai.

“Aku tidak tahu, kenapa Abah bisa dibunuh orang, Bang,” katamu kemudian. “Kata Umi, Abah tidak punya masalah dengan orang di kampung.”

Aku tidak menyahut, kecuali menatap wajahmu. Dalam wajahmu, aku menemukan kesedihan-kesedihan berbaku tindih. Aku pun menjadi sedih padamu. Apalagi bila mengenang masa lalu kita, yang telah jauh yang tak bisa kurengkuh. Kebahagiaan yang sebelumnya selalu kita rajut dari hulu sampai ke muara, tiba-tiba seperti dihentakkan begitu saja oleh ayahmu.

Aku tahu kamu sangat bersedih atas meninggalnya ayahmu. Meski aku tahu, kamu memiliki hubungan yang kurang baik denganya.

“Aku benci pada ayah,” itu ujarmu sepuluh tahun yang lalu. Kamu mengucapkan kata-kata itu dengan air mata yang deras mengalir membasahi pipimu.

Aku pun memaklumi perasaanmu. Seperti kamu juga merasakan kesedihanku saat itu. Kesedihanku? Ah aku ingat di sungai ini. Pada suatu sore sebagai titik awal punahnya kisah kita.

Semua berawal dari peristiwa sepuluh tahun yang lalu, ketika seseorang anak remaja berteriak ke dalam kampung sambil mengabarkan tentang kakak laki-lakimu yang terkapar dengan bekas tembakan di dadanya. Aku dan beberapa orang kampung pun menyusuri sungai ini. Tubuh kakak laki-lakimu akhirnya kami temukan dalam posisi terlentang di sebuah batu pipih di pinggir sungai. Darah masih mengalir memerahi air sungai.

Dan celakanya, ayahmu lalu menuduhku sebagai pelakunya. Meski aku akui bahwa kami memang pernah beberapa kali bertemu dan kakakmu memarahiku di sungai ini.

“Sebagai seorang kakak laki-laki, wajar saja jika aku tak ingin adik perempuanku menjadi celaka. Untuk itu, kuharap kamu jangan lagi berhubungan dengan Mala. Aku tidak menyalahkanmu sebagai seorang pemberontak. Aku tidak juga mendukungmu sebagai seorang pemberontak. Jalan kita berbeda.”

Aku tidak marah pada kakak laki-lakimu. Aku menghormatinya karena aku mengasihimu. Sebagai seorang pemberontak, aku bisa saja menembak kakakmu saat itu. Tapi aku tidak melakukannya.

Sejak kematian kakakmu, orang kampung pun tidak simpati lagi pada perjuanganku. Mereka tampak sinis melihatku. Hanya kamu yang percaya padaku bahwa aku tidak membunuh kakakkmu.

Lalu ayahmu benar-benar dendam padaku. Pada suatu siang, ia mengunjungiku. Menyerapahiku.

“Aku tidak takut padamu, meski kamu sebagai anggota pemberontak di kampung ini. Apa yang telah kau lakukan pada anakku sungguh tidak aku maafkan. Perlu kau ketahui juga, kau harus segera pula menjauhi Mala. Aku tak ingin pula anak perempuan itu celaka karena perilakumu.”

Sejak kedatangan ayahmu, aku pun tidak pernah lagi melihatmu. Dan baru kuketahui satu minggu kemudian bahwa kamu telah pergi ke tanah Malaysia. Kabar kepergianmu sungguh membuatku merasa begitu celaka. Berhari-hari aku sendiri di sungai ini merenungungi diri.

Satu bulan kemudian, aku pun tidak lagi tinggal di kampung kita. Ini tidak ada hubungannya demi untuk melupakanmu. Tapi karena tentara pemerintah mulai memasuki kampung dan mencari para pemberontak. Sejak kematian kakakmu, tentara pemerintah semakin banyak didatangkan ke kampung kita.

Bertahun-tahun aku tinggal di dalam hutan. Mengalami berbagai kesepian dan kejamnya cuaca. Dalam gigil aku sering memanggil namamu. Dalam hujan aku selalu memagut rindu. Dan kuyakin kamu tidak pernah tahu itu.

Kamu juga tidak mungkin tahu bagaimana rasanya aku tidak bisa melihat dan menyaksikan tubuh ayahku dikebumikan setelah tentara pemerintah mengeksekusinya di rumah kami. Mungkin kamu masih bisa melihat jasad ayahmu sebelum dimakamkan, tapi aku tidak.

