Kethek Ogleng

Cerpen Finka Novitasari (Suara Merdeka, 30 Oktober 2022)

SEMBARI jari-jari tangan mengapit sebatang rokok, Mbah Sutiman duduk bersila di emperan rumahnya. Segelas kopi tinggal ampas dan sepiring mendoan yang disajikan Sumi beberapa saat lalu, kini tinggal beberapa biji. Hujan semalam menggiring kawanan laron berebut cahaya lampu emperan rumah Mbah Sutiman yang belum sempat dimatikan. Mbah Sutiman tidak bernafsu menyuluhnya. Padahal, biasanya ia gemar berburu laron untuk kemudian dijadikan lauk makan. Pikiran Mbah Sutiman kali ini sedang semrawut. Hatinya gelisah. Kalau saja benar tariannya dijiplak, cepat-cepat ia akan menemui Bupati agar segera ditindak.

Mbah Sutiman masih larut dalam pikirannya. Tak bisa tidur dengan nyenyak. Tiga hari yang lalu, Mbah Sutiman menyaksikan acara TV lokal yang menampilkan tarian Kethek Ogleng. Semula ia terharu, tarian yang ia ciptakan puluhan tahun lalu, bisa tampil di layar kaca. Namun, perasaan terharu dan bangga tersebut seketika lenyap, tatkala peliput acara mewawancarai seorang anggota DPRD setempat dan mengaku tarian tersebut adalah budaya lokal daerah mereka. Batin Mbah Sutiman perih. Teramat perih. Sedang Mbah Sutiman sebagai penggagas tarian bertumpah darah di Pacitan, bukan daerah yang disebut-sebut DPRD tersebut.

Mbah Sutiman bangun dari lamunannya, lantas mendongak menatap langit yang cerah, menandakan bahwa hari ini tidak akan turun hujan. Ia bergegas membereskan kopi dan mendoannya untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tiga menit berselang, Mbah Sutiman keluar kamar dengan pakaian rapi. Baju batik bermotif pace [1], celana hitam, dan tak lupa peci hitam melengkapi penampilannya. Sumi yang melihat tingkah aneh suaminya, lantas menegur.

“Lho, Bapak mau ke mana? Apa ada yang sedang hajatan?” tanya Sumi terheran-heran.

“Bukan mau hajatan. Ini Bapak akan ke Balai Kota, mau menemui Pak Bupati.”

Mendengar jawaban suaminya, Sumi tidak bertanya lagi, apalagi mendebat. Bersebab sudah puluhan tahun bersama, tentu Sumi mafhum sifat Mbah Sutiman yang sangat keras kepala. Kemarin saat Mbah Sutiman mengungkapkan keinginannya untuk menemui Bupati, Sumi sudah sempat melarang. Namun, bukan Mbah Sutiman namanya kalau menyerah begitu saja.

Ihwal tarian Kethek Ogleng adalah tarian yang ia ciptakan ketika berusia delapan belas tahun. Mbah Sutiman gemar mengamati gerak-gerik kera yang menurutnya lucu. Kemudian, terciptalah tarian yang mengikuti tingkah laku kera. Bertahun-tahun ia mengembangkan gerakan tari yang kini diberi nama Kethek Ogleng. Lalu, bila kini tarian tersebut diklaim sebagai budaya dari daerah lain, tentu Mbah Sutiman tidak akan terima begitu saja.

Mbah Sutiman langsung berpamitan kepada istrinya. Jarak menuju Balai Kota lumayan jauh. Ia menaiki angkutan dua kali, setelah dua jam perjalanan, barulah Mbah Sutiman sampai. Banyak orang berlalu-lalang dengan pakaian necis dan mengapit map. Sesekali melirik sinis kepada Mbah Sutiman, tetapi ia tak peduli. Mbah Sutiman mengutarakan niatnya. Petugas di Balai Kota yang melayani mengerutkan kening.

“Apakah Bapak sudah ada janji dengan Pak Bupati?”

“Saya belum ada janji, tapi saya mau ketemu Pak Bupati. Ini penting sekali,” ujar Mbah Sutiman memohon.

Berkali-kali Mbah Sutiman mendesak, namun tetap saja tidak diperkenankan bertemu Bupati. Ia pun akhirnya keluar dari Balai Kota dengan perasaan kecewa.

Mbah Sutiman tidak langsung pulang. Ia menepi di taman dekat Balai Kota. Sesekali menatap nyalang kantor megah tersebut. Ia teringat bahwa dahulu dirinya bersama rombongan dari desanya pernah diundang di Balai Kota untuk tampil saat penyambutan tamu. Kala itu Bupati dan jajarannya sangat menaruh hormat padanya. Tetapi, kini jauh berbeda dari waktu itu.

Hari semakin sore, Mbah Sutiman memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Kendati demikian, ia masih memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Pak Bupati untuk mengetahui permasalahan tersebut.

“Sudahlah, Pak, tidak usah macam-macam. Kita ini cuma wong cilik, nggak mungkin digubris sama orang gedongan,” ucap Sumi tatkala mengetahui suaminya pulang dengan wajah muram. Ia sudah menebak apa yang sedang terjadi.

Esoknya, Mbah Sutiman kembali ke Balai Kota. Kali ini ia tidak dengan tangan kosong. Sepucuk surat telah ia tulis semalam, dengan tujuan agar bisa dibaca Pak Bupati, meski dirinya tidak bisa bertatap muka langsung. Langkahnya pasti, membawa selembar surat sebagai perwakilan atas keresahannya beberapa hari ini.

“Bapak lagi, Bapak lagi, maunya apa sih? Apa perlu saya panggil satpam untuk mengusir Bapak?”

Masih dengan petugas kemarin, rupanya sudah sangat jengkel dengan Mbah Sutiman. Mbah Sutiman kemudian menyerahkan selembar surat yang ia bawa tadi. “Ini, saya titip surat untuk Pak Bupati, mohon disampaikan.”

Sang petugas mengambilnya sinis. Lantas, Mbah Sutiman pulang membawa segenggam harapan. Dari yang semoga berharap dikabulkan. Sehari, dua hari, tiga hari, tak ada kabar apa pun. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, masih tetap sama. Harapan Mbah Sutiman hampir pupus. Ia hanya bisa pasrah kalau saja benar tarian yang ia ciptakan harus diakui daerah lain.

“Insya Allah, Gusti mboten nate sare,” ucap Mbah Sutiman menguatkan dirinya sendiri.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun sudah tiga kali pergantian. Mbah Sutiman semakin hari kian menua. Sesekali ia menarikan Kethek Ogleng di waktu senggang. Namun, dirinya tak lagi lincah seperti dulu. Bahkan, Mbah Sutiman tak lagi mengelola kebunnya karena tubuhnya teramat ringkih. Ia hanya beraktivitas di rumah, mendengarkan radio sumbang atau menonton televisi.

Sekali waktu, saat melihat siaran televisi, sekilas Mbah Sutiman melihat sosok laki-laki di layar TV. Agak ragu dengan gurat wajahnya, tetapi di sela-sela pidato lelaki tersebut, diselingi sebuah video pertunjukan. Ia ingat betul dengan tarian tersebut.

“Pak… Pak…, itu Pak Bupati,” gumam Mbah Sutiman.

Matanya mengembun tatkala melihat siaran orang nomor satu di kabupatennya sedang mengumumkan bahwa seni tari Kethek Ogleng resmi mengantongi hak cipta. Usahanya tempo lalu, kini berbuah decak kagum, perasaan haru, dan bangga saat tarian yang ia ciptakan sudah resmi menjadi milik kabupatennya sendiri.

Mbah Sutiman tak mampu berkata-kata. Dalam kepalanya, hanya terngiang-ngiang suara gamelan yang kerap mengiringi tariannya: ogleng … ogleng … ogleng. ***

.

.

Catatan:

[1] Batik bermotif pace adalah batik khas Kabupaten Pacitan. Nama diambil dari buah pace atau dalam bahasa Indonesia disebut mengkudu.

.

.

Yogyakarta, November 2021

Finka Novitasari, mahasiswi Manajemen Universitas Alma Ata Yogyakarta. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring. Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak).

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia