Cerpen Ranang Aji SP (Kedaulatan Rakyat, 04 November 2022)
KETIKA harga-harga naik, Eko dan istrinya terseret oleh bayangan masing-masing. Mereka duduk bersebelahan di lantai bersandarkan kursi sofa warna merah kusam. Istrinya berpikir bagaimana caranya mencari uang agar bisa makan, dan Eko berpikir bagaimana caranya makan malam. Suara jangkrik terdengar menusuk hati di luar dan mencekam kesunyian di dalam. Tepat ketika cicak jatuh dari atap di depan Eko, istrinya tiba-tiba bicara dengan suara sumbang.
“Larto tadi siang menawarkan kita ikut kuda lumping.”
Eko menengok malas ke arah istrinya. Pikirannya masih belum mampu fokus karena lapar.
“Masih ada nasi?” tanya Eko.
“Ada beling,” jawab istrinya ketus.
“Larto siapa?” Eko akhirnya mengalah bertanya.
“Belum tahu. Tapi dia pengamen. Aku kenal di jalan tadi.”
“Mau jadi pengamen?”
“Itu lebih bagus daripada mancing di kali asat.” Istrinya menjawab ketus.
Begitulah, sejak itu, Eko dan istrinya menjadi bagian kelompok kuda lumping yang mengamen di kota-kota, perumahan-perumahan, atau di mana saja di daerah yang belum pernah dikenalnya. Semuanya berjumlah enam orang dengan bekal kostum kusam, pewarna muka buatan, dan beberapa alat gamelan, seperti demung, kenong, dan kendang yang diangkut bergantian.
Di hari pertama, Eko ditugaskan menjadi penari setelah diajari menunggang kuda lumping. Menemani temannya yang selalu makan beling. Istrinya bertugas mengedarkan kardus meminta imbalan. Sedang Larto menabuh kendang bersama dua lainnya yang memegang kenong dan demung. Hari itu mereka mendapatkan hasil bagus. Larto membelikan makan enak, rokok, dan arak. Eko dan istrinya juga dapat bagian uang lumayan. Dua puluh ribu berdua. Rezeki itu membuat Eko dan istrinya optimis hidup bisa dilalui dengan mudah.
Seminggu kemudian, Larto mencoba mengajari Eko memakan beling. Kata Larto, itu penting untuk meningkatkan pesona. “Mereka makan nasi, makan roti, nah, kita makan beling,” ujarnya sambil tertawa. “Mereka suka itu.”
Jadi, Eko belajar mengunyah beling. Tapi, tak ada mantra untuk menjadi kebal. Tak ada waktu, kecuali sedikit trik mengunyah.
“Paling penting hati-hati saja. Tak perlu tergesa,” kata Larto.
“Kaca tipis saja,” saran salah satu temannya.
Eko ragu-ragu. Tapi dia malu untuk bilang tak berani. Dia hanya diam dan mencoba pelan-pelan. Ternyata dia bisa. Seminggu kemuian, dia mencobanya di panggung jalanan. Di perempatan jalan yang penuh dengan kendaraan. Gamelan dibunyikan. Temannya menari. Eko menyusul menari di sebelah kanan. Di depannya, seorang pemuda yang membonceng sepeda motor menyanyi: kuda lumping kakinya nungging, cari makan terpontang-panting….
Sesaat kemudian, temannya berdiri di tengah jalan, tepat di atas zebra cross, mendemonstrasikan kerakusannya memakan beling. Orang-orang di dalam mobil, di atas motor terperangah ngeri. Sebagian merasa kasihan. Sebagian jengkel karena merasa terganggu.
Eko melihat semua itu. Kengerian dan kekaguman para penonton. Hatinya mulai panas dan ingin tampil. Dengan berjingkat dia menyusul temannya. Dia ingin menjadi pusat perhatian. Jadi bintang.
Sambil menari dia mengambil kaca semprong dari sakunya, sementara istrinya sudah berjalan mengedarkan kotaknya. Tapi, lampu menyala hijau tanpa disadarinya. Eko kaget dan berlari ke pinggir. Terlambat. Seorang pemuda ugal-ugalan menabraknya. Mulutnya berdarah dan nyawanya hilang. ***
.
.
*) Ranang Aji SP, menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris dan naskahnya berjudul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pascamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya’ menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya ‘Mitoni Terakhir’ diterbitkan penerbit Nyala (2021).
.
Pemakan Beling. Pemakan Beling.