***

Dan kini kita kembali berjumpa di sungai ini setelah cukup lama berpisah.

“Aku tidak tahu siapa yang tega membunuh ayahmu, Mala,” ujarku kemudian.

Kamu menatapku. Seperti ingin mencari kejujuran di dua mataku

“Sungguh, aku tidak tahu Mala,” kataku lagi.

“Aku tahu itu, Abang tidak membunuh ayah. Seperti juga Abang tidak juga membunuh Abang Ibrahim dulu. Mala hanya tidak mengerti, mengapa ada yang tega membunuh keluarga Mala.”

“Syukurlah, kalau kamu mengerti, Mala,” ujarku.

Di sungai itu, Mala lalu menceritakan tentang pengalamannya selama tinggal di tanah Malaysia. Kata Mala, awal mula ia dititipkan ayahnya di rumah pamannya yang tinggal di Malaysia. Satu bulan kemudian, Mala bekerja di sebuah pabrik tekstil dan mulai hidup mandiri.

Mala juga menceritakan bahwa ia telah menikah dengan seorang laki-laki Jawa yang juga bekerja di Malaysia. Kata Mala lagi, ia telah memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Mala menyampaikan permohonan maafnya padaku, karena tidak bisa mengabari pernikahannya itu. Mala juga berkali-kali memohon maaf padaku karena tidak bersetia denganku. Aku tidak marah pada Mala, karena situasi perang yang tidak menentu membuatku sulit menghubungi orang-orang terdekat, termasuk Mala.

Mala pergi meninggalkanku di sungai itu, ketika hari hampir senja. Tapi sampai senja menjelang malam, bagiku Mala masih seperti berada di sungai ini. Sungguh, aku semakin berduka. Setelah kepergian Mala, aku meratap-ratap diri saja. Air mataku mengalir deras jatuh ke sungai. Mengalir ke muara dan entah akan sampai berlabuh di mana.

***

Lima bulan setelah keberangkatan Mala ke tanah Malaysia, aku menikah dengan Sawa. Sawa juga merupakan kawan Mala. Mereka sebaya. Sejak dulu, sebelum meninggal, ayah Sawa memang selalu mendesakku agar menikahi anaknya. Ayah Sawa dulunya juga seorang pemberontak. Sama seperti aku.

Aku menerima Sawa dengan sepenuh jiwa. Mencoba menyukai perempuan yang dulunya tidak pernah kusukai itu. Aku berpikir, hanya dengan demikinlah caranya agar aku bisa melupakan Mala.

***

Satu tahun kemudian setelah pernikahan, Sawa melahirkan seorang anak laki-laki dari buah perkawinan kami. Bayi itu berkulit hitam. Hidungnya mancung. Ia mirip denganku. Sawa memberikan nama Ibrahim. Aku tidak senang Sawa memberikan nama itu. Karena hanya akan mengingatkanku pada kakak laki-laki Mala yang mati terbunuh itu.

“Itu amanat ayah, Bang. Kata beliau dulu, jika aku memiliki anak pertama, maka mesti diberi nama itu. Kita harus patuh,” kata Sawa membungkam suaraku. Dan aku pun tidak berkutik lagi.

***

Dua tahun kemudian, Sawa kembali melahirkan seorang bayi laki-laki dari rahimnya. Bayi itu juga berkulit hitam dan berhidung mancung. Aku memberikan nama Ismail padanya. Tapi tidak kusangka Sawa menolaknya.

“Amanat ayah, Bang, jika bayi kita laki-laki lagi, harus diberi nama Usman.”

“Usman? Itukan nama almarhum ayahnya Mala,” kataku.

“Ya, Usman, Bang. Itu pesan ayah sebelum beliau meninggal tertembak di hutan. Amanat orang yang sudah meninggal harus dilaksananakan, Bang.”

Kali ini ucapan Sawa benar-benar menerkamku. Aku membayangkan ayah Sawa pada masa perang dengan gagahnya menentang senjata AKA-47. Dan tipu muslihatnya yang sangat terkenal untuk mengelabui musuh. Tentunya juga membunuh. ***

.

.

Farizal Sikumbang adalah Guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Seulimeum Kabupaten Aceh Besar. Perajin Prosa. Bukunya yang sudah terbit Kupu-Kupu Orang Mati (2017).

.

Di Sungai, Air Mata Bisa Mengalir seperti Air. Di Sungai, Air Mata Bisa Mengalir seperti Air. 

Arsip Cerpen di Indonesia