Nenek Dolores

Cerpen Elvan De Porres (Koran Tempo, 30 Oktober 2022)

PADA hari pertama setelah Natal, ketika aroma bunga melati merebak ke seluruh kampung, Nenek Dolores mengeluarkan muntahan hitam dan pekat, matanya menguning kulit jeruk, serta bibirnya kering dan pecah-pecah. Di atas dipan di bilik depan, ia berbaring mengenakan baju putih kelompok katekumen Santa Anna—seperti sedang menunggu maut—dan membuat putrinya yang baru tiba dari kota menitikkan air mata.

“Mama,” panggil Maria, anak perempuannya itu. “Apakah sudah makan?” ia mengelus-elus rambut ibunya.

Nenek Dolores melihat putrinya sebentar, tetapi tidak membuka mulut. Jari-jarinya meremas seprai di ujung kasur, membuat lipatan kulit dan urat nadinya tampak kentara. Anaknya tahu, ibunya tidak menyukai gangguan. Tetapi itu adalah perjumpaan pertama mereka setelah perayaan kelahiran Kristus tahun lalu, dan ia menolak durhaka dan hendak membakar lilin di batu leluhurnya.

Nene baru makan tadi malam,” Berta, ponakan yang tinggal di rumah itu, samar-samar memberi tahu tantenya, Maria, yang keluar dari kamar dengan mata basah. Setelah membersihkan lantai dari genangan muntah, Berta duduk di ruang tengah, takut suaranya terdengar. Sebab, sejak mulai sakit, Nenek Dolores sering menggerutu apabila ada yang mengomentari perilakunya.

“Kemarin sore nene pakai baju itu, lalu hendak ke kapela,” kata Berta lebih lanjut. “Tapi saya bujuk, biar kami berdoa di sini saja.”

“Sejak kapan mama mulai muntah?” Maria duduk di kadera tembaga di dekat Berta, mengecilkan bicara sambil mencuri pandang ke dalam kamar.

“Baru tadi pagi sebelum Tante Maria datang,” Berta menjawab.

***

Sudah lima tahun, sejak lulus sekolah perawat Suster Roh Kudus di Lela, Maria makin jarang pulang ke rumah. Ia diterima bekerja di Klinik Baba Go di Maumere, dan sebulan kemudian menikah dengan seorang PNS yang tinggal di kota itu. Suaminya seorang famili bangsawan—keturunan Portugis—yang membayar belis besar dan menjalankan adat pecah telur agar istrinya secara penuh mengurus keluarga baru. Namun, setiap hari raya Nasrani, Maria diperbolehkan pulang ke rumah induknya—meski sempat melewatkan Paskah—dan baru kali ini ia berkunjung sekaligus meyakinkan berita bahwa ibunya mulai sakit-sakitan.

“Saya dengar kabar tentang mama dari sopir bus Agogo.”

“Iya, saya beri tahu sopir itu minggu lalu untuk sampaikan ke tante,” Berta menanggapi Maria.

“Apakah mama tahu?” tanya Maria.

Nene tahu waktu Ina Pero datang berkunjung. Ina Pero ada di bus Agogo waktu itu.”

“Kemudian mama tidak suka?”

“Setelah tetangga itu pulang, muka nene makin datar dan kerap menggeletukkan gigi.”

“Mama memang selalu begitu, membenci belas kasihan.”

Maria lalu pergi ke ruangan depan untuk mengambil tas, namun berdiri cukup lama memerhatikan sesuatu di samping kalender Keluarga Kudus. Bingkai foto usang Maria muda dengan ibunya waktu di Lela terpaku di dinding papan kelapa. Itulah kenangan awal ia diantar ibunya masuk asrama, mengenakan baju putih-putih dan sepatu pantofel hitam balerina, dan Suster Carolina memotret mereka pakai tustel biara. Suster Carolina mengatakan gadis itu cantik sekali, apakah masih punya darah bangsawan, dan ibunya menjawab tidak dan kecantikan anaknya karena ibunya memang cantik. Di mana bapaknya? Suster kembali bertanya, tetapi orang tua dan murid baru itu tidak memberikan tanggapan dan segera berkemas menuju gedung kamar tidur.

Saat itu Nenek Dolores begitu antusias agar Maria meneruskan sekolah, apalagi menetap di asrama susteran. Ketika ia pulang ke rumah dua minggu sekali, ibunya telah menyiapkan bekal ikan kering dan unti kelapa dan selalu berpesan agar membaginya dengan teman-teman dari tanah jauh. Kadang-kadang ia mengajak teman-temannya itu datang langsung ke rumah; ibunya pun memuji mereka sebab berani menyeberangi lautan demi menuntut ilmu. “Kalau mama sendiri, tidak bisa jauh-jauh dari mama punya anak,” katanya, lalu disusul tawa anak-anak gadis tersebut dan pipi Maria merah merona.

Namun, sekarang mereka makin berjauhan dan kenangan seperti cahaya terhalang badan. Terdengar batuk dari dalam bilik, Maria mengalihkan mata dari bingkai foto tersebut. Ia melangkahkan kaki menuju kamar tidur dan menyuruh Berta mengambil air hangat segelas. Ia mengeluarkan alat tensi darah lalu menyampaikan sesuatu ke telinga ibunya. Orang yang dibisikinya itu membalas dengan anggukan kecil.

Setelah memeriksa dan menunggu Nenek Dolores mereguk air, Maria beranjak ke para-para. Ia akan memasak bubur sebab ibunya sudah berkehendak makan dan minum obat. Dengan penuh semangat, Maria pun memindahkan ketel dari tungku dan menaruh periuk yang telah ditumpangi air. Sudah lama sekali ia tidak menyalakan api di pekarangan itu. Maria lupa atau mungkin tidak pernah.

***

“Berta,” Nenek Dolores memanggil dari dalam kamar dengan suara parau. Berta menjawabnya lalu bergegas ke kamar.

Jam menandakan pukul sebelas siang, saatnya Nenek Dolores mandi. Berta sendiri sudah tahu; ia akan menyiapkan handuk dan pakaian ganti, kemudian kembali ke belakang untuk memastikan air di dalam bak cukup tersedia. Dia ingin sekali menuntun dan memandikan perempuan itu, tetapi takut Nenek Dolores menggeletukkan gigi sehingga ia hanya mengawasinya dari jauh. Meski sebenarnya ayunan kaki Nenek Dolores tetap sekuat dulu saat Berta kanak-kanak dan Maria masuk asrama, anak itu tetap khawatir; jangan sampai nene kembali kejang seperti akhir minggu adven kemarin.

“Tidak apa-apa ka mama sendiri?” Maria melihati Berta.

Berta hanya menaikkan kedua alisnya. Nenek Dolores telah berdiri di muka pintu, mengenakan sarung naga, memegang handuk, dan gelungan rambutnya dibiarkan terurai. Maria tidak meneruskan perkataan. Berta menyimpan batu gosok dan gayung buah maja, setelah itu Nenek Dolores melangkah pelan-pelan, melewati tanah bekas cucian, lalu masuk ke kamar mandi.

Nene sudah biasa,” barulah Berta menjawab tantenya.

Guyuran air terdengar jelas. Air yang basah menyapu lantai semen kasar, menembus bilah-bilah bambu yang memantulkan sinar kuning matahari. Pekarangan belakang rumah itu seketika kembali riuh. Asap bubur dan kuah semanggi mengepul—bertautan dengan wangi bunga melati dan bau dahan lembap—dan suara aktivitas manusia menembusi langit kesunyian.

Sembari Nenek Dolores mandi, Maria mengajak Berta bercakap-cakap. Mereka berbincang mengenai kehidupan di kampung: SMP negeri, teman-temannya, ataupun anak-anak yang suka mencuri sawo di kebun kapela. Maria lebih banyak bertanya ketimbang menceritakan dirinya; tentang orang-orang kota, bekerja di usaha Tionghoa, suaminya Om Alfonsus yang tidak pernah datang, kenapa Tuhan belum kasih mereka anak, mengapa doi Mesakh dan Uche menghilang setelah urusan belis, kenapa Opa Melki lama di Malaysia, … dan tiba-tiba lamunan itu buyar ketika Berta menyodorkan centong.

Nene sudah selesai mandi,” kata ponakan itu. Nene mungkin sudah lapar.

Mereka kemudian menyiapkan makan siang. Berta merapikan taplak meja dan Maria memindahkan peralatan ke atasnya dengan undakan rantang hijau lurik kepunyaan Nenek Dolores dipisahkan sendiri. Setelah itu, Maria pergi ke kamar memanggil ibunya. Nenek Dolores baru selesai merias diri. Ia mengenakan baju merah leher hati, berganti sarung ayam burek, dan kalar-kalar perak menyuluri pergelangan tangannya. Maria menatap ibunya seperti melihat sesuatu dari masa lalu. Ibunya melihatnya juga seperti kanak-kanak yang menangis waktu imunisasi ataupun merengek-rengek di Pasar Nita minta dibelikan permen harum manis.

Mai ea, mama,” kata Maria. Nenek Dolores kembali mengangguk. Wajahnya tampak tenang walaupun pucat.

***

Nenek Dolores masih tidur lelap saat ayam-ayam berbunyi naik ke dahan dan matahari mulai redup di langit pantai selatan. Biasanya pada jam begitu dia akan memutar radio untuk berdoa Angelus. Tetapi kini ia tetap berbaring. Mungkin tadi siang ia terlalu makan kenyang dan minum obat. Atau mungkin juga ia sedang mimpi bertemu Malaikat Gabriel. Dulu ia sering bercerita, kalau seseorang tidur nyenyak, ia pasti tengah bercakap-cakap dengan malaikat utusan Tuhan. Ia bisa menyampaikan permohonan dan malaikat itu akan meneruskannya ke Amapu Reta Seu.

Maria ingin membangunkan ibunya, tetapi merasa tidak enak. Padahal dia sendiri harus segera pulang sebelum bus arah kota berhenti beroperasi ketika langit menjadi hitam dan suara jangkrik menggantikan napas ayam. Tidak mungkin pula ia menginap di kampung. Suaminya, Alfonsus, bakal mengubah seisi rumah jadi perahu rompong apabila tidak mendapati istrinya duduk manis di sofa ketika pulang dari acara mingguan di pantai. Maria berpikir keras, lendir siput darat seperti menempeli kepalanya.

Tiba-tiba deru mesin bus Gemilang terdengar. Bus biasanya menurunkan penumpang di ujung bukit lalu berbelok kembali membelah kampung untuk mengangkut penumpang lainnya ke Kota Maumere. Berta cepat-cepat masuk ke rumah dan mengabari tantenya tentang kedatangan bus terakhir. Wajah Maria kembali tidak tenang. Ia tidak bisa berlama-lama lagi di situ. Bukan karena takut ketinggalan bus. Maria menaati adat: belis besar telah memutus relasi keluarga induk dan ia akan terikat selalu dengan suaminya seperti cincin yang melingkari jari manis tangan kanannya. Kau tidak bisa melawan adat; apa yang telah tertulis, tetaplah tertulis, mendadak ia teringat surat mantan pacarnya—seorang frater seminari San Pedro—dulu.

Maria akhirnya masuk ke bilik. Ia meraba kening ibunya dan memastikan suhu badannya normal. Dia tahu ibunya baik-baik saja. Napas terbetik rapi, bulu mata kembali lentik, dan bibir merah merona. Minggu depan, saat tahun baru, ia akan mencari kesempatan untuk datang kembali berkunjung. Maria lalu keluar dari kamar itu.

***

Langit benar-benar hitam sepeninggalan Nona Maria. Awan-awan gelap berkumpul di atas atap dan derik jangkrik membentuk paduan suara di halaman rumah. Begitulah Nenek Dolores sejak malam itu, di atas dipan, tidur tenang, mengatupkan tangan, dan raut mukanya cerah bak menanti datangnya seseorang. Ia tidur entah sampai kapan dengan mata berbinar. Seperti bermimpi lama sekali. Seperti mengharapkan Malaikat Gabriel segera memberi kabar ke putrinya di kota.

Esok pagi, ketika tanah masih basah dan bunga melati mulai mekar, orang-orang kampung berkumpul di rumah itu setelah mendengar tangisan seorang anak perempuan. ***

.

.

Maumere, Januari 2022

.

Catatan:

Nene: nenek

Doi: saudara laki-laki ayah

Kalar: gelang

Mai ea: mari makan

Amapu Reta Seu: Tuhan Allah di Surga

.

.

Elvan De Porres, lahir di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Selain cerpen, ia juga menulis esai.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